Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
APA JENIS KELAMIN BAYI


__ADS_3

Sashi terbangun saat mendengar sholawat yang terus didendangkan di masjid tak jauh dari rumah orang tuanya. Ia melepaskan pelukannya pada tubuh Shiza yang kini masih terlihat pulas di sampingnya. Ia membalik badan setelahnya, menghadapkan wajahnya pada wajah sang suami yang sangat ia cintai. Sashi mendekatkan wajahnya, mencium beberapa kali pipi itu dan mulai mengusap-usap kelapa Aric.


Ada desiran yang ia rasa di hati, tentang Aric yang ternyata masih saja cemburu melihat kedekatannya dengan Kaysan. Sashi sadar semua itu karena rasa cinta Aric padanya, dan Sashi sungguh tak ingin suaminya itu merasa tidak tenang dan dibayangi rasa curiga.


"Aku harus menjaga jarak dengan Kay. Ya ... aku harus menjaga perasaan kakak," ucapnya dengan lirih. Sashi mendekatkan lagi setelahnya wajahnya.


"Ka-k, bangun!" bisik Sashi. Ia merasa harus membangunkan Aric karena ayahnya sudah mengingatkan semalam tentang keutamaan pria sholat di Masjid dan ayahnya itu pasti akan menunggu Aric seperti hari-hari sebelumnya semenjak mereka mulai tinggal di sana.


"Ka-k ayo bangun!" lirih kata itu terucap lagi. Aric mulai menggerakkan tubuh.


"Sayang jam berapa ini?"


"Sebentar lagi subuh, Kak! Kakak juga belum membersihkan diri!"


"Oh i-ya. Sash, aku ingin mendengar kata sayang darimu saat membangunkanku bisa, please ...!" lirih Aric.


"Kak, panggilan kakak itu adalah caraku meluapkan sayang!" bisik Sashi.


"Katakan dengan ucapan sayang! Agar aku yakin kamu selalu milikku! hati dan semuanya ini milikku, hanya aku!"


"Ka-kak?"


"Ayolah!" Sashi tersenyum getir.


"Ternyata kakak masih takut aku berpaling, padahal aku jelas wanita berbadan 3 dengan satu anak. Sangat tidak mungkin bukan ada yang suka aku. Pun aku juga tidak mau lelaki selain kakak. Sabar Sashi, suamimu seperti itu karena benar-benar mencintaimu! Fikirkan itu saja!"


Sashi mendekatkan wajahnya lagi pada Aric, memberi kecupan singkat di bibir suaminya itu dan berucap. "Sashi Mumtaz hanya milik Alaric, selamanya! Sekarang bangun, ya, Sa-yang!"


Aric menaikkan tubuhnya. "Katakan lagi, Sayang!"


"Sa-yang ... Sayang! Sashi sayang Aric. Sangat sayang! sekarang sudah bisa bangun kan, Sayangku?" Aric terus tersenyum.

__ADS_1


"Siap, aku mandi dulu!"


...~∆∆∆~...


Tak terasa dua Minggu berlalu. Matahari mulai meninggi saat Aric terus merangkul bahu itu memasuki Universitas Sashi. Baik Sashi maupun Aric tampak santai saja walau banyak mata yang menatap mereka. Mereka masuk ke ruang dosen, memberi tugas dan kembali ke mobil setelahnya.


Ya, semenjak kandungannya membesar memang Aric meminta Sashi kuliah dari rumah. Ia biasa bervideo bersama dosennya. Aric merasa lebih baik mengeluarkan uang lebih, ketimbang melihat Sashi kepayahan membawa 2 bayi dalam perut itu ke Kampus.


Kini keduanya sudah di dalam mobil, sesuai jadwal hari ini adalah jadwal Sashi kontrol. Pun Aric meluangkan waktu untuk melihat kedua bayi kembarnya itu. Aric menatap pancaran ayu istrinya. Istrinya itu memang masih begitu muda dan apa adanya, namun siapa sangka ia sudah akan menjadi ibu dari tiga buah hati. Hal yang menjadi berkah terbesar dalam hidupnya.


"Ka-kak ada apa?" Sashi yang sedang memainkan ponselnya tampak bingung suaminya tak jua melajukan kendaraan dan hanya terus mematung menatapnya.


Aric tersenyum. "Sash!" lirih panggilan itu terucap. Aric memang senang berucap lembut pada Sashi, menjaga mood dan bahagia Sashi merupakan tugasnya. Aric sungguh tak ingin ucapan yang keluar dari bibirnya melukai istri kecilnya itu. Tidak! Mungkin sebutan istri kecil kini kurang tepat lagi melihat tubuh Sashi yang membengkak dalam kehamilan kembarnya itu.


"Hum?" Sashi bergumam tanpa melihat wajah Aric. Ia sedang fokus dengan gadgetnya.


"Terima kasih!" ucap Aric.


Sashi yang sejak tadi abai dan hanya menatap ponsel, kini mengarahkan pandang pada lelaki tampan yang telah hidup bersamanya selama 3 tahun lebih di sampingnya. Pancaran wajah itu begitu meneduhkan, rasa cinta selalu tergambar di wajah itu. Sashi bahagia, sangat bahagia dipertemukan pada sosok Alaric yang sangat baik dan tulus memperlakukannya.


"Karena kamu hadir dalam hidupku! Memberi banyak warna dan cerita! Semua yang ada padamu aku suka dan aku bersyukur memilikinya." Sashi tersenyum. Ada desir kebahagiaan di sana, degup jantung itu memacu cepat bak bocah ABG yang sedang menerima pernyataan cinta ia rasakan kini. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum, wajahnya terus memancarkan rona bahagia. Pun Sashi langsung mengaitkan jemari keduanya.


"Aku yang bersyukur atas hadirnya Kakak. Kakak adalah penyelamatku, Kakak rela memberi status istri pada wanita yang jelas sedang hamil benih lelaki lain. Kakak baik dan menyayangiku. Kakak tidak malu memiliki istri yang kekanakan sepertiku. Justru Kakak yang banyak mengisi dan mewarnai hidupku," lirih kata itu terucap. Sashi mencium jemari Aric setelahnya.


Aric bahagia. Diusap-usap puncak kepala Sashi yang masih terus tersenyum menatapnya. Ia menarik kepala itu dan mencium kening dan sepasang pipi lembut Sashi. Sashi bahagia, Aric memang lelaki yang pintar memanjakannya.


"Ka-k, apa kita akan terus saling menatap begini dan tidak jadi menemui dokter?" tanya Sashi sambil menarik sepasang alis ke atas menggoda Aric. Aric tersenyum, ia mengusap kepala Sashi lagi baru memindahkan jemarinya ke kemudi. Ia mulai melajukan kendaraan setelahnya.


...~∆∆∆~...


"Apa jenis kelamin bayi kembar kami sudah terlihat, Dok?"

__ADS_1


Setiap pemeriksaan selalu hal ini yang di tanya Aric, namun di bulan-bulan sebelumnya sang baby twins agaknya masih malu menunjukkan identitas mereka. Aric kini fokus melihat jemari dokter yang memutar-mutar alat di perut Sashi dan melihat layar 14" setelahnya. Merasa tak sabar menunggu dokter bicara, Aric ingin menerka sendiri melalui tampilan layar yang dilihatnya.


"Dok ... Dok ... bukankah bayiku yang itu ada Monasnya. Berarti ia laki-laki, kah?" utar Aric dengan posisi jemari terus menggenggam jemari Sashi.


Dokter tersenyum. "Bukan Pak, itu posisi kepala jadi bukan kelamin bayi," ucap dokter yakin. Aric membuang napas kecewa asumsinya salah.


"Jadi jenis kelamin bayi kami apa, Dok?" tanya Aric lagi.


"Kakak, sudah sih! Kalau si kembar belum mau menunjukkan berarti ia ingin buat surprize pada kita," ucap Sashi.


"Nah betul itu Pak, lagi pula jenis kelamin laki-laki maupun perempuan bukankah sama saja? Anak tetaplah anugerah titipan sang Esa!" timpal dokter sambil berdiri menuju wastafel dan mencuci tangan. Tampak suster mengambil tisu dan mengusap sisa jell di perut Sashi.


"Masalahnya saya ingin membuatkan kamar untuk si kembar, Dok! Kalau sesuai dengan jenis kelaminnya kan lebih bagus!" lugas Aric sambil lagi-lagi mencium kening Sashi. Aric santai saja menunjukkan sayangnya di hadapan orang lain.


"Ka-kak ... si kembar biar tidur bersama kita! Mereka kan membutuhkan ASI-ku!"


"Iya, Sayang ... Aku tahu. Maksudku kamar itu bisa dipakai nanti saat mereka sudah lebih besar!" Aric menatap lekat wajah Sashi berusaha mengemukakan inginnya.


"Kalau masih nanti, ya kita fikirkan nanti saja, Kak! Kata Ayah itu kemubaziran," lirih Sashi membetulkan posisi bantalnya.


"Tidak ada hal yang mubazir untuk anak-anak, Sayang! Mereka kan juga akan menggunakannya, Hem?" Jemari itu terus mengusap kepala sang istri.


"I-ya sih, Kak. Tapi menurutku, jika kita memiliki uang lebih, alangkah baik sebagai rasa syukur kita berikan shodaqoh untuk panti-panti atau masyarakat yang kurang mampu!"


"Masalah itu tentu sudah kupikirkan, ini di luar itu, Sayang. Ini hak si kembar, sebagai bukti sayangku pada keduanya!" Aric masih berkilah, ia telah mantap dengan inginnya.


"Tapi Ka-k ... kita belum bu-tuh!" sela Sashi. Keduanya masih saling bertatap dan bersikukuh dengan pendapatnya hingga sebuah suara mengagetkan keduanya.


"Hem! Apa diskusinya bisa dilanjutkan nanti di rumah?" Dokter menatap keduanya.


Aric dan Sashi saling menatap dan tersenyum getir, merasa tak enak hati sebab merasa sibuk berdua saja sejak tadi lupa bahwa mereka masih di ruang pemeriksaan.

__ADS_1


...________________________________________...


☕Happy reading😘


__ADS_2