Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
MEMANCING KAY


__ADS_3

Seluruh keluarga sudah berkumpul. Ya, kini setiap akhir pekan 2 keluarga selalu menyempatkan duduk dan berbincang bersama. Untuk acara pekan ini diadakan di rumah Lutfi. Lutfi yang pernah salah paham pada Rico kini hubungan keduanya membaik. Terlebih Lutfi melihat perubahan yang terjadi pada mantan sahabat sekaligus besannya itu.


Perut Sashi semakin membuncit. Delapan bulan usia kandungan Sashi kini. Ya, sesuai perkiraan 6 minggu lagi Sashi akan melahirkan. Aira yang tak ingin terjadi hal buruk pada putrinya itu meminta Sashi sementara tinggal di rumahnya. Ya, sampai Sashi melahirkan dan kondisi bayinya cukup kuat baru Sashi bisa pulang ke kediamannya. Aric setuju saja, toh semua untuk kebaikan istrinya. Kalina yang sesungguhnya juga ingin Sashi melahirkan di rumahnya harus memupus harapan itu. Ya, Aira dan Lutfi adalah orang tua kandung Sashi, merekalah yang lebih berhak mendampingi Sashi.


Pun setiap hari Kalina tidak pernah absen datang ke kediaman Aira. Bermain-main dengan Shiza, berbelanja kebutuhan bayi bersama besannya itu, juga berbincang dengan Sashi menjadi aktifitasnya. Ia bahagia dan tidak kesepian. Menjelang senja, baru Rico akan menjemput istrinya itu.


Suasana makan malam bersama pekan ini tampak hangat, berkali Aric menambahkan lauk ke piring Sashi. Sashi tersenyum, ia memang senang makan banyak di kehamilannya ini. Ya, maklumlah sesuai prediksi janin Sashi berjumlah 2 orang. Ya, Sashi mengalami kehamilan kembar. Sashi tak peduli bobot tubuhnya semakin membengkak, yang terpenting bayi-bayinya nanti terlahir sehat.


Seluruh keluarga sedang asik menyantap makanan saat sosok yang sejak tadi ditunggu akhirnya tiba. Ya, siapa lagi sosok yang mereka tunggu kalau bukan Kaysan sang adik tampan yang merupakan ayah biologis Shiza yang belum terlihat sendiri sejak tadi.


"Assalamu'alaikum semua, maaf aku telat!" pekiknya langsung masuk dan meraih Shiza dalam gendongannya.


"Ayah, jangan gendong-gendong! Shiza sekarang sudah besar kata Mami! Shiza sebentar lagi akan jadi kakak!" celoteh Shiza. Ya, semenjak Sashi hamil memang ia tak membiasakan menggendong Shiza lagi, Sashi memberi pengertian pada putri kecilnya itu kalau di perut Mami sedang ada dua adik. Pun Shiza jadi terbawa sering tak ingin digendong terkecuali dengan 1 orang, Aric. Shiza memang begitu manja pada papa sambung yang sudah seperti papa kandungnya itu. Hal yang sering membuat Kaysan cemburu sebetulnya tapi selalu berusaha ia tepis, yah bagaimanapun Shiza memang tinggal dengan Aric.


Kaysan tampak tersenyum getir saat Shiza memilih menjauh dari raganya dan duduk di sisi Aric. Mulutnya sudah membuka saja menunggu Aric kembali menyuapinya. Diam-diam Aric melihat kekecewaan di wajah Kaysan.


"Sayang, makannya dilanjut dengan ayah ya, Papa harus menelepon seseorang dulu!" ucap Aric mengambil ponsel dari saku berakting meletakkan ponsel di telinganya. Shiza mengangguk. Sashi melihat aktifitas itu. Ia tersenyum. Aric menyapu bahu istrinya itu sebelum akhirnya beranjak dari seluruh keluarga dan menepi ke sudut.


"Ayo buka mulut Shiza, kereta siap terbang ...!" Sashi tersenyum melihat Kaysan sangat antusias bersikap pada Shiza. Shiza pun menurut, ia terus tertawa saat Kaysan memain-mainkan sendok di muka bibir kecil itu seolah tidak jadi menyuapi Shiza.


"Mami, Ayah nakal!" pekik Shiza.


"Ayah, Shiza sudah lapar. Ayo berikan makanannya!"


"Kay, jangan diganggu Shiza. Ayo suapi yang benar!" ujar Rico melihat suasana seketika riuh setelah kedatangan Kaysan. Ia yang merasa tamu, tak ingin Lutfi dan Aira terganggu.


"Iya, Pa." Kaysan kini menyuapi Shiza dengan benar.


"Oh ya, Kay ... bagaimana apa sudah ada gadis yang menarik hatimu, Nak? Kalau sudah ada Ayah juga ingin berkenalan," ucap Lutfi.


"Belum, Yah!" jawab Kay melirik Sashi sekilas, Sashi tampak fokus berbincang dengan Kalina di tengah aktifitas makannya tak menghiraukan tanya Lutfi.

__ADS_1


"Kay ini agak pemilih Lutf, ia bukan tipe laki-laki yang mudah mengutarakan cinta terkecuali sudah begitu klik dengan gadis itu," kilah Rico.


"Oh ya, sungguh kah begitu?"


"Tentu saja. Kalau tidak percaya, tanya saja pada putrimu?" Kaysan tersenyum getir mendengar penuturan papanya.


"Ada apa, Pa?" Sashi yang mendengar dirinya disebut seketika menyahut.


"Bukan, kami hanya sedang membicarakan Kay, bukankah ia agak dingin pada wanita di Kampus?" utar Rico.


Sashi menatap Kaysan. "Iya sedikit, Kay memang agak kaku," lirih Sashi.


"Berubahlah, Kay! Usiamu menginjak 24, saling mengenal tentu tidak apa. Asal tetap saling menjaga!" ucap Rico lagi. Kay bergeming dan fokus pada mulut Shiza yang sudah mulai membuka minta disuapi.


"Apa aku tertinggal pembicaraan penting? Sepertinya Papa dan Ayah sedang membicarakan hal yang serius!" tanya Aric yang baru saja mendekat. Ia mengambil satu kursi dan duduk di samping Sashi. Jemari itu spontan terus mengusap perut buncitnya Sashi.


"Kami sedang menyemangati Kay untuk mencari kekasih, Arr," ucap Rico.


"Yah, apapun itu Lutf!"


"Papamu ini Arr, terus memancing adikmu. Biarkanlah, Pa! Jika waktunya tepat Kaysan juga akan bertemu jodohnya," ucap Kalina.


"Aku setuju, Mbak!" Aira yang sejak tadi hanya menyimak ikut melontar pendapatnya.


"Aric juga setuju dengan pendapat Mama dan Bunda. Tidak perlu diburu-buru, jika saatnya jodoh itu tiba pasti tiba. Baru mau 24, teman Aric juga banyak yang masih belum menikah," lirih Aric yang diam-diam melihat Kaysan sedang mencuri pandang Sashi yang sedang sibuk menekan-nekan tombol ponselnya.


"Oh iya, setelah makan malam kami langsung balik ya Mbak, Mas," ucap Kalina.


"Lho kenapa pulang? Sekali-kali menginaplah di sini, Mbak!" Aira bersungguh-sungguh, netra itu menatap lekat Kalina.


"Benar, menginaplah di sini! Masih ada 2 kamar kosong. Besok pagi kita joging bersama, bagaimana?" timpal Lutfi.

__ADS_1


"Iya, Mama dan Papa menginap saja, joging bersama pasti menyenangkan!" kata Sashi mengalihkan pandang dari ponsel dan menatap Kalina dalam Rico bergantian.


"Jadi?"


"Janganlah, nanti kami merepotkan!"


"Ayolah, Mas! Nanti kami kapan-kapan akan gantian menginap di rumah kalian, bagaimana?" ucap Aira. Kalina dan Rico saling menatap. Kalina tampak mengangguk.


"Hem ... baiklah, ibu suri sudah mengangguk," kelakar Rico. Kalina menggelengkan kepala.


"Alhamdulillah, kita kini keluarga Ric." Lutfi tersenyum ke arah Rico.


"Besok kita sholat subuh berjamaah juga ya, Yah!" ucap Sashi.


"Tidak Sayang. Kalian wanita bisa berjamaah dengan bunda, tapi kami kaum laki-laki diutamakan berjamaah di Masjid." Sashi mengangguk.


...~∆∆∆~...


Malam semakin larut, setelah saling bercengkrama di ruang keluarga semua raga kini sudah masuk ke kamar masing-masing. Sashi masih membersihkan wajah saat Aric mulai mengambil laptop dan mengecek gambar pengerjaan orderan klien yang dikirim bawahannya. Ia tampak melihat seksama setiap detail ukiran di kursi meja makan pada laptopnya sampai-sampai tidak menyadari Sashi sudah duduk di sampingnya.


Sashi melingkarkan jemarinya ke leher Aric. "Ka-k ...."


"Hemm?"


"Jangan kerja terus!" Sashi menciumi pipi Aric, namun Aric benar-benar sedang fokus dengan gambar-gambar di laptopnya dan tak menanggapi Sashi.


"Kakak jahat, ternyata pesonaku kalah dengan pesona layar 16'"


...__________________________________________...


☕Happy reading😘

__ADS_1


☕Sepertinya tamatnya mundur ya, mau naikin Level Sashi dulu hingga akhir bulan ini. Kalian jangan bosen yaa❤️❤️


__ADS_2