Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
AKU CEMBURU!


__ADS_3

Sashi masih menyantap makanan di hadapannya sambil terus bercengkrama bersama Kay saat tiba-tiba sebagian lampu dapur yang lain menyala. Keadaan dapur kini begitu terang. Keduanya menoleh.


"Ka-kak?"


Aric langsung berjalan mendekat kepada Sashi, melingkarkan lengannya ke leher dan mencium berkali-kali puncak kepala istrinya itu seolah ingin memperlihatkan keromantisannya di hadapan Kaysan.


"Ka-kak ada Kay jangan begini!" lirih Sashi.


"Kenapa? Kamu itu milikku, aku berhak melakukan apapun padamu di-manapun!"


"I-ya, tentu aku milik Kakak, tapi tidak enak dilihat Kay!" ucap Sashi lagi.


"Kamu itu kenapa? Sepertinya sangat memikirkan adikku?" Lingkaran di leher itu semakin kuat.


"Ka-k? Jangan kencang-kencang sakit!"


Dada Kaysan sesak, ia menyadari kakaknya itu sedang marah. Ya, Kaysan bisa membaca Aric sedang cemburu padanya.


Kaysan sadar kehadirannya di tempat itu agaknya kurang tepat. Pun ia izin undur diri. "Oke karena Kakak sudah datang, aku akan kembali ke kamar khawatir shiza terbangun!" lontar kaysan. Aric mengangguk dengan tatapan datar.


Kecemburuan itu masih memenuhi kepala Aric. Berkali ia coba menarik napas dan membuangnya namun fikir negatif itu terus muncul. Aric bergeming, ia terus terfikir kalau-kalau Sashi dan Kaysan diam-diam berselingkuh di belakangnya. Ya, bagaimana pun keduanya pernah merasakan berhubungan intim, Aric takut keduanya akan sulit melupakan itu.


Dagu itu masih berada di puncak kepala Sashi, ia berusaha keras menetralkan emosinya. Ia menciumi puncak kepala Sashi lagi kini.


"Ka-k ... Kakak kenapa?" tanya Sashi bingung melihat perilaku Aric. Sashi sama sekali tak berfikir Aric sedang cemburu padanya dan Kaysan.


"Aku tidak apa-apa. Maaf jika tadi lingkaran tanganku terlalu kuat. A-ku se-lalu ge-mas melihatmu!" ujar Aric. Ia duduk kini di samping Sashi.


"Tidak apa-apa, Kak." Sashi tersenyum dengan manisnya.


"Bagaimana, enak mana mie instan buatanku atau buatan Kay?" tanya Aric setelahnya berusaha menghangatkan suasana.


"Sama enaknya, Kak! Ternyata kalian berdua pintar membuat mie," ucap Sashi sembari terkekeh. Ia memasukkan suapan yang terakhir ke dalam mulut setelahnya.


"Makan jangan sambil tertawa nanti kamu tersedak!" Sashi mengangguk.


Beberapa saat setelahnya Aric melihat Sashi sudah berhenti mengunyah. "Sudah selesai makannya, bukan? Bisa kita ke kamar sekarang, Hem?"


"Ayo, Kak! Aku juga sudah kenyang!" lontar Sashi dengan wajah merona. Pun keduanya beranjak ke kamar setelahnya, jemari Aric tak membiarkan pinggang Sashi kosong. Ya, Ia terus melingkarkan lengannya ke tubuh istrinya itu.


Tak berselang lama keduanya sampai di muka kamar, Aric membuka pintu. Sashi langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan mulut, sedang Aric memilih berdiri di muka jendela. Bayangan Kaysan sedang bercengkrama dengan Sashi masih tak hilang dari otak itu.


"Hahh ... bagaimana ini? Kaysan itu adikku, harusnya aku tidak boleh cemburu padanya! Tapi aku cemburu!Sangat cemburu! Tenang, jangan seperti ini Aric! Sashi milikmu, hanya milikmu! Tapi bagaimana jika rasa keduanya tumbuh lagi! Kay ... Kay ...! Aku bisa gila jika kamu ada di sekitar kakak. Tapi kamu ayah Shiza, pastinya akan selalu ada diantara kami," monolog Aric.


Aric yang melihat dari pantulan kaca Sashi telah keluar kamar mandi dan naik ke ranjang ikut bergabung.

__ADS_1


"Sayang ...." Aric memeluk bahu itu erat. Sangat erat. Ia menenggelamkan kepalanya ke bahu Sashi.


"Ka-kak sudah tidak bisa memelukku erat lagi. Ada sikembar di perut," lirih Sashi sembari tersenyum. Aric ikut tersenyum pula. Ia duduk setelahnya, mengusap-usap perut buncit Sashi dan mendekatkan wajahnya ke perut, seperti di kehamilan dulu Aric tampak terus berbisik entah mengobrol atau berdo'a Sashi tak mendengar jelas. Walau begitu, ia sangat suka dengan perlakuan Aric tersebut.


"Apa pekerjaan Kakak sudah selesai?" tanya Sashi kini sambil terus mengusap rambut suaminya.


Aric mengangkat kepala menatap Sashi. "Sudah! Maaf tadi aku mengabaikan inginmu," lirih kata itu terucap. Aric menciumi kembali perut Sashi setelahnya.


"Iya. Aku yang minta maaf tidak mengerti pekerjaan Kakak!"


Aric ikut merebahkan tubuhnya lagi. Keduanya saling berhadapan, Arik menatap lekat wajah Sashi yang juga tengah menatapnya. "Kamu tidak salah, aku yang salah membawa pekerjaan ke rumah!" Sashi tersenyum mendekatkan wajahnya ke pipi Aric. "Hari ini aku memberi toleransi, tapi lain kali aku tidak mau di nomer duakan dengan layar 16" itu!" bisik Sashi. Aric tersenyum. Baru ingin beranjak, Aric menahan wajah Sashi.


"Sash?"


"Hem?"


"Jujur! Bukankah adikku sangat tampan?"


"Kaysan, kah?" Aric mengangguk.


"Kenapa Kakak tanyakan itu?" bingung Sashi menatap wajah tampan suaminya.


"Jawab saja!"


"Iya, tampan sama seperti kakaknya!" Sashi mendekatkan wajah dan berbisik lagi. Aric tersenyum getir, ia yang sedang dibakar cemburu tak suka mendengar jawaban Sashi, ia merasa Sashi sedang memuji Kaysan.


Tanpa aba-aba Aric menahan kepala Sashi dan mencium bibir istrinya itu. Kecupan lembut yang seketika berubah menjadi kecupan penuh hasrat. Aric seolah tak ingin pagutan itu cepat berakhir. Ia melepas dan menyatukannya, lagi dan lagi.


Sashi menahan wajah itu. "Ka-kak, sudah!" Aric tersenyum getir, ia menciumi pipi Sashi setelahnya. "Ma-af!" Sashi mengangguk.


"Sash ...."


"Hem?"


"Kamu adalah milikku! Kamu harus selalu ingat itu!" lirih Aric.


"Ka-k, Kakak sebetulnya kenapa? Kakak aneh! Aku bisa kemana lagi? Bahkan perutku sedang membuncit seperti ini!" ucap Sashi sambil terus mengusap pipi Aric.


"Aku ingin jujur!" Sashi mengangguk.


"Sa-yang ... aku tau ini bodoh. Aku cemburu melihatmu ta-di bersama Ka-y!"


"Ka-kak! Kenapa? Kakak kan tahu aku tidak punya perasaan apapun pada Kay lagi! Tadi aku tidak sengaja melihat ia di dapur. Apa salah jika aku menyapanya? Aku hanya menganggap Kay sebagai teman dan tidak lebih, Kak!"


"Ma-af, iya! Aku percaya rasamu, tapi entah mengapa melihat kalian berdua hatiku selalu tidak baik. Aku takut Kay mengambilmu dariku!"

__ADS_1


"Apa Kakak fikir aku semudah itu dipindah tangan kan? Kakak jahat bisa berfikir seperti itu!"


"Ma-aff!" Aric menciumi jemari Sashi.


"Tolong jangan curiga padaku, Kak! Masalah membuat mie instan, tadi aku juga menolak saat Kay hendak membuatkan, tapi dia yang ingin melakukannya! Ia merasa berhutang budi sebab Kakak telah membantunya menjaga Shiza sejak aku mengandung hingga kini. Ia ingin membalas dengan membuatkan sesuatu yang aku dan anak-anak Kakak dalam perutku ini inginkan, bayi-bayi kita. Apa baik jika aku menolak pinta baiknya itu? Tolong jangan cemburu terlebih dan curiga pada kami! Kami tidak mungkin begitu!" Netra Sashi penuh kesungguhan menatap Aric. Aric mengangguk.


Aric jelas merasa sangat bersalah. Ia, memang tidak seharusnya cemburu. "Tolong maafkan aku, Sayang!" lirih kata maaf itu terucap lagi. Sashi mengangguk.


"Jangan seperti ini lagi ya, Kak!"


"Iya, iya Sayang!"


Diraih tubuh berisi Sashi dengan perut buncitnya itu setelahnya. Aric terus menciumi wajah itu, ia senang berlama-lama merasakan wajah lembut yang menjadi miliknya. Aric melanjutkan kecupannya ke leher dan jemari itu sudah cekatan saja meloloskan dress tidur Sashi melewati kepala.


"Ka-kak?"


"Bo-leh ya aku menengok si-kem-bar?" Sashi mengerucutkan bibir, tapi ia tersenyum dan mengangguk setelahnya.


°


°


°


TOK ... TOK ....


"Ka-k!"


"Ma-miii ... Ma-miii ...."


"Ka-k, sudah ... hentikan dulu, ada suara Kaysan dan Shiza yang menangis di luar!"


..._________________________________________...


☕Happy reading😘


☕Akhirnya lolos up juga❤️❤️


☕Jangan lupa komen dan like ya,😍


☕Ini ada rekomendasi novel karya sahabat literasi Bubu, yuk kepoin😊


Judul : Antara Kita


Penulis : Warnyi

__ADS_1



__ADS_2