Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
MENJENGUK CIARA


__ADS_3

"Kakak ... benar tadi kak Aric. Aku tidak mungkin salah lihat! Tapi anak siapa yang digedongnya itu?"


Jarwo memutar arah lajunya hingga beberapa saat sampailah mereka ke Taman yang dimaksud Kaysan. Kaysan mengedarkan pandang mencari sosok sang kakak yang beberapa saat lalu jelas dilihatnya namun kini sudah tak terlihat.


"Kita mau berhenti di sebelah mana, Mas?"


"Ahh ... tidak jadi, Pak! Kak Aric sudah tidak ada!"


...▪♧♧♧▪...


"Sekarang kita mau kemana lagi, Sayang?" ucap Aric sembari tersenyum menatap Sashi sedang menyusui Shiza sambil terus mengusap kepala putrinya itu.


"Sayang ...."


"Eh, i-ya Kak? Ma-af, aku sedang fokus melihat Shiza," lirih Sashi.


"Apa yang sedang kamu fikirkan, hem?" tanya Aric.


Shashi tersenyum lebih dulu baru berucap. "Aku khawatir tidak bisa adil pada 2 anakku kelak, Ka-k!"


"Alasannya?"


"Karena jarak mereka dekat! Kalau aku sudah melahirkan bayi dalam perut, aku khawatir akan banyak memegang bayiku dan membuat Shiza terabaikan," lirih Sashi.


Sesaat Aric bangga istri kecilnya itu memikirkan hal seperti itu. Ia tiba-tiba menepikan mobil membuat Sashi bingung.


"Kakak kenapa berhenti?"


Aric meraih kepala Sashi dan menciumnya. "Aku ingin menciummu!" Sashi mengerucutkan bibir mendengar ucapan Aric. Ia sedang serius bisa-bisanya Aric menggodanya.


"Kenapa bibirnya dimajukan begini!" Aric menyentuh bibir Sashi.


"Aku sedang serius, Kakak malah bercanda!"


"Siapa yang sedang bercanda? Dengar! Jangan banyak berfikir ini dan itu! Anak yang kamu lahirkan memiliki Ayah. Saat kamu banyak memberi waktu untuk bayi kita, aku akan memberi perhatian pada Shiza, hingga Shiza tidak merasa di nomer duakan!" lugas Aric menatap lekat netra istrinya itu. Sashi mengangguk dan tersenyum. Sashi senang dengan jawaban Aric.


"Satu lagi!"


"Hah?"

__ADS_1


"Kita akan selalu saling mengingatkan kalau salah satu dari kita mulai condong pada salah satu anak! Kita akan menasehati jika kita berdua salah. Kita akan saling belajar menjadi orang tua yang baik dan saling menyemangati pula tentunya! Bagaimana?"


"Itu bukan satu hal! Ada beberapa yang Kakak ucap!" Bukan fokus dengan isi, Sashi justru fokus dengan jumlah, membuat Aric gemas saja melihatnya. Aric menggelengkan kepala sambil tersenyum menatap istrinya itu.


"Kakak menertawakanku?"


"Tidak!"


"Aku hanya bercanda, Kak! Aku paham kok yang Kakak maksud!"


Aric meraih kepala itu lagi dan menciumnya lama. Ia senang istrinya ternyata mengerti yang ia ucapkan. "Ka-kak sudah, ini jalan raya!" Aric tersenyum lagi dan mengangguk.


Aric mulai melajukan kendaraannya lagi sambil diam-diam mencuri pandang Sashi. Istrinya itu seakan memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya ingin berlama menatap, gemas ingin selalu mencium dan tak pernah bosan dengan setiap tingkahnya. Ia bisa manja seperti kucing kecil dan menjadi dewasa di saat bersamaan. Dalam hati itu sangat bahagia memiliki Sashi.


Rasa bahagia yang seketika berubah kegelisahan saat ingat ada rahasia yang masih belum ia buka pada istrinya itu. Kaysan! Ya, semua tentang Kaysan yang nyatanya masih hidup. Dada itu seketika sesak. belum sanggup membayangkan reaksi istri dan keluarga istrinya nanti.


"Walau berat dan beresiko, aku harus membuka ini! Ya, setelah urusanku dan Aruna selesai aku akan membuka kebenaran tentang Kay ...."


"Ka-kk ...!"


"Eh, iya Sayang?"


"Lho memang kita mau ke mana?" Wajah aric terlihat bingung.


"Aku mau mampir menjenguk Ciara!"


"Sash?"


"Kenapa Kak? Apa menjenguk orang sakit itu salah?"


"Bukan itu, hanya saja-----


"Pokoknya aku tidak mau dibantah, aku mau menjenguk Ciara!" Raut kemarahan itu terlihat dengan bibir yang sudah maju beberapa senti.


"Oke, oke! Jangan marah, Sayang! Oke kita akan ke Rumah Sakit menjenguk Ciara!" lontar Aric. Aric ternyata sangat takut melihat Sashi marah.


...▪♧♧♧▪...


Sashi berjalan tenang memasuki Rumah Sakit. Aric di sisinya yang justru dipenuhi banyak tanya. Istrinya itu baik namun susah ditebak. Bagaimana pun Ciara baru menjalani operasi dan dalam masa pemulihan, ia tidak boleh mendengar ucapan yang membuatnya syok atau tak sesuai ingin otaknya. Dengan kelabilan Sashi, Aric takut Sashi membuat masalah, tapi yang ditakutkan justru begitu tenang, tanpa bicara dan terus melenggang.

__ADS_1


Berkali Aric membenarkan letak posisi Shiza dalam gendongannya. Ia yang beberapa saat lalu tidur di mobil nyatanyanya terbangun saat mobil berhenti. Aric yang tak ingin janinnya di perut Sashi tertekan jika Sashi menggendong Shiza, akhirnya mengambil peran itu.


Berhubung Shiza masih terlalu kecil untuk masuk ke ruang isolasi, sesampainya di lobi Aric menelepon Diyah untuk turun. Pun Aric mempercayakan Shiza pada Diyah.


Sashi dan Aric menuju Lift yang akan membawa raga keduanya ke kamar Ciara. Beberapa saat keduanya sampai. Sebelum keduanya melangkah ke dalam, Aric berbisik pada Sashi agar menjaga emosi Ciara di dalam, Sashi membalas bisikan itu dengan bisikan pula. "Aku tahu Kakak Sayang," ujarnya tenang.


Aric masuk ke dalam diikuti Sashi. Ciara yang menangkap kehadiran Sashi sebagai temannya, langsung tersenyum. "Kak Sashi," lirihnya. Sashi langsung mendekat dan memeluk Ciara. Sashi terus memuji bahwa Ciara anak yang hebat, Ciara senang mendengarnya. Aric mengingatkan bahwa Ciara belum boleh banyak bicara, Ciara menurut. Pun Sashi akhirnya yang tampak mendominasi perbincangan itu. Sashi dengan antusias menceritakan kisah hewan dengan ekpresifnya membuat Ciara terus tersenyum. Aric tenang, istri kecilnya itu bisa menempatkan diri, ia menyamankan Ciara.


Tak berselang lama Aruna datang, di tangannya menggenggam paper bag berisi kebutuhan Ciara. Aruna memang tadi pulang ke rumah mengambil barang Ciara. Melihat kehadiran Sashi Aruna bergeming. Keduanya tampak saling menatap dalam keheningan, hingga akhirnya Aruna tersenyum dan Sashi membalasnya dengan senyuman pula.


Aruna mendekati ranjang Ciara, menanyakan pada Ciara apakah Ciara sudah mencium tangan kakak Sashi, Ciara menjawab Sudah. Aruna mengambil kotak makan dan mulai menyuapi Ciara. Sashi terus memperhatikan Aruna, Aruna berbeda, tidak seperti Aruna. Ia seperti wanita lain.


Ya, semenjak pelecehan yang menimpa dirinya oleh Bagas. Aruna memang banyak berfikir dan merenung. Kata-kata Aric yang memintanya menjadi ibu yang lebih baik terus terngiang, Aruna bahkan mulai menyingkirkan pakaian kurang bahannya. Aruna menggunakan pakaian lebih tertutup setelah kejadian itu. Pun Aric yang selama ini merasa kurang nyaman merasa tenang. Ia suka dengan perubahan Aruna.


"Mas, di plastik ada air mineral tadi aku membelinya. Mungkin kamu bisa memberinya pada mbak Sashi." Aric mengangguk, ia mengambil air dalam kemasan botol 600ml itu dan memberi pada Sashi. Sashi masih menatap lekat netra Aric sambil beberapa kali melirik Aruna. Aric paham istrinya itu pasti bingung dengan perubahan Aruna. Aric mengangguk membalas tatapan penuh tanya Sashi.


Sashi dan Aric masih berdiri di sisi ranjang memperhatikan Aruna yang menyuapi Ciara. Aruna tidak banyak bicara, namun gerak tubuhnya mampu membuat orang yang melihat merasakan kasih sayang Aruna pada putrinya itu. Sashi masih beberapa kali menatap Aric, ia tak percaya. Aric merangkul bahu Sashi dan mengusap-usapnya, Aric ingin Sashi tenang.


Aktivitas menyuapi Ciara selesai. Aruna menghadapkan wajahnya ke arah Sashi, ia menangkap perilaku manis Aric yang tak berhenti mengusap bahu Sashi. Ia menunduk sesaat dan menatap Sashi lagi setelahnya.


"Terima kasih sudah menjenguk Ciara, Mbak," ucap Aruna. Sashi lagi-lagi dibuat kaget. Aruna dengan tenang bicara padanya padahal biasanya setiap melihat Sashi ucapannya meletup-letup penuh emosi. Pun Aruna juga menematkan kata mbak lagi kini di awal nama Sashi, hal yang sudah lama tak Aruna lakukan semenjak jadi istrinya Aric.


"Iya. Oh ya, bagaimana kondisi Ciara kata dokter, Mbak?" Melihat ketenangan Aruna bicara padanya, pun Sashi bicara dengan lembut pula.


"Syukurlah setelah operasi, komposisi darah merah Ciara semakin banyak, Suster dan Dokter di sini masih selalu memantaunya," ucap Aruna.


"Bagus kalau begitu. Hmm ...Mbak Aruna, bisakah kita bicara berdua?"


"Sash?" lirih Aric seketika.


"Kakak, apa aku tidak boleh berbicara dengan mbak Aruna?"


"Bukan begitu, tap------


"Mari Mbak!" Aruna seketika menuju pintu, ia menoleh ke arah Sashi dan mengangguk. Ia menerima ajakan Sashi untuk berbincang 4 mata dengannya.


__________________________________________


☕Happy reading😘

__ADS_1


☕Ditunggu selalu komen dan like kalian❤❤


__ADS_2