
Langit semakin gelap, lampu-lampu jalan mulai menghias kota Tangerang. Indah dan semarak. Sashi sejak tadi terus mengemil. Ya, hampir setiap penjaja makanan pinggirin ingin Sashi beli. Aric memang tidak memberi larangan pada Sashi. Tak ingin juga anaknya kelak jadi pemilih makanan.
"Sayang, stop dulu! Biar makanan-makanan yang tadi masuk dulu dan beri jeda," ucap Aric. Ia yang melihat Sashi makan seakan tak terkontrol merasa khawatir perut itu mual dan justru makanan yang telah dimasukkan malah keluar lagi.
"Kakak tapi aku sedang tidak mual!"
"Iya aku senang kamu tidak mual, tapi tidak begitu juga, Sash!" Netra Aric menatap lekat wanitanya.
"Kakak Papa yang buruk, tidak suka anaknya makan!"
"Bukan begitu Sayang, harus ada aturannya juga!" jelas Aric. Sashi membuang wajahnya.
"Tetap saja Kakak melarangku makan, iya kan?"
"Nanti makannya lanjut dimakan di rumah saja, oke! Please tersenyumlah, jangan marah!"
"Kakak sangat cerewet!" Bibir itu memberengut. Sashi sedang tidak ingin mencerna kata-kata Aric.
"Hahh, aku cerewet!" Mata Aric terbelalak mendengar ucapan spontar Sashi. Aric menggelengkan kepalanya. Ia mengelus dada. "Sabar ... Sabar Aric! Ingat kata dokter, emosi ibu hamil sering naik turun. Sabar!"
"Ka-k ... itu ...! Aku mau itu, Kakk!" Belum lama wajah Sashi memberengut kini ia sudah biasa saja seolah tak terjadi apa pun.
"Apa? Mau apa, hem?"
"Kwetiaw! Dan itu juga di sebelahnya! Cimol dan kentang crispy aku juga mau, bumbunya balado campur jagung manis ya, Kak. Oh iya kasih bumbu asin sedikit!" Aric masih bergeming.
"Ka-kak, kenapa diam saja! Sana cepat keluar! Atau aku yang keluar? Ini Kakak yang pangku Shiza dulu!"
"Jangan, jangan! Aku saja yang belikan, kamu di mobil saja!" Sashi tersenyum.
"Bisa gawat kalau Sashi keluar, yang ada semua bakulan berjejer ini dibelinya! Bukan tidak boleh, tapi aku khawatir perutnya justru sakit karena makan terlalu banyak!" Aric terus bermonolog sambil mengeluarkan raganya dari mobil. Ia menoleh ke arah Sashi sesaat dan tersenyum melihat Sashi diam-diam sedang makan batagor yang tadi dibelinya juga. "Sashi ... Sashi ...."
...▪♧♧♧▪...
Waktu menunjukkan pukul 20:30 saat sedan itu menepi ke pelataran rumah keluarga Sashi. Aric keluar lebih dulu dan membuka pintu di samping jok yang diduduki Sashi. Aric meraih Shiza yang tertidur setelahnya. Sashi mengekor dengan membawa aneka bungkusan makanan di tangan.
"Kemana saja? Kenapa malam sekali, Sayang?" Aira langsung menghampiri putrinya.
"Biarlah Bun, toh Sashi pergi bersama suaminya!" Lutfi yang sedang berkutik dengan laptopnya menimpali.
Aira baru menoleh sesaat ke arah sang suami, tapi bayang Sashi sudah tak terlihat. "Lho mana Sashi, Arr?"
__ADS_1
Aric menarik alisnya ke atas ke arah dapur, dilihatnya sekelebatan sweater coklat berbelok ke dapur. "Pasti anak itu mual lagi!" ucap Aira.
"Bukan Bun!"
"Oh ya?"
"Nanti Bunda lihat saja! Aric taruh Shiza ke kamar dulu!" Aira mengangguk.
•
•
Sesaat kemudian Aric kembali ke ruang keluarga. Dilihatnya Lutfi dan Aira duduk di hadapan Sashi. Mereka tampak heran melihat Sashi makan dengan lahapnya, sedang Aric hanya bisa tersenyum. Aric mendekat dan duduk di samping istrinya itu.
"Sayang sudah, nanti kamu mual, Nak!" Aira tampak gelisah putrinya tak sudah-sudah mengunyah.
"Sejak di mobil tadi Sashi seperti itu, Bun. Sepertinya anak Aric nanti akan lahir dengan pipi chubby seperti bakpau!"
"Bunda, Ayah ... lihat Kakak mulai mengejekku!" ucap Sashi dengan wajah memberengut. Walau di depan Aira dan Lutfi, Aric dengan santainya menarik kepala itu dan menciumnya. Aric sungguh gemas dengan wajah memberengut istrinya itu.
"Biar Arr, Ayah lihat sejak hamil baru kali ini Sashi makan begitu lahap. Biar saja Sashi kenyang, kalau Sashi kenyang anak kalian bukankah ikut kenyang pula," ucap Lutfi.
"Aric juga senang kalau Sashi makan dengan lahap, Yah. Masalahnya adalah porsinya, jika terlalu banyak juga tidak baik untuk Sashi," ucap Aric sambil mengusap bahunya Sashi.
"Iya Sashi habiskan yang terakhir ini ya, Bun!" Aira mengangguk.
"Aric memiliki pengaruh besar bagi Sashi. Jika ada Aric, Sashi tampak begitu bahagia. Bahkan mual yang terus ia alami seakan hilang dengan hadirnya aric. Aku harus lebih tegas pada Aric. Ia harus segera menceraikan wanita itu. Ya, yang terbaik bagi Sashi adalah dekat suaminya. Sashi membutuhkan Aric!" monolog Lutfi melihat bahasa tubuh Aric yang begitu menyayangi putrinya.
"Arr ...." Lutfi memanggil Aric setelahnya.
"Iya, Yah?"
"Ikut Ayah sebentar, Nak!" Aric membuntuti Lutfi ke ruang kerja ayah mertuanya itu.
"Duduklah!" Aric menurut.
"Ciara sudah mendapat donor, operasi sudah dilakukan. Jadi kapan kamu menceraikan wanita itu?"
"Ada yang Aric sedang persiapkan, Yah. Sekitar 3 hari semua akan beres dan Aric akan melontar cerai pada aruna," jawab Aric dengan tenang.
"Kalian menikah siri, apa pula yang sedang disiapkan? kamu tinggal mengucaokan talak dan semua berakhir, mudah kan?" Wajah Lutfi memancarkan rasa ingin tahu yang besar.
__ADS_1
Aric menaric napas itu panjang baru bicara. "I-tu, Yah. Hmm ... Aric sedang mengurus Asuransi un-tuk pendidikan Ciara." Aric tampak menunduk. Ia sudah bisa menebak reaksi ayah mertuanya itu.
"Lagi-lagi kamu bersikap sok pahlawan! Dia bukan siapa-siapamu, untuk apa memikirkan sekolah anak itu? Jika ingin bersodaqoh sebab Aruna janda, banyak janda yang lain yang sudah tua dan tidak bisa bekerja. Aruna itu masih muda, bukan? ia tentu masih bisa bekerja!"
"Ma-af Yah, ada hal yang tidak bisa Aric ceritakan dan Ciara berhak mendapat pendidikan yang tepat. Aric merasa memiliki tanggung jawab pada Ciara."
Lutfi menyipitkan matanya, berusaha menerka. "Tunggu! Jangan bilang sesungguhnya Ciara anak-----
"Ayah ... tidak begitu! Maaf Aric tidak bisa katakan tapi semua tidak seperti yang Ayah fikir."
"Ya sudah, Ayah pegang ucapanmu. Tiga hari lagi Ayah harap kamu sudah bercerai dari wanita itu!"
"In Syaa Allah."
"Kamu tentu tahu arti kata yang baru saja kamu ucapkan. Jadi berusahalah untuk menepati!" Aric mengangguk.
"Ayo kita ke depan! Jangan buat Sashi bingung!"
•
•
"Ayah kenapa bicara sembunyi-sembunyi dengan Kakak? Ayah tidak mempersulit Kakak, kan?" Melihat Lutfi dan Aric mendekat, Sashi langsung bangkit dan merangkul lengan Lutfi.
"Mana mungkin Ayah menyusahkan Papa dari anak-anakmu!" Lutfi mencium kening Sashi. Sashi tersenyum.
"Baiklah, jangan tidur terlalu malam dan jangan lupa ibadahnya juga! Ayah istirahat lebih dulu sebab besok Ayah harus mengisi kajian subuh. Ayo Bun!" Baru berjalan 2 langkah, Lutfi berbalik.
"Aric, besok ikutlah ke kajian subuh Ayah!"
"Baik, Yah!"
Tak berselang lama raga Lutfi dan Aira sudah tak terlihat.
"Ka-kak ... Aku mengantuk ayo istirahat!"
"Iya, ayo."
__________________________________________
☕Apa yang dibicarakan Sashi dan Aruna di bab setelah ini, ya😄
__ADS_1
☕Happy reading❤❤