
"Sekarang makan pudingnya, Sashi! Oh ya, bagaimana hasil pemeriksaan cucu-cucu Mama tadi?"
Setelah Shiza dijemput Kaysan tadi siang, mendadak perut Sashi sangat kencang dan tidak nyaman, akhirnya Aira menelepon Aric dan tak lama Aric pulang. Aric langsung berinisiatif menelepon dokter yang biasanya menangani Sashi, pun dokter akhirnya meminta Aric membawa Sashi untuk diperiksa.
Kontraksi palsu begitu kata dokter, hal normal yang sering terjadi pada wanita hamil di trisemester akhir kehamilan. Kontraksi semacam itu merupakan persiapan rahim untuk menghadapi persalinan dan akan muncul lebih sering sebagai tanda melahirkan semakin dekat.
"Kedua cucu mama sehat, detak jantung bagus stabil, hanya saja Sashi harus lebih peka jika terjadi kontraksi lagi. Apakah terjadi lama dengan jarak yang semakin dekat atau hanya sesekali. Jika jarak semakin dekat kemungkinan itu adalah tanda si kembar akan lahir," terang Aric.
"Lho memang perkiraan kapan si kembar lahir?" Kalina menatap seksama Aric.
"Masih dua Minggu lagi, Ma, tapi lagi-lagi itu hanya prediksi bisa maju atau mundur."
"Kalau begitu kamu harus siaga, Arr. Harus lebih sering di rumah sampai Sashi benar-benar melahirkan! Mama tidak mau terjadi apapun pada cucu kembar Mama!" Melihat antusiasme Kalina, baik Aric maupun Sashi tersenyum.
"Ma, Sashi baik. Ada bunda juga menjaga Sashi. Kakak tidak masalah bekerja nanti kalau ada apa-apa, Sashi atau bunda akan mengabari Kakak," ucap Sashi.
"Tidak begitu, Sayang. Mama tidak salah, aku akan mengurangi aktivitas di kantor. La-gi pu-la almarhum a-yah juga pernah berpesan yang sama, agar aku bisa mendampingimu melahirkan dan tidak ada alasan seperti persalinan Shiza." Aric berkata sangat lirih. Ya, mengingat Lutfi kepedihan itu masih ada. Sashi ikut menunduk mendengar nama ayahnya disebut. Pun Aric langsung mengusap-usap bahu istrinya itu.
Setelah beberapa saat suasana tampak hening. Kalina akhirnya buka suara.
"Sudah hampir jam 8. Kemana Kay belum kembali juga! Shiza cucu menggemaskan mama itu pasti lelah!" Kalina menatap ke arah pintu, berharap mendengar mobil datang atau tiba-tiba pintu terbuka tapi nyatanya nihil.
"Kak, apa Kay menghubungi Kakak sedang di mana?" tanya Sashi turut khawatir.
__ADS_1
"Terakhir Kay mengabari ba'da magrib sedang di masjid katanya dan akan segera pulang. Tapi entah belum ada kabar lagi setelahnya," jawab Aric sambil menggerak-gerakkan jari di ponsel.
"Coba telfon saja, Arr! Takutnya adikmu itu terlalu antusias menghabiskan waktu bersama gadis kenalannya itu hingga lupa kondisi Shiza!" Aric langsung menekan tombol dan mengarahkan ponsel ke telinganya.
"Sashi pernah bertemu teman Kay itu, kah? Seperti apa orangnya?" Berhubung Aric sedang menelepon, Kalina menanyakan perihal Lora pada Sashi.
"Dia baik, Ma. Cantik. Dia adalah a-dik________
Sebelum Sashi melanjutkan katanya, Aric seketika menggenggam jemari Sashi dan Sashi langsung menatap wajah suaminya itu. Aric menggeleng lirih. Walau Sashi tak suka Aric menyembunyikan identitas Lora, tapi Sashi menurut.
"Ada apa, Sayang? Kenapa tidak dilanjut bicaranya?" ucap Kalina heran Sashi menghentikan kata secara tiba-tiba.
"Ehh, ti-dak apa-apa, Ma. Masalah gadis yang dekat dengan Kay, Sashi baru be-berapa kali bertemu jadi kurang begitu ta-hu," jawab Sashi akhirnya. Aric mengangguk lirih mendengar jawaban itu. Ia senang Sashi mengikuti inginnya.
...~∆∆∆~...
Pukul 16: 30 saat itu. Suasana sore yang teduh membuat raga-raga berpeluh semakin semangat membelah jalan Kota Tangerang. Seperti biasa Kaysan menepikan kendaraan ke sebuah masjid untuk menjalankan ibadah Ashar. Lora masih terus bercengkrama dengan Shiza, saat Kaysan meminta izin menjalankan ibadah.
Lora tampak santai saja mengangguk karena tak beribadah sudah biasa untuknya. Ya, tinggal di luar negeri tanpa bimbingan agama dari orang tua memang yang terjadi dengan Lora, terlebih satu-satunya kakak begitu sibuk dengan aktivitasnya. Beruntung Lora sangat tahu kesucian itu penting.
Melewati Mall besar dengan pelataran yang dipenuhi sakura dengan lampu-lampu indah. Shiza terus meminta turun. Pun Kaysan tidak bisa menolak keinginan putrinya itu.
Gerbang putih cantik dengan tulisan Sakura Park mereka lewati. Lampu yang berkelap-kelip disepanjang taman dengan tambahan spot tempat duduk yang sangat strategis, membuat Shiza terus berlari ke sana-sini takjub dengan keindahannya. Kaysan pun banyak mengambil foto Lora dan Shiza di tempat itu. Kedua gadis beda usia itu lagi-lagi terlihat bahagia dan Kaysan senang melihatnya.
__ADS_1
Langit mulai meredup, sang Surya yang begitu menawan siang tadi mulai tergelincir masuk ke peraduan. Kaysan mengajak Shiza dan Lora pulang. Lagi-lagi di jam magrib itu Kaysan membelokkan kuda besi yang ia tumpangi ke masjid yang dilewati. Tak ingin Sashi khawatir, Kaysan segera menghubungi Aric mengabarkan ia masih menjalankan ibadah dan akan segera kembali.
Ketiganya kembali membelah jalan. Shiza antusias melihat lampu-lampu jalan nan indah padahal sangat terlihat wajah itu lelah. Hingga melihat sebuah toko es krim, Shiza merengek meminta es krim dan kembali Kaysan memilih menurut. Ia masih ingin melihat tawa bahagia Shiza mumpung mereka masih bersama.
Es krim stroberi menjadi pilihan Shiza, sedang Lora menyukai es krim coklat. Kaysan sendiri memesan cofee latte yang nikmat memang di minum di susana malam yang mulai dingin sembari menunggu orang-orang tersayang menikmati es creamnya.
"Ayah ayo buka mulut! Coba es krim Shiza!"
"Sini biar Ayah ambil sendiri, sedikit saja, yaa!" ucap Kaysan sembari tersenyum.
"Shiza saja yang suapin Ayah, mami juga sering suapi papa. A, Ayah!" Shiza sudah mengarahkan sendok di depan bibir Kaysan, Kaysan tidak ada alasan lagi menolak. Ia membuka mulut. Shiza senang.
Pukul 19: 40 terlihat dalam pantulan analog di lengan Kaysan. Waktu memang begitu cepat berlalu dan ketiganya sudah berada di mobil. Kaysan memilih mengantar Lora pulang dahulu baru ke rumahnya. Ya, ia tahu Aric dan Sashi sedang berada di rumahnya saat ini.
Shiza sangat kelelahan, belum lama mobil berjalan, mata itu sudah tertutup rapat. Kaysan ingin memindahkan Shiza ke jok belakang tapi Lora menahan. Ia senang memangku Shiza yang tertidur. Memeluk tubuh kecil dalam dekapannya membuat Lora merasakan sensasi wanita sesungguhnya.
"Beginilah rasanya jika kita mempunyai anak? Kita akan senang memeluknya. Tubuhnya bukan beban untuk kita. Justru merasakan dekapan seperti ini, menyadarkan seorang anak memang bergantung pada orang tuanya."
Lora terlarut dalam angannya, ia berkali-kali merapihkan rambut Shiza dan menciumi puncak kepala itu. Kaysan senang melihat pandangan di sampingnya, tapi ada satu hal yang membuat ia tidak nyaman, Lora tidak beribadah!
...______________________________________...
__ADS_1
☕Happy reading😘