
"Sudah rapi sekali, mau kemana, Sayang?"
Kalina melihat Aric baru turun dari tangga dengan penampilan rapi merasa bingung, mau kemana putranya itu malam-malam begini.
"Aric ada urusan, Ma," ucap Aric.
"Urusan apa malam-malam? Ini sudah malam Sayang, tidur dan beristirahatlah!" Rico yang baru saja keluar dari ruang keluarga hendak ke kamar mendadak langkahnya terhenti. Ditatap wajah tampan putra pertama baginya itu.
"Ada sesuatu yang penting, Ma," ucap Aric, bingung ia mau melontar apa untuk membuang rasa penasaran Kalina.
"Masalah pekerjaan, kah? A-tau masalah pri-badi?" Kalina masih mencari tau alasan Aric.
Belum lagi alasan itu dijawab, Sashi tergopoh turun dari lantai atas dengan membawa sebuah botol minum. "Kakak ini minumnya jangan lupa dibawa!" ucap Sashi dengan polosnya. Aric menjulurkan tangan dan mengambil botol minum berukuran 1 liter itu dari jemari Sashi, semakin heran saja Kalina dibuatnya. Ia bergeming masih menunggu jawaban Aric.
"Aric ada masa-lah pe-kerjaan, Maa! Ada barang datang ke toko, Aric harus memeriksanya!" utar Aric akhirnya meloloskan kebohongannya. Sashi mengerucutkan bibir melihat suaminya itu telah berbohong pada Kalina sekadar untuk ke rumah Aruna, ia kesal tapi tak bisa berbuat apa pun.
"Barang datang di malam hari?" ucap Kalina lagi merasa heran.
"I-ya, Ma. Hmm ... kalau Mama ragu, mama bisa menanyakan pada Papa, Papa juga tau kok kalau aku harus ke luar malam ini, bukan kah begitu, Pa!" Rico yang sejak tadi hanya memperhatikan dibuat kaget tiba-tiba dilempar tanya oleh Aric. Ia menatap netra putranya yang juga sedang menatapnya. Rico menggelengkan kepala, ia mulai tau ke mana tujuan putranya itu akan pergi.
"Pa, benarkah yang diucap Aric? Apa benar ada barang datang ke toko malam ini?"
"Hmm ... Benar Ma, barang dari Surabaya baru saja tiba ke Jakarta sore tadi, memang harusnya sudah sampai Tangerang di jam ini," lugas Rico. Kedua pria itu tanpa sepengetahuan Kalina saling melirik. Aric puas atas jawaban Rico yang memudahkannya keluar rumah.
Kalina bisa saja abai, tapi tidak Sashi. Ia yang tau kemana suaminya itu akan pergi dibuat kaget dengan penuturan Rico.
"Kak Aric kan hanya berbohong, bagaimana Papa bisa menjawab selugas itu seolah benar-benar ada barang yang akan datang, aneh! Apa mungkin ... papa tau pernikahan kakak dengan mbak Aruna? Dan kini ia sedang menolong putranya itu ke rumah madunya?" batin Sashi. Pun ia melihat suami dan papanya itu saling melirik dengan rona aneh. Rico memang terlihat tenang, tapi Aric? Rahut kemarahan terlihat jelas.
"Ada apa i-ni? Kenapa wajah Kakak seperti itu pada Papa?" batin Sashi lagi.
"Jadi begitu. Ya sudah, hati-hati segera kembali jika urusanmu sudah selesai, Sayang! Jangan menyetir sendiri, suruhlah Ojo ikut denganmu!"
"Iya, Ma," lirih Aric. Baru saja Aric hendak melangkah ke luar. Sashi seketika berucap. "Kakak, tunggu sebentar, ada yang terlupa!" ucap Sashi langsung menaiki satu persatu tangga ke lantai atas.
Tak berselang lama raga Sashi terlihat, ia tampak sudah mengganti piyama yang dikenakan dengan pakaian rapi sambil menggendong Shiza yang tengah terlelap. Kaki-kaki itu menuruni tangga dengan cepat.
"Lho Sashi? Mau ke mana kamu, Nak?" tanya Kalina.
Sashi menatap wajah tampan suaminya. "Ka-kak, aku dan Shiza akan ikut bersamamu!" lugas Sashi berucap. Ia mulai menjalankan azzamnya untuk terus mendampingi Aric jika akan ke rumah Aruna. Kalina kini yang terlihat heran.
"Sa-yang ... a-pa ini? Suamimu itu ingin bekerja, Nak, bukan sedang ingin jalan-jalan! Jangan kekanakan Sashi, terlalu posesif itu juga tak baik. Masuklah lagi ke kamar dan istirahatlah bersama Shiza. Lagi pula apa kamu tidak kasihan membawa cucu Mama yang cantik ini berkeliaran malam-malam, hem!" Sashi menatap netra Aric. Berharap suaminya itu membela dan mengizinkan ia ikut.
__ADS_1
"Sayang ... benar ucapan Mama, kamu beristirahat saja, oke! Aku akan segera kembali." Aric menyapu puncak kepala itu. Tak ingin Kalina curiga. Sashi memberengut.
"Masuklah ke kamarmu, Sashi!" lugas Rico menimpali. Sashi tak bisa berkilah lagi dan terpaksa harus menurut. Ia takut, wajah Rico memang seram kalau sedang berkata tegas begitu.
"Hmm ... baiklah aku tidak akan ikut, tapi aku akan mengantar Kakak sampai depan!" Kalina dan Rico mengangguk.
"Oke hati-hati, Sayang! Mama dan Papa ke kamar dulu."
"Iya, Ma."
•
•
"Kakak ... jangan lupa pesanku!"
"Hahh?"
"Kenapa hah? Kakak masih ingat kan ucapanku saat di kamar tadi?" Sashi terus bicara. Melihat wajah Sashi yang panik membuat Aric lupa berbagai pelik yang memenuhi otaknya beberapa saat lalu. Ia yang gemas seketika terfikir mengerjai istri kecilnya itu.
"Ucapan yang mana? Kamu banyak berucap, aku tidak ingat satu persatu!" datar Aric, ia tak sabar menunggu respon Sashi lagi.
Sepasang tangan kecil sambil menahan tubuh Shiza dalam gendongan seketika mendorong tubuh Aric, Aric mengikuti arah dorongan yang Sashi lakukan hingga tubuhnya membentur pilar tinggi di muka rumah besar itu.
"Ingatkan aku lagi!" Tangan itu dengan nyaman sudah melingkar di pinggang Sashi.
"Hah? Jadi aku terus bicara tadi di kamar Kakak hanya berucap iya tapi tidak mengimpannya?"
"Ma-aff! Ayo katakan lagi aku harus bagaimana di rumah Aruna nanti?" Mata itu seakan bersungguh-sungguh menatap lekat wajah Sashi.
Sashi memberengut menampilkan wajah sendu. "Bagaimana ini Kak, aku semakin khawatir membiarkan Kakak pergi ke sana sendiri. Kakak saja bahkan tidak ingat setiap peringatanku!"
"Ma-af, jangan marah! Ingatkan saja aku lagi! Aku akan menyimpan semua ucapanmu kali ini!"
"Tapi Kakak harus sungguh-sungguh mengingatnya!" Aric mengangguk penuh semangat.
"Pertama, hanya minuman ini yang boleh Kakak minum di sana!"
"Siap!"
"Kedua, tadi aku lihat Kakak sudah makan banyak. Jangan makan lagi di rumah itu! Kalau lapar tahan sedikit dan makan setelah kembali!"
__ADS_1
"Makan kamu lagi boleh?" Jemari itu terus menyapu-sapu pipi Sashi.
"Ka-kak, jangan bercanda! Aku sedang serius!"
"Oh ... oke oke, selanjutnya?"
"Jangan berada dalam satu kamar dengan wanita itu! Ingat tujuan Kakak adalah Ciara! Jadi fokus pada Ciara dan segera kembali!"
"Oke, lalu?"
"Mata ini ... jangan lihat tubuh wanita itu! Sedikit pun!"
"Lalu, aku harus memejamkan mata, kah?"
"Tidak seperti itu juga, Kakak! Lihat wajah boleh seperlunya, selebihnya cukup melihat Ciara!"
"Hmm ... oke. Ada lagi?" Aric kini terlihat fokus menatap bibir mungil yang tak berhenti bicara sejak tadi, ia tersenyum. Otaknya sudah berselancar tak terarah.
"Kalau ia mulai berkata dengan suara mendayu, mendesah, sedih, seolah tersakiti, Kakak harus berusaha keras menghindarinya!"
"Kenapa begitu?" Aric terus menyapu-sapu punggung Sashi dan menarik raga itu semakin dekat.
"Karena Ka-kak mudah i-ba, nanti i-a a-kan mengguna-kan kesempatan i-tu un-tuk melu-luh-kan Ka-kak!" Ucapan Sashi mulai terdengar berat, sentuhan Aric mulai mengobar hasratnya.
"Su-dah selesai?" Wajah Aric sudah nyaris menempel di pipi Sashi.
"Su-dah!"
"A-ku akan ingat se-mua! Ta-pi ... aku ma-u ini dulu!" lirih Aric menyentuh bibir Sashi.
"Kak .... ummppp
Seperti biasa belum lagi Sashi melontar iya atau tidak, Aric sudah melakukan yang ia inginkan. Keduanya terlarut tak menghiraukan sekitar, bahkan ada Shiza yang tengah tertidur diantara tubuh keduanya tak jadi penghalang.
Tak jauh dari posisi mereka, di balik jendela tepatnya, seorang ibu tengah menangis melihat pemandangan tersebut. Ia perih akan kondisi putranya yang tengah terbaring tak berdaya, namun ia juga tak kuasa memisahkan dua insan yang tampaknya telah saling mengisi dan mencinta. Ia resah menghadapi problematika yang mengitari keluarganya tanpa pemecahan itu.
__________________________________________
☕Happy reading😌
☕Bab ini tanpa konflik berarti, besok ada ayah lutfi yaa❤❤
__ADS_1
☕Jangan lupa like, komen, dan gift nya untuk karya ini.. suwun sanget😘😘