
15 Menit berlalu, akhirnya raga yang ditunggu tiba. Sosok tegap dan rupawan memasuki ruangannya. Aric langsung tersenyum melihat wajah wanita yang dicintainya itu. Sashi terlihat sedang tersenyum-senyum sambil memainkan jemari di atas layar ponselnya. Mendengar pintu terbuka Sashi menoleh, ia langsung berdiri mendekat pada suaminya.
"Apa kita sudah bisa pergi dari sini, Kak?" Aric tersenyum dan mengangguk. Sashi melingkarkan jemarinya di leher Aric, berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke pipi Aric. "Terima kasih, Kak! Kakak memang tak pernah ingkar janji!" bisik Sashi mengerling manja.
CUP
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Aric, baru akan beranjak Aric menarik pinggang itu mendekat, sangat dekat, hingga tubuh itu tak berjarak.
"Mau ke-mana?"
"Ka-kak ... i-tu aku mau menjaga Shiza nanti jatuh," kilah Sashi.
"Setelah menggodaku, kamu fikir bisa pergi begitu saja?" Aric mengusap pipi Sashi hingga ke bibirnya. Ia mendekatkan wajahnya setelahnya. "Aku tidak suka ciuman seperti itu, aku mau yang lama!" bisik Aric.
"Ka-kak, Tadi di mobil kan su-dah!"
"Ta-pi di sini belum!" Aric sudah mulai mengabsen wajah itu.
"Ka-kak jangan! Nanti ada yang masuk!"
"Tidak ada yang berani masuk tanpa izinku!" Tanpa aba-aba bibir itu sudah bersapa dengan bibirnya Sashi. Sashi bergeming pasrah dengan perilaku Aric namun matanya awas menatap pintu kalau-kalau ada yang datang. Aric melepas pagutannya. "Balas aku!" Mata itu mengiba, Sashi akhirnya mengangguk. Aric melanjutkan lagi permainannya, kali ini Sashi mengikuti permainan Aric. Aric mulai tak terkontrol. Ia mendorong tubuh Sashi jatuh ke sofa di samping kaki Shiza. Jemarinya sudah menyusup masuk melalui celah kemeja yang Sashi pakai. Sashi sudah tampak lemas saja mendapat perlakukan Aric. Namun tiba-tiba.
KREK
PINTU TERBUKA
Aric melepas pagutannya.
"Pa-pa?"
"Astaga!" Rico membuang wajah, Sashi langsung berlari tergesa ke toilet.
"Papa datang mengapa tidak mengabari Aric?"
"Apa aku orang asing hingga harus mengabari dahulu untuk datang!" Aric menunduk. Rico melihat pintu toilet sudah terbuka tapi Sashi tak jua keluar.
"Sashi, ke mari, Nak! Jangan bersembunyi di sana!" Perlahan Sashi keluar, ia berjalan perlahan mendekat dengan pandangan terus menunduk. Ia berhenti di belakang Aric dan tampak bersembunyi di belakang punggung bidang suaminya itu.
"Kamu kenapa? Tidak perlu malu seperti itu! Aric yang salah di sini dan bukan kamu! Ia suami harusnya bisa menahan! Memalukan! Duduk kalian!" Aric dan Sashi duduk di sofa panjang di sisi Shiza, sedang Rico duduk di hadapan keduanya.
"Aric, apa tidak bisa menunggu sampai kalian berada di rumah?"
"Sashi yang salah, Pa. Tadi Sashi duluan yang----
"Aric yang salah. Maaf, Pa!" Dengan cepat Aric memotong ucapan Sashi. Ia menggenggam kuat jemari Sashi setelahnya.
"Ahh, kalian berdua ini! Hati-hati berbuat sesuatu, kau atasan harus menjaga citramu! Bagaimana jika tadi yang masuk adalah Riana atau karyawanmu yang lain, hah?"
__ADS_1
"Aric akan lebih menjaga sikap," lugas Aric.
"Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana Sashi bisa bersamamu? Apa kau dan-----
"Aric sudah bercerai dari Aruna. Aric akan membawa Sashi pulang ke rumah kami."
"Oh." Rico menghentikan kalimatnya sesaat baru berucap lagi. "Kudengar semalam kau datang Arr, ada apa mencariku?" Rico menatap intens wajah putranya.
"I-tu masalah---- Aric melirik Sashi yang tampak fokus menyimak.
"Oh ya, Pa. Ada masalah pengiriman bahan yang membuat seluruh orderan customer Aric tertunda. Ayo kita ke workshop akan Aric tunjukkan!"
"Sayang, tidak apa aku tinggal sebentar, ya! Setelah kembali kita akan langsung pulang!"
"Sassh?"
"Oh, i-ya, Kak."
"Ada yang Kak Aric sembunyikan, ia jelas ingin bicara berdua dengan Papa. Kakak bohong, katanya tidak boleh ada hal yang kami tutupi!"
...▪♧♧♧▪...
Pria rupawan keluar dari sekolah SMA berdominasi biru dengan penuh semangat. Ia yang beberapa saat lalu dipenuhi gundah kini tampak merona, pasalnya ia sudah mendapat alamat orang masa lalu yang ia ingin kunjungi.
Dengan penuh semangat kini kaki itu masuk ke mobil. Langsung dimintanya Jarwo sang sopir untuk menuju alamat yang ia berikan. Seakan Pencipta memberi jalan, jalanan siang itu terlihat lenggang, dalam 5 menit bangunan bergaya minimalis 2 tingkat sudah berada di hadapan Kaysan.
"Mas Kay-san?" ucapnya.
"Ba-pak kenal saya?" tanya Kaysan kaget.
"Bukannya Mas sudah me-ning-gal?" katanya lagi dengan netra masih membulat memastikan betul wajah yang dilihatnya.
"Saya belum meninggal, kalau saya sudah meninggal mana mungkin saya ada di sini? Benar saya Kaysan, Pak! Dan saya sehat wal'afiat. Alhamdulillah." lontar Kaysan.
Pria yang menggunakan kaos dan celana pendek selutut itu hanya bergeming, agaknya ia tidak yakin dengan yang dilihatnya. Kaysan yang menangkap raut itu langsung meraih jemari sang lelaki dan menyalaminya erat, sangat erat hinggga menimbulkan sakit pada jemari sang lelaki.
"Sudah! Sudah, Mas! Sakit ...," pekiknya.
"Bapak yakin kan sekarang saya adalah manusia dan bukan hantu?"
"I-Ya, Mass. Ya-kin! Ta-pi bukannya mas Kay ke-ce-lakaan, ya?"
"Betul, Pak. Tapi alhamdulillah saya selamat!" lugas Kayssn.
"Oh ... begitu rupanya."
"Sam ada di dalam, Pak?" Tanya Kaysan tak ingin membuang waktu.
__ADS_1
"A-da, mas Sam ada di dalam, mari masuk, Mas!"
"Sykurlah, lelaki tadi mengenalku berarti aku memang dulu aku sering ke sini. Ini rumah Sam temanku, teman masa laluku. Aku akan mencari tahu tentang ingatanku yang hilang darinya ...."
•
•
"Seorang wanita tua turun dari lantai dua setelah memanggil sang majikan. Tak berselang lama, pria muda turun. Tubuh itu tak kalah tegap dengan wajah oriental membingkainya. Ya, ibu Sam memang ada keturunan China.
Sam berjalan dengan tenang ke ruang tamu di mana ART-nya tadi mengatakan bahwa ada temannya datang. Seketika netra Sam terbelalak melihat tamu yang datang, Kaysan.
"Lo siapa?" lontarnya seketika.
"Lo lupa gue, Sam?" ucap Kaysan.
"Ngaco! Lo nggak mungkin Kay! Temen gue Kay udah meninggal!"
"Ini gue. Gue belum meninggal!
"Mending lo pulang! Males gue ngeladenin orang yang ngaku-ngaku temen gue! Apalagi temen gue yang udah nggak ada!"
Bukan pergi Kay justru mendekat, ia merangkul bahu itu. "Gue Kay, Sam! Selama ini gue koma dan gue baru sadar! Gue belum meninggal! Lo harus percaya gue!"
Sam menatap lekat wajah di dekatnya, menepuk-tepuk pipi itu beberapa kali.
"Nggak gitu juga kali, sakit!"
Sam menghela napas panjang. "Jadi lo bener Kay!" Sam berjalan menjauh ke arah jendela. Kaysan mendekat.
"Lo kenapa, Sam?"
"Gpp, cuma gue gak nyangka aja keluarga lo jahat udah bohongin keluarga Sashi selama ini!"
"Sas-hi?"
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Maaf kemarin aku libur nulis🙏
☕Mas Dimas awal bulan dilanjut ya😍
☕Jangan lupa senin manis, luncurkan vote untuk Sashi❤❤
☕Ini ada karya Berbagi Cinta juga punya sahabat Bubu, mungkin kalian mau ikut mampir😍
__ADS_1