Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
IBA SEKALIGUS UJIAN UNTUK KAKAK


__ADS_3

☕Sebelum baca bab ini. Monggo dibaca ulang bab sebelumnya yaa ... ada penambahan di bab sebelumnya😘


...~∆∆∆~...


"Kakak stop!"


"Sayang, ada apa?


"I-tu, Kak! Coba Kakak perhatikan wanita yang duduk di Taman dalam gelap itu, bukankah dari belakang seperti ka-k Sal-wa?" Aric menatap seksama wanita dengan setelan jeans dan blouse bermotif bunga-bunga.


"Tidak salah itu pakaian yang dikenakan Salwa tadi saat aku berjumpa dengannya di Rumah Sakit!" batin Aric. Ia menatap Sashi. "Mengapa mata Sashi bisa begitu jeli?"


Aric masih bergumam dalam diam sambil memperhatikan wajah Sashi yang begitu tulus, ia membuka jendela dan masih mengamati wanita yang duduk di Taman yang diyakini Aric adalah Salwa. Aric masih menatap Sashi hingga tiba-tiba Sashi menoleh ke arahnya.


"Ayo turun, Kak! Kita lihat apa benar itu kak Salwa!"


"Kita tidak perlu ke sana, kita hubungi saja Kaysan dan memintanya ke sini. Biar Kaysan yang urus, hem? Ini sudah malam, kita sebaiknya pulang, toh kita juga masih mencari bubur kacang hijau yang kamu mau, kan?"


"Tapi kalau dia benar kak Salwa, kasihan dia kedinginan, Kak! Apalagi dia tengah hamil. Lihat saja pakaiannya pendek begitu tanpa sweater pula!"


Aric bimbang, istrinya seolah sedang mengujinya, tapi ia membenarkan kata-kata Sashi. Tidak baik Salwa dengan pakaian begitu duduk di Taman yang dingin. Aric menarik napas, ia menyingkirkan empatinya.


"Biarkan saja, Sayang! Pasti itu bukan Salwa, Salwa tentunya sudah di rumahnya!"


"Tapi aku yakin itu kak Salwa, Kak!"


"Bukan!"


"Coba Kakak lihat seksama!" Sashi menarik lengan Aric lebih dekat ke arah jendela.


"Sayang! Kalau pun itu Salwa, biarkan saja!" Suara Aric meninggi. Entah mengapa mengetahui Salwa tengah hamil hati Sashi tersentuh, ia merasa iba jika itu benar Salwa. Salwa tak seharusnya duduk di Taman saat udara sedang dingin seperti saat ini, terlebih ia sedang hamil. Itu fikir Sashi. Dan kini Sashi kaget Aric seolah menyingkirkan empatinya.


"Ka-kak?" Nerta Sashi membulat menatap Aric, baru setelahnya ia menggenggam handle pintu dan membukanya. Sashi seketika ke luar dari mobil dan menghampiri Salwa, Aric mau tak mau mengikuti.


Semakin dekat, semakin jelas itu adalah Salwa. Sashi mempercepat langkahnya.


"Kak Salwa!"


"Sas-shi? A-ric?"


"Kenapa Kakak malam-malam duduk di sini?" tanya Sashi sembari melihat jam analog di lengannya yang sudah hampir menunjukkan pukul 11 malam.

__ADS_1


Salwa tak menjawab dan hanya tersenyum getir. Ia melirik Aric sekilas.


"Kenapa pergi dari Rumah Sakit?" lugas Aric seketika.


"Terima kasih kepedulian kalian, tapi aku sedang ingin sendiri!" lirih kata itu terucap, raga itu jelas belum pulih sepenuhnya, wajah Salwa masih pucat.


"Kami akan mengantarmu pulang!" lugas Aric lagi. Sashi mengangguk.


"Aku tidak mau pulang!"


"Kenapa Kak Salwa?" tanya polos Sashi. Salwa tidak menjawab.


"Istriku sedang bertanya padamu, Wa! Tidak baik udara dingin untuk kesehatanmu dan ja-nin-mu!" Kata itu terucap, Salwa seketika mengangkat wajahnya, ia kaget Aric mengetahui perihal kehamilannya. Ya, Salwa memang tadi masih tidak sadar saat Aric membawanya ke UGD dan mengurus perpindahan kamarnya.


"Da-ri ma-na kamu tahu, Arr?" Salwa menatap lekat Aric.


"Karena aku yang membawamu untuk diperiksa tadi!"


"Jangan-jangan kamu juga yang menghubungi Lora dan mama, Arr?"


"Aku menghubungi Kaysan dan memintanya memberitahu Lora," jawab Aric. Sashi terus menyimak 2 sosok di hadapannya tanpa kata.


"Kamu tahu, Arr, sebelumnya Lora dan mama tidak mengetahui kehamilanku! Mereka hanya tahu Bima sudah melecehkanku. Tapi kini semua orang tahu dan Mama syok mendengarnya! Mama kembali depresi dan semua karena aku!"


"Aku tidak mau pulang!"


"Kamu harus pulang!"


"Kamu tidak berhak mengatur hidupku, Arr!"


"Oh, oke, ma-af!" Seketika Aric sadar perilakunya salah, ia membuang wajah dari Salwa dan menatap Sashi masih bergeming.


"Sayang kita pulang! Untuk apa mengurusi wanita yang tidak sayang pada dirinya sendiri!" Aric menarik lengan Sashi menjauh, Sashi masih menatap Salwa yang sendiri di Taman. Jiwa baiknya tak tega melihat pemandangan itu. Pun ia menahan lengan Aric.


"Sa-yang?" Aric kaget saat Sashi melepaskan jemarinya dan berbalik menuju Salwa. Aric masuk ke mobil.


"Malam ini bermalamlah di rumah kami, Kak. Fikirkan janin, Kakak!"


"Sash!" Aric terus menggeleng melihat perilaku Sashi dikejauhan.


"A-yo, Kak. Please! Kita teman kan?" ucap Sashi. Salwa menatap Aric dari balik jendela mobil yang masih menggeleng menatap Sashi.

__ADS_1


"Terima kasih kebaikanmu, Sashi. Tapi bahkan Aric tak mau aku ke rumah kalian!"


"Tunggu sebentar, Kak!"


Sashi beranjak mendekati Aric dan masuk ke dalam mobil. Ia menatap lekat wajah suaminya itu.


"Kenapa Kakak tidak setuju?" lirih Sashi.


"Ini tidak benar, Sayang! Salwa bukan anak kecil yang lupa rumah dan kita tampung!" ucap Aric.


"Hanya malam i-ni, Kak! Apa Kakak tega meninggalkan Salwa tanpa tempat tinggal malam ini?"


"Aku tahu kamu baik, tapi ia bisa cari tempat tinggal sendiri! Banyak hotel dan rumah kost, Sayang! Tidak harus kita bawa ke rumah!" lirih Aric lagi.


"Apa Kakak takut dekat dengan Salwa? Takut benih-benih itu muncul lagi?" Sashi semakin mendekatkan raga keduanya dan menahan kepala Aric menghadapnya.


"Tentu saja itu tidak mungkin. Berapa kali kuucapkan aku bersyukur memilikimu! Tidak butuh yang lain!"


"Kalau begitu anggaplah ini ujian kesetiaan Kakak!" Sashi mencium bibir itu singkat dan turun dengan dada yang naik turun, ia merasa cukup berani mengambil resiko atas keputusannya. Ya, ia memang iba pada Salwa tapi ia tak memungkiri kehadiran Salwa bisa menjadi duri untuknya dan Aric. Tapi Sashi sungguh ingin mempercayai Aric.


"Ayo masuk, Kak! Suamiku sudah setuju!"


"Sung-guh?" Sashi mengangguk.


Keduanya masuk ke mobil.


"Di belakang ada sweaterku pakai saja, Kak! Supaya Kakak tidak dingin," ucap Sashi melihat Salwa terus bersedekap dada. Aric mengecilkan AC mobilnya.


"Ka-kak, sepertinya di pertigaan depan ada penjual bubur kacang hijau. Kita berhenti di sana kalau masih buka ya, Kak!"


"Iya, Sayang!" Aric berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ya, niat istrinya baik, mengapa ia harus takut! fikir Aric.


"Kak Salwa, ayo ikut turun! Bubur kacang hijau kata bunda baik lho Kak untuk janin," ucap Sashi saat mobil mereka sudah berhenti sempurna. Aric sudah turun lebih dulu meninggalkan Sashi yang meminta izin mengajak Salwa.


Kedua wanita berbadan dua itu akhirnya turun, mereka memesan bubur kacang hijau dengan roti tawar yang masih hangat. Aric langsung mengarahkan mangkuk bubur Sashi ke hadapannya. Menyendok bubur tersebut dan mendekatkan ke bibir Sashi.


"Enak?"


"Enak, Kak."


"Kenapa bubur Kak Salwa tidak dimakan?" Sashi mengarahkan pandang pada Salwa yang bergeming memperhatikan aktivitasnya dan Aric.

__ADS_1


..._________________________________________...


☕Happy reading😘


__ADS_2