
☕FLASHBACK
Sashi merasa bagai orang asing saat ini, hatinya tidak senang berada di sana dan mendengar segala perbincangan mengenai masa lalu itu.
"Ka-kak, aku letih mau pulang! Shiza juga sudah letih sepertinya!" ucap Sashi menatap lekat wajah Aric.
"Sebentar lagi ya, Sayang!"
"Ka-kak? Kenapa tega bicara itu? Jadi Kakak masih ingin berlama mengenang kisah masa lalu Kakak?" batin Sashi.
"Kalau Kakak masih mau di sini tidak apa-apa, aku akan pulang naik taxi online!" ucap Sashi seketika. Kekesalan itu sudah memuncak, ia sangat kecewa dengan ucap Aric dan tak ingin melihat wajah-wajah orang dalam tempat itu. Pun ia memilih pergi.
"Kay akan antar Sashi pulang!" ucap Kaysan seketika berdiri. Aric langsung menoleh.
"Duduk Kay!" lugas Aric dan menghadap Sashi setelahnya. "Ayo kita pulang, Sayang!" lirih Aric menatap Sashi.
"Aku pulang dulu, Wa."
"Arr, bisa aku minta nomer ponselmu? Akhir Minggu ini aku bertunangan, aku ingin kamu, Kay dan istrimu datang. Nanti aku akan kirim alamatnya karena masih belum fix saat ini.
Aric melirik Sashi sekilas yang masih membuang wajahnya, ia tidak enak hati sebetulnya memberi nomer ponsel pada wanita lain, tapi tujuan Salwa jelas. Aric juga senang Salwa sudah menemukan orang yang menyamankannya. Pun Aric mengangguk dan menyebutkan angka-angka itu.
Sashi yang bergeming dengan perasaan sedih semakin bertambah kesal saja melihat Aric memberikan nomer ponselnya pada Salwa. Salwa berdiri dan menatap ke arah Sashi.
"Senang berkenalan dengan mbak Sashi. Tolong jangan salah paham dengan kami. Kami hanya berusaha menjaga hubungan baik. Saya sangat berharap mbak Sashi bisa datang bersama Aric ke pertunangan saya nanti!" ucap Salwa.
Sashi bukannya fokus pada kata-kata Salwa, ia justru fokus pada penampilan Salwa yang kini berdiri menghadapnya.
"Salwa cantik, tinggi semampai, pantas kakak menyukai dia sampai berhubungan lama. Sedang aku, tubuh pendek, gemuk, perut buncit. Betapa jeleknya aku. Kalau bukan karena menggantikan Kay dulu, kakak pasti tidak akan melirik gadis model sepertiku." Napas kasar itu keluar. Sashi memaksa diri untuk mengangguk. Aric tersenyum.
"Kami permisi, Wa. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Aric menggendong Shiza yang terlihat sudah mengantuk dan meraih bahu Sashi setelahnya, keduanya meninggalkan tempat itu akhirnya.
"Kakak, lepaskan tangan Kakak! Aku tidak mau disentuh Kakak!" Sashi memberi jarak tubuhnya dari Aric setelah raga-raga mereka keluar dari wahana bermain itu.
"Sayang ada apa?"
Sashi tak menjawab, dan terus berjalan di depan. Karena suasana ramai dan tidak ingin aktivitas keduanya menjadi sorotan, akhirnya Aric menahan diri untuk membahas semua. Aric berharap saat di rumah mereka bisa bicara baik-baik berdua.
Pun sampai di rumah Sashi justru tak membiarkan keduanya bicara, ia langsung menuju kamar dan mengunci dirinya dan anak-anak. Aric bertambah bingung saja.
...~∆∆∆~...
Pintu kamar berdominasi pink itu diketuk Aira. "Kakak, sudah kubilang kan, aku tidak mau melihat Kakak! jadi Jangan harap aku mau membuka pintu untuk kakak!" lugas Sashi.
"Sashi ... ini Bunda, Nak."
"Bun-da?" Dengan cepat Sashi melangkah meraih gagang pintu. Terbukalah akhirnya pintu itu. Aira masuk.
"Shiza masih belum bangun?" Sashi menggeleng.
"Kakak jahat pada Sashi, Bun. Tadi kami bertemu mantan pacar kakak, mereka terus bicara dan mengabaikan Sashi!" ucap Sashi sedang butuh teman bicara meluapkan sedihnya.
"Aric bersikap begitu?"
"Iya, kakak sih dengan manis mengenalkan Sashi istrinya tapi setelahnya ... keduanya terus berbincang berdua, menanyakan ini dan itu. Oh ya satu lagi, Bun! Tadi di depan wanita itu kakak bicara keras pada Sashi, kata kakak Sashi kekanakan. Sashi marah! Kakak berubah di depan mantannya tadi!" ujar Sashi antusias dengan emosi meluap-luap.
"Tunggu di sini!" Aira keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga bertemu dengan Aric. Aric seketika berdiri melihat Ibu mertuanya itu mendekat.
"Bagaimana Bund? Apa Sashi bicara sesuatu pada Bunda apa yang membuat Sashi marah pada Aric?" Wajah itu sangat serius menunggu jawab Aira.
"Duduklah dulu!" Aric duduk.
"Tadi benar kalian bertemu mantanmu?" Aric mengangguk lirih.
__ADS_1
"Kata Sashi kamu mengabaikan dia saat ada mantanmu itu?"
"Sepertinya tidak, Bu. Bahkan Aric juga kenalkan Sashi kepada Salwa." Aric sungguh tak menyadari salahnya, ia berucap yang ada di otaknya saja.
"Tapi Sashi merasakan itu, dia juga bilang kamu juga sempat berkata keras padanya tadi. Bener begitu?"
"Berkata keras apa ya, Bu? Sepertinya Aric tidak berkata apapun yang menyakiti Sashi." Aric terlihat bingung dan mengingat-ingat.
"Kamu mengatakan kalau Sashi kekanakan dengan nada yang sedikit meninggi, itu yang Ibu dengar dari Sashi!" Aira membuka yang ia ketahui dari Sashi.
"Masalah kata itu, Aric memang melontar itu, tapi semuanya spontan dan tidak ada maksud Aric menyakiti Sashi," ujar Aric bersungguh-sungguh.
"Oke, jelaskan semua pada Sashi dan bukan pada Bunda. Katakan apapun yang sebenarnya kamu rasa dan bagaimana posisi mantanmu itu saat ini di hatimu. Jujur Bunda letih harus melihat kamu lagi-lagi membuat Sashi putri Bunda menangis dan bersedih. Terlebih ia kini sedang mengandung bayimu, jadi tolong sebisa mungkin jaga perasaan Sashi. Anak Bunda itu hatinya lembut dan menjadi lebih sensitif sebab kondisi kehamilannya. Sedikit kata yang ia dengar tidak mengenakkan akan berpengaruh pada mood-nya dan mood seorang ibu hamil tentu akan berpengaruh pada bayi yang dikandung. Jadi tolong jaga mood Sashi selalu." Aric menunduk dan mengangguk setelahnya.
"Masalah ini harus kalian selesaikan berdua tanpa orang ketiga! Kalian sudah hidup bersama lama tentu sudah tau sifat masing-masing. Bagaimana cara meredakan emosi Sashi tentunya kamu tahu bukan?" Aric lagi-lagi mengangguk.
"Sekarang ikut Bunda!" Keduanya berjalan kini memasuki kamar Sashi. Sashi kaget ibunya membawa turut Aric masuk ke dalam kamar. Wajahnya langsung menampilkan ekspresi kesal. Sashi membuang wajahnya dari Aric.
"Sashi! Jangan membuang wajah dari suamimu, Nak! Sashi mau dilaknat Malaikat?"
"Kenapa Bunda bicara hal yang menakutkan! Bunda ... sudah Sashi bilang pada Bunda kan kalau Sashi tidak mau bertemu kakak! Kenapa Bunda malah bawa kakak masuk!" gusar Sashi sambil sesekali melirik Aric.
"Kalau tidak bertemu, bagaimana masalah kalian akan selesai? Duduklah bersama dan utarakan setiap yang mengganjal!" Baik Aric maupun Sashi tampak bergeming.
"Sudahlah, Bunda mau mempersiapkan makanan untuk ayah!" Baru berjalan beberapa langkah Aira berbalik.
"Bunda harap masalah ini sudah selesai saat Ayah kalian pulang nanti! Itupun kalau kalian tidak mau dipisahkan lagi dan sayang pada anak-anak kalian!"
Aira keluar kamar dan menutup rapat pintu berdominasi pink itu.
..._________________________________________...
☕Happy reading😘
__ADS_1
☕Seminggu ini Bubu daftar promosi banner syaratnya up perhari 3x. Doakan otak Bubu lancar menghalunya❤️❤️
☕Ayo komen dan votenya jangan sampai lupa, yaa😁