Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
BARU SESAAT SUDAH RINDU


__ADS_3

Ada kepiluan di hati Aric melihat mobil yang membaca istri dan anaknya itu semakin menjauh dan tak terlihat. Andai boleh menyesal, menikahi Aruna adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat dalam hidup.


Aric sadar begitu bodoh, ia baru sadar berempati dan perilaku baik bisa menjerumuskan diri sendiri dalam kobakan. Berkali ia menarik napas panjang dan membuangnya ke udara. Baru beberapa saat berpisah dengan istrinya itu, rasa rindu sudah terasa.


Aric memundurkan tubuh hingga membentur kursi. Aric menjatuhkan tubuhnya ke kursi di teras rumah itu. Ia memejamkan mata beberapa saat, namun bayang Sashi terus muncul. Sashi yang manja, polos dan sangat apa adanya. Ia sudah rindu istri kecilnya itu. Gadis 19 tahun itu telah mengobrak-abrik hatinya.


Seketika Aric ingat ucapan Lutfi, satu persatu kalimat yang Lutfi ucap beberapa saat lalu memenuhi kepalanya. Lutfi mengambil langkah menjauhkannya dari Sashi karena Lutfi ragu dengan cinta Aric. Ia ingin Aric lebih semangat untuk menceraikan Aruna. Mencari donor sum-sum itu. Berpisah dengan Aruna sosok wanita kedua sebagai bukti tulus cintanya pada Sashi.


Aric yang sadar tak bisa jauh lama dengan istri kecilnya itu merasa harus mengambil tindakan. Ia bangkit dan masuk ke dalam rumah. Diraih gagang telepon kabel dan dihubungi satu persatu pegawainya.


Ini hari minggu, seluruh pegawainya libur tapi Aric ingin para pegawainya itu datang ke kantor dan membawa masing-masing 5 orang anggota keluarganya atau orang siapa saja. Aric ingin mengecek sum-sum mereka. Tapi tentunya Aric ingin memberi arahan lebih dulu bahwa tidak akan ada imbas yang terjadi, Aric juga akan memberi imbalan jika sum-sum mereka cocok dengan milik Ciara.




Di tempat berbeda, sosok gadis ayu baru saja memasukkan penyegar dahaga sang putri ke dalam celah bajunya. Aira dengan cekatan segera meraih tubuh Shiza dari pangkuan Sashi, mata bulat itu terbuka penuh. Setelah tadi terus menangis, kini Shiza tampak tenang. Shiza yang aktif terus menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri tak kenal lelah. Aira mengikuti setiap pergerakan cucunya itu sambil sesekali melihat Sashi. Wajah putrinya itu sedih.


Sashi membuang wajah ke luar jendela saat tubuh Shiza lepas dari dekapannya. Bersusah payah Sashi singkirkan sedih itu tapi tak bisa. Bayangan Aric terus muncul. Laki-laki itu sudah sangat memanjakannya, mencintainya. Setiap sentuhan dan bahasa cinta Aric tak bisa ia singkirkan.


Pepohonan, mobil-mobil, orang yang hilir mudik menjadi pengamatan Sashi. Mata itu mencari penghempas pilu tapi hatinya seakan kosong, mati rasa. Ia bergeming. Diam menjadi solusi untuknya. Membiarkan perih itu hilang dengan sendirinya.


Lutfi menatap pancaran kesedihan itu. Ia tau keputusan itu sesungguhnya tak benar. Memisahkan istri dari suaminya. Setiap ayat-ayat itu tiba-tiba muncul di otak Lutfi, kecintaan pada anak-anak, harta benda bisa melemahkan kita dari syariat cinta pada Pencipta. Getir di rasa hati itu, kecintaan pada sang putri mengalahkan setiap nilai agama yang ia miliki.


Ya, Lutfi orang yang bijak menyampaikan ayat demi ayat pada jamaahnya namun nyatanya ia lemah pada keluarganya sendiri, putri tercintanya. Ia tak menerima putrinya diperlakukan seperti ini. Aric harus tau putrinya itu berharga, setidaknya berharga baginya dan Aira bundanya. Sashi juga memiliki cinta keluarganya, Sashi masih bisa bernapas dengan baik walau jauh dari Aric. Ya, menantunya itu harus juga memiliki rasa yang sama, memantaskan Sashi menjadi seorang istri dan tidak sedikit pun menggampangkan kepolosan Sashi.


Lutfi memang salah selama ini. Karena kesibukan dirinya dan Aira, Sashi bisa memperoleh apa saja yang ia inginkan, tapi hal yang dibutuhkan Sashi sesungguhnya mereka lalaikan, kasih sayang dan pemberian nilai kehidupan. Sashi hidup dengan banyak cinta dari mima yang selalu memanjakannya, hingga Sashi lupa arti kedewasaan.


Lutfi menarik napas itu panjang, terfikir akan sosok Aric, ia lega. Menantunya itu nyatanya pria baik, walau baiknya menjerumuskan kepercayaannya. Lutfi sangat berharap Aric segera menemukan solusi sehingga putrinya itu bisa kembali ke rumahnya. Hati Lutfi sebetulnya tersayat melihat kesedihan di wajah putrinya itu.

__ADS_1


10 Menit berlalu, bangunan satu lantai dengan luas 200 meter itu telah berada di hadapan mereka. Lutfi dengan cekatan memarkirkan kuda besinya. Sashi dan Aira langsung membuka pintu saat mobil telah terparkir sempurna.


"Sashi, Yira (panggilan khusus Lutfi pada Aira)," panggil Lutfi seketika membuat dua wanita yang berjalan menjauh dari mobil menoleh.


"Ada apa, Yah?"


"Kalian langsung beristirahatlah, Ayah ada urusan!" Kedua wanita itu mengangguk.


"Oh iya, Sash ...!"


"Hem?" lirih sashi.


"Kemari sebentar, Nak!" Sashi menurut, ia mendekati jendela mobil tempat wajah Lutfi terlihat.


Lutfi mengelus pipi itu dan mengangkat dagu Sashi. "Ayah sangat sayang Sashi! Ingat itu!" Sashi mengangguk dalam keheningan.


"Oke beristirahatlah, jangan fikirkan macam-macam!" ucap Lutfi. Sashi lagi-lagi mengangguk.


Lutfi memainkan kemudi dengan cepat. Ia merasa perlu menemui Rico. Lelaki yang telah menjadi besannya itu bahkan tak datang padahal ia sudah menghubunginya tadi. Berhubung ini hari minggu, Lutfi melajukan mobil itu ke rumah Rico. Rico pasti sedang di rumah, fikir Lutfi.


Bangunan berdominasi cream sudah terlihat. Penjaga tampak melihat Lutfi seksama dan menanyakan identitas Lutfi sebelum gerbang itu dibuka.


"Hahh penjaga itu, sepertinya pekerja baru. Apa wajahku ada tampang penjahat kah?" Lutfi yang geram terus bergumam. Ia lupa bahwa penjaga di rumahnya sendiri pun akan melakukan hal yang sama jika ada orang tidak dikenal datang. Ya, kemarahan sedang menguasai Lutfi.


"Assalamu'alaikummm ...," pekik Lutfi.


Tak menunggu lama seorang wanita paruh baya keluar. "Wa'alaikumsalam. Eh, pak Lutfi. Ada apa ya, Pak?"


"Panggil Rico keluar!"

__ADS_1


Melihat gelagat kemarahan Lutfi ada rasa takut. "Ba-ik, Pak. Silahkan tunggu di ruang tamu," lirih Marni sang RT terbata.


Tak berselang lama, raga tegap yang masih tampan di usianya turun menapaki anak tangga. Tanpa rasa bersalah ia mendekati raga Lutfi. "Ada apa kemari?"


"Langsung saja, apa kau sudah tau anak lelakimu itu sudah menduakan putriku?" ujar Lutfi seketika berdiri.


"Aric?"


"Tentu saja dia, siapa lagi? Putramu yang lain bukankah sudah tiada?" lugas Lutfi lagi.


Rico menelan salivanya baru berucap. "Santai, duduklah lagi! Kita bicarakan ini dengan tenang!" datar Rico. Lutfi pun duduk.


"Langsung saja jawab, apa kau tau semua ini? Hahh ... ayah dan anak sama saja! Astagfirulloh!"


"Jaga bicaramu Lutf, upss ... ustad Lutfi!" Masih bisanya Rico meledek seseorang pemuka agama yang pernah menjadi rekannya itu.


"Oke, jawab saja!"


"Aku tidak tau apa pun perihal anak itu. Aric sudah dewasa dan berumah tangga, ia bisa menentukan apa pun yang menurutnya baik!"


"Kurang ajar! Bisa-bisanya kamu santai membicarakan ini! Ketahuilah, anakmu itu telah memiliki istri lain selain Sashi putriku!"


"Apa ini? Apa yang Mas Lutfi bicarakan? Siapa yang punya istri lain?" Mata Kalina membulat mendengar pernyataan yang samar ia dengar.


_________________________________________


☕Happy reading😘


☕Ditunggu selalu jejak kalian, maaf gantung nanti sorean lagi ya. Otw bakulan dulu😄😄

__ADS_1


BigLoveFromBubu❤❤


__ADS_2