
"Sering aku bertanya pada diriku, apa salahku, apa kekuranganku sehingga suamiku tega bermain dengan wanita lain di belakangku. Hubungan yang terjalin lama nyatanya tidak cukup kuat mengukuhkan ikatan. Apa aku tidak memuaskan suamiku, sehingga ia harus mencari yang lain? Atau aku sudah membosankan? keriput di wajahku sudah semakin banyak, aku sudah tak cantik, tidak menyenangkan dilihat dan tidak menarik? Apa hanya sebatas itu arti sebuah ikatan? Mengapa orang yang dicinta begitu jahat? Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku lebih baik pergi? Hidup menyendiri ... tapi apakah aku akan bahagia seperti itu? Jujur, Pa! Apa seburuk itu aku di-matamu?"
Netra itu berkaca. Begitu berat Kalina mengeluarkan setiap tanya yang selama sebulan ini memutari kepalanya. Tapi ia merasa harus menyatakan itu, Rico harus tau isi hatinya, perihnya. Kalina bergeming, pandangannya nanar tanpa titik pasti, ia memilih menatap ke bagian kosong tanpa sosok wajah yang pernah mengisi hatinya itu.
Hati Rico perih, Ia bisa merasakan kepedihan yang istrinya rasakan. Kepedihan akibat tindakan bodohnya di masa lalu yang sangat tidak bermoral. Ia bahkan mengutuki dirinya, mengapa ia bisa melakukan hal sebodoh itu. Namun nasi telah menjadi bubur, ia harus siap menanggung setiap resiko perbuatannya.
Riko menatap wajah ayu wanita yang telah mendampinginya hampir 30 tahun itu, kecantikan itu masih tetap sama, namun raut kepedihan tak bisa ditutupi walau sebanyak apapun bubuk wajah yang dipakai. Hati itu perih telah menorehkan luka pada wanitanya.
Rico tampak bersimpuh kini, digenggam erat jemari lembut wanita yang selama ini selalu menguatkannya itu. Bulir itu tumpah, Rico sang pria bertabiat keras akhirnya luluh di hadapan seorang Kalina, rasa bersalah nyatanya telah meruntuhkan ego yang selama ini membingkai dirinya. Ia menangis menyesali segala kesalahannya.
"Sayang, jangan menghindar ...! Please tatap aku, Ma!" lirihnya. Kalina bergeming.
"Ma ... aku salah! Sangat bersalah padamu. Tapi beri aku kesempatan memperbaiki diri! Kita sudah sama-sama tua, jangan pernah terfikir untuk berpisah! Kita harus tetap saling mendampingi dan menguatkan. Ingat pula kita sudah memiliki cucu. Shiza pasti juga ingin melihat Opa dan Omanya bersama hidup rukun selalu. Ma, please ... ingatlah kebersamaan-kebersamaan kita yang begitu indah! Tanya pada hatimu, Ma! Apa hatimu masih membutuhkanku?" Rico bercucur tangis, ia letakkan kepalanya di lutut Kalina.
"Minggir Pa, kamu selalu melontar ingin bertemu denganku, kan? Kini kita sudah bertemu dan kamu boleh pulang!" lugas Kalina tanpa menatap Rico.
"Aku tidak akan beranjak sampai kamu memaafkan! Kamu harus ikut denganku pulang, Ma! Rumah kita sepi tanpamu, aku butuh kamu!"
Kalina menahan keras air mata itu tumpah, dengan gerakan cepat ia bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar. Namun, belum lagi pintu kamar itu tertutup Rico sudah menahan nya. Rico mendorong pintu kamar itu hingga raga keduanya masuk, Rico menutup dan mengunci kamar tersebut setelahnya.
"Keluar, Pa! Aku haramkan tubuhku untukmu!"
"Apa ini, Ma? Bukan istri yang bisa melontar kalimat seperti itu, kamu tidak bisa mengharamkan tubuhmu selama aku masih menjadi suamimu," lirih kata itu terucap.
__ADS_1
"Minggir Pa, keluar! Aku sungguh tidak ingin melihat kamu! Jahat ... kamu lelaki jahat, tega menyakitiku! Pergi ...!" Satu persatu bulir mulai keluar dari pelupuk mata Kalina.
"Menangislah, Ma! Menangislah karena itu akan meredakan perihmu!" ucap Rico. Mendengar kata dari suaminya itu bertambah deraslah air mata itu keluar.
Rico tak bisa melihat Kalina merasakan pilu seperti itu sendiri, tanpa permisi ia dekati raga istrinya itu dan dipeluknya erat.
"Ma-af ... ma-aff, Ma!" lontar Rico menyamankan tubuh Kalina dalam dekapannya.
"Mama benci Papa! Sangat benci! Lepas!" Kalina terus memukul-mukul raga tegap di hadapannya.
"Tidak, Papa tidak akan membiarkan Mama menangis sendiri lagi! Silahkan Mama membenci Papa, tapi Papa akan tetap di sisi Mama!"
"Katakan! Selain dengan Aruna, adakah wanita lain yang pernah meng-hangat-kan Pa-pa la-gi?" Terbata kalimat itu terucap.
"Bohong!"
"Sungguh, demi pencipta kita Papa berkata. Papa melakukan kekhilafan itu satu kali, pun itu atas campur tangan Fariz yang memaksa Papa ikut ke Club itu dan membuat Papa hilang setengah kesadaran hingga mengiyakan ajakannya," jelas Rico.
"Jangan membawa orang lain dalam kesalahan yang Papa buat!" Kalina mendangakkan kepala menatap Rico.
"Tapi itu yang sesungguhnya terjadi Ma, bukan sedang mencari alasan! Bahkan Mama sudah tau bukan bahwa Farizlah sesungguhnya ayah Ciara? Fariz sengaja menjebak Papa hingga berhubungan dengan Aruna. Dan foto-foto yang dikirim ke rumah, Papa curiga ia juga yang mengirimnya." Rico berusaha menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
"Apa maksud Pa-pa?"
__ADS_1
"Mama ingat Papa memiliki mantan kekasih bernama Siska? Siska itu adalah adik Fariz. Sewaktu menjalani hubungan dengan Papa, Siska pernah berselingkuh, hal yang membuat apa tidak percaya padanya. Mulai saat itu Papa menjaga jarak dengan Siska dan Papa menerima tawaran untuk dijodohkan dengan Mama. Papa bersyukur dalam sekali perjumpaan Papa sudah langsung tertarik pada Mama. Pun Papa menikahi Mama akhirnya. Papa sudah mengikhlaskan Siska. Sejak perselingkuhannya hati Papa sudah tertutup untuknya. Papa tidak tahu kalau kondisi Siska terpuruk setelah Papa menikah dengan Mama, hal yang menjadikan Fariz dendam dan mengatur siasat memunculkan Aruna," jelas Rico.
Kalina masih bergeming tapi mata itu sudah mulai menatap Rico, ia mencari kebenaran dari kata-kata suaminya itu. "Papa pasti mengarang cerita ini!"
"Untuk apa Papa bohong? Papa hanya menjelaskan yang sesungguhnya terjadi. Tolong maafkan Papa, Ma! Jika saat itu Papa sadar, tentu Papa tidak akan melakukan kebodohan itu, hal yang sangat memalukan!"
"Lalu mengapa setelahnya Papa mengatur pernikahan Aruna dan Bagas? Itu sangat berdosa!" gusar Kalina.
"Papa terpaksa, Aruna terus mendesak untuk menikahinya dan entah mengapa Papa yakin jika anak Aruna bukan benih Papa. Ternyata terbukti bukan kalau Farizlah sesungguhnya ayah Ciara!"
"Tapi tetap saja Papa bersalah!"
"Iya, Papa memang bersalah dan Papa memohon maaf atas kesalahan Papa itu. Mohon Maafkan Papa dan kembalilah ke rumah, Papa membutuhkan Mama." Lagi-lagi lirih kata itu terucap. Ya, Rico masih berusaha meredam amarah Kalina. Ingin hubungan mereka kembali baik seperti sebelumnya. Kalina masih bergeming.
"Coba kita pikirkan tentang anak-anak, Ma? Anak-anak kita sudah dewasa, bahkan kita telah memiliki seorang cucu. Kita tutup semua kepiluan ini dan kembali membuka lembaran baru. Papa berjanji akan menjadi sosok yang lebih baik, Papa yang lebih baik, juga Opa yang terbaik untuk Shiza. Kita akan lalui masa tua kita bersama dengan ketenangan dan penuh kebahagiaan, sebagaimana tujuan kita menikah dulu yaitu bersama hingga akhir hayat. Mama mau kan memaafkan Papa? Kita jalani lagi dari awal. Papa sangat mencintai Mama."
Netra Kalina berkaca, hatinya mulai terketuk. Ia membenarkan ucapan Rico, sudah terlalu tua mereka untuk mengurusi hal semacam ini. Pun Rico terlihat begitu menyesali segalanya, ia juga tak sepenuhnya salah. Fariz yang bertanggungjawab atas semua ini. Ia juga teringat ucapan yang dilontar Sashi mengenai keutamaan memaafkan seperti yang dicontohkan Nabinya. Setelah berfikir panjang Kalina akhirnya mengangguk. Betapa bahagia Rico, ia langsung mengecup berkali-kali puncak kepala istrinya itu sambil mengeratkan lagi pelukannya.
"Te-rima ka-sih," bisiknya.
..._________________________________________...
☕Happy reading😘
__ADS_1
☕ Support like, komen dan vote selalu Bubu tunggu yaa❤️❤️