Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
MENDENGAR PENJELASAN


__ADS_3

Aric dan Sashi dengan cepat membersihkan diri dan menapakkan satu persatu anak tangga, hingga tak berselang lama dua raga itu telah sampai di ruang tamu. Sorotan mata tajam dari dua sosok paruh baya langsung mereka dapati.


Pancaran kemarahan Lutfi tak bisa ditutupi. Ia marah, sangat marah dengan berita yang satu jam lalu ia terima. Ya, seorang wanita menelepon dan membuka aib yang bahkan tak pernah terfikir olehnya akan menimpa sang putri. Masih sangat jelas wanita itu berucap dengan gamblang bahwa Sashi telah dimadu!


Lutfi tentu terbakar emosi, namun di balik kemarahan itu tersimpan kesedihan di hati sang ayah. Sashi gadis kecilnya yang baru beranjak dewasa telah merasakan berbagai duri kehidupan. Lutfi yang merapuh seketika berfikir, apa kesahan yang ia lakukan di masa lalu hingga putri semata wayangnya harus mengalami hal itu. Putri yang bahkan diperoleh dengan susah payah harus menunggu selama 7 tahun hingga akhirnya Aira hamil, kini dihadapkan pada takdir seperih itu.


Lutfi terus menatap pancaran dua wajah yang terlihat tegang. Ada tanda tanya besar dalam otak itu. "Apakah Sashi mengetahui semua ini?"


Lutfi memperhatikan setiap aktivitas Aric dan Sashi dalam kebungkaman. Ia menggeleng-geleng melihat Sashi tak melepaskan rangkulan tangannya pada lengan Aric.


"Tidak ... Sashi pasti belum tau yang terjadi. Kasihan kamu, Sayang. Dulu orang yang harusnya menikah denganmu adalah Kaysan, walau masih muda ia terlihat tegas dan benar-benar mencintaimu tapi malangnya kecelakaan merenggut nyawanya. Dan laki-laki itu, Aric ... hari itu ia terlihat dewasa bersedia menggantikan adiknya. Ayah tak bisa menolak. Janinmu butuh ayah. Walau awalnya ia membuatmu tak nyaman, belakangan ayah lihat ia juga sudah mencintaimu. Tapi kenyataan yang ayah dengar hari ini sungguh menyakitkan! Apa maunya lelaki itu! Lelaki apa yang tak puas dengan satu wanita. Bahkan tadi kalian baru saja----. Hahhh ... Sashi putriku yang baik, kenapa kamu bo-doh!" Lutfi terus bermonolog dalam diam.


"Yahh ... Aric dan Sashi sudah di sini!" ucapan Aira menyadarkan kebungkaman Lutfi.


"Aric, kamu tau apa kesalahanmu?" tegas Lutfi.


Aric mengangkat wajah menatap Lutfi.


"Tau, Ya-h!" lirihnya.


"Ta-u? Jadi kamu sadar telah melakukan hal yang menyakiti putriku?" Aric mengangguk. Lutfi menggeleng-geleng. Ia mengarahkan pandang pada Sashi setelahnya.


"Dan kamu Sayang, kemari, Nak!"


Sashi bingung. Gadis 19 tahun itu bingung saat ayahnya meminta ia memindahkan raganya ke dekat sang ayah, ia menatap Aric. Ia nyaman dengan lelaki di sampingnya. Padahal hanya memindahkan duduk, tapi otak kecil itu seketika takut dijauhkan dari lelakinya. Ya, sebab Sashi sadar lelakinya itu sudah berbuat kesalahan.


"Sashi, kemari! Ayah ingin dekat Sashi!" lontar Lutfi lagi.


"Sashi mau dekat kakak saja, Yah!"

__ADS_1


"Sashh!"


Sashi masih menatap wajah Aric, bibir itu mengerucut, walau hanya diminta duduk berjauhan wajah itu sudah memancarkan kesedihan. Aric mengangguk, semua akan baik-baik saja, begitu setidaknya arti isyarat anggukan Aric. Aric tidak mau Sashi membantah Lutfi. Setelah beberapa saat saling mengunci pandang, Sashi akhirnya mengangguk. Ia bangkit dan duduk di samping Lutfi, Lutfi langsung merangkul bahu dan mencium puncak kepala Sashi. Hal yang entah sudah berapa lama tak ia lakukan. Ya, Lutfi sangat sibuk. Pun begitu Aira, ia seketika duduk di samping Sashi, merangkul dan terus menyapu rambut sang putri.


"Ayah ingin bertanya, apa Sashi tau kesalahan yang dilakukan Aric?" Sashi menatap wajah lelakinya yang duduk di seberang. Ia mengangguk.


"Tau? Apa yang Sashi tau?" Lutfi menegaskan tanyanya. Khawatir kesalahan yang Lutfi maksud berbeda dengan yang Sashi maksud. Karena Lutfi melihat wajah Sashi biasa saja.


"Ka-lau Ka-kak punya istri la-in, Yah!"


Nerta Lutfi membulat kaget. Putrinya tau telah diduakan tapi bisa setenang itu. Rahang itu mengeras tapi ia kontrol sebisa mungkin agar putrinya itu tetap nyaman dan tidak takut.


"Sashi tau artinya memiliki istri lain i-tu?" tanya Lutfi lagi. Sashi mengangguk.


"A-pa?"


"Bagaimana perasaan Sashi? Sashi sakit? Atau sedih?" Lutfi menatap lekat wajah Sashi, berusaha agar Sashi bisa terbuka padanya. Sashi menggeleng.


"Entah apa yang dimasukkan Aric pada otak Sashi sehingga putriku itu terus menurut dan bisa bersikap tenang seperti itu," batin Lutfi.


"Bund, ajak Sashi ke kamar! Aku ingin bicara berdua dengan Aric!" lugas Lutfi bicara.


"Ayo kita lihat Shiza ke atas, Sayang! Bunda rindu dengan Shiza!" Aira mengarahkan tatapannya pada Sashi masih menyapu bahu itu lembut.


"Bunda naik saja ke atas, aku masih ingin di sini bersama Kakak," ucap spontan Sashi.


"Sayangg ... mana bisa begitu, ini kan rumahmu! Bunda juga ingin berbincang dengan Sashi. Ayo kita ke atas!" lirih Aira berusaha meyakinkan Sashi.


"Sashi, ikut bunda ke atas!" Lutfi menaikkan nada suaranya membuat Sashi seketika mengangguk. Keduanya ke lantai atas setelahnya.

__ADS_1


Dua pria beda generasi saling duduk berhadapan dan menatap. Lutfi yang gusar mendapati sang anak diduakan tak bisa menahan lagi ingin melontar banyak tanya yang memenuhi otaknya.


Lutfi sebetulnya kesal dan marah, tangannya sudah gemetar ingin meluapkan kemarahan itu, tapi ia tahan sebisa mungkin. Pun ia sadar pukulan tidak akan mengubah segalanya, sekarang saatnya mengulik penyebab hal tersebut bisa terjadi.


"Siapa wanita itu?" lugas Lutfi.


"Ayah tidak kenal! Percayalah Yah, aku terdesak dan hanya ingin menolongnya!" Belum lagi ditanya Aric sudah melontar alasan pernikahan itu.


"Menolong apa dengan menikah? Terdesak? Aku bukan Sashi yang bisa dibodohi dengan alasan seperti itu! Alasan murahan untuk menutupi ketidaksetiaan dan lemahnya syahwat!"


"A-yah, tidak begitu! Hanya Sashi yang kucintai! Tidak pernah ada persetubuhan antara kami. Hanya dengan Sashi saja! Percaya padaku, Yah!" ucap Aric bersungguh-sungguh.


Lutfi menatap wajah itu. Ia bergeming. Sulit rasanya percaya pada ucapan itu.


"Lalu katakan kenapa kamu menikahinya?" Lutfi merendahkan nada suaranya. Mendengar agaknya lebih baik, toh ia juga melihat pancaran cinta di wajah putrinya tadi.


"Wanita itu hendak mengakhiri hidup bersama putrinya, gerbong kereta itu sudah sangat dekat pada tubuh kami, ia tak bisa dinasehati. Pun aku tidak bisa membiarkan keburukan terjadi di depan mataku. Aku masih membujuknya, hingga di detik terakhir ia bersedia mendengarku, ta-pi dengan sebuah sya-rat----


"Dia memintamu apa?" Lutfi sungguh tak sabar mendengar cerita selanjutnya.


"Meni-kahi-nya," lirih dan terbata kata itu akhirnya lolos. Aric menunduk.


"Bodoh! Sok pahlawan!"


__________________________________________


☕Segini dulu ya, sore dilanjut. Aktifitas reallife sudah menunggu🙏🙏


☕Happy reading😘😘❤

__ADS_1


__ADS_2