
Denting yang berbunyi dari dinding kamarku
Sadarkan diriku dari lamunan panjang
'Kan kurasa malam kini semakin larut
Ku masih terjaga
Sayang, kau di mana
Aku ingin bersama
'Kan kuputus semua untuk tepiskan rindu
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama
Seperti dinginku di malam ini
Rintik gerimis mengundang
Kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Sepi kurasa hatiku
Saat ini oh sayangku
Jika kau di sini
A-ku tenang
(Denting_Melly Goeslow)
Alunan nada terus terdengar di kamar Sashi, juga tangisan Shiza yang terus tak berhenti. Aira yang baru pulang di jam 3 siang menjelang sore itu dibuat kaget. "Ada apa ini?" lirihnya.
Terlihat Ningsih terus menggedor kamar yang terkunci dari dalam itu, semburat panik terlihat jelas. Ningsih yang menyadari kedatangan Aira merasa lega, ia langsung mendekati Aira.
"Bu," lirihnya.
"Ada apa Bik? Sashi mana? Mengapa Shiza terus menangis di dalam?" tanya Aira bingung.
"Non Sashi keluar dari kamar jam 11 tadi siang ambil minum dan dia tidak keluar lagi, Bu. Non kecil Shiza hampir setengah jam menangis seperti itu. Saya bingung, mau masuk tapi kamar dikunci non Sashi dari dalam."
"Berarti Sashi juga belum makan?"
"Be-lum, Buu."
"Ahh, Sashi ... kamu itu kenapa, Sayang! Tolong jangan melakukan sesuatu yang membuat semua semakin rumit!"
"Sashi ... Sashi .... Buka pintunya, Nak!" Aira terus memanggil tapi suara wanita paruh baya itu agaknya kalah dengan suara musik dan tangisan Shiza.
"Bik ... cari kunci cadangan kamar ini!" pinta Aira. Ia sungguh tidak tenang, ada ke khawatiran Sashi akan bertindak ceroboh.
Mendengar perintah Aira, Ningsih dengan gerak cepat segera menuju dapur. Ia yang tak terfikir mencari kunci cadangan sejak tadi hanya bisa mengutuki diri. Tak berselang lama kunci sudah berada di genggaman tangan Aira. Tak menunggu lama, Aira segera memutar kunci dan meraih gagang pintu, terbukalah kamar itu.
Lantunan lagu yang sama masih saja terdengar dari tape radio jadul di kamar itu. Aira mengedarkan pandang mencari sosok Sashi. Ranjang itu kosong. Aira dengan sigap mengangkat tubuh Shiza, wajah itu sangat sedih. Setengah jam terus menangis tentu ia lelah dan takut. Ya, sebab Maminya tak jua meraihnya.
__ADS_1
"Sayang ... cup ... cup ... cup ...!" Aira menggoyang-goyangkan tubuh Shiza, tapi tangisnya tak berhenti. Bocah kecil itu sudah sangat kehausan.
"Cari Sashi di tiap sudut kamar ini, Bik!" pinta Aira lagi, sedang ia masih berupaya mendiamkan Shiza. Shiza tampak bersemangat saat Aira menyodorkan air putih ke bibir mungil itu.
"Ahh, Sayang ... ke mana Mamimu?"
"Buk ... i-tu no-n Sas-hi," lirih Ningsih menunjuk kursi di sudut yang berhadapan dengan jendela yang menghubungkan taman.
"Hahh?"
"Anak menangis tapi Sashi dengan tenangnya duduk di sana?"
Aira bangkit menuju tempat Sashi berada, ia kaget. Putrinya itu mematung entah apa yang dilihat. Suara alunan lagu semakin jelas terdengar dari tape yang diletakkan Sashi di meja di sisinya.
"Sashii!" panggil Aira. Sashi masih bergeming, ia duduk sambil memeluk lutut tanpa ekspresi.
"Bik, tolong gendong Shiza dulu!" Ningsih mengangguk. Ia meraih tubuh Shiza yang diarahkan Aira padanya.
"Sekalian matikan lagu itu! Bising sekali!" pekik Aira. Ningsih langsung menekan tombol off radio itu. Suasana pun kembali damai, hanya suara sesenggukan Shiza yang masih terdengar.
Bersamaan lagu yang berhenti, kesadaran Sashi pulih, ia langsung mengangkat wajah dan bingung ada Aira di hadapannya.
"Bunda, kenapa ada di-sini?" ucap Sashi dengan tenangnya. Rupanya beberapa saat lalu Sashi terhanyut dalam lirik demi lirik lagu yang diputarnya dan terus teringat kebersamaannya dengan Aric membuat otak itu terkunci dan ia abai pada sekitar.
"Jangan banyak bertanya! Lihat kondisi putrimu!" pekik Aira mendekati Ningsih yang tengah menggendong Shiza, Sashi mengekor.
"Shizaa? Shiza kenapa, Bun?" Kaget Sashi melihat wajah merah dan mata bengkak Shiza. Ia segera meraih raga putrinya, sedang Shiza yang menemukan wajah Sashi kembali menangis kencang.
"Susu i dulu Shiza, baru kita bicara!" gusar Aira. Ia meminta Ningsih ke luar, sedang ia duduk di sofa. Dilihatnya Sashi membawa Shiza duduk di atas ranjang bersandar pada head board.
Sashi memberi penyegar dahaga pada putri kecilnya itu. Hati Sashi sedih melihat bekas tangis di wajah Shiza. Ia terus menciumi Shiza. Sangat merasa bersalah ia rasakan, terlebih saat melihat mata bulat itu terus menatapnya.
"Jangan menangis saat menyusui! Anakmu akan jadi anak yang lemah dan cengeng!" ucap Aira.
"Ma-af, Bun-da!" lirih Sashi.
"Fokus saja menyusui Shiza! Kita bicara nanti!" lugas Aira. Ia masih kesal dengan kelalaian Sashi. Sashi mengangguk dan menghapus satu persatu bulir yang masih memaksa keluar.
Beberapa saat aktivitas menyusui itu selesai. Shiza mulai tersenyum. Sashi membawa Shiza ke sofa di sisi Aira, mendudukkan dan memberi mainan pada putrinya itu setelahnya.
"Apa yang membuatmu lalai seperti tadi, hem?" tanya Aira seketika .
"Lagu tadi membuatku terlena. Aku rindu kakak, Bund!" Air mata Sashi mulai menetes. Mendengar jawaban Sashi ada sedih dirasa Aira, ia paham kesedihan Sashi. Putrinya itu sudah sangat terbiasa dengan Aric, namun di satu hatinya yang lain tak suka dengan sikap lalai sashi.
"Jangan ada alasan apa pun untuk lalai mengurus Shiza, apalagi ia masih bergantung asimu. Melihat wajahnya saja Bunda tidak tega tadi. Setengah jam ia menangis, tapi maminya hanya sibuk memikirkan papanya!"
"Ma-af." Sashi terus menciumi puncak kepala Shiza. Bocah itu tentu tak punya dendam, dahaganya terpenuhi sedihnya pun hilang, bahkan Shiza terus tertawa kini.
"Kata Ningsih kamu belum makan?" Sashi menggeleng.
"Lalu nutrisi apa yang kamu beri untuk Shiza, hem?" Sashi terdiam.
"Bik Ningsih ...," teriak Aira. Tergopoh wanita paruh baya itu datang. "I-ya, Bu?"
"Ambilkan makanan untuk Sashi!" Ningsih mengangguk dan seketika berbalik hendak ke dapur.
"Bik Ningsih, tunggu!"
__ADS_1
"Apalagi Sashi?" lontar Aira.
"Aku belum lapar, Bunda. Aku akan ambil makan sendiri jika lapar!" lirih Sashi dengan tatapan memelasnya.
"Kamu menyusui, kamu harus paksakan makanan masuk jika sayang dengan Shiza!"
"Perutku sedang mual, Bunda."
"Pasti maagmu kambuh karena kamu sudah telat makan!" Setelah menghentikan kalimatnya Aira menatap Ningsih. "Pergilah Bik, ambilkan makan Sashi biar aku yang menyuapinya!"
"Tidak Bunda, percuma nanti keluar lagi!"
"Maaf tidak ada alasan, Sayang!" Aira sungguh tak bisa dibantah. Aira memang wanita baik, tapi sifatnya memang agak keras.
"Oh ya Sash, bukan kah ini pakaianmu semalam? Jangan bilang kamu juga belum mandi, hem!" Sashi menggeleng.
"Sashi, apa ini? Kamu itu ibu dan istri! Masalah membersihkan diri tidak harus diingatkan lagi. Apa kamu seperti ini juga saat di rumahmu?"
"Tidak Bunda. Hanya beberapa hari di sini setiap melihat air tubuh Sashi menggigil," lirih Sashi melontar alasannya.
"Kalau begitu biar nanti Ningsih menyiapkan air hangat untukmu!" Sashi mengangguk.
"Bundaa ... apa boleh Sashi pinjam ponsel Bunda untuk menelepon Kakak? Sashi rindu kakak, mau dengar suara kakak tapi ponsel Sashi diambil ayah!"
"Maaf Bunda tidak bisa membantah ayahmu itu. Turuti perintahnya! Sudah 4 hari kamu lewati, tinggal 3 hari lagi dan Aric akan datang. Bersabarlah, oke!" Aira menasehati Sashi dengan ketenangan di wajahnya.
"Tiga hari itu lama, Bunda!"
"Nikmati hari-harimu bersama Shiza, maka waktu akan cepat berlalu, Sayang!" ujar Aira sambil meraih piring yang disodorkan Ningsih. Ya, Ningsih baru saja datang membawa makanan untuk Sashi.
"Ayo buka mulutmu, Sashi!"
"Mual, Bunda!"
"Buka! Agar Bunda tenang meninggalkanmu nanti malam!" lugas Aira sudah meletakkan sendok di depan bibir Sashi.
"Nanti malam Bunda mau ke mana?"
"Ada pertemuan dengan seseorang. Putri teman Bunda akan melangsungkan pernikahan dan ia berencana memakai catering, Bunda."
"Tapi nanti malam ayah pulang, kan?"
"Ayahmu pulang mungkin tengah malam. Jangan menunggunya! Kamu baik-baiklah dengan Shiza di rumah, panggil Ningsih jika membutuhkan sesuatu, paham?" Sashi mengangguk ragu. Hati itu sejujurnya sedih, berada di rumah orang tuanya lagi-lagi ia merasa kesepian. Kedua orang tuanya terlalu sibuk.
"Kakak ... aku rindu Kakak! Mima ... andai mima ada di sini!" batin Sashi.
"Jangan melamun. Ayo buka mulut!"
Sashi memaksa membuka mulut walau perut itu sedang menolak makanan. Ia senang Aira menyuapinya, bahkan ia lupa kapan terakhir ia mendapat perhatian seperti itu. Namun benar saja, baru beberapa kunyahan, Sashi langsung berlari ke toilet.
Sashi muntah. Makanan itu keluar kembali. Aira menyentuh kening itu, tidak ada panas di sana.
"Sashi seorang ibu! Tidak boleh manja!" Pekik Aira seketika.
__________________________________________
☕Happy reading😘
__ADS_1
☕Ayo tunjukkan support kalian untuk Sashi😄😄❤❤