Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
PEMBICARAAN SESAMA LELAKI


__ADS_3

Bias terik terus memaksa masuk melalui setiap jendela pada bangunan berdominasi abu-abu itu. Seorang wanita muda merebahkan diri di sofa ruang tamu dengan pandangan tak teralih pada bayi 7 bulan yang tengah asik memainkan mainan di dekat sofa yang ia tiduri.


Tubuh wanita muda itu memang kurang sehat. Makanan hanya dapat masuk sedikit ke tubuhnya, itu pun dengan susah payah ia lakukan lantaran ada hak asi putri kecilnya yang harus ia beri.


Entah sudah berapa kali netranya menatap jam dinding yang seolah berjalan sangat lambat. Wanita muda itu memang senang menunggu malam tiba, sebab setelah malam, hari pun siap berganti lagi.


"Dua hari lagi Kak ... Dua hari lagi kita akan bertemu," lirih batin itu berucap menyertai manik mata yang mulai berkaca. Ya, membayangkan perpisahan masih harus terjadi selalu meninggalkan sesak dadanya.


"Sayang ...."


"Eh, Ayah." Seketika Sashi mengangkat tubuhnya menyadari sang ayah sudah duduk di sisinya. Lutfi memang hari ini tak ada aktifitas, ia ingin menghabiskan waktu bersama putrinya itu.


"Ayah dengar kamu sedang sakit, hem?"


"Tidak kok, Yah. Hanya kemarin Sashi telat makan jadi maag Sashi kambuh," jawab Sashi.


"Jangan sampai telat makan lagi, Sayang ...! Ayah tidak mau sashi sakit." Sashi mengangguk menenangkan sang ayah.


"Oh ya, hari ini ayah libur bagaimana jika kita ke wahana bermain di Utara Jakarta itu." Lutfi masih ingat bagaimana Sashi kecil sangat suka naik bianglala dan berbagai permainan di dunia permainan itu.


Wajah Sashi seketika merona, hatinya senang tapi tubuhnya sedang tak berkolaborasi. Tubuh itu lemas, Sashi hanya ingin merebahkan diri saja.


"Bagaimana, mau?"


"Maaf Ayah, mungkin lain kali. Sashi sedang ingin di rumah," ucap Sashi ada rasa tak enak menolak ingin ayahnya itu.


"Hmm ... begitu rupanya. Iya, kesehatanmu lebih penting. Sekarang katakan apa yang sedang Sashi inginkan?" Netra Lutfi menatap lekat wajah sang putri. Walau hari-harinya sibuk, tapi ia senang di waktu senggang seperti ini bisa melihat wajah putri semata wayangnya ada di rumah.


"Ingin apa ya, Yah?" Sashi tampak berfikir. Dalam hati itu sesungguhnya ingin jika ayahnya mengizinkan ia menelepon Aric. Tapi ia singkirkan ingin itu karena tak ingin ayahnya marah. Ya, Ayahnya pasti tidak setuju dengan inginnya itu.


Sashi masih berfikir dan belum menjawab saat sebuah panggilan masuk ke ponsel Lutfi.


"Wa'alaikumsalam warohmatulloh, iya Fat?"


"Lho, bukannya hari tak ada jadwal?"


"Apa tidak bisa di cancel?"


Sashi ikut menyimak setiap kata yang diucap sang ayah.

__ADS_1


"Hahh ... kamu ini, lain kali cek yang betul jadwalku! Baiklah aku akan bersiap!"


Sashi membuang napasnya kasar, ia sudah bisa menebak yang terjadi.


"Siap aku tunggu kamu datang. Wa'alaikumsalam warohmatulloh."


Panggilan pun di tutup. Lutfi langsung mendekat dan mengelus rambut Sashi. Lutfi menatap Sashi dalam diam. Ada kegetiran ia rasa, baru saja ingin menghabiskan waktu bersama, namun nyatanya ia harus pergi.


"Ayah tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja! Ayah silahkan menemui jamaah Ayah! Bukankah Ayah yang bilang ilmu itu harus disampaikan?" Belum lagi Lutfi bicara Sashi sudah menyela.


"Terima kasih sudah memahami profesi Ayah, Sayang!" Lutfi menyapu bahu Sashi. Mendapat sentuhan ayahnya saja Sashi sudah ingin menangis. Ia sebetulnya rindu ayahnya, tapi ayahnya bukan hanya miliknya tapi milik umat. Sashi berusaha keras tersenyum agar ayahnya tidak sedih dan bersemangat menjalani aktifitasnya.


"Bersiaplah Ayah! Aku bangga Ayah! Aku bangga menjadi putri ustad Lutfi Mumtaz yang cerdas dan dicintai banyak orang!" Lutfi tersenyum dan memeluk raga putrinya itu. Kata-kata Sashi sungguh semangat untuknya. Rasa ragu itu hilang.


"Oke Ayah akan bersiap! Ayah juga bangga memiliki putri seperti Sashi!" Sashi tersenyum getir.


"Ayah sangat senang menyenangkanku. Padahal aku sendiri sadar belum bisa menjadi anak Ayah yang bisa dibanggakan!" Sashi menyapu bulir yang seketika menetes sambil terus menatap raga lelaki tegap yang semakin menjauh dan kini memasuki kamarnya.


"Dan aku lagi-lagi sendiri. Bunda sudah berangkat sejak pagi dan ayah pun akan pergi! Hahh ... Kakak ... aku rindu kakak, sangat!"


Sashi meraih tubuh Shiza. Ditatap wajah polos dengan mata bulat yang sedang fokus menatap boneka ditangannya. Ia menciumi wajah Shiza bersamaan bulir yang kembali mulai menetes. Sashi memang lebih sensitif belakangan ini. Ia mulai berbicara lirih pada putri kecilnya itu.


...▪♧♧♧▪...


Di tempat berbeda sosok pria tegap berjalan menuju sebuah bangunan 2 tingkat yang menjadi kantor pusat bisnis sang ayah. Pandangan mata itu lurus ke depan dengan lengan dan kaki yang saling berirama penuh semangat.


Seorang wanita dengan seragam biru menempel tubuh berpadu rok hitam selutut langsung berdiri melihat kedatangan lelaki yang tak asing untuknya.


"Selamat pagi Pak Aric," sapa wanita yang menjadi sekretaris sang ayah dengan senyum ramah.


"Pagi. Apa papaku ada di dalam?"


"Ada. Sebentar saya kabari dulu kedatangan Pak Aric!" Aric yang memang terlahir dengan kesopanan pekerti mengangguk.


Setelah sekretaris itu menghubungi Rico, tak lama ia meminta Aric masuk. Aric mengangguk dan raga tegap itu langsung menjauh dan masuk ke ruangan Rico.


"Kamu datang? Ada masalah kah dengan bisnismu?"


"Aku datang bukan dalam kapasitas bisnis tapi aku datang sebagai seorang lelaki!" Rico tertawa.

__ADS_1


"Aric ... Aric, Lucu sekali bicaramu. Bahkan baru kemarin kamu kegendong-gendong tapi kini kamu ingin bicara sebagai sesama lelaki. Tapi okelah! Silahkan bicara putraku!"


"Aku ingin Papa segera mengecek sum-sum Papa!"


"Hahh ... ternyata kamu datang lagi-lagi untuk membahas itu! Kuucapkan padamu Alaric Abdi perwira, gadis itu bukan anakku!"


"Dia anakmu, Pa! Papa tidak perlu menyangkal, Bagas sudah menceritakan semuanya padaku!" Mata Aric membulat menandakan ia sungguh serius bicara dengan Rico.


"Hahh ... lelaki itu! Apa saja yang ia bicarakan padamu! Dia tak ubah seperti Aruna yang gila harta, kau pasti mengeluarkan banyak uang untuk mencari informasi darinya!" datar Rico mengarahkan kembali matanya pada kertas-kertas di meja kerjanya itu.


"Masalah uang tidak penting. Apa yang ia katakan tidak pantas kubeberkan di sini! Yang jelas Ciara adalah putri hasil hubungan gelapmu dengan Aruna. Cihh ... seorang Papa yang menjijikkan! Kurang apa Mama sampai kau harus mencari mainan di luar!"


"Jaga bicaramu, Ar! Jangan lupa ini adalah kantorku, nama baikku sangat dijunjung tinggi di sini!" Rahang Rico mengeras, ia marah Aric melontar kalimat buruk tentangnya.


"Maaf! Tapi karena ulahmu di masa lalu itu rumah tanggaku dengan Sashi berada di ujung tanduk!"


"Jangan salahkan aku! Tidak ada yang memintamu menikahi wanita itu, bukan?"


"Tapi anakmu sakit! Mereka bahkan hidup miskin! Karena apa? Karena kau hanya mau enak dan enggan bertanggung jawab!"


"Sekali lagi jaga bicaramu, Ar! Wanita itu wanita murahan, aku sudah memberinya banyak uang dan tidak ada hak untuknya menuntut apa pun dariku. Bahkan kebenaran anak itu benar-benar benihku juga belum jelas!"


"Tapi Papa yang merenggut kegadisannya!"


"Tapi bukan tidak mungkin ia melakukan dengan pria lain setelah berhubungan denganku!" lugas rico mencari pembenaran.


"Kata-katamu sangat kasar, Pa!"


"Begitulah dunia mereka! Berfikirlah logis! Mana ada gadis baik-baik yang menjual kegadisan untuk sebuah uang kalau bukan gadis nakal. Oh ya sampai lupa, kau suaminya kau juga pasti sudah merasakan tubuh wanita itu dan merasa memilikinya, jadi kau terus membelanya seperti ini!"


"Aku bukan pria seperti Papa! Aku suami setia! Aku hanya melakukan dengan Sashi istri sahku secara hukum dan agama!"


"Sashi ... bahkan ia bekas adikmu! Entah apa yang terjadi jika adikmu itu sadar. Sifatnya keras sepertiku, ia akan mempertahankan apa yang menjadi miliknya!"


Rico yang merasa Aric mencampuri urusannya terlalu dalam melontar kata yang sepintas otaknya saja. Ya, ia sedang dikuasai kemarahan.


__________________________________________


☕Happy reading😘

__ADS_1


☕Makasih supportnya selalu❤❤


__ADS_2