
"Sashi ... mengapa bicara dengan Lora membuatku nyaman. Gestur manjanya mengingatkanku pada sashi. Ahh ... tidak! Aku tidak boleh terus memikirkan Sashi! Aku harus mulai membuka diri!"
"Ada apa, Ka-k?" tanya Lora bingung melihat kaysan terus termenung.
"Oh, tidak apa-apa."
"Ayah, Shiza mau ke sana lihat dinosaurus apa boleh?" celoteh Shiza tiba-tiba melihat patung dinosaurus besar berjarak 3 meter dari lokasi mereka duduk.
"Mmm ... boleh, tapi hanya ke sana saja ya, Nak! Jangan ke tempat yang lain dan jangan terlalu jauh!"
"Iya Ayah." Raga Shiza tampak mendekat pada patung Jurassic Park, mata Kaysan awas melihat Sang putri di kejauhan.
"Ma-af, kenapa Kak Kaysan ke-sini hanya berdua? Kenapa Bundanya ti-dak i-kut?" tanya itu terdengar lirih ada keraguan melontarnya. Lagi-lagi Kaysan memilih bungkam dengan senyum tipis mewarnai rona wajahnya.
"Kenapa Kakak ini diam saja, apa pertanyaanku begitu sulit dijawab?" batin Lora menyadari raut tidak nyaman Kaysan terlihat.
"Maaf jika tanyaku membuat Kakak tidak nyaman!" ucap Lora sambil melihat pramusaji meletakkan 2 cappucino ke atas meja.
"Tidak juga!" Kaysan berusaha tersenyum setelah kata itu lolos dari bibirnya.
"Oh ya, apa kakakmu masih belum terlihat?" tanya Kaysan lagi. Aurora menggeleng.
"Kamu pasti masih sekolah, ya?" celetuk kaisan.
"Apa wajahku seimut itu, Kak? Kakak salah! Aku bahkan sudah kuliah."
"Oh ya!" Lora mengangguk.
"Kuliah di-mana?" tanya Kaysan lagi.
"Universitas Satya Gandi, aku masuk semester 4," jawab Lora mulai menyeruput cappucinonya.
"Ambil jurusan apa?"
"Desain grafis."
"Calon Arsitek rupanya!"
"Aamiin." Senyum manis itu tergambar lagi di wajah Lora, Kaysan senang melihatnya.
"Oh ya, kalau Kakak apa aktivitasnya?" Lora bertanya lagi dengan antusias.
"Aku ... hmm, coba kamu tebak apa profesiku?" tanya Kaysan dengan jari mengangkat cangkir di hadapannya dan mengarahkan ke mulut.
"Jujur aku merasa Kakak masih pantas menjadi anak kuliah, tapi ... melihat Kakak memiliki Putri kecil aku jadi ragu." Kaysan tersenyum.
__ADS_1
"Jadi apa apa profesi Ka-kak?"
"Aku seperti denganmu, masih meminta uang dan menyusahkan orang tua, aku kuliah." Bibir Lora membulat, ia mengangguk setelahnya.
"Tunggu sebentar, ya!" Raga Kaysan menjauh, ia mendekat pada putrinya, berbisik dan membawa Shiza ke outlet fried chicken di samping cofee shop baru membaur lagi setelahnya bersama Lora. Setiap aktivitas Kaysan tak terlepas dari pengamatan Lora, ia tersenyum.
"Anak Kakak belum makan?" Spontan tanya itu terucap.
"Iya, aku lupa Shiza belum makan." Kaysan memperhatikan Shiza memegang paha ayam di tangan kanan dan nasi di tangan kiri, ia menggigitnya bergantian dan sangat lahap.
"Putri Kakak pintar, ia makan sendiri tanpa minta disuapi." Kaysan tersenyum.
"Shiza kan sebentar lagi jadi kakak, kalau Shiza disuapi nanti mami letih," celoteh Shiza disela makannya. Kaysan dan Lora sama-sama bergeming. Kaysan merasa tak ingin Lora salah paham dengan sebutan mami yang pasti difikir Lora pasangan hidupnya. Pun Lora juga tampak mulai menerka-nerka.
"Oh, rupanya istri kakak ini sedang hamil, pantas ia tidak ikut. Tapi aku bangga dengan kak Kaysan, walau masih kuliah tapi ia sudah berani mengemban tugas menjadi ayah dan suami," fikir Lora.
"Ayamnya enak Ayah, Shiza suka," celoteh Shiza lagi. Kaysan terus mengusap kepala Shiza tanpa kata. Netranya melirik Lora sekilas dan segera membuangnya, ia tersenyum getir.
"Mungkinkah Lora berfikir aku sudah menikah? Ada apa ini? Mengapa aku tak ingin Lora beranggapan demikian. Ahh, apa yang kufikirkan! Bagaimana pun aku memang punya seorang putri dengan hubungan yang rumit. Padahal aku sedang berusaha membuka diri. Hah, sudahlah aku harus yakin, jodoh terbaik pasti datang di saat yang tepat."
"Ayah, buka mulut ayah! Shiza sudah kenyang, ini buat Ayah saja!"
"Ayah tidak lapar, Nak!"
"Oke, oke ... sini Ayah habiskan! Senyum dong, Sayang ...!" Shiza terus tersenyum akhirnya melihat Kaysan menghabiskan makanannya.
Gadis yang duduk di hadapan dua insan yang sejak tadi menyimak segalanya semakin dibuat bingung dengan ucapan Shiza. Baru ia ingin melontar tanya, dilihatnya di kejauhan sosok yang ia cari sejak tadi terlihat. Lora spontan berdiri dan melambaikan tangan.
•
•
Wanita berbalut celana jeans dengan blouse putih yang memperlihatkan sedikit perut mengedar pandang ke area wahana bermain. Beberapa saat yang lalu memang Ia dan adiknya memasuki tempat itu dan dikarenakan kondisi perutnya kurang baik. Pun ia akhirnya meninggalkan sang adik untuk ke toilet.
Netral sang wanita langsung berbinar menangkap kehadiran adiknya yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Ia segera mendekat.
"Kakak kenapa sangat lama?" lontar sang gadis seketika.
Pria dan bocah kecil yang duduk di hadapannya tampak sedang asyik berbincang hingga tidak menyadari kehadiran sosok lain di antara mereka.
"Kak Kay, kenalkan ini kakakku," ucap sang gadis membuat Kaysan langsung menoleh ke arah kanan. Dalam sekejap Kaysan berdiri, matanya terbelalak melihat wanita yang berdiri tepat di sampingnya. Wajah itu sungguh tidak asing! Kaysan menatap Lora dan wanita itu bergantian berusaha menerka-nerka. Kaysan juga terus memikirkan setiap ucapan Lora belum lama tadi bahwa ia tengah menunggu kakaknya. Kaysan masih terdiam, saat sebuah suara menyapanya.
"Kaysan?"
"Kakak kenal Kak Kay?" Sang wanita tersenyum.
__ADS_1
"Tentu saja," jawabnya.
"Oh," kaget Lora.
"Ayah, ayo Shiza mau naik wahana yang itu!" panggil Shiza sambil menarik lengan Kaysan. Kaysan menoleh menatap Shiza.
"Sebentar ya, Sayang," ucap Kaysan.
"I-ni, si-apa?" Sang wanita menatap Kaysan menunggu jawab dari bibir itu. Kaysan bergeming memikirkan jawaban apa yang harus Ia berikan.
"Kay, kenapa tidak menjawab? Tapi ... jangan bilang ini putrimu?"
"Ayah .... Ayo Ayah! Shiza mau naik wahana itu! Ayo ... ayo!" rengek Shiza terus menarik-narik lengan Kaysan, jelas ia tak sabar untuk menaiki setiap wahana di sekitar mereka itu.
"Hai cantik, naik wahananya nanti dulu, ya! Tante sedang berbicara dengan ayahmu!"
"Tante siapa? Jangan ganggu Ayah! Shiza mau naik wahana dengan ayah!" lugas Shiza dengan bibir memberengut.
"Iya, pasti kamu nanti naik wahana, tapi biarkan Tante bicara dengan ayahmu dulu, ya Sayang." Sang wanita tersenyum berusaha meyakinkan Shiza agar berhenti merengek.
"Lora, ajaklah Shiza membeli es krim di sana dulu, oke! Kakak ingin bicara dengan Kay!"
"Ta-pi Kak?" Lora Yang penasaran dengan hubungan sang kakak dengan pria yang baru saja dikenalnya merasa enggan untuk meninggalkan tempat itu.
"Lora ... kamu mau bantu Kakak, kan?" Mata itu penuh harap. Sungguh Lora sangat tidak bisa menolak keinginan kakaknya. Ya, bagaimana pun kakaknya telah membiayai hidup dan sekolahnya selama ini. Pun ia mengangguk.
"Shiza sayang ... beli es krim dulu dengan Kak Lora, ya! Es krim di sana enak lho." Shiza menatap lekat wanita di hadapannya dan menghadap ke arah Kaysan setelahnya. Kaysan mengangguk mengizinkan. Kaysan mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan mengulurkannya ke arah Lora.
"Aku juga punya uang, Ka-k, biar pakai uangku saja!" ucap Lora.
"Tapi-----
"Sudahlah Kay, biarkan saja! Lora sudah kupegangi uang kok!" Kaysan mengangguk. Tak berselang lama raga Shiza dan Lora semakin menjauh dan mereka kini hanya berdua. Sang wanita menatap intens kaysan.
"Kay jujur, walaupun kamu bilang gadis kecil bernama Shiza itu putrimu aku tidak percaya, tapi tujuanku berbicara berdua denganmu tentu bukan mempermasalahkan bocah itu! Sudah sangat lama ya kita tidak bertemu. Aku dan keluarga kalian!" Sang wanita menarik napas panjang baru melanjutkan ucapannya.
"Bagaimana kabar Aric? I-a ... baik-baik sa-ja bu-kan sepeninggalku?"
..._________________________________________...
☕Happy reading😘
☕Kasih konflik dikit ya, gak ada konflik kok datar aja🤭 Sampai akhir bulan ini aja😀😀
☕Maaf anakku lagi kurang sehat jadi up-nya molor🙏❤️❤️
__ADS_1