
"Sepertinya kamu sekarang sangat suka ke rumahku, mbak Sashi?" Wajah itu tenang. Ia duduk menyilangkan sebelah kaki di atas kaki yang lain. Matanya tampak memperhatikan kuku-kuku yang ia beri pewarna peach. Angkuh dan datar seolah meremehkan kehadiran Sashi.
"Aku ingin menjenguk Ciara! Kudengar Ciara sakit!"
Sashi gadis labil itu seketika berubah fikiran. Melihat gelagat keangkuhan Aruna, otak Sashi mendadak tak ingin mengirim sinyal pada bibirnya untuk melontarkan tanya perihal siapa ayah biologis Ciara. Ia gamang, akankah jawaban yang ia dapati adalah kebenaran. Sashi mulai ragu.
Sashi sudah masuk ke dalam rumah itu, artinya tak ada jalan berbalik. Ia menarik napas kembali menetralkan emosinya. Berharap ia mampu mengontrol tingkah lakunya di hadapan Aruna.
"Mbak Sashi ta-u dari-mana Ciara sa-kit?" ucapan itu terbata. Aruna menerka-terka. Dalam hati itu sangat yakin Aric tak mungkin memberitahu perihal pernikahan mereka terlebih mengenai sakit Ciara. Yah, memang Sashi sudah pernah melihat foto di ruang keluarga antara dirinya dan Aric. Namun Aruna yakin Sashi masih mengira-ira belum sepenuhnya tau.
"Kenapa bingung aku tau darimana, tentu saja aku tau dari suamiku!" lugas Sashi menutupi rasa yang campur aduk di hatinya. Seperti halnya sebelumnya Sashi berusaha tegar saat ke rumah itu dan berhadapan dengan Aruna.
Aruna mendadak bungkam, dadanya sesak.
"Jadi mas Aric sudah menceritakan pernikahan keduanya, kah? Itu berarti Sashi sudah tau kalau aku madunya! Tapi kenapa gadis itu terkesan tenang dan biasa saja?" batin Aruna.
"Oh ya ... ja-di tentu mbak Sashi, upps ... sorry Sashi. Ya, kufikir panggilan Sashi lebih pantas sebab kita sekarang imbang, bahkan aku lebih dewasa darimu. Sashi ... sudah tau bukan aku juga istri mas Aric? Tentunya tidak masalah bukan jika mas Aric setelah hari ini akan sering bermalam di rumahku? Yah ... secara usia pernikahan kami lebih muda, kamu juga pasti sibuk mengurus Shiza hingga tak sempat melayani mas Aric, bukan? Bagaimana?"
Aruna berbicara sesuai yang ada di otaknya, ia tak sadar melewati batasnya. Ia seolah tau yang terjadi dalam aktivitas Sashi dan Aric. Sashi geram tapi berusaha menahan emosinya. Ia terus menggelengkan kepalanya tanpa kata. Tak menyangka Aruna yang bahkan pernah bekerja padanya bisa bicara selancang itu.
"Ada apa, Sashi? Jadi bisa bukan kalau malam ini mas Aric bermalam bersamaku?" ucap Aruna lagi.
"Mbak Aruna itu terlalu percaya diri. Bagaimana mengatakan ini. Hmm, oke mbak Aruna ingin bersama suamiku, ta-pi apa suamiku mau bermalam dengan mbak Aruna. Mengapa aku tidak yakin ya! Hmm ... oh ya, tentu saja sebab suamiku itu tak bisa tidur tanpa memelukku!" lugas Sashi.
Aruna menatap lekat Sashi, rahang itu mengeras dengan sepasang tepi alis bertemu. Tampak jelas kemarahan itu. Sashi agaknya mulai ragu melihat kemarahan di wajah itu, ia sangsi. Baginya agak heran jika Aric sosok yang sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan melakukan sesuatu bisa mencintai bahkan memiliki anak dari wanita macam Aruna. Sashi berpura tak melihat, ia memilih terus berceloteh dengan Shiza.
"Gadis kecil ini ternyata punya nyali juga untuk melawanku. Sial! Aku juga istri mas Aric! Aku akan merebut semua cinta yang mas Aric beri untukmu sampai tak tersisa!" batin Aruna.
"Oh ya mbak Aruna, di mana kamar Ciara? Kita terus berbincang sampai lupa tujuanku ke mari. Aku ke sini ingin menjenguk Ciara. Bisa arahkan aku ke kamar Ciara!" Sashi berusaha bicara selembut mungkin.
"Tentu. Ikut aku!" ucap Aruna datar, ia melangkahkan kaki setelahnya ke sebuah kamar di lantai dua di samping kamarnya. Sashi mengekor.
__ADS_1
Pintu jati berwarna coklat yang melindungi kamar Ciara dibuka, seorang anak 7 tahun tengah duduk di atas ranjang besar dengan beberapa boneka barbie. Ia tampak baik dan terus berceloteh memainkan boneka-bonekanya.
"Haii Sayang lihat siapa yang datang!" ucap Aruna mendekati raga putrinya.
Sashi tersenyum bertemu pandang dengan wajah yang dulu sering main ke rumahnya. "Hai Ciaaa," sapanya.
"Kak Sashi ...." Pekikan itu terdengar. Ciara yang hari-harinya hanya ditemani Aruna dan Diyah sering merasa bosan, kini ia tampak senang dengan kehadiran Sashi dan Shiza.
"Cia apa kabar?" Sashi mendekati Ciara dan memeluk gadis kecil itu.
"Cia sudah baik, adik Shiza taruh sini Kak, biar main dengan Cia ...," ucap Ciara, Sashi menurut menurunkan Ciara dari gendongannya.
"Kakak ke sini dengan Papa?" tanya itu spontan terucap. Walau agak aneh setidaknya Ciara masih ingat Sashi adalah orang yang dekat dengan Aric.
"Pa-pa?" batin itu sesak. Panggilan yang dulu dengan ragu sering diucap Ciara saat masih sering ke rumahnya, kini Sashi mendengar panggilan itu lugas dikeluarkan. Menggambarkan dekatnya hubungan keduanya saat ini.
"Tenang Sashi ...! Tenang!"
"Cihh ... ucapan apa ini? ibu dan anak senang berkhayal," batin Sashi geram.
"Oh iya Cia lupa, Bunda." Ciara berkata lagi setelahnya. "Kakak Sashi tau darimana rumah Cia sekarang di sini?"
"Tentu Kakak tau, apa sih yang Kakak tidak tau," jawab Sashi asal, ia mengedarkan pandang kamar tersebut, ia merasa sesak! Kamar Ciara sangat mirip kamarnya. "Bagaimana ini bisa terjadi?" batin Sashi.
Ciara menangkap Sashi melihat-lihat kamarnya. Pun ia berucap.
"Kakak ... apa kamar Cia bagus? Cia minta Papa membuatkan kamar seperti kamar di rumah Kakak. Cia sekarang punya kamar besar dan bagus juga Kak?"
Entah mengapa sesak itu seketika muncul lagi, Ciara menginplementasikan apa yang diinginkannya di masa lalu, tentu ini pengharapan dan motivasi bagus. Tapi sayangnya yang ia inginkan adalah sesuatu yang dimiliki Sashi. Sashi menatap lekat netra itu, ada kesedihan menyeruak.
"Kakak ... Kakak suka boneka yang mana?"
__ADS_1
Sashi bergeming masih menatap boneka-boneka yang di julurkan Ciara, boneka-boneka itu digenggam di tangan kanan dan kiri dan diperhatikan seksama.
"Aku juga punya boneka-boneka seperti ini di rumahku, boneka-boneka yang aku bariskan di atas bufet dan sudah jarang kumainkan!" monolog Sashi lagi.
Ya, saat Aric masih acuh, Sashi memang senang memainkan dan berbincang dengan boneka-boneka yang mirip boneka yang ia genggam saat ini.
"Boneka-boneka Cia bagus semua, Kakak jadi bingung pilihnya," lirih Sashi sembari memaksa tersenyum.
"Iya boneka Cia memang bagus seperti boneka Kakak, Cia juga kalau besar ingin seperti kak Sashi, baik dan cantik. Cia juga ingin mengendong bayi seperti Shiza. Kalau Papa, Cia sudah punya Papa Aric!" Sashi tersenyum getir mendengar setiap kata dari bibir Ciara.
"Bunda ... ayo telfon Papa! Cia mau bicara dengan Papa! Cia kangen Papa, Bunda ...."
"Oh iya Papa memang hari ini belum telfon, oke Bunda coba yaa, semoga Papa tidak sibuk di jam ini," ucap Aruna sambil melirik Sashi.
"Jadi kak Aric sering menghubungi Ciara dari kantor? Huhh Kakak, kamu sangat perhatian sekali pada mereka, bahkan aku dan Shiza belum Kakak telfon hari ini!" Sashi memberengut, ia mengangkat Shiza masuk dalam dekapannya.
Panggilan itu terhubung, Sashi berdiri di kejauhan melihat rona semringah Ciara, ia terus tersenyum dan bercerita aktivitasnya hari ini tanpa jeda. Ciara sangat nyaman dengan Aric, menganggap Aric benar-benar Papanya. Batin Sashi kembali bergemuruh, ketakutan yang belum lama ia hempaskan mengenai tidak mungkinnya Aric menyukai sosok Aruna kini memutari otaknya lagi setelah melihat kedekatan Ciara dan Aric.
Sashi masih terus memperhatikan Ciara, hingga ia tertegun saat melihat senyum Ciara jika dilihat-lihat tak asing untuknya. Senyum Ciara dan mata bulatnya mengapa seakan mi-rip .... Kaysan.
Otak Sashi semakin berselancar mencari jawab. Kaysan dan Aric bersaudara, tentunya memiliki kemiripan walau berbeda usia. Dan kini, Ciara juga mirip Kay. Sashi tiba-tiba terfikir lagi tentang ayah kandung Ciara, siapa ayah kandung Ciara.
"Mungkinkah jika kak Aric memang ayah biologis Ciara? Tidak ... Tidak mungkin!"
"Apa mbak Sashi baik-baik saja?" Aruna yang melihat perubahan raut wajah Sashi bersikap sok peduli.
"Hee, a-ku ba-ik! Hawa di sini agak panas. Bisa kita bicara di luar berdua, Mbak! Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan!"
__________________________________________
☕Happy reading😘
__ADS_1
☕Semoga hari ini bisa double up, jangan lupa komen, like dan votenya untuk karya ini❤❤