
Sashi mengambil satu telapak tangan Aric dan mengarahkan ke perutnya. "Semua karena i-ni! Ada Aric kecil yang sangat nakal di dalan si-ni!"
Mata yang sebelumnya menunduk melihat arah pergerakan tangannya ke perut Sashi kini terangkat. Mata itu menatap lekat wajah Sashi, mencari kebenaran dari ucapan yang belum lama di dengarnya. Sashi mengangguk, bukan hanya sekali melainkan berkali-kali. Dengan mata berbinar dan senyum mengembang. Aric membuang napasnya kasar dan seketika mengangkat tubuh itu ala bridal.
"Katakan? Semua nyata, kah? Telah ada calon a-nak-ku?" tanya Aric.
Sashi menangkup wajah Aric dan meletakkan bibirnya di pipi Aric. "Be-nar dan nyata! Kakak akan jadi ayah lagi!"
Dicium seketika wajah Sashi dengan penuh semangat, seluruh wajah itu, tanpa ada yang terlewat. Direbahkan tubuh Sashi ke ranjang. Aric terus bicara setelahnya di atas perut itu. Seperti bercengkrama atau memanjatkan do'a tak terlalu didengar Sashi. Tapi Sashi sangat bahagia melihat pancaran kebahagiaan Aric. Ia terus menyapu kepala itu.
Beberapa saat setelahnya ....
"Sejak kapan Sashi tau semuanya?" tanya Aric sambil mencium kepala yang bersandar dibahunya.
"Sesaat setelah melakukan panggilan dengan Kakak melalui ponsel Rena hari itu. Rena melihatku muntah-muntah dan ia menebak kalau aku hamil. Setelahnya aku meminta bik Ningsih beli alat tes kehamilan dan hasilnya terdapat garis 2."
"Garis 2?" Aric yang baru mendengar hal semacam itu bingung.
"Iya, garis pada alat tes kehamilan itu ada 2. Sebentar ya, Kak!" Sashi seketika beranjak dari ranjang menuju laci mengambil beberapa alat tes kehamilan. Ia naik lagi ke ranjang.
"Lihat ini Kak! Semuanya garisnya 2, kan?"
"Kamu mengecek menggunakan semua alat tes kehamilan i-ni, kah?" Aric menatap satu persatu dari 5 alat tes berbagai merk itu.
"Iya, agar lebih pasti!"
"Tapi tetap harus dipastikan ke dokter! Aku akan meminta izin ayah untuk membawamu ke Rumah Sakit. Kita harus pastikan kehamilanmu dan melihat bagaimana kondisi janin kita, serta untuk mengetahui berapa usia kehamilanmu. Kita juga perlu menanyakan perihal hak Shiza, apakah berbahaya menyusui saat sedang mengandung atau tidak masalah!" Sashi tampak mengangguk.
"Dan satu lagi!"
__ADS_1
"Hum?" Sashi menatap lekat netra itu.
"Jika kau memang benar-benar hamil, aku akan membawamu pulang ke rumah!"
"Ka-kak ...." Seketika wajah itu sendu. Aric mempererat pelukannya.
"Dulu di awal kehamilan Shiza, aku tidak memberimu kasih sayang yang cukup. Aku ingin dikehamilanmu kini, kamu dan calon anak kita tidak kekurangan hak itu." Wajah sendu itu kini lengkap dengan air mata yang membingkainya, tangisan itu keluar dengan sendirinya. Ya, Sashi teringat masa-masa ia mengandung Shiza.
"Tolong jangan menangis, maafkan kesalahanku di masa lalu!"
Sashi menenggelamkan wajahnya ke dada Aric. "Aku sudah memaafkan Kakak, tapi entah mengapa aku masih saja sedih saat ingat," ucap Sashi apa-adanya.
"Sash, jujur! Apa kamu menyesal menikah denganku?"
"Ka-kak mengapa bicara seperti itu. Mana mungkin aku menyesal! Kakak pria baik. Jika hari itu Kakak tidak bersedia menikah denganku, entah bagaimana cibiran masyarakat padaku. Aku akan jadi ibu tunggal tanpa suami. Buruknya aku!" lugas Sashi.
"Aku bukan pria baik, Sash! Aku pria bodoh yang sok jadi pahlawan!" lirih Aric. Sashi seketika ingat ucapan itu pernah dilontarkan Lutfi pada Aric. Ada rasa bersalah di hati itu, Aric masih mengingat ucapan Lutfi yang kurang enak didengar itu.
Sashi menaikkan posisi duduknya. Ia merangkum dan menatap wajah itu. "Terserah orang berfikir apa tentang Kakak. Yang jelas, aku akan selalu cinta Kakak. Sashi Mumtaz cinta Alaric Abdi Perwira, selamanya!" Sashi mencium kening, pipi dan bibir Aric singkat.
Aric tentu senang diperlakukan begitu. Dada itu masih sesak mengingat Kay yang sadar tapi ia bahagia sebab merasakan Sashi tulus mencintainya. Pun momen itu Aric gunakan untuk menyinggung sedikit perihal Kaysan.
"Sash ... an-dai Kay masih hidup dan kamu dihadapkan pada du-a pilihan antara a-ku dan Kay, siapa yang a-kan kamu pilih?" Dengan susah payah akhirnya tanya itu lolos. Aric terus memperhatikan raut wajah Sashi. Berusaha menerka isi hati itu.
"Kenapa Kakak bertanya itu? Kay sudah tenang. Sashi di masa kini hanya cinta Aric tidak yang lain." Sashi menatap wajah Aric yang gelisah.
"Sayang iya aku tahu itu, terima kasih. Tapi ini hanya pengandaian, andai Kay masih ada, apa kamu akan tetap bersamaku?"tanya itu terdengar sungguh-sungguh. Jujur Sashi bingung mengapa Aric melontar tanya-tanya seperti itu. Tapi melihat wajah Aric seolah jawab dari tanya itu begitu penting, akhirnya Sashi menjawab.
"Jujur Kak, dulu aku sedih Kay tiba-tiba pergi. Tapi setelah kufikir-fikir, aku jadi senang Kay tidak ada. Aku jadi bertemu Kakak. Yah, semua pasti perencanaan yang di atas. Ia membuatku kehilangan tapi ia mengganti dengan yang lebih baik."
__ADS_1
"Apa aku lebih baik?"
"Hu um," guman Sashi mengiyakan. Aric mendapat jawaban akhirnya. Ia senang, sangat senang. Ia lagi-lagi mulai mencium Sashi lagi.
"Kakak, sudah jangan cium terus." Aric terkekeh. "Karena aku bahagia, Sash. Terima kasih atas cintamu!" Sashi tersenyum sambil mengangguk.
"Baik barusan azan sudah berkumandang. Kita sholat dan langsung ke Rumah Sakit, oke!"
"Tapi, Kak .... Bagaimana izin dengan ayah?"
"Kenapa sulit, Sayang! Tinggal bilang kemungkinan kamu sedang hamil dan ingin mengecek ke dokter. Mudah, kan? Ayah pasti setuju, karena ia pasti senang akan diberi seorang cucu lagi. hem?"
"Ka-kak, ta-pi tadi pagi bunda-----
Melihat ada yang ingin di lontarkan Sashi tapi terlihat ragu, membuat Aric penasaran. Dibenarkan posisi duduk itu menghadap ke arah Sashi. Aric menatap lekat wajah itu dan berucap. "Sayang katakan, ada apa dengan Bunda?"
"Bunda tadi memberi aku o-bat, katanya aku harus minum sebelum Kakak datang," lirih Sashi.
"Oh ya, kenapa begitu?"
"Hemm ... ka-ta bunda sebagai penjagaan ke-ha-milan."
"Hahh?" Netra Aric langsung membulat. "Maksudmu bunda tak ingin kamu ha-mil, kah?" Sashi mengangguk.
"Kata bunda Shiza masih kecil da-n hubunganku dengan kakak sedang tidak baik, jadi jangan hamil du-lu." Sashi sungguh bingung, di satu pihak ibu, dan di pihak lain Suami. Ia agak takut sebetulnya menceritakan itu, tapi Aric perlu tau. Tapi ia juga tak ingin Aric marah dengan bunda. Sashi menunduk tak berani melihat wajah Aric.
"Sayang, ini salah! Tidak, aku tidak terima dengan pemikiran bundamu! Mereka sudah salah, bahkan sejak mereka menjauhkan kita, itu hal yang salah! Kemarin aku setuju atas keinginan ayah sekedar menghargainya, juga sebab aku merasa bersalah telah menduakanmu. Tapi, semakin ke sini kurasa orang tuamu semakin ikut campur dalam rumah tangga kita! Kamu itu sesungguhnya tanggung jawabku! Ya, sejak aku melontar ijab qabul, akulah yang lebih berhak atasmu ketimbang mereka!"
__________________________________________
__ADS_1
☕Happy reading😘