Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
AKU ISTRI 19 TAHUN YANG RELA DIMADU


__ADS_3

Acara makan pagi berlangsung tenang, hanya suara denting sendok bertemu piring menjadi satu-satunya pereda keheningan. Berkali Aric mencuri pandang Sashi yang sejak muncul ke ruang makan terus menundukkan wajah dan terdiam. Bahkan Shiza yang biasanya terdengar suaranya dari ruang tamu sedang ditemani Sumi ikut tak bersuara.


Aric tak suka situasi seperti ini. Ia rindu suasana riuh Sashi yang bercerita apa saja yang ia alami atau dirasakan. Ia sungguh tak suka kebungkaman Sashi. Ia tau dirinya salah tapi ia tak ingin didiamkan. Dimarahi justru membuat ia lebih senang. Ya, setidaknya suara orang yang ia cinta masih didengar.


Aric ingin memulai tanya itu, tapi ia bahkan tak tau apa isi otak kecil istrinya. Aric takut tanyanya justru membuat Sashi marah dan meninggalkan acara makan paginya. Sesuatu yang tidak baik, sebab Sashi harus mengisi perut dengan nutrisi untuk menyusui Shiza. Aric akhirnya memilih diam. Ya ... diam agaknya lebih baik, menahan hingga Sashi menghabiskan makan baru ia akan mengajak Sashi bicara, itu yang difikir Aric.


Selang waktu, akhirnya isi piring keduanya habis. Sashi berdiri, ia naik ke atas sesaat dan turun kembali dengan tas laptop Aric. Ia menyiapkan kebutuhan Aric dalam diam, hening, datar, tanpa senyum membingkai wajah cantiknya.


Aric tak bisa menahan lagi. Ia habis kesabaran. Ditahan dan ditarik lengan Sashi ke sebuah ruangan dengan rak tinggi berisi buku-buku. Aric menutup pintu dengan sebelah tangannya yang lain.


"Duduklah, Sash!" Aric yang telah duduk lebih dulu di sebuah sofa panjang melontar kata. Sashi duduk di tepi sofa tampak jauh dari raga Aric. Aric menggelengkan kepala, ia tak suka. Ia kini yang memindahkan duduknya tepat di samping Sashi, dekat ... sangat dekat, bahu keduanya telah bersentuh. Aric merasakan desiran itu masih sama, tapi dilihatnya Sashi bersikap tenang tanpa ekspresi. Aric mulai resah.


"Apa Sashi tak merasakan desiran lagi saat di dekatku? Apa rasanya telah hilang sebab kesalahanku? Ya Tuhan ... bagaimana ini? Jangan hapus cinta itu dari hatinya! Aamiin," batin Aric.


Sashi masih terus terdiam, berusaha menahan desiran yang muncul kala persentuhan itu terjadi. Ya, walau hanya siku bahu keduanya yang bersapa, tapi Sashi sudah serasa meleleh seakan tubuhnya tanpa tulang, ia ingin merebahkan kepalanya seketika di dada Suaminya.


Mata Sashi berkaca, baru membayangkan ingin merebahkan kepala ke dada Aric, hati yang mudah tersentuh itu langsung sedih. Apa kemesraan seperti itu bisa mereka lalui lagi dengan bingkai penghianatan di dalamnya. Ya, walau hanya terpaksa, tapi penghianatan dan kebohongan itu tetap terjadi. Lagi-lagi otak kecil Sashi menyangkal, tak mungkin tak pernah ada hubungan badan antara keduanya. Sashi dengan kelemahannya, baru saja ingin menyingkirkan berbagai kemungkinan buruk tentang Aric, tapi seketika dirasa ada tekanan di kepala yang terus mendorong kepalanya hingga mendarat cantik di atas dada bidang terbalut kemeja berwarna biru langit yang dikenakan Aric. Sashi kaget. Ia mendongakkan kepala menatap wajah Aric.


"Jangan angkat, tetap begini, please!" Sebelah tangan itu merangkul, sebelahnya terus menyapu kepala Sashi.


"Sash ... please jangan diamkan aku! Luapkan saja marahmu, jangan diam! Sekali lagi aku minta maaf, Sayang!"


Sashi ingin mengangkat kepalanya tapi sangat sulit, lengan Aric menahannya. Akhirnya ia pasrah. Aric kembali berucap. "Bicaralah Sash, aku mau dengar suaramu! Katakan apa pun yang ada di otakmu!"


Sashi masih terdiam, ingin memberi jera pada Aric dengan tak bicara padanya. Aric semakin bingung, tubuh Sashi sudah dipeluknya tapi istrinya itu bak patung, terus bergeming.


"Sashh ... please bicara!" Sashi masih bungkam.


"Aku tau ini sulit kamu terima, bahkan aku juga sulit melaluinya, tapi aku tak punya pilihan." Sashi masih diam, satu persatu bulir mulai lolos dari pelupuknya.


"Sashh ... bicara, Sayang!" Aric semakin mengeratkan pelukannya tapi Sashi tak merespon sedikit pun. Aric akhirnya melepaskan pelukannya. Diangkat dagu Sashi hingga tampak wajah sendu itu. Aric membuang napasnya kasar.

__ADS_1


"Siapkan pakaimu dan Shiza, aku akan mengantarmu ke rumah ayah! Mungkin bersama ayah dan bundamu kamu bisa lebih bahagia ketimbang bersamaku yang hanya bisa menyakiti!" lirih kata itu keluar dari bibir Aric. Sashi mengedarkan pandang ke wajah Aric, ada kesedihan di sana. Ia terdiam sambil terus menatap wajah Aric. Cukup lama keduanya saling menatap dalam kebungkaman, hingga akhirnya Sashi angkat bicara.


"Hanya sampai sini usaha Ka-kak? Cepat sekali Kakak menyerah! Aku diam karena sedang mencerna segalanya! Aku tidak mau salah memutuskan!" ucap Sashi akhirnya, lirih ... sangat pelan.


"Akhirnya kamu bicara. Terima kasih! Kamu mau putuskan apa? Jangan putuskan hal yang akan menyakiti dirimu, Sayang! Tetaplah di sisiku, jangan sudahi!" Sashi masih melihat wajah itu.


"Kalau Kakak ingin aku bertahan, ceraikan wanita itu! Aku ingin menjadi satu-satunya yang mendampingi Kakak! Bi-sa?"


"Ber-ce-rai? I-tu -----


"Hahh ... bagaimana mengatakannya pada Sashi bahwa dalam perjanjian, kami baru akan berpisah jika Ciara sembuh. Tapi untuk sembuh, Ciara butuh sum-sum sel punca. Milikku tak cocock. Hanya milik Kay-san yang co-cok? Tapi Kaysan masih koma, haruskah aku berusaha menyadarkannya? Tapi jika sadar, ia akan mencari Sashi. Bagaimana i-ni ...?"


Aric masih bicara dalam Diam. Ia bimbang. Seperti buah simalakama, membuat Ciara sembuh berarti harus menyadarkan Kaysan. Karena beberapa bulan lalu Aric pernah melakukan pengecekan sum-sumnya dan Kaysan, namun milik Kaysan yang cocok. Tapi jika Kaysan sadar, situasi akan semakin rumit karena Sashi, wanita yang dicintai Kaysan nyatanya telah menjadi miliknya.


"Kenapa berhenti? Bi-sa kan Kakak menceraikan dia? Aku hanya ingin jadi satu-satunya, itu saja!" ucap Sashi dengan wajah memberengut.


"Sa-yang ... itu ten-tu, ta-pi tidak saat ini! Aku janji suatu saat kamu akan jadi satu-satunya! Janji!" lirih Aric.


"Kenapa suatu saat?"


"Dan selama itu Kakak akan mengunjungi rumah mbak aruna setiap malam?" Aric duduk kembali, ia menatap lekat Sashi dan mengangguk setelahnya. Sashi membuang napas kasar. Bibir itu mengerucut.


"Please percaya aku, Sash! Hubungan kami hanya sebatas Ciara, setelah ia sembuh aku bebas. Aku selamanya akan menjadi milikmu."


"Jujur, apa kalian benar-benar belum pernah melakukan hubungan itu, Ka-k?"


"Hubungan a-pa?" Aric berpura lugu, entah mengapa ia seketika ingin menggoda Sashi. Ya, mungkin karena Aric mulai melihat gelagat Sashi mulai melunak.


"I-tu!"


"Itu apa? Bicara yang jelas!" Aric mulai mendekatkan bibirnya ke pipi Sashi.

__ADS_1


"I-tu se-perti yang ki-ta lakukan se-malam."


"Semalam memang kita melakukan a-pa?"


Aric sudah mendorong tubuh Sashi hingga bersandar di sofa. "Ka-kak ...."


"Tidak ada! Tidak pernah ada hubungan semacam i-tu! Pa-ham?" Bisik Aric dengan deru napas tak beraturan, berdekatan dengan raga Sashi selalu membuat hasrat itu mudah terbakar. Aroma minyak telon bercampur bedak bayi sangat menghipnotisnya. Aric suka harum itu. Harum tubuh bayi yang natural, sangat selaras dengan lembutnya kulit tubuh Sashi.


Jarak keduanya semakin dekat, bibir Aric bahkan sudah menyambangi bibir Sashi. Bermain-main dengan penuh gelora. Sashi memukul-mukul dada Aric awalnya, namun ia terbawa setelahnya. Entah bagaimana tubuh Sashi sudah roboh, ia seakan pasrah pada setiap permainan Aric. Aric sudah mengukung tubuh Sashi di atas Sofa .


"Ka-kak ...," lirih Sashi saat Aric akhirnya melepaskan pagutannya.


"Kamu itu tempat aku pulang! Cuma bersama kamu aku bisa begini. Merasa nyaman dan merasa selalu ingin memiliki kamu! Sas-hi Mum-ta-z, bo-leh, kan?" Pancaran wajah itu penuh hasrat menggebu yang ingin lekas di tuntaskan. Seperti biasa Sashi masih terdiam, tapi jemari Aric mulai melepaskan satu persatu kancing piyama yang dikenakan Sashi.


"Kak----- Aric meraup lagi bibir itu tak membiarkan Sashi bicara. Sashi tak bisa berkutik.


"Bukankah lebih baik Kakak menyalurkannya denganku! Ya, biarkanlah ...! Toh Kakak sudah mengatakan hanya melakukan hal seperti ini denganku. Aku juga dosa kalau menolak Kakak, tapi ... apa artinya aku siap dimadu? Hahh ... Sashi Mumtaz sangat bodoh! Aku istri berusia 19 tahun ini nyatanya telah rela dimadu! Bodoh! Bodoh! Tapi aku cinta kak Aric. Sangat cinta! Aku tak kan membiarkan mbak Aruna memiliki raga kak Aric! Akan kujaga suamiku dari wanita ular itu!" Sashi terus membatin, sedang Aric terus melakukan apa pun yang ia inginkan pada tubuh Sashi.


"Ahh ... Ka-kak!" Desa han itu lolos. Aric tersenyum, ia bahagia Sashi nyatanya wanita yang baik. Ia luluh. Dalam hati itu berjanji akan menjaga tubuhnya selalu dari Aruna. Tubuh dan hatinya hanya milik Sashi.


________________________________________


☕Happy reading😘


☕Yang baru kenal Bubu, Bubu punya bakulan di rumah jadi frekuensi dan waktu updatenya gak bisa ditentukan. Tau sendiri ibu2, rempong kerjaan rumah, jadi guru buat bocah, bakulan, dan jadi penulis remahan pula😥


☕Terima kasih yang sudah sabar menunggu❤❤


☕Btw, sembari nunggu novel Bubu Up bisa mampir ke karya kakak literasi Bubu.


Judul : Simfoni Temaram Takdir

__ADS_1


Karya : Tita Dewahasta



__ADS_2