
☕FLASHBACK
Jam dinding di bangsal isolasi itu menunjukkan pukul 01:05 saat seorang wanita cantik dengan kupluk di kepala masuk dengan mengendap.
Ia yang siang tadi mengetahui sebuah kebenaran dari informannya tak bisa menunggu. Saat sang suami meninggalkan kediamannya, pun ia langsung bergegas ke rumah sakit itu.
Rumah sakit di mana seorang lelaki yang pernah memiliki hubungan dengan istri pertama suaminya di rawat menjadi tujuannya. Ya, setelah sang informan memberitahu bahwa sesungguhnya suaminya hanya sebagai suami pengganti sang adik hatinya bungah. Ia seakan mendapat angin segar. Nyatanya gadis kecil yang begitu dibencinya bukan istri pilihan suaminya. Aric hanya terpaksa menjadi suami Sashi. Setidaknya itu isi otak Aruna, wanita dengan kupluk.
Sang informan tidak setengah-setengah memberi berita. Kebenaran tentang Shiza adalah buah kesalahan Sashi dan adik Aric juga disampaikan sang informan. Hal yang membuat bibir itu tak bisa berhenti tertawa, bahagia dirasa.
Sang adik yang tengah koma, harus segera disadarkan adalah rencana Aruna. Walau ia melihat cinta di mata Aric dan Sashi, ia memilih berpura buta. Mengembalikan semua pada tempatnya adalah harap Aruna. Sashi kembali pada Kaysan dan Aric tentunya akan mendampinginya tanpa bayang sashi.
Rencana tak akan terwujud tanpa tindakan nyata, sedang tindakan tak akan terwujud tanpa keberanian. Syukurnya Aruna memiliki keberanian itu. Kehidupan telah mengasahnya bak pisau tajam yang tak pernah takut. Ia akan lakukan apa yang menurutnya baik. Kemiskinan adalah musuhnya. Tak ingin ia alami lagi! Sedetik pun! Rasa direndahkan, dihina, dicemooh adalah cerita pilu yang telah ia kubur dalam-dalam. Tak boleh ada hal semacam itu di masa kininya.
Aruna menatap Lelaki yang berbaring tak berdaya itu. Jika dilihat sepintas, garis wajahnya sedikit mirip suaminya. Tapi tentu saja baginya Aric adalah yang paling tampan, toh Aric adalah orang yang mengangkatnya dari kobakan hari itu. Lelaki yang sering menjadi imajinasinya, ia cinta keluarga, pekerja keras, terhormat dan tertunya berlimpah materi. Segala mimpi Aruna lengkap ada di diri Aric.
Aruna duduk di bangku di sisi Kaysan berbaring. Lagi-lagi ia menatap wajah itu. Mata itu, hidung bangirnya, bibir berwarna pink yang terlihat manis, juga alis mata yang tertata rapi berpadu dengan bulu mata lentiknya.
"Lelaki yang tampan. Kenapa Sashi begitu beruntung! Dua lelaki sempurna mencintainya! Hah ... Sashi. Aku benci Sashi Mumtaz. Benci dengan sikap polosnya itu! Penuh kepura-puraan! Sak manja dan dibuat-buat! Sashi tak boleh dicintai! Tidak! Setidaknya Aric tidak boleh mencintainya. Hai kau! Siapa namamu? Kaysan, kah?" Aruna menggerak-gerakkan kepala Kaysan, seolah Kaysan sedang mengiyakan ucapannya.
"Kau Kaysan! Kau itu pria bodoh seperti kakakmu! Kenapa kau hanya tidur di sini padahal kau memiliki tanggung jawab pada Sashi dan anak kalian! Sadar! Sadarlah kau!" Aruna menampar-nampar pipi Kaysan.
"Kau tidak bergeming, ternyata aku salah. Kau lebih bodoh dari kakakmu! Calon istrimu telah menjadi istri kakakmu! Anakmu telah menjadi anak kakakmu tapi kau hanya sibuk tidur. Ayo bangun! Bangun!" Aruna geram, agaknya ia berfikir dirinya malaikat yang dengan satu dua kalimat langsung bisa menyadarkan Kaysan.
Aruna tak terkontrol, terus digoyang-goyangkan bahu itu berupaya menyadarkan Kay. Namun semua usaha nihil. Kini ia mendekatkan bibirnya ke telinga Kaysan. Ia berbisik.
__ADS_1
"Hai lelaki bodoh! Ayah tidak bertanggung jawab! Tetaplah tertidur hingga semua orang melupakanmu! Bahkan kau ingat kekasihmu Sashi! Ia kini sudah menikah! Tak lain dengan KAKAKMU, ALARIC! Tapi kau tahu betapa malangnya ia, kakakmu telah memadu Sashi! Kekasihmu itu sudah tidak dicintai lagi! Hidupnya hampa! Ia menantimu! Sashi-mu menunggumu! Bahkan kau ingat! KAU MEMILIKI SEORANG PUTRI! Tapi tentunya putrimu tidak kenal denganmu! AYO BANGUN! RAIH BAHAGIAMU LAGI! BANGUN KAYSAN YANG BODOH!"
Aruna menghembuskan napas kasar. Ia menatap wajah Kaysan dan kecewa tidak ada pergerakan di sana. Kaysan tidak meresponnya. Setidaknya itu yang Aruna fikir. Aruna tidak menyadari jemari itu terus bergerak. Ya, Kaysan yang 2 pekan ini sering menunjukkan pergerakan tak signifikan malam itu ia merespon lagi.
"Tunggu! Aku pernah membaca sebuah novel online seorang pria koma tersadar setelah dirangsang. Apa hal seperti itu benar bisa terjadi? Ahh bodoh, mana mungkin ada seperti itu! Tapi tak ada salahnya mencoba, bukan!"
Aruna gelap mata, apapun akan ia lakukan untuk membuat Kaysan sadar. Aruna naik ke ranjang dan merebahkan diri di samping Kaysan tak berjarak.
"Tubuh lelaki ini ternyata begitu hangat!"
Aruna menahan tubuhnya di tubuh Kaysan beberapa saat, mengelus-elus wajah Kaysan lembut dan beralih ke lengan Kaysan. Aruna memasukkan jemarinya melalui celah pakaian Kaysan dan mengusap-usap dada itu hingga turun ke perut.
"Ahh gila! Mana mungkin pasien koma bisa merasakan sentuhan. Ternyata aku buang-buang waktu di sini!" Aruna turun dari ranjang itu dan melenggang pergi. Ia lagi-lagi tak menyadari bukan hanya satu dua jemari yang bergerak, kini seluruh jemari itu menunjukkan reaksi.
Aruna pulang setelahnya dan beristirahat. Di pagi hari sebuah pesan masuk dari informannya. Aruna kaget.
...▪♧♧♧▪...
Di sebuah rumah berdominasi cat abu-abu, hitam dan putih, seorang gadis tak tenang. Ia terus mondar-mandir antara teras dan kamar menanti sang pujaan hatinya tiba. Sashi berdiri di muka cermin saat ini, entah sudah berapa kali ia memoles ulang pewarna di bibir tipisnya itu. Tak ingin tampil pucat di hadapan lelaki yang ditunggu.
Dilihat kembali jam di dinding itu. Kini jarum-jarum itu kompak saling menatap angka 11. Ya, saat ini adalah pukul 11 siang kurang 5 menit. Setelah berkali-kali berbalik, agaknya kaki itu letih juga, ia duduk kini di sofa di mana ada sang ayah sedang bercanda dengan Shiza.
"Belum ada tanda-tanda kedatangan Aric, kah?" tanya Lutfi. Sashi menggeleng dengan wajah datar.
"Lelaki itu! Kemarin ia terus memohon ditambah lagi hari untuk bertemu denganmu. Tapi satu hari ini saja bahkan ia tidak menggunakannya dengan baik," ucap Lutfi. Sashi menunduk, ingin rasanya membela Aric tapi kenyataannya ucapan Lutfi benar. Aric tidak menggunakan hari ini dengan baik.
__ADS_1
"Kemana Ka-kak? Apa kakak lupa hari pertemuan kami? Atau kakak sedang bersama mbak Aruna?"
Hati itu menyangkal dan yakin Aric tak mungkin melupakan hari pertemuan mereka, tapi ia pun bingung di mana keberadaan Aric.
Tak berselang lama Ningsih datang membawa 2 cangkir teh panas untuk keduanya. Lutfi dan Sashi sama-sama langsung menyeruput teh itu.
"Ayah perhatikan belakangan ini kamu jadi suka teh, Nak?" Lutfi melontar tanya selain merasa heran dengan kebiasaan baru sang putri juga berusaha menghilangkan kegelisahan Sashi.
"I-ya, Yah. Eh Ayah apa tidak ada ceramah hari ini?" Sashi mengalihkan perhatian Lutfi.
"Tidak. Hari ini Ayah bekerja di rumah. Ingin mereview lagi jadwal yang telah ayah sepakati dalam dua bulan ke depan. Sekaligus membincangkan materi yang akan Ayah bawakan bersama manager baru Ayah.
"Manager Ayah ganti? Memang Kak Aryo ke mana?"
"Dia ingin melanjutkan kuliah ke Surabaya, terpaksa Ayah mengizinkannya dan Alhamdulillah Ayah sudah mendapatkan pengganti Aryo."
"Ohh."
"Nanti ba'da Ashar ia juga akan datang. Jangan lupa, jika ada tamu laki-laki jangan keluar dari kamar tanpa hijab seperti ini. Sashi paham, kan?"
"Iya, Ayah."
Di tengah perbincangan keduanya sebuah suara mobil masuk pelataran terdengar oleh Sashi. Netranya langsung berbinar, ia hapal suara mobil itu. Tak menunggu lama ia pun langsung melangkahkan kaki keluar.
__________________________________________
__ADS_1
☕Happy reading😘
☕matur thankyuu untuk support kalian selalu❤❤