
"Kakak ... ini Shiza gangguin aku gambar."
"Shiza jangan makan pensil warna Kak Cia!"
"Kakak ... Kakak ... ini Shizanya nakal gigitin lutut aku!"
"Kakak, ini Shiza mau berdiri di bahu aku nanti jatuh ...!"
Sebulan ini suasana di rumah Aruna tampak riuh. Sashi dengan kekhawatirannya akhirnya setelah hari itu mengambil langkah besar! Ia menjadikan rumah Aruna sebagai rumah keduanya. Sashi membawa benerapa bajunya dan Shiza ke rumah Aruna. Setiap sore ia sudah standbye di rumah Aruna. Ia akan menunggu Aric datang, membiarkan Aric bermain-main dengan Ciara, hingga saat Ciara tertidur dan lelah barulah Sashi dan Aric pulang ke rumah mereka.
Sashi enjoy dengan aktifitas barunya ini. Yang jelas ia tenang bisa memantau aktifitas Aruna setiap saat. Setiap Aruna hendak mendekati Aric, Sashi selalu bergabung. Sashi selalu punya alasan dan tak membiarkan Aruna melancarkan misinya.
Sashi yang sejak dulu berteman dengan Ciara, tetap menganggap Ciara teman walau nyatanya sang ibu telah menarik lelakinya dalam pusaran hubungan pernikahan yang rumit. Setidaknya Ciara hanya alat, korban dari ketamakan Aruna, itu pendapat Sashi.
Sashi kasihan pada Aruna sebetulnya, wanita itu ingin mengubah takdir tapi tak sadar tindakannya menyakiti hati wanita lain. Beruntungnya Sashi tetap gadis 19 tahun yang polos dan sudah bersahabat dengan keadaan. Ia memang sedih saat membayangkan dimadu, tapi selama Aric tak merespon Aruna, ia tenang. Pun ia juga bertekad menjaga suaminya selalu. Tak boleh ada celah Aruna mendekati Aric.
Hal yang membuat Sashi teriris adalah saat Ciara sedang colap, ia terus menekan kepalanya, katanya kepala itu sangat sakit. Ia bisa teriak-teriak dan menangis di saat bersamaan. Ia tak tega. Anak sekecil itu harusnya tidak menerima takdir buruk, harusnya ia bahagia bermain bersama teman-temannya. Pun ia juga melihat kesedihan di wajah Aruna saat Ciara sedang kesakitan, ia biasanya akan memberi Ciara obat dan terus memeluk Ciara meredakan sakit putrinya itu, sedang Sashi hanya bisa melihat aktivitas keduanya, memeluk Shiza erat dan bersyukur putrinya terlahir sehat.
Itu jika Ciara colap, beda halnya saat Ciara segar, Aruna terus berucap yang membuat Sashi geram. Entah terus membandingkan tubuhnya dan tubuh Sashi, wajah natural Sashi dan wajahnya yang merona full make up. Aroma minyak telon dari tubuh Sashi yang tidak menggairahkan. Memanas-manasi Sashi dengan kebersamaannya dan Aric yang sebetulnya hanya angan, juga kedekatan Aric bersama Ciara. Pun Sashi selalu berusaha tak termakan omongan Aruna.
Aruna geram, rumahnya itu sudah seperti rumahnya Sashi saja. Ia tak bisa menggoda Aric karena Sashi selalu ada diantara mereka. Pun Aruna juga kesal melihat kedekatan Sashi dan Ciara. Dengan sifat Sashi yang kekanakan Nyatanya ia bisa dengan mudah bersahabat dan mengambil hati Ciara.
Aric ingin Ciara cepat pulih dan terbebas dari pernikahannya dengan Aruna, namun satu-satunya orang yang bisa membantu nyatanya masih terbaring koma dan tak tau kapan akan sadar.
Kini Aric mulai berupaya mencari donor sumsum untuk Ciara. Mulai dari minta bantuan para pegawainya untuk memeriksa sum-sum mereka dengan imbalan yang sesuai tentu, membuat iklan di sosial media. Juga menghubungi dokter-dokter bedah yang ia kenal yang mungkin saja bisa membantunya. Aric bahkan mengerahkan orang untuk mencari donor untuk Ciara.
Aruna tak bisa membiarkan ini berlarut, otaknya mulai berfikir bagaimana membuat Sashi tak lagi datang ke rumahnya dan berhenti masuk dalam hubungannya bersama Aric. Ia yang tau Aric diam-diam mulai mencari donor merasa gelisah. Ingin memiliki anak dari Aric agar ikatan itu kokoh sekali pun Ciara sembuh nanti, namun nyatanya mendekat saja Aric tak mengizinkan.
Aruna akhirnya menyuruh orang untuk menyelidiki keluarga Sashi, berharap mendapat celah untuk melumpuhkan penjagaan Sashi atas Aric.
Bagaimana kabar Kaysan?
Ia masih tak sadar, kadang ada pergerakan-pergerakan kecil tapi tak signifikan. Aric masih belum bisa menceritakan semua pada Sashi, tapi ia memenuhi janji pada Kalina untuk sering mengunjungi adiknya itu. Bercerita tentang masa kecil selalu menjadi topik bicara Aric, tanpa sedikit pun menyinggung Sashi dan Shiza. Ya, hatinya masih tak siap jika Kaysan mengingat wanita pengisi hati yang telah menjadi pengisi hatinya pula. Kalau boleh Aric memohon, ia ingin Kay sadar, tapi ia tak ingin Kay mengingat Sashi. Semoga bayang Sashi terhapus dari memori adiknya setelah koma panjang yang dialami.
___________________
"Apa? Coba ulang yang kamu katakan!" Aruna sedang bicara di telfon, ia kaget memperoleh berita yang mencengangkannya.
"Ja-di ... Sashi a-nak Lutfi Mumtaz, pemuka agama terpandang i-tu?"
"Be-nar, Buu."
Aruna tersenyum menyeringai, ia mendapat sebuah ide brilian.
"Ben, cari kontak Lutfi Mumtaz ayah gadis itu, aku ingin memberi mereka kabar tentang putrinya!"
"O-h ... si-ap, Buu."
____________________
"Bapak Rico Perwira, keluarga kita harus bertemu sekarang juga!"
"Kamu Lutf, ada apa ini? Tumben menelefonku!"
"Ternyata ayah dan anak sama saja senang menyakiti wanita!"
"Apa ini Lutf? Apa maksudmu? Ayah dan a-nak?"
__ADS_1
"Jangan pura-pura bodoh! Aku tunggu kamu di rumah putramu yang tega menyakiti putriku itu!"
Tutt ... tutttt ....
_____________________
"Ka-kakk, lepaskan tangan Kakak! Aku tidak bisa bangun!"
"Mau kemana, hem? Bahkan Shiza belum menangis!"
"Matahari sudah naik, ini sudah siang, Kak!"
"Ini hari minggu, aku sedang ingin bersamamu seperti ini saja!"
"Sudah jam 10 Kak, aku mau mandi, tubuhku sudah lengket!"
"Belum lengket, masih harum!" Aric kembali mencium bahu terbuka itu membuat Sashi tak bisa diam terus mengeliat dalam kungkungan tangan kekar Aric.
"Sudah Kak, gelii!"
"Haaa ... melihatmu seperti ini sangat menggemaskan Sashh!" Sashi yang malu menyembunyikan wajah di bahu Aric.
"Sashh ...."
"Iyaa?"
"Kira-kira, apa di dalam sini sudah ada Sashi kecil?" Jemari itu menyapu perut tanpa kain penutup yang merapat di tubuhnya.
"Aku tidak tau, Ka-k, tapi aku harap tidak ada Sashi kecil di sini!" jawab Sashi.
"Hah? Kenapa begitu? Kamu tidak mau anak dariku?" Netra itu menatap tajam ke arah Sashi.
"Aric atau Sashi kecil sama saja. Yang penting anak dari rahimmu!" lirih aric, wajah itu seketika terlihat gelisah.
"Kakak kenapa? Seperti tidak baha-gia?" polos tanya itu terucap.
"Salah! Aku bahagia! Sangat bahagia bersamamu!"
"Aku hanya gadis kecil, Kak. Tidak Sexy!" bisik Sashi lagi seketika membuat Aric kembali tersenyum.
"Sashi Mumtaz paling sexy!" bisik Aric setelahnya membuat wajah Sashi memerah.
"Sasshh ... dengar!" Aric menyapu kepala Sashi, membuat anak-anak rambut di dahi itu kompak tersapu ke belakang hingga wajah Sashi tampak jelas terlihat. Sepasang manik mata tampak menatap Aric pula, mendengar dengan seksama.
"Aku masih mencari donor sum-sum untuk Ciara! Aku berjanji akan segera menceraikan Aruna dan kita bisa hidup tanpa pengganggu lagi!" Sashi mengangguk.
"Aku juga minta maaf telah menduakanmu! Menikah dengan wanita lain tanpa izinmu!"
"Jangan bicarakan itu, Kak. Yang penting hati dan raga Kakak hanya milikku!"
"Tapi aku merasa bersalah padamu dan keluargamu. Haruskah aku menceritakan semua pada ayahmu?"
"Terserah Kakak, tapi ayah bisa marah!" ucap Sashi.
"Aku akan menjelaskan alasanku, agar ia tak marah, bagaimana?"
"Aku tidak tau, terserah Kakak!" Ya, Sashi tetap gadis 19 tahun yang bahkan masih tak paham sepenuhnya imbas dari sesuatu. Ia sangat bingung jika Aric meminta pendapatnya.
__ADS_1
"Sasshh ...."
"Hem?" Sashi mendongak.
"Seberapa besar cintamu padaku?"
"Kakak mengapa sering menanyakan itu? Aku cinta Kakak, sangat! Sangat besar! Aku hanya mau hidup dengan Kakak! Kakak jangan pernah tinggalkan a-ku." Suara manja itu terdengar sedih.
"Maaf ... maaf aku membuatmu sedih. Tentu aku akan selalu bersamamu! Aric tidak akan meninggalkan Sashi!" Sashi mengangguk seketika mencium pipi Aric. Aric tersenyum, sangat bahagia dengan setiap perilaku polos dan spontan Sashi.
TOK ... TOK ....
"Sashii ... Aric, buka pintu?" Pekikan seorang pria terdengar.
•
•
"Ka-kakk i-tu suara -----
"Ayah?"
"Iya, haduh bagaimana ini?" panik Sashi bahkan tubuhnya masih polos.
"Masuk dalam selimut, biar aku yang buka pintu!" Aric menarik boxer dan kaosnya.
•
•
Pintu terbuka
"Tunggu-tunggu ada apa ini, Yahh?" Lutfi seketika menarik kaos yang dikenakan Aric dengan kuat.
"Kurang ajar kufikir kau lelaki dewasa dan bertanggung jawab, namun nyatanya kau itu lelaki berengsek!"
Lutfi mendorong tubuh Aric masuk ke dalam kamar hingga bersandar dinding. Cengkraman jemari Lutfi semakin kencang di pakaian Aric.
"Ayahh ... tunggu, Yah! Izinkan aku menjelaskan!" Walau bingung Lutfi tau dari mana, Aric langsung paham yang dimaksud Lutfi. Rasa bersalah yang ia rasakan pula.
"Tidak perlu menjelaskan apa pun! Kurang apa putriku, hah?"
Jantung Sashi berdetak cepat dari balik selimut, lelakinya sedang dimarahi ayahnya. Sashi tidak tega, menurutnya ayahnya harus mendengar dulu penjelasan Aric.
"Ayah berhenti!" teriak Sashi dengan wajah muncul dari balik selimut.
"Kalian?" Lutfi menggelengkan kepala menyadari tampilan ranjang yang berantakan dengan pakaian tercecer di sekitarnya.
"Bersihkan tubuh kalian dan cepat ke bawah!"
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Jangan lupa support kalian selalu ditunggu❤❤
☕Sambil nunggu up bisa mampir ke karya kakak literasi bubu😌
__ADS_1