Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
MENDENGAR LAGI SUARA MANJA ITU


__ADS_3

Melihat ponsel di tangan Rena jantung itu berdetak cepat. Alat komunikasi semacam itu sepekan sudah tak ia jumpai. Dan ia jadi berfikir satu hal.


"Ka-kakk."


"Lo kenapa bengong lagi, Sash?" tanya Rena masih menekan-tekan tombol di layar 6 in itu.


"Ren ... hmm-----


"Nih!" Belum lagi menjawab Rena sudah menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan Sashi. Sashi masih kaget hingga tak menyadari ponsel dalam genggamannya terus bergetar. Ia menunduk menatap layar dan seketika dada itu sesak. Sebuah panggilan dengan foto dirinya dan Shiza muncul di layar ponsel Rena.


"Kebiasaan sih suka bengong. Buruan tuh angkat laki lo nelpon!" Ya, pagi tadi Rena yang jengah di rumah seketika terfikir sahabatnya Sashi yang sudah sepekan tidak muncul di sosial media, bahkan chat dari aplikasi hijau juga tak pernah dibalas. Pun Rena memutuskan mendatangi rumah Sashi.


Rena datang bersamaan dengan keluarnya mobil Aric, Aric yang beberapa kali bertemu langsung tau itu adalah teman Sashi. Pun ia menyapa Rena dan menceritakan Sashi sedang menginap di tempat orang tua. Saat itu Aric juga meminta agar Rena mengabari dirinya jika sudah di rumah Sashi. Dan semua terjadi, setelah sampai di kamar tadi Rena langsung mengirim pesan ke Aric bahwa ia sudah sampai.


Kembali pada Sashi. Jantung dalam raga itu sudah tak karuan. Sesak di dada tiba-tiba terasa. Rasa campur aduk Sashi rasa. Lelaki yang ia rindu menghubunginya. Perlahan Sashi mengarahkan ibu jarinya pada tombol hijau itu dan tak lama wajah lelakinya terlihat.


Hening, satu kata yang menggambarkan kejadian saat itu. Dua pasang mata saling mengunci, menelusuri tiap inci wajah kekasihnya. Keduanya rindu, sangat rindu. Bahasa mata itu sudah mengalahkan bahasa verbal. Mereka masih saling menatap saat sang lelaki mulai mengeluarkan kata.


"Assalamu'alaikum Sayang." Lirih dan sangat lembut kata itu terucap. Menatap wajah, mendengar suara membuat hati Sashi yang sedang sensitif belakangan itu terenyuh. Wajah itu terlihat sangat pilu dan netra itu mulai berkaca.


"Heiii ... kenapa menangis? Jangan menangis, Sayang. Sashi Mumtaz wanita kesayanganku."


"Ka-kak ...!" Panggilan manja itu lirih keluar bersamaan bulir yang mulai keluar satu persatu dari pelupuknya.


"Jangan menangis, hem!" Bibir Aric memang berusaha menguatkan, tapi hati itu terenyuh pula melihat kekasihnya bersedih. Ia bisa merasakan yang Sashi rasa, Sashi sedang rindu, sangat rindu, seperti halnya dirinya. Manik mata Aric ikut berkaca melihat Sashi menangis.


"Kakak juga sedih, apa Kakak merindukanku?" lirih Sashi berucap sambil melirik Rena yang meraih tubuh Shiza dan membawanya ke sofa. Agaknya Rena paham dan ingin membiarkan keduanya saling meluapkan rindu.


Mendapat tanya Sashi, Aric tersenyum getir. Bagaimana Sashi bisa menanyakan hal semacam itu, tentu saja ia rindu. Tapi ia langsung tau, Sashi hanya sedang memastikan rasa itu.


"I-ya sa-ngat. Alaric sangat rindu Sashi Mumtaz! Oh ya Sayang, kamu belum menjawab salamku!"


Sashi tersenyum, ingin berbincang sampai lupa menjawab doa yang dihaturkan Aric. "Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, kak Aric suami Sashi!" Aric tersenyum mendengar jawaban istri kecilnya itu.


Tok ... Tok ....


Belum lagi obrolan itu berlanjut, terdengar ketukan dari arah luar.


"Ada yang datang! Sebentar aku tutup dulu ya, Kak. Tapi nanti Kakak harus telfon lagi!" Aric mengangguk sembari terus tersenyum. Senang sekali ia mendengar suara manja itu. Suara Khas Sashi yang baru mendengarnya saja bisa mengobar hasratnya.


Sashi membuka pintu kamar. Tampak di sana Ningsih membawa sebuah nampan dengan minuman yang tadi diminta Sashi.


"Ayo minum dulu, Ren?" ucap Sashi. Wajah itu tampak semringah kini, senyum tak berhenti mengembang.


"Segitu kangennya ya jauh dari pasangan?" lontar Rena meletakkan Shiza ke ranjang dan mengambil orange jus yang disodorkan Sashi.


Sashi mengangguk. "Heem, kangen pake banget!"

__ADS_1


"Berapa hari emang gak ketemu?"


"Lima hari." Sashi mulai meraih gelas besar dengan teh hangat. Beberapa hari ini memang sebentar-sebentar Sashi akan minta dibuatkan teh panas untuk meredakan mualnya.


"Lama juga ya, kenapa gak balik aja sih kalau kangen? Di sini juga bokap nyokap lo pada sibuk!"


"He-e maunya gitu. Tapi kak Aric lagi di hukum gak boleh ketemu gue!"


"Doi buat salah apa emang?" Sashi terdiam. Ingin sekali menceritakan semua pada Rena tapi ia takut sama saja menyebar aib suaminya.


"Ada deh!"


"Curang gak mau cerita! Besok-besok gue nggak mau curhat sama lo lagi!" Wajah Rena memberengut, ia menyesap lagi minumannya.


"Beda Ren, ini masalah rumah tangga gak enak kalau kesebar!" lirih Sashi menyeruput teh panasnya sedikit demi sedikit dan meletakkan di nacash.


"Lo sekarang gak percaya gue, Sash? Ayo dong cerita. Kali bisa redain sedih lo. Lupa kalo kita sahabat?" Sashi tersenyum sambil berfikir. Tiba-tiba ponsel Rena berbunyi lagi.


"Kak Aric telfon gue lagi! Sebentar ya Ren, iya nanti gue ceritain." Rena mengangguk, merebahkan diri di ranjang sambil bercengkrama dengan Shiza. Sashi menjauh duduk di kursi di sisi jendela.


"Sayang ...." Suara Aric mulai terdengar lagi.


"Ka-kak."


"Sabar dua hari lagi, ya!"


"Sashi sehat, kan?"


"Hu-um. Kakak juga, kan? Kenapa kantung mata kakak hitam?" Sashi menatap lekat wajah lelakinya.


"Tidak ada yang dipeluk, aku sudah tidur. Kantung matamu juga hitam!"


"Aku juga susah tidur, tidak ada yang memeluk!" Keduanya masih terus menatap dan kini sama-sama tersenyum getir.


"Sabar, Sayang."


"I-ya. Kak ... selama ini Kakak menjaga diri dengan baik, kan? Apa mbak Aruna berusaha menggoda Kakak?"


"Aku tidak mau membahas dia. Bicara tentang kita saja. Oh ya, perlihatkan wajah Shiza, aku juga rindu Shiza."


"Oh iya, sampai lupa. Sebentar ya, Kak!"


Setelahnya keduanya terus berengkrama, bahagia dirasakan oleh keduanya. Hingga tiba-tiba Aric izin karena ada furniture yang akan di kirim dan ia harus mengeceknya.


"Sebelum kututup, katakanlah, apa kamu mencintaiku, Sash?"


"Iya."

__ADS_1


"Katakan yang jelas."


"Aku cinta Kakak, sangat cinta!" Aric memejamkan mata merasakan desiran itu.


"Katakan lagi, Sayang!"


"Aku cinta Kakak, hanya cinta Kakak. Selalu rindu Kakak!"


Aric menatap wajah polos Sashi. Desiran itu kuat. Ia bahagia mendengar ucapan Sashi tapi ia masih ingin mendengarnya lagi.


"Se-kali lagi, Sa-yang!"


"Ka-kk ...."


"Ayolah!"


Sashi lagi-lagi melirik Rena, Rena yang sejak tadi diam-diam mendengar pembicaraan Sashi memilih berpura tak mendengar.


"Sashi Mumtaz cinta, sangat cinta Alaric Abdi Perwira Papa Shiza!" ucapan itu lolos. Keduanya sama-sama tersenyum setelahnya. Mereka bahagia, obrolan singkat itu sedikit meredakan kerinduan. Setelah melontar salam panggilan itu pun berakhir.


"Sashh ... ayo sekarang lo ceritain masalah lo sama Kak Aric ke gue. Inget tadi lo udah janji!"


"Iya, iya ... sebentar!" Sashi seketika lari ke toilet. Mulutnya mual lagi. Ia menyeruput teh setelahnya.


"Sash-----


"Sebentar dulu ya!" Sembari menutup mulutnya Sashi membuka pintu.


"Bik Ningsih!" teriak Sashi.


"Iya, mbak Sash?"


"Tehnya tidak panas lagi. Tolong tambahkan air panas ya, Bik! Jangan tambahkan gula. Aku tidak mau terlalu manis!"


"Baik, Mbak!" Ningsih berlalu setelah meraih gelas Sashi. Sashi masuk tanpa menutup pintu karna Ningsih akan segera kembali.


"Sashh .. lo kok muntah-muntah sih? Lo lagi hamil ya?"


"Hahh ... ha-mil?"


__________________________________________


☕Happy reading😘


☕Ditunggu selalu komen kalian, maaf alur kisah ini lambat, biar ngena setiap kejadiannya. Makasih yang terus menanti kelanjutan cerita mbak Sashi❤❤


BIG HUG FROM BUBU🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2