
Beberapa hari setelahnya,
Deru mobil yang begitu dihapal Sashi terdengar. Sashi yang sedang bersama Aira langsung mengangkat tubuh dari pembaringan, Aira melarang.
"Kak Aric datang, Bun," lirih kata itu terucap. Sashi memang sedang kurang sehat. Tubuhnya demam sejak kemarin, pun Shiza ikut rewel. Disebabkan Sashi yang masih merasa mual saat memasukkan makanan, membuat ASI yang dihasilkan kurang memuaskan Shiza.
"Biar Bunda yang keluar, kamu tetap di sini," ucap Aira. Sashi mengangguk.
Jangan kaget mengapa Aira di rumah! Ya, sejak ia tahu Sashi nyatanya hamil namun ia tidak tahu bahkan memberi pil KB pada Sashi, ia merasa bersalah. Pun Lutfi juga marah besar pada Aira. Sejak saat itu Aira memutuskan menaikkan jabatan seorang pegawai yang ia percaya menjadi asistennya dan membantunya mengemban bisnis catering itu.
Aira jadi sering di rumah setelahnya, menemani Sashi di masa mabuk trisemester pertama kehamilan, juga membantu sang putri merawat Shiza. Aira lebih merasa menjadi ibu dan nenek kini. Sashi senang bundanya berubah, pun demikian Lutfi.
"Assalamu'alaikum, Bun," ucap Aric.
"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh. Masuk Aric," ucap Aira melihat Aric sudah berdiri di muka pintu. Aric langsung meraih jemari Aira dan menciumnya sebagai penghormatan.
"Ayo duduk dulu?" Aric menurut. Ia mengedarkan pandang ke sekitar mencari raga Sashi.
"Bagaimana kabar Bunda dan ayah?"
"Kami sehat, Sashi yang demam sejak semalam tapi sudah minum obat dan lebih baik. Shiza juga agak rewel, karena Sashi selalu mual, nutrisinya tidak terpenuhi dengan baik, Shiza pun jadi seolah tak puas menyusu."
"Padahal Aric sudah bilang ke Sashi untuk mulai mengenalkan Shiza susu formula, tapi ia tidak mau."
"Bunda juga menyarankan itu, tapi Sashi menolak. Untungnya terbantu Shiza sudah MPASI jadi tidak full mengandalkan ASI Sashi." Aric mengangguk.
"Terima kasih Bunda sudah bantu menjaga Sashi!" Aira mengangguk.
"Sekarang bisa Aric menemui Sashi, Bun?" ujar Aric.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin bunda bicarakan lebih dulu!" Aric mengangguk.
"Bagaimana kondisi anak itu, sudah lebih baik, bukan?"
"Masalah Ciara, ia sedang masa pemulihan, Bun."
"Lalu kapan kamu akan menceraikan ibunya? Jangan tunda lagi! Ceraikan wanita itu dan suruh ia pergi sejauh-jauhnya dari hidup kalian!" lugas Aira.
Aric lagi-lagi mengangguk.
"Baik sana temui Sashi!"
Tak menunggu lama kaki itu melangkah ke kamar Sashi. Ia langsung memutar handel pintu dan tampaklah gadis yang begitu ia rindukan. Tak menunggu lama Aric mendekat dan merengkuh tubuh itu.
"Ka-kak kenapa begitu lama ke kamar?" ucap sashi dengan nyaman menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Aric.
__ADS_1
"Tadi Bunda mengajak bicara sejenak. Kamu sakit?" tanya Aric menahan kepala itu dengan kedua telapak tangan membuat kepala Sashi terangkat. Ia mengangguk.
"Ma-af ... aku sibuk mengurus anak orang lain padahal istriku sendiri sedang sakit!" Netra yang masih menatap wajah Aric itu seketika berkaca dan bulir keluar setelahnya. Tampak ia begitu sedih. Selain pembawaan Sashi memang cengeng, di masa awal kehamilan ini pun ia sedang sensitif.
"Kakak jahat! Tidak peduli aku!"
"Kata siapa? Aku selalu memikirkanmu! Tolong jangan menangis!" lirih kata itu terucap. Aric membasuh air mata Sashi dan mulai mengabsen wajah itu.
"Ka-kak su-dah!"
"Aku rindu wajah ini! Sangat rindu wajahmu ini!" Aric menahan bibirnya di pipi Sashi dan berpindah ke bibirnya Sashi. Baru ingin merasakan bibir itu lebih dalam, Sashi mendorong wajah Aric.
"Ma-af mual, Kak!" Sashi seketika berlari ke toilet. Aric mengejar.
"Maaf, Sayang!" Sashi mengangguk.
"Oke, apa ada yang ingin Sashi lakukan atau ingin makan, hem?"
"Aku bosan di rumah!" Aric menatap wajah istrinya itu, ia terlihat begitu sedih.
"Oke Kakak akan ajak Sashi jalan-jalan, tapi kita harus makan dulu, bagaimana?" Sashi mengerucutkan bibir, terdiam sejenak baru akhirnya mengangguk. Aric mengusap kepala itu baru beranjak ke dapur.
Sepuluh menit berlalu, acara makan yang diselingi kelakar Aric akhirnya membuat seluruh isi piring berpindah ke perut Sashi.
"Kakak bohong bukan kita yang makan tapi hanya aku!" Aric yang gemas dengan istrinya itu menarik tubuh Sashi masuk dekapannya.
Setelah keduanya melakukan kontrol ke dokter kandungan beberapa waktu lalu, memang dokter mengatakan tidak masalah ibu hamil menyusui bayinya yang lain, pun Sashi memilih menyusui Shiza walau Aric menyarankan mengganti susu Shiza dengan formula saja.
"Aku senang makan disuapi Kakak!" Aric tersenyum. "Aku akan sering menyuapi kamu nanti saat sudah kembali ke rumah!"
"Aku ingin pulang ke rumahku!"
"Iya."
"Apa Ciara sudah lebih baik setelah donor sum sum dilakukan?"
"Masih dipantau, in syaa Alloh lebih baik. Tapi memang masih proses pemulihan pasca operasi."
"Oh. Kakak sudah mengucapkan cerai pada mbak Aruna?"
"Secepatnya!" Aric menciumi puncak kepala Sashi.
"Kakak tidak bohong?"
"Tidak!"
__ADS_1
Aric naik ke ranjang mendekati raga Shiza yang sedang pulas tidur di sana. Ia duduk menatap wajah cantik dan menggemaskan Shiza. Aric menangkap pula mata bengkak Shiza, membuat ia teringat ucapan Aira bahwa Shiza sedang rewel. Pun Aric berucap. "Bunda bilang Shiza rewel," ucap Aric sambil mencium perlahan wajah dan dada Shiza.
"Iya, Kak. Semalam ia terus bangun. Aku sampai letih, ia menolak ASIku awalnya tapi kelamaan dia mau. Mungkin karena aku baru minum obat jadi ASInya kurang enak," ucap Sashi.
"Bisa jadi. Oh ya, obat demam apa yang kamu minum? Jangan sembarangan meminum obat dalam keadaanmu yang sedang hamil!"
"Iya, Kak. Bunda menelepon dokter kandungan dan ia meresepkan obat untukku."
"Syukurlah. Sash, kemari lah!"
Sashi mendekat dan duduk di hadapan Aric. Aric menyapu wajah yang lebih kurus dan tanpa pewarna itu. Berhubung kondisinya kurang baik, Sashi memang tak sempat mempercantik diri hari itu.
"Kakak jangan tatap aku seperti itu, aku sedang jelek! Maaf tidak sempat merias diriku," lontar Sashi seketika yang membuat desiran pilu memenuhi hati Aric. Istrinya itu memang selalu ingin menyenangkannya, tapi kondisinya sedang tidak baik.
"Kata siapa? Kamu cantik, menggemaskan seperti Shiza." Diusap lembut wajah itu.
"Sash ... maaf menambah bebanmu! Bunda benar, Shiza masih terlalu kecil. Kamu jadi repot harus memikirkan 2 hak anak sekaligus, terlebih kamu masih mengalami morning sickness. Aku yang salah harusnya bisa menahannya!"
"Kakak lupa, aku juga yang mengiyakan hadirnya anak lagi. Tidak apa-apa, akan aku jalani smuanya." Sashi tersenyum berusaha menunjukkan ia baik-baik saja. Tak ingin Aric menyalahkan diri.
"Terima kasih!" Aric mencium puncak kepala itu. Tak lama dilihatnya Sashi terus menguap.
"Kamu pasti letih, Sash! Bahkan aku tidak ada di sampingmu!" monolog Aric, ia kembali mencium puncak kepala itu, lagi dan lagi. Aric kembali menatap Sashi setelahnya.
"Kita akan jalan-jalan sore nanti sambil menunggu Shiza bangun oke!" Sashi mengangguk.
Aric tampak memberi guling di sisi ranjang di samping Shiza. Ia merebahkan diri setelahnya di sudut. "Sash, sini! Kamu pasti letih, kan? Aku akan temani kamu tidur!"
"Ka-kak ...." Sashi yang sedang letih itu tampak langsung mendekat dan masuk dalam dekapan Aric.
"Kak!"
"Hem?"
"Aku senang tidur dipeluk Kakak, tubuh Kakak harum. Aku juga merasa dicintai!"
"Iya. Sudah jangan banyak bicara, tidur lah!" Sashi mengangguk dan tak menunggu lama napas itu sudah terdengar teratur, Sashi dengan mudahnya tertidur.
"Sayang, aku harus segera membawamu ke rumah kita! Alangkah egoisnya aku membiarkanmu menghadapi ini sendiri! Aruna ... Aku harus sudahi hubungan dengan Aruna! Segera!"
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Terima kasih atas segala support kalian hingga bab ini❤❤
__ADS_1
☕Oh ya di GC Bubu ada seorang reader yang sedang merayakan anniversary dan membuat lomba membuat kartu ucapan pernikahan yang menarik. Hadiahnya uang tunai dengan total Rp. 500 000 untuk 7 orang pemenang. Yang kepo dan mau ikutan, monggo bergabung grub, tambah saudara dan tambah pahala menyenangkan dan memberi do'a saudaranya juga😍😍🌹🌹