
"Sashi ... bahkan ia bekas adikmu! Entah apa yang terjadi jika adikmu itu sadar. Sifatnya keras sepertiku, ia akan mempertahankan apa yang menjadi miliknya!"
Rico yang merasa Aric mencampuri urusannya terlalu dalam melontar kata yang sepintas otaknya saja. Ya, ia sedang dikuasai kemarahan.
Diingatkan perihal Kaysan membuat jantung itu berdetak cepat dan menimbulkan sesak. Kekhawatiran itu ada, bukan tentang perasaan Kaysan tapi perasaan Sashi. Ya, Aric nyatanya masih takut Sashi masih memiliki perasaan pada Kaysan terlebih hubungan keduanya sedang kurang baik perihal Aruna yang hadir diantara mereka.
"Kenapa diam? Apa singaku sudah mulai kehilangan taringnya?"
Aric menghembuskan napasnya kasar. "Ternyata hatimu tak jua terketuk Pa, tak ada alasan lagi aku di sini, aku permisi!" lirih Aric. Ia melirik Rico sekilas baru berbalik.
"Aric!"
Sebuah panggilan membuat Aric menoleh. "Apa kau berubah fikiran, Pa?"
Rico tertawa. "Tentu bukan, Sayang!"
"Lalu mengapa kau memanggilku?" Aric menatap lekat netra itu.
"Jika kau yakin aku adalah ayah anak wanita itu, kenapa tidak kau cek saja sum summu? Bukankah kau anakku? Sum sum kita tentu memiliki kecocokan," lugas Rico.
"Sum sumku tidak cocok!"
Rico kembali tertawa. "Kau ini lucu, Sayang! Jika sum-summu saja tidak cocok, punyaku pun tentunya tidak akan cocok! Bagaimana kau masih menyangka aku ayah dari anak yang sakit itu, hem?"
Aric terdiam dan mencerna segalanya, ia sedikit meragu perihal Rico ayah Ciara. "Papa benar! Jika aku saja anaknya tak bisa mendonorkan Ciara. Bagaimana aku meminta ia mengecek sum-sumnya, bukankah tentunya juga tak akan cocok. Tunggu ta-pi-----
"Bagaimana? Lama sekali kau berfikir, Nak! Kini kau sadar bukan jika Ciara itu tak ada sangkut paut dengan keluarga kita? So, lekas ceraikan saja wanita ja lang itu, kita tidak punya tanggung jawab atas mereka!"
"Kau masih saja diam, pergilah jika urusanmu sudah selesai, Ar! Hahh ... jam berapa ini, Papa bahkan ada pertemuan dengan klien siang ini!" ujar Rico lagi karena Aric masih terlihat bergeming.
Rico sedang merapihkan berkas untuk pertemuannya saat tiba-tiba Aric berkata. "Tapi sum-sum sel punca Kay cocok dengan milik Ciara, Pa!"
Rico mengangkat wajah, berusaha keras setenang mungkin padahal hati itu terus bergemuruh. "Ka-u ... bagaimana kau tau jika sum-sum mereka cocok, bukankah Kay sedang koma?" datar Rico.
"Aku sudah mengecek sum-sum Kay!"
__ADS_1
"Ka-u? Tega sekali! Adikmu itu sedang sakit tapi kau melakukan pengecekan Sel pada tubuhnya. Bahkan kau tak meminta izinku! Kay putraku, kau tidak boleh ceroboh melakukan tindakan apa pun padanya! Katakan, siapa dokter yang melakukan pengecekan itu pada Kay! Aku harus memberinya pelajaran!"
"Pa, please, jangan mengalihkan hal lain. Tidak ada efek pengecekan itu pada Kay, aku sudah memastikan pada dokter yang menangani. Aku hanya heran, mengapa sum sum Kay bisa cocok tapi tidak untuk sum sumku?" Aric mengerutkan alis berusaha keras berfikir.
"Jangan persulit dirimu, Ar! Bukankah 1 dari sekian persen orang pasti memiliki kecoco-kan. Dan Kay salah satunya!"
"Papa benar! Semua mungkin saja terjadi, ta-pi mengapa Kay berbeda sendiri dariku dan Papa? Apa Kay sesungguhnya bukan adikku? Ahh Kay ... andaikan betul kau bukan saudara kandungku, aku akan tetap menyayangimu!" batin Aric sungguh dipenuhi asumsi otaknya.
"Jika sudah selesai kau pergilah! Papa sedang sibuk!"
"Pa, berarti aku bisa menyembuhkan Ciara melalui Kay bukan? Kau setuju bukan, Pa?"
"Kau masih membahas ini, Ar?"
"Pa, please! Aku sedang berupaya menyelamatkan hubunganku dan Sashi. Aku tidak bisa terus berjauhan darinya," lirih Aric dengan tatapan pengharapan.
Rico menangkap wajah itu, wajah cinta yang besar di mata Aric untuk Sashi. Tiba-tiba saja Rico terfikir suatu hal. "Tentu kau boleh menggunakan Kay untuk menyembuhkan Ciara, Ar! Tapi kau tau sendiri kan Kay belum sadar? Andai kau menurunkan sedikit egomu dan bersedia membawa Sashi menemui Kay. Kurasa Kay akan cepat sadar dan pembedahan Ciara bisa dilakukan!"
"Kau lagi-lagi diam Ar! Sangat jelas kalau kau takut kehilangan Sashi. Padahal sungguh aku sebagai mertuanya saja bisa meyakini hati Sashi saat ini hanya untukmu. Tapi kau nyatanya tidak yakin pada istrimu sendiri!" ujar Rico sedang memainkan kebimbangan Aric.
"Ya Tuhan, apa ini adalah satu-satunya solusi. Menggunakan Sashi untuk menyadarkan Kay, baru Ciara bisa sembuh dan otomatis pernikahanku dengan Aruna berakhir. Apa harus seperti itu? Tapi bagaimana jika hati Sashi. Tidak! Papa benar, bahkan ia bisa yakin kalau Sashi mencintaiku, bagaimana aku meragui perasaan istriku sendiri. Ya, aku harus membicarakan semua pada Sashi! Satu lagi, ternyata Papa bukan ayah Ciara, sial Bagas mengelabuhiku!"
...▪♧♧♧▪...
TOK ... TOK ....
"Mbak ... mbak Sashi ...!" Sebuah ketukan dan panggilan terdengar. Sashi yang baru saja memberi makan Shiza dengan cepat membuka pintu kamarnya.
"Bik Ningsih? Ada apa?"
"Ada teman mbak Sashi datang!" ujar Ningsih.
"Teman? Sungguh Bik? siapa? Mana?" Wajah itu merona. Sashi yang kesepian mendadak bahagia. Tak menunggu jawaban Ningsih, Sashi langsung meraih tubuh Shiza menuju ruang tamu.
"Renaa ...."
__ADS_1
"Sashiii ... ternyata lo bener lagi nginep di tempat nyokap lo?"
"Iya. Eh kita ngobrol di kamar yuk!"
"Hai Shizaaa ... ihhh anak lo belepotan gitu sih. Jorok ihh, ante gak jadi cium Shiza ahh!"
"Eh rese lo, dia baru kelar makan kali. Karena seneng denger lo dateng gue sampe lupa ngelap mulutnya tadi. Yuk masuk!" Keduanya pun melangkahkan kaki ke kamar.
"Oh ya lo mau minum apa?"
"Apa aja."
"Bik, orange jus satu sama teh manis hangat satu ya, tolong anter ke kamar aku!"
"Iya, Mbak."
Keduanya masuk kamar plus Shiza pula dalam gendongan Sashi. Sashi langsung ke kamar mandi di sudut kamarnya dan membersihkan wajah Shiza, sedang Rena sudah seperti rumah sendiri langsung merebahkan diri di kasur.
"Hahh ... nyaman! Kamar lo masih sama aja kayak dulu Sash, jadi inget dulu gue sering nginep di sini nemenin lo yang kesepian!" Sashi tersenyum getir mengingat masa-masa remajanya yang sering ditinggal ayah bundanya bekerja, bahkan saat ini pun masih seperti itu.
"Sash ... Sash! Ih gue dicuekin sih!"
"Eh sorry! Oh ya, lo tau dari siapa gue lagi di rumah nyokap?"
"Dari siapa yaa ... lo mau gue jawab jujur apa bohong?" ucap Rena terkikik sambil memainkan ponselnya.
"Gue mau kabarin temen-temen ah, kalo gue lagi ketemuan sama loe!"
Sashi terus memperhatikan aktivitas Rena. Melihat ponsel di tangan Rena jantung itu berdetak cepat. Alat komunikasi semacam itu sepekan sudah tak ia jumpai. Dan ia jadi berfikir satu hal ....
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Yang mau up satu lagi, komen yang banyak di bab ini yaaa😄😄❤❤
__ADS_1