Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
PEMAKAMAN KELABU


__ADS_3

Awan hitam hari ini nyatanya lebih hitam dari kemarin. Suasana langit begitu sejuk dan damai tanpa hujan turut serta. Raga-raga berselimut pilu terlihat memadati area pemakaman di bilangan Tangerang Selatan itu. Hingga beberapa saat, acara pemakaman pun selesai bersamaan dengan turunnya titik-titik hujan yang mulai membasahi bumi.


Satu persatu raga yang berasal dari warga setempat dan jamaah Lutfi yang sudah mendengar berita kecelakaan mulai meninggalkan area pemakaman menyisakan beberapa orang kini. Dua keluarga beserta orang kepercayaan masih di sana. Sashi masih bersimpuh memeluk nisan kayu dengan nama sang ayah tercinta, sedang Aira bergeming tanpa kata di hadapan Sashi. Anggota keluarga lain masih bergeming melantunkan doa terakhir untuk Lutfi.


Merasakan gerimis yang semakin deras, Rico meminta Aric yang masih mengusap bahu istrinya tanpa kata itu untuk mengajak Sashi pulang. Kalina juga tengah berbisik pada Aira meminta ia pulang juga. Aira mengangguk dengan pandangan kosong. Ia mengikuti langkah Kalina yang terus merangkul bahunya masuk ke dalam mobil.


Pun Sashi juga sudah berada di mobil Aric, ia langsung menghadap jendela, terdiam dan sesekali menghapus bulir yang masih memaksa keluar.


Kaysan, Rayhan dan Sopo naik dalam satu mobil dengan disopiri Ojo. Mereka semua langsung masuk ke kediaman Lutfi. Kaysan langsung menemui Shiza dan mengajak Shiza bermain-main bersamanya. Rico mengajak Aric bertakziah ke kediaman Aryo dengan membawa amplop yang telah disiapkan Aric sebagai tanda kesetiaan Aryo selama ini.


Aira ingin sendiri. Ia meminta Kalina meninggalkannya. Waktu yang menunjukkan saat Dhuha membuat Aira memilih mengambil wudhu dan menjalankan ibadah sunnah dilanjut membaca kitab suci Tuhannya berusaha menormalkan kesedihan dan mengikhlaskan yang terjadi.


Sashi yang letih dan semalaman tak bisa tidur menunggu jenazah Lutfi, sudah memiringkan tubuh di atas ranjang. Ia masih bergeming dan berusaha memejamkan mata berharap saat bangun, segala kesedihan itu sirna.


Ya, jenazah Lutfi memang tiba pukul 03:00 dini hari. Banyak hal yang harus diurus Rico di Medan hingga akhirnya bisa menerbangkan jenazah itu ke Bandara Soekarno-Hatta hingga sampai di kediamannya.


Kalina yang menyadari Sashi hanya makan sedikit sejak kemarin, membuka pintu kamar menantunya itu. Ia mendekat dan mengusap-usap kepala Sashi hingga Sashi menoleh.


"Ma-ma ...."


"Makan dulu ya, Nak, nanti baru tidur." Sashi menggeleng lirih. Kalina meletakkan piring yang dibawanya ke atas nacash.


"Sashi tidak boleh begini! Si kembar butuh asupan nutrisi. Almarhum ayah juga akan sedih lihat Sashi mengabaikan kesehatan! Sashi mau dengar Mama, kan?" Sashi terdiam menatap pancaran ayu ibu mertuanya itu.


"Sash ...!"


"Eh."


"Jangan melamun!" Sashi masih terdiam dengan satu persatu bulir yang masih keluar.


"Sashi ingat almarhum ayah?" Sashi mengangguk dengan bibir mengerucut, tangisan itu tumpah lagi.


"Tahan tangisnya, Sayang! Kalau maminya sedih, bayi di perut Sashi juga merasakannya. Sashi mau dua bayi Sashi tersiksa di dalam sana?" Sashi menggeleng.

__ADS_1


"Kalau begitu Sashi harus tegar! Kalau Sashi ingat ayah, hadiahi ayah dengan alfatihah. Itu yang saat ini dibutuhkan ayah ketimbang tangisan!" Sashi seketika meraih tubuh Kalina. Sashi butuh pelukan untuk menguatkannya. Kalina terus mengusap bahu menantunya itu sambil membisikkan dzikir-dzikir di telinga Sashi.


Beberapa saat tangisan itu sudah mereda, Sashi mengangkat tubuh dan kembali menatap Kalina. "Te-rima ka-sih, Ma!" ucapnya lirih. Kalina tersenyum.


"Sekarang beri cucu-cucu mama makan, ya?" Sashi mengangguk.


...~∆∆∆~...


Ba'da isya pengajian pemberian doa Lutfi dilakukan. Rumah berdominasi abu-abu itu sudah dipenuhi warga, jamaah dan pekerja Aric. Sashi, Aira dan Kalina ikut mendoakan dari dalam kamar, sedang para pria berada di luar mendoakan dengan di pimpin ustad rekan Lutfi yang harusnya hari itu berangkat ke Medan. Ada kesedihan ustad itu rasa, sebab harusnya ia yang berada di posisi itu dan bukan Lutfi. Hal mendasar yang terfikir, padahal sejatinya ia sadar memang waktu Lutfi memang sudah habis, di mana pun ia berada maut tak akan bisa dihindari.


Pukul 21:30 acara pengajian sudah selesai. Anggota keluarga Kalina memutuskan menginap menemani keluarga Sashi. Karena setiap raga letih, semua orang sudah memasuki kamarnya masing-masing. Kaysan yang melihat Sashi butuh beristirahat mengajak Shiza tidur bersamanya.


Aric masih memeluk raga Sashi saat sebuah ketukan terdengar di muka kamar. Ningsih berdiri di sana, memberitahu jika ada tamu yang ingin bertemu dengan Sashi dan Aric. Otak Aric berfikir siapa yang datang takziah di malam hari seperti ini. Pun ia mempertanyakannya pada Ningsih.


"Dua orang wanita, Mas. Yang satu tinggi dan yang satu imut-imut seperti mbak Sashi," lontar Ningsih.


"Tinggi? Mung-kin-kah Sal-wa?" batin Aric.


"Ada apa, Ka-k?"


"Ada tamu untukmu, ingin bertakziah."


"Siapa malam-malam datang?" Wajah Sashi terlihat bingung.


"Dua wanita. A-ku tidak tahu pasti, ta-pi kemung-ki-nan----


"Salwa?" Aric tersenyum getir melihat Sashi mampu menebak dengan benar. Ia mengangguk setelahnya.


"Ma-u te-mui? A-tau aku suruh pu-lang sa-ja?"


"Dia datang ingin mendoakan ayah, kita akan temui," ucap Sashi. Aric tersenyum dan mengangguk. Ya, Aric senang istrinya itu berlapang dada dan lagi-lagi bisa menempatkan situasi.


Dua raga menuju ruang tamu, Aric tak membiarkan tangannya lepas dari bahu Sashi. Melihat kehadiran tuan rumah yang ditunggu, dua raga yang sedang duduk manis di sofa panjang itu seketika berdiri. Mereka mengangguk menatap Sashi dan Aric. Salwa langsung membungkuk meraih tubuh berisi Sashi saat keduanya sudah dekat.

__ADS_1


"Aku pernah merasakan di posisimu, semua sangat menyakitkan, namun harus dihadapi! Saat ini ayah kita pasti sudah berada di syurga." Sashi mengangguk di bahu Salwa. Ia melonggarkan tubuh setelahnya.


"Terima kasih, mbak," ucap Sashi memaksa tersenyum.


"Aku juga ikut berduka, Kak Sashi. Semoga Tuhan menerima ibadah ayah Kakak," timpal Lora.


"Aamiin ya Rabbal'alamiinn."


"Terima kasih sudah datang dan memberi doa untuk almarhum ayah kami, Wa!" ujar Aric.


"Tentu, Ar. Maaf sebelumnya kami datang malam-malam, aku ada acara siang tadi jadi baru sempat datang."


"Sebenarnya doamu dari jauh cukup!"


"Tidak bisa begitu, Arr! Silaturahmi itu baik dan aku ingin bertemu Sashi secara langsung," ucap Salwa. Sashi berkali kali-kali memaksa tersenyum dan memilih menunduk setelahnya.


"Oh ya, kalian tahu darimana rumah ini?"


"Dari Kaysan. Awalnya Lora melihat status Kaysan tentang ayah Sashi, Lora memberitahuku dan selanjutnya aku meminta alamatmu darinya. Kamu jahat memblokir nomer ponselku, Arr!"


"Ma-af!"


"I-ya, aku paham!" ucap Salwa melirik Sashi yang menunduk. Otak Sashi yang sedang sedih tak bisa menyimak jelas ucapan mereka.


"Jika tidak ada lagi, mohon maaf istriku sepertinya butuh istirahat, Wa!" Salwa mengangguk, ia undur diri setelahnya.


...~∆∆∆~...


☕Happy reading😘


☕Sambil nunggu up selanjutnya bisa mampir ke karya teman literasi Bubu yang lagi booming ini, yuk!❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2