
Aric mencium kening itu, ia senang akhirnya Sashi bisa terpejam. Ya, seminggu berlalu pasca kecelakaan yang menimpa Lutfi. Seminggu itu pula Sashi setiap malam tidak bisa tidur. Bayang-bayang Lutfi selalu hadir setiap kali mata itu terpejam. Pun akhirnya Aric selalu bersalawat untuk menidurkan Sashi.
Shalawat itu ia pelajari dari kaset yang dibawa Rico dari Medan. Saat Rico telah memastikan jenazah Lutfi adalah benar kerabatnya, seorang suster menghampiri dan mengatakan bahwa kondisi salah satu jenazah tampak sedang mendekap sebuah bungkusan plastik berisi 3 buah kaset DVD.
DVD pertama berisi sholawat, DVD kedua berjudul "Bawalah Istrimu Hingga Ke JANNAH" dan kaset DVD ketiga berjudul "Mendidik Dengan Cinta." Tiga amanah Lutfi untuk Aric sebagai panduan menjadi suami yang bisa membimbing Sashi menjadi lebih baik dan mendidik ketiga buah hatinya nanti dengan kasih sayang, penuh kelembutan dan memberikan pondasi agama kuat. Lutfi ingin Aric bisa memperbaiki kesalahamnya, menjadi imam yang lebih baik darinya terhadap istri dan anak-anaknya. Pun Aric sudah menyelesaikan menonton seluruh DVD itu. Setiap malam saat Sashi tertidur ia selalu menyempatkan menonton amanah Lutfi yang benar-benar dijaga Aryo hingga mautnya.
Aric yang sekarang bahkan sering mencari materi-materi agama melalui aplikasi di ponselnya, jiwanya seperti terhipnotis dan haus mengetahui lebih baik ilmu agama, hal yang selama ini ia lalaikan dan merasa cukup dengan yang ia tahu, ternyata banyak hal yang ia masih harus gali hingga kelak bertemu Robbnya dengan sempurna.
Walau terkadang masih sering melamun, Aira sudah ikhlas terhadap yang terjadi. Di masa iddahnya ia habiskan untuk bermain-main bersama Shiza dan bercengkrama dengan Sashi. Hal yang dulu sering ia lalaikan, kini setiap hal ia bagi pada putrinya itu. Masalah bisnis ia percayakan pada bawahannya yang sudah terampil dan paham, ia hanya tinggal mengecek semua dari rumah.
Semakin dekat dengan Aira, Sashi bertambah bahagia. Kasih sayang yang tidak ia dapatkan sewaktu kecil kini ia dapatkan di usianya kini dan dalam kondisi hamil besarnya. Ia kini yakin bundanya begitu menyayanginya. Sashi banyak menghabiskan waktu dengan mengacak dapur bersama Aira, meminta diajarkan memasak ini dan itu pada Aira.
Aric menghentikan kuliah Sashi sementara sampai batas yang belum dapat ia pastikan. Aric ingin istrinya itu fokus pada kehamilannya dan mengurangi aktivitas luar menjelang persalinan. Ya, sesuai prediksi 2 Minggu lagi perkiraan kelahiran bayi Sashi dan posisi kepala bayi bahkan sudah sangat bagus di jalan lahir.
...~∆∆∆~...
Mentari pagi lagi-lagi menyinari semesta dengan teriknya. ia memancarkan berkas kehangatan untuk setiap makhluk di bumi. Sashi masih mondar-mandir di sekitar pelataran sambil menatap warna-warni ceria bunga-bunga dan tumbuhan hijau di taman milik bundanya. Sashi memang diminta dokter banyak berjalan untuk memudahkan persalinannya, terkadang Aric mengajaknya berkeliling pemukiman, tapi jika Aric harus berangkat pagi ia melakukannya sendiri di halaman rumah.
"Sashi, masuk yuk! Bunda sudah siapkan sarapan untuk Sashi." Terdengar Aira memanggil. Ya, sudah saatnya Sashi memberi nutrisi 2 bayi kembarnya. Sashi menurut.
"Mami ...." Belum lagi sampai ke dapur, langkah itu diberhentikan oleh Shiza. Putrinya itu terus menatap ke arahnya.
"Mami ingatkan hari ini?"
"Hemm ... apa yaa?" Sashi berpura lupa, senang ia menatap pancaran manja putri kecilnya itu.
"Mami jangan lupa dong, Mami! Coba Mami ingat-ingat!" Mata Shiza membulat benar-benar ingin Sashi mengingat yang ingin dia sampaikan.
"Tapi Mami lupa." ucap Sashi dengan bibir memberengut menggoda Shiza.
"Hari ini aku mau pergi sama ayah dan kak Lora!"
"Oh i-ya. Iya iya Mami baru ingat sekarang. Shiza senang?" Shiza mengangguk. Ada kegetiran dirasa Sashi. Bukan karena Kaysan yang sepertinya mulai menemukan penggantinya, tapi karena silsilah Lora yang merupakan adik Salwa yang menjadi kekhawatiran Sashi. Jika Kaysan benar-benar serius dengan Lora itu artinya akan ada jalur kekerabatan yang terbentuk dan tentunya tidak menutup kemungkinan Aric dan Salwa akan sering bertemu.
__ADS_1
Sashi masih terdiam saat sebuah dagu menempel di bahunya dan kecupan berkali-kali menyentuh pipinya. Sashi langsung menoleh dan siapa lagi yang berani melakukan seperti itu padanya kalau bukan suaminya sendiri. Wajah tersenyum langsung tertangkap netra Sashi membuat sepasang sudut bibirnya ikut terangkat membalas senyuman Aric atasnya.
"Kenapa Mami pagi-pagi sudah melamun?" bisik Aric.
"Shiza duluan ke meja makan ya, Sayang, lihat Oma sudah masak apa!" ucap Aric kepada Shiza. Shiza yang penurut langsung berlari ke dapur.
Sashi berbalik menatap wajah tampan itu dengan jelas kini. "Ingat, jangan bicara dalam diam, karena aku bukan pembaca pikiran yang tau apa yang kamu fikirkan."
"A-ku____
"Aku apa?"
"Kak, Kay dan Lora sepertinya sering bertemu belakangan ini."
"Hmm ... iya, lalu?"
"Kalau Kay se-rius dengan Lo-ra_____
"Apa?" Aric sungguh tak sabar mendengar ucapan Sashi yang terkesan sulit terucap. "Katakan saja!"
"Apa salahnya berkerabat, yang jelas wanita yang tinggal dan hidup bersamaku adalah kamu! Kamu lupa kita berjanji akan saling percaya?"
Sashi masih menatap mata itu, Aric serius, mata itu terlihat sangat bersungguh-sungguh dengan katanya. Sashi tersenyum lepas setelahnya.
"Kakak benar, untuk apa aku takut! Kalau memang Kakak macam-macam aku tidak akan ragu potong itu Kakak sampai habis!" Kelopak mata Sashi membuka sempurna.
"Ahh, Sayang kenapa begitu kejam!" Aric merangkul bahu itu dan keduanya berjalan ke arah dapur sambil tertawa.
•
•
"Nanti ustadzah Lulu jadi datang, Bun?"
__ADS_1
"Jadi, Arr." Aric mengangguk-angguk.
"Jam berapa, Bun?" tanya Sashi setelahnya.
"Biasa jam 11 siang, Sayang." Ya, untuk menghilangkan perih kehilangan, Aira menghubungi salah satu rekan kuliah Lutfi yang juga seorang pendakwah untuk datang sepekan dua kali ke rumahnya untuk memberi support semangat dan merefresh imannya dengan ilmu agama. Pun Aric yang mulai senang menimba ilmu sangat mendukung aktivitas itu.
"Oh ya, putri Papa yang cantik, seperti biasa tidak boleh menyusahkan ayah dan kak Lora, ya Nak!" Shiza menggeleng.
"Papa tenang saja, Shiza anak baik, kok!" jawab Shiza santai membuat semua raga di meja makan ikut tersenyum.
"Lora yang dekat dengan Kay itu orangnya seperti apa, Arr? Apa ia baik?"
"Dia pernah datang kemari untuk takziah almarhum ayah kok Bun, tapi saat itu Bunda sudah tidur," utar Sashi.
"Oh ya, seperti apa orangnya?"
"Tubuhnya kecil seperti Sashi, manjanya juga! Menurut Aric ia mirip Sashi! Mungkin ia sengaja mencari wanita yang seperti mantan kekasihnya, Bun!" lugas Aric membuat Sashi memberengut.
"Aric tidak boleh begitu, Nak!" ucap Aira yang paham Aric sedang menggoda Sahhi.
"Papanya Shiza memang senang menyindir Sashi, Bun!"
"Aric hanya bercanda kok, Bun!" ujar Aric mengedipkan mata ke arah Sashi yang dibalas Sashi dengan menyernyitkan dahi.
"Mantan kekasih itu apa, Papa?"
"Ayo Papa silahkan jawab?"
..._________________________________________...
☕Happy reading😘
☕Bubu mau tugas jaga prasmanan dulu guys, diusahakan nanti malam bisa up lagi❤️❤️
__ADS_1
☕Bubu mau promosi karya sahabat literasi Bubu dijamin ceritanya keren dan bikin gak mau berhenti baca, yuk kepoin😍