
Pukul 14:05 saat Aric keluar dari ruang praktek dokter Evelin, dokter yang menangani Sashi dari mulai kehamilan Sashi pertama, kedua, hingga yang ketiga sekarang. Sebuah kertas tampak digenggamnya. Kaki-kaki itu mulai melangkah ke arah kasir dan meletakkan kertas itu ke Instalasi Farmasi. Baru ingin mendudukkan raganya ke kursi ruang tunggu, netranya tak berkedip menangkap seseorang yang baru saja melewati pintu utama.
Wanita cantik berambut panjang dengan tubuh proporsional tampak masuk kini dengan langkah landai dan wajah agak pucat. Melihat gelagatnya yang terus mengedar pandang ke kanan dan kiri mencari tempat yang ingin didatanginya, sangat jelas itu adalah kali pertama sang wanita ke Rumah Sakit itu.
"Salwa, bukankah itu Salwa? Untuk apa ia ke Rumah Sakit? Apa Salwa sakit? Ia sepertinya bingung ...."
Merasa mengenal wanita yang baru saja masuk, lengan Aric langsung terangkat dan bibir itu memanggil.
"Wa, Salwa!"
Wanita yang namanya disebut seketika berbinar rona wajahnya menatap sosok yang memanggil. Sosok masa lalu yang pernah begitu tulus mencintainya tapi telah ia tinggalkan. Kini takdir membuat mereka berada pada satu tempat. Salwa mendekat, ada rasa senang di hati itu.
"Arr, kamu di-sini?" Jelas Salwa tak menyangka.
"Iya, ada beberapa obat istriku yang harus kutebus. Kamu sendiri ada keperluan apa ke Rumah Sakit? Ka-mu sa-kit, Wa?" tanya Aric. Ya, bagaimana pun keduanya pernah dekat. Kepada orang lain saja kita mendoakan dan berharap kebaikan. Apalagi ia yang pernah kita kenal. Pun begitu dengan Aric, ia berharap Salwa baik-baik saja.
Salwa tersenyum getir dan menggeleng setelahnya.
"Kamu tidak ba-ik, Wa!" lugas Aric. Ia hapal raut seperti itu. Aric yakin Salwa sakit.
"Aku baik-baik saja, Arr! Aku masuk dulu ya, salam untuk Sashi!" Salwa beranjak setelahnya. Aric menahan diri untuk tidak masuk terlalu jauh.
"Cukup! Kamu hanya perlu ingat Sashi dan calon bayi kembarmu, Aric! Biarkan saja Salwa dengan hidupnya! Ia sudah dewasa, pun ia juga tak peduli lama padamu. Ya, ia dulu meninggalkanmu!"
Otak Aric masih berkelit dengan fikirnya, hingga sebuah pekikan seorang wanita membuat suasana rumah sakit riuh.
"Suster! Suster ...! Ada wanita yang jatuh. Suster! Tolong!"
Beberapa pengunjung dan orang- orang di sekitar sang wanita yang berteriak mendekat. Beberapa laki-laki juga sudah berusaha menolong. Walau demikian, Aric yang merasa lelaki, keinginan menolong itu muncul. Ia turut mendekat dan terperanjat.
"Mengapa pakaian yang di-pakai se-perti yang dikenakan Sal-wa?"
"Maaf sebentar, Pak!" Aric menghentikan langkah dua pria yang mengangkat tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu, Aric ingin memastikan itu bukanlah Salwa. Namun justru sebaliknya, dia benar-benar Salwa.
"Salwa?"
"Maaf Pak, saya kenal wanita ini!" Aric segera mencari brankar dan meminta kedua pria memindahkan tubuh Salwa ke brankar dan Aric sendiri yang akan membawanya ke UGD. Dua pria menurut. Aric mendorong brankar itu setelahnya dan memasukan ranjang itu ke UGD. Pun Aric menunggu di luar saat Salwa di periksa.
"Anda suaminya?"
"Su-ami? Ma-af, bukan Dok! Teman, dia teman saya," ucap Aric bingung.
"Oh, bisa di telfon suaminya?"
"Telfon? Memang ada apa dengan teman saya ya, Dok?" tanya Aric menatap seksama wajah dokter.
"Ibu Salwa pasien yang berada di dalam kandungannya sangat lemah, jelas ia terlalu letih dan sangat stress. Dia harus di rawat di Rumah Sakit beberapa hari! Saya ingin bicara pada suaminya untuk memintanya turut menjaga mood pasien untuk perkembangan janin yang sehat."
"Salwa hamil? Jadi ini alasan pertunagan itu! Tapi di mana Bima! Mengapa membiarkan Salwa bekerja keras? Bukankah harusnya ia mendampingi Salwa menghadapi kehamilannya! Lora, aku harus bertanya Lora. Tapi aku tidak punya kontrak Lora. Tunggu, Kaysan! Ia pasti punya kontrak Lora. Tapi dia ... akhh ... tidak! Aku tidak boleh ragu menghubungi Kay, ia harus tau. Ia harus membantuku sebab aku tak bisa membantu Salwa sendiri! Aku harus menjaga perasaan Sashi! Sashi prioritas utamaku!"
•
•
__ADS_1
📞 Assalamu'alaikum, Kay ....
📲 Wa'alaikumsalam, ada apa, Kak?
📞Apa kamu sibuk?
📲Tidak.
📞Datanglah ke Rumah Sakit Bakti Asih, aku butuh bantuanmu!
📲Apa Sashi sudah akan melahirkan?
📞Bukan itu. Datanglah dulu, kamu akan tahu!
📲Ok. Assalamu'alaikum
📞Terima kasih, wa'alaikumsalam.
Beberapa saat setelahnya.
"Kak?" sapa Kaysan seketika.
"Siapa di dalam kamar i-tu, Kak?" Raut bingung mewarnai wajah Kaysan. Sesaat Aric bergeming tak tahu harus memulai bicara dari mana, tapi setelahnya ia mengeluarkan kata.
"Salwa."
"Kak Salwa? Ada apa ini, Kak? Apa yang terjadi dengan kak Salwa?" cecar tanya Kaysan.
"Mungkinkah ini yang dimaksud kondisi tidak baik yang diucap Lora? Kenyataan bahwa Salwa sedang hamil dan Bima tunangannya justru meninggalkannya kembali ke luar negeri. Apa jadinya jika kak Aric mengetahui kak Salwa ditinggalkan. Tidak, kurasakan Aric tidak perlu tahu itu! Ia hanya harus fokus pada Sashi dan kandungannya, itu saja! Sashi tidak boleh bersedih! Tidak akan kubiarkan itu terjadi!" batin Kaysan.
"Kakak pulang saja! Aku akan menghubungi Lora dan menjaga kak Salwa di sini."
"Baik. Terima kasih, Kay!"
Ya, Aric dan Kaysan tetaplah saudara sedarah yang bisa marah dan berbaikan kembali. Semua tidak lain bertujuan kebaikan, mereka saling mengingatkan walau cara keduanya salah, menyertai emosi di dalamnya.
Aric meninggalkan Rumah Sakit setelah mengambil obat di farmasi dengan tenang. Ya, ia percaya Kay bisa mengatasi segalanya. Toh, Salwa bukanlah tanggung jawabnya. Ia menuju mobil dengan perasaan campur aduk, sungguh tak tenang ia meninggalkan Sashi di rumah walau bersama Aira sekalipun. Ya, Aric ingin selalu ada saat Sashi membutuhkannya. Dan beberapa saat lalu sungguh ia merasa bersalah telah mendahului keperluan Salwa dari pada segera pulang bertemu istri tercintanya itu.
•
•
Pukul 16 lebih 10 menit kuda besi yang ditumpangi Aric berhenti sempurna. Ia melangkahkan kaki dengan penuh semangat memasuki bangunan berdominasi abu-abu di hadapannya.
"Kenapa rumah begitu sepi, Bik?" tanya Aric pada Ningsih yang sedang menyapu lantai, karena tak melihat hiruk pikuk di rumah itu.
"Ibu Aira baru saja masuk kamar, sedang mbak Sashi sejak siang belum keluar kamar. Kata ibu mbak Sashi masih tidur dengan non Shiza. Ini saya tadi diminta membuatkan jus alpukat untuk mbak Sashi dan memberi pada mbak Sashi jika ia sudah bangun.
"Begitu rupanya ...."
"Oke mana jus alpukatnya, biar saya bawa ke kamar!"
"Sebentar, Mas."
__ADS_1
Tak lama Ningsih datang membawa 1gelas jus alpukat milik Sashi dan memberikannya pada Aric. Aric menuju kamar dengan perasaan senang ingin bertemu bidadarinya.
Pintu kamar dibuka.
"Tunggu di luar dulu ya, Za! Mami lanjutkan mandi dulu!" terdengar lirih suara Sashi dari dalam kamar mandi.
Tampak Shiza keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh. Aric segera meraih tubuh itu.
"Yeaa ... Papa sudah pulang!"
"Ada apa, Zaa?" pekik Sashi bingung mengapa Shiza berteriak.
"Huss jangan berisik ya, Sayang!" Aric meletakkan telunjuk di bibir dan Shiza langsung terdiam.
"Tidak ada apa-apa, Mami."
"Pintar!" Dengan cepat Aric memakaikan pakaian Shiza dan berbisik.
"Shiza minta kuncirkan rambut sama Bik Ningsih dan main di luar dulu, ya Sayang! Badan Papa lengket mau membersihkan diri dulu, oke!" Shiza mengangguk.
Mendengar air yang masih mengucur di kamar mandi, timbul niat jahil mengganggu Sashi. Aric segera mengunci pintu kamar dan mengetuk kamar mandi yang telah tertutup itu.
TOK TOK
"Apa Za, nyalakan TV dulu ya! Mami belum selesai!"
TOK TOK
"Zaa ... sabar ya! Mami masih mandikan adik!"
TOK TOK
Sashi yang khawatir akhirnya meraih handuk dan membuka pintu.
"Ka-kak? Ihhh ... kenapa sudah buka baju begitu sih! Shiza ma-na?"
"Shiza sudah aman! Ayo masuk lagi!"
"Ka-kak!!"
...______________________________________...
☕Happy reading😘
☕Semoga akhir bulan bisa End yaa❤️❤️
☕PROMO ... PROMO
Jangan bosen diakhir bab Bubu sering promo ya, begini cara kami biar femes dan nanjak bareng-bareng.
Yuk kepoin karya sahabat literasi Bubu ini, semoga kalian suka😍😍
__ADS_1