Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
ITU SEPERTI ARIC


__ADS_3

Seorang gadis tampak tergesa berjalan ke arah luar dan beberapa saat setelahnya ia masuk lagi bersama wanita paruh baya. Ia mengantarkan wanita itu bertemu Siska, mamanya baru ia kembali berbaur pada tamu yang merupakan teman sang kakak. Ia sedang tertawa mendengar kelakar seorang teman kakaknya yang sangat pandai melucu, hingga tiba-tiba netranya menangkap bayang seseorang yang dikenalnya.


"Permisi kakak-kakak, aku bertemu temanku dulu!" Lora tersenyum pada orang-orang di hadapannya dan berdiri.


"Lora, segeralah kembali!" pekik seorang pria melihat raga Lora menjauh.


Lora mengacungkan jempol ke arah 3 orang pria dan 2 wanita yang ia tinggalkan. Ia berjalan cepat sambil mengedar pandang ke tempat ia melihat pria yang dikenalnya tadi. Lora tersenyum saat ia melihat bayang orang yang dicarinya.


"Hai Kak Kay," ucap Lora sudah di belakang tubuh Kaysan.


"Hai, senang bertemu denganmu lagi!" Senyum itu tersungging. Kaysan senang bertemu Lora.


"Haii Shizaa!" Lora menghadapkan wajah pada gadis kecil yang asik dengan aneka cake di piring kertas itu.


"Kakak!"


"Hanya Kakak? Apa Shiza lupa nama Kakak?" tanya Lora dengan penuh semangat. Shiza tampak berfikir.


"Kakak Lora!" Wajah Lora berbinar senang Shiza masih ingat namanya.


"Kak Kay sudah datang dari tadi? Hanya berdua dengan Shiza, kah?"


"Sudah setengah jam kami di sini. Aku datang bersama kak Aric dan istrinya." Bibir Lora membulat. Lora seketika duduk di bangku kosong di samping Kaysan. Matanya terus menatap polah lucu Shiza yang terus mengunyah makanan tanpa henti di hadapannya.


"Sepertinya Shiza sangat dekat dengan Kakak!"


"Shiza memang mudah dekat dengan siapapun," ucap Kaysan.


"Oh ya, Kak ... maaf ya kalau tempo hari aku mengira Kakak adalah ayah asli Shiza dan istri kak Aric adalah istri Kak Kay." Kay tersenyum, pun Lora ikut tersenyum pula.


"Apa Kakak tidak takut dijauhi gadis-gadis lantaran dikira sudah menikah karena sering membawa Shiza kemana pun?" Dengan santai Lora mengucapkan tanya yang ada di otaknya.


"Kenapa harus takut? Kalau dia suka aku, dia tidak akan mempermasalahkan kedekatanku dan Shiza!"


"Bukan mempermasalahkan kedekatan, Kak! Tapi anggapan orang yang menyangka Shiza adalah anak Kakak, apa Kakak tidak takut itu?" tanya Lora lagi.


"Shiza memang putriku!" Mata Lora terbelalak, dia sungguh kaget. Lora terus menatap netra Kay saat ini.


"Bahkan kamu juga kaget dan pasti enggan berdekatan denganku!"


"Kak, jangan bercanda! Shiza anak kak Aric dan kak Sashi, kan? Kakak hanya bercanda bilang Shiza putri Kakak?" tanya Lora lagi memastikan.


"Aku tidak bercanda! Shiza memang putriku!"


"Ka-k?" Sepasang bola mata itu terus membulat tak mengenyahkan tatapannya pada wajah Kaysan. Jelas ia sangat penasaran mengenai kebenaran siapa ayah Shiza.


"Shiza sudah kuanggap putriku maksudnya!" utar Kaysan menyinggungkan senyum getir di wajahnya.

__ADS_1


"Ahh Kakak! Hampir aja aku syok. Tidak menyangka ternyata Kakak senang bergurau juga," ucap Lora. Kaysan lagi-lagi tersenyum


"Tapi jujur ya, Kak! Kalau dilihat-lihat Shiza memang mirip Kakak! Lihat senyum Shiza, ia memiliki sebelah lesung pipit di sisi bibir seperti Kakak!" Kaysan jadi memperhatikan seksama wajah Shiza saat ini.


"Kenapa aku baru menyadari. Lora benar, Shiza memiliki sebelah lesung pipit dan senyumnya mirip aku," batin Kaysan.


"Rambut kalian juga setipe, Kak! Ikal. Beda dengan rambut kak Aric yang lurus!" Kaysan tersenyum.


"Shiza mirip aku tentu saja, memang ia putriku, Lora. Tapi maaf aku menutupinya, kamu akan bingung nanti!" monolog Kaysan.


"Di sini riuh dan membosankan! Mau berjalan-jalan di luar?" ajak Kaysan pada Lora.


"Kakak seperti tau isi otakku saja. Aku juga sebetulnya bosan! Tidak ada temanku di sini, semua teman kakak," lirih Lora berucap.


"Kalau begitu kita keluar!" Lora mengangguk.


"Oh ya, bagaimana dengan Shiza?" tanya Lora. Kaysan melirik keberadaan Aric. Ia melihat kini di kejauhan Aric tengah memeluk Sashi.


"Kakak, memalukan! Kenapa berpelukan di muka umum. Apa tidak bisa menunggu di rumah? Andai kamu tau Kak, pemandangan seperti itu membuatku sangat sesak!" gumam Kaysan dalam hati. Ia masih menunduk saat Lora tiba-tiba menyentuh bahunya.


"Eh, maaf!"


"Tadi Kakak ajak aku keluar tapi kenapa sekarang malah diam saja?" utar Lora.


"Oke kita keluar. Oh ya Lora, apa kamu terganggu jika Shiza kita ajak berjalan-jalan keluar juga?" Lora diam sesaat baru ia berkata setelahnya.


"Shiza menggemaskan, mana mungkin aku keberatan."


Sebelum ketiganya keluar dari ballroom hotel, Kaysan mengirim pesan pada Aric bahwa ia mengajak Shiza mencari angin di luar. Aric membalas pesan itu dengan emoji jempol yang terangkat. Pun ketiganya akhirnya ke luar dari bangunan hotel bintang 5 tersebut dan menuju sebuah taman cantik di muka hotel.


...~∆∆∆~...


"Sayang ... yakin membiarkan aku bertemu Salwa sendiri?"


"Jangan!" Sashi mengedarkan pandang kini mencari-cari sesuatu.


"Sedang cari apa, Hem?"


"Kay! Di mana, Kay?"


"Oh, Kay! Belum lama tadi dia mengirim pesan ingin mencari angin ke luar, ia membawa Shiza turut."


"Yahh!"


"Sedih sekali sepertinya di tinggal mantan ke luar!" Sashi menarik hidung Aric.


"Jahat! aku tidak berfikir begitu, Kak!" lirih Sashi.

__ADS_1


"Lalu?"


"Tadinya aku mau minta Kay temani Kakak menemui Salsa!" Aric tersenyum getir. Lagi-lagi asumsinya salah. Aric terus mengusap kepala Sashi.


"Ya sudah daripada terus berdiskusi, ayo kita temui Salsa dan pulang. Bagaimana?"


"Bertemu dan pulang agaknya lebih baik daripada terus mengundur dan tidak pulang-pulang," batin Sashi.


"Iya, Kakak benar. Ayo kita ke depan." Aric mengangguk.


"Ka-kk!"


Baru berjalan beberapa langkah Sashi sudah memanggil. "Iya?"


"Jaga mata Kakak di hadapan Salwa nanti, lihat itu pakaiannya agak seronok!" ucap Sashi memberengut. Ya, Salwa memang menggunakan dres panjang brokat berlengan panjang, tapi potongan dadanya sangat rendah hingga memperlihatkan yang harusnya tidak terlihat, juga bagian bawah juga terdapat potongan menampilkan hampir keseluruhan kaki jenjangnya. Aric menangkap kehawatiran Sashi, ia mengangguk.


Keduanya tampak berjalan ke arah depan. Aric tak melepas rangkulan lengannya di bahu Sashi.


"Di mana mantan pacar Kakak itu? Sepertinya tadi dia di sini," bisik Sashi.


"Sebentar." Aric mengedar pandangnya hingga ia melihat Salwa tengah duduk di kursi panjang dengan beberapa orang yang wajah-wajahnya tak asing untuk Aric.


"Mereka di sana! Ayo Sayang!"


"Kakk ... jangan sampai lupa! Kita ucapkan selamat dan pulang!"


"Iya." Aric masih mengusap-usap bahu Sashi.


Keduanya terus maju, hingga jarak mereka semakin dekat kini.


"Ihh kok kayak gak asing sih wajah cowok yang lagi mendekat ke kita itu!" ucap seorang wanita dengan rambut yang diberi warna coklat. Ia membelalakkan matanya berusaha menerka.


"Bener! Kok kayak Aric, ya?" ucap wanita yang lain.


"Nggak salah lagi, itu mah Aric! Gila doi makin kece aja, Wa! Lo nggak nyesel Wa ninggalin Aric dulu?" ucap wanita berhijab saat ini. Salwa tersenyum getir.


"Eh tuh yang di bawa Aric istrinya, ya? udah hamil gede banget. Wah, Lo kalah sama cewe kecil begitu sih Wa?"


"Kalian lihat deh gesturnya Aric, kayaknya sayang banget doi sama istrinya itu, guys!"


"Iya, benar. Bikin iri sih!"


"Duh, beruntung banget sih tu cewe. Kira-kira kenal di mana ya mereka? Gue pikir dulu Aric bakalan nunggu Lo balik, Wa! Eh nyatanya malah doi udah mau punya anak sedang Lo malah baru tunangan, Wa!"


"Sttt! Udah diem kalian, Aric udah deket tuh!"


..._________________________________________...

__ADS_1


☕Happy reading😘


☕Kelar juga up yang ketiga❤️❤️


__ADS_2