Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 61. Kenapa kamu nangis, baby?


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Untuk sesaat Sahara kehilangan kata-kata, tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipinya. Mulutnya yang menganga ia tutup dengan satu tangannya. Dia tidak percaya bahwa ia akan bertemu dengan putri dari pria yang menjadi first love nya.


Sontak saja Aileen dan Cleo heran juga bingung melihat Sahara tiba-tiba menangis setelah mendengar nama papa kandung Aileen, yaitu Mark.


Ya Tuhan, ternyata mataku tidak salah...anak yang baik hati ini adalah putrinya Mark...apa putri Mark dengan Nabila?


"Tante...Tante kenapa Tante?" tanya Aileen cemas melihat air mata terus jatuh membasahi wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu.


"Aileen, apa Tante boleh tanya satu hal lagi nak?"


"Ya? Tanyakan saja Tante." Aileen menganggukan kepala dan mempersilakan Sahara untuk bertanya.


"Apakah nama mama kamu adalah Nabila Amelia?" Sahara mengusap air matanya, dia memandang Aileen dengan sendu.


Sementara Cleo sibuk memperhatikan gerak-gerik Sahara yang dari tadi terasa aneh.


"Iya Tante."


"Ya Tuhan! Jadi ini benar? Kamu adalah putri dari Mark dan Nabila...." Sahara langsung memeluk Aileen seolah gadis itu adalah anak kandungnya sendiri. Ia begitu bahagia ketika mengetahui fakta bahwa gadis baik dan cantik ini adalah Putri Mark dan Nabila, sahabatnya.


Setelah itu Sahara menceritakan tentang masa lalu antara dirinya dan juga kedua orang tua Aileen. Mereka adalah sahabat dari SMP, Sahara juga mengakui bahwa dirinya pernah menyukai Mark, namun hati pria itu hanya untuk Nabila seorang. Sahara juga pernah mengatakan bahwa dirinya memang pernah dijodohkan dengan Mark, namun sudah jelas pria itu menolaknya dan hanya menganggapnya sebagai teman. Wanita paruh baya itu terus menceritakan tentang masa lalunya saat-saat SMP dan saat-saat SMA bersama Mark dan Nabila.


Jujur saja Aileen sangat senang mendengar cerita tentang kedua orang tuanya yang sudah lama tiada itu. Kedua orang tua yang Bahkan dia sendiri tidak tahu sosoknya seperti apa pernah saat mereka meninggalkan Aileen, usia Aileen baru satu tahun. Aileen bahkan tersenyum dan tertawa-tawa mendengar cerita Sahara. Ini kedua kalinya Aileen mendengat cerita dari sahabat kedua orang tuanya. Sebab ia tahu bahwa Leon bersahabat dengan Mark saat zaman kuliah. Dan Aileen belum pernah mendengar cerita papa dan mamanya di SMP maupun saat di SMA.


Aileen mendengarkan cerita tentang kedua orang tuanya dengan semangat, hingga saat Sahara bertanya di mana keberadaan kedua sahabatnya itu, saat itulah Aileen menangis.


"Oh ya nak...gimana kabar papa dan mama kamu? Apa mereka juga ada disini? Sudah lama Tante tidak melihat mereka."


Raut wajah Aileen yang semulanya terpancar kebahagiaan kini menjadi teduh, matanya berubah menjadi sendu dan berkaca-kaca.


"Ai..." Cleo melihat sahabatnya menangis dan dia menepuk pundaknya seraya menghiburnya. Cleo tau benar, Aileen selalu sedih bila mengingat kedua orang tua kandungnya. Meski ada Leon disisinya yang berperan sebagai papa dan sekaligus mama. Ah sekarang bahkan perannya ganda sebagai kekasih.


Aileen tidak tahan dan akhirnya meneteskan air mata.


"Maaf Tante, tapi mama dan papa Aileen sudah lama meninggal." ucap Cleo yang menjawab pertanyaan dari Sahara karena dia tahu bahwa sahabatnya tidak sanggup mengatakan tentang itu.


"Astaga....maafkan Tante sayang, maafkan Tante..." Sahara turut memeluk Aileen dan menenangkannya. Sahara tidak percaya bahwa kedua sahabatnya itu telah tiada.


Entah kenapa aku merasa tenang dipeluk oleh tante Sahara seperti ini?


Aileen menangis didalam dekapan Sahara, namun anehnya dia merasa tenang ketika berada di dalam pelukan Sahara. Mungkin karena selama ini dia tidak merasakan sosok seorang ibu. Terasa hangat dan nyaman.


Hingga terasa getaran ponsel yang membuat Aileen mengurai pelukannya lebih dulu dari Sahara. Ia baru menyadari bahwa banyak panggilan dan pesan masuk ke ponselnya yang dalam mode getar itu.


Melihat nama om Bram tertera memanggilnya, Aileen segera mengangkat telepon dari Bram dan mengabaikan pesan dari Leon karena dia merasa bahwa telepon dari belum lebih penting, menyangkut pekerjaan.


"Halo om."


"Kamu mengangkat telpon dari om Bram, tapi kamu tidak mengangkat telepon dari papa!" hardik Leon diseberang sana. Leon meminjam telpon Bram untuk menghubungi Aileen, karena dia tahu bahwa kekasihnya itu masih marah.

__ADS_1


"Papa? Aku...gak salah kan ini nomor om Bram.." lirih Aileen dengan suara serak khas orang menangis.


Sahara mengerutkan keningnya, manakala ia mendengar suara Aileen yang memanggil seseorang ditelpon dengan sebutan papa.


"Baby, kenapa suara kamu? Kamu terluka?" tanya Leon yang menyadari suara serak Aileen. Pria itu jadi berpikir bahwa Aileen menangis karena dirinya. Seketika itu hati Leon merasa tercubit, ia merasa bersalah.


"Aku gak apa-apa pa."


"Kamu dimana?"


"Aku akan segera kembali pa."


"Kamu dimana Ai? Papa jemput kamu sekarang!" tegas Leon bertanya.


"Restoran Sunflower." jawab Aileen.


"Tunggu papa disana." kata Leon lalu menutup telponnya sepihak.


Setelah panggilan itu di tutup, Leon izin pergi pada Bram sebentar untuk menjemput Aileen yang merajuk. Dia akan membelikan Aileen bunga, coklat, kesukaannya agar gadis itu mau memaafkannya.


Di restoran itu, Aileen, Cleo dan Sahara bertukar nomor ponsel. Sahara juga mengatakan bahwa dia ingin melihat sosok papa angkat Aileen.


Beberapa menit kemudian, Leon sampai didepan restoran Sunflower. Ia masuk ke dalam sana sambil membawa bunga dan coklat.


Atensi Sahara tertuju pada sosok Leon yang tiba-tiba datang dan memeluk Aileen, bagi Sahara pelukan itu terasa ambigu. Tapi Sahara tidak berpikir macam-macam selain merasa ambigu.


Dan ya, Sahara juga mengenal sosok Leonardo Xavier pernah melakukan hubungan bisnis.


Huh... akhir-akhir ini aku terus melihat kemesraan mereka, aku lihat om Leon udah bucin banget sama Aileen. Ya baguslah Ai kalau kamu bahagia...tapi nanti apa kata orang?


"Pak Leonardo Xavier? Jadi anda adalah ayah Aileen?" tanya Sahara seraya menoleh pada Leon.


"Bu Sahara Adelia dari S cosmetics?" Leon langsung tau dalam sekali lihat, bahwa wanita itu adalah salah satu rekan bisnis yang belum lama ini menjalin kerjasama dengannya.


Leon pun berjabatan tangan dengan Sahara secara formal sebagai rekan bisnis. Aileen sedari tadi diam saja, dia hanya tersenyum pada Sahara tidak pada Leon. Kemudian Leon pun pergi membawa Aileen pergi dari sana karena mereka harus kembali ke kantor. Tak lupa Cleo ikut nebeng sampai lokasi pemotretannya yang kebetulan searah dengan lokasi gedung Xavier grup.


"Makasih ya om, makasih ya Ai..." ucap Cleo setelah sampai ditempat tujuan.


"Iya Yo, jangan lupa besok ya! Aku mau ikut."


"What? Apa kamu serius?"


"Iya aku mau, besok kan libur dan aku gabut." jawab Aileen yakin.


Leon hanya melirik pada dua gadis itu, entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat Leon penasaran.


"Oke deh! Bye, aku masuk dulu." pamit Cleo seraya melambaikan tangannya.


Mobil itu pun kembali melaju ke tempat tujuan yaitu kantor Xavier grup. Suasana di dalam mobil terasa hening sebab si cerewet Aileen tiba-tiba saja jadi pendiam.


"Ai...tadi kamu nangis karena papa?" tanya Leon guna memecah keheningan disana. Terlihat Aileen menyandarkan kepalanya pada jendela mobil, menatap kosong pada jalanan yang ia lewati.

__ADS_1


"Baby,"


Berulang kali Leon memanggilnya, namun tak ada sahutan dari Aileen. Tampaknya gadis itu melamun. Sungguh Leon tidak nyaman dengan Aileen yang seperti ini, dadanya terasa sesak. Apalagi saat melihat mata sembabnya.


Ckiiittt!!


Leon menepikan mobilnya di pinggir jalan, barulah Aileen menoleh ke arahnya. "Papa kenapa mobilnya---hmphh--"


Usai melepas sabuk pengamannya, Leon mendekat pada Aileen dan melumatt bibirnya dengan rakus. Sontak Aileen terkejut dengan serangan yang tiba-tiba itu.


"Eungh--" satu lenguhan lolos dari bibir Aileen yang terdengar seksi, mengunggah birahi sang Leonardo Xavier. Tapi Leon masih sadar diri.


Tak lama kemudian, Leon melepas ciumannya. Ia menatap intens ke dalam bola mata berwarna biru nan cantik itu. "Kamu marah sama papa, hmm?"


"Enggak." toleh Aileen ke sebelah kirinya, tepat ada jendela mobil disana.


Diraihnya wajah imut Aileen dengan lembut, hingga menoleh ke arahnya. "Baby, terus kenapa kamu nangis kalau bukan karena marah sama papa? Hem.."


"Aku gak marah kok! Aku juga nangis bukan karena papa sama pacar papa itu."


"Pacar papa? Hey, siapa yang kamu panggil pacar papa itu?" mata Leon memicing menelisik Aileen yang merajuk.Ya, ini sudah fiks gadis itu marah padanya berdekatan dengan Luna tadi.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Bram benar. Aileen cemburu.


"Sayang, maafkan papa...tadi papa gak bermaksud buat dekat-dekat sama Luna. Dia itu hanya rekan bisnis papa,"


"Bodoh amat!" Aileen menepis tangan Leon. Semakin di jelaskan, gadis itu malah semakin marah.


"Baby..." lirih Leon.


"Cukup ya pa! Aku gak mau dengar, aku--hmph-"


Cup!


Mata Aileen terbelalak seketika menerima kecupan singkat dari Leon. "Papa! Kenapa sih papa main nyosor aja?" tukas Aileen kesal.


"Memangnya kamu tidak? Apa kamu lupa kalau kamu juga suka nyosor papa sampai papa terpesona sama kamu?" goda Leon sambil menaikkan dagu sang empunya yang begitu cantik dengan bibir merah delima.


"Itu kan dulu! Sekarang enggak!" sergah Aileen yang malu mengingat genitnya dia dulu pada Leon.


"Iya iya...papa tau karena sekarang papa yang mau genit sama kamu, papa yang mau nyosor nyosor sama kamu. Sekarang giliran Papa." tiba-tiba saja Leon memencet tombol kursi agar di turunkan, lalu ia menindih tubuh Aileen.


"Pa...papa mau ngapain, huh?" Aileen tercekat, tubuhnya terkunci oleh Leon.


"Papa mau menyelesaikan masalah dengan cara kekeluargaan!" tukas Leon lalu ia melonggarkan dasinya. Ia menatap wanita cantik dibawah Kungkungan tubuhnya dengan tatapan nanar.


Aileen bisa melihat ada kabut gairah dalam mata Leon. Aileen bertanya-tanya cara kekeluargaan apa yang dimaksud Leon?


...****...


Silahkan komen dan gift nya, nanti malam author up lagi ❀️😍 semoga review tidak lama

__ADS_1


__ADS_2