
Kedua raga semakin dekat dengan posisi Kaysan. Menatap tubuh wanita yang sedang bersama Kaysan, Aric mulai gelisah. Ia seakan tak asing dengan bentuk tubuh dan rambut yang tergerai tampak dari belakang itu.
"Nah, Kay ketahuan kan sedang kencan di sini! Cantik sekali wanita yang bersama Kay, Kay pintar mencari kekasih!" Sashi berdiri di sisi meja menatap Kaysan dan Salwa bergantian sambil tersenyum, sedang Aric memilih menghentikan langkah tepat di belakang wanita yang bersama adiknya. Dadanya sesak, bahkan harum parfum itu masih bisa ia kenali. Harum parfum wanita yang ia cintai bertahun silam, yang menghilang tak ada kabar di negeri orang.
Salwa bingung seorang wanita dengan perut buncit mendatangi mejanya. Ia memperhatikan wanita hamil tersebut.
"Siapa wanita ini? Ada hubungan apa dengan Kay? Ia bicara seolah sangat dekat dengan Kay!" batin Salwa.
Pun Kaysan seketika menatap Aric yang berdiri di belakang Salwa. Kaysan yakin betul kakaknya itu sudah menyadari keberadaan Salwa. Ya, raut tak tenang Aric tergambar jelas.
"Kay ... kenapa diam saja. Kay tidak mau kenalkan wanita ini pada Sashi?" lugas Sashi menatap Kaysan.
"Siapa dia, Kay?" Salwa yang semakin penasaran melontar tanya.
"Dia istriku!" Suara lantang seketika terdengar. Sashi tersenyum, Kaysan bergeming menatap Aric, sedang Salwa yang tak asing dengan suara itu langsung menoleh.
"Arr ...!" lirih kata itu terucap. Aric mendekat.
"Kenalkan ini istriku, Wa," ucap Aric mengusap bahu Sashi.
"Kakak sudah kenal kekasih, Kay?" ujar Sashi seketika.
"Dia bukan kekasihku, Sash," lirih Kaysan.
"Arr ... bagaimana kabarmu? Sepertinya ka-mu ba-ik!" ucap Salwa menatap Aric sambil beberapa kali melirik sekilas Sashi.
"A-ku baik! Sangat baik!" Setelah melontar jawab pada Salwa, Aric menatap Sashi.
"Sash ... kita duduk dulu, ya!" Aric memundurkan kursi meminta Sashi duduk. Pun Kaysan yang duduk di sisi Sashi spontan bangkit dan memindahkan tubuhnya ke kursi di hadapan Sashi di sisi Salwa. Bentuk meja itu memang kotak dan hanya tersedia 4 kursi. Aric duduk setelahnya, menggenggam jemari Sashi yang duduk menyiku di sampingnya. Tatapan mata Aric tampak mengarah pada Salwa yang berada tepat di hadapannya.
"Kakak kenapa terus menggenggam jariku, kita seperti mau menyebrang," ucap Sashi sambil tersenyum.
"Sashh, ada hal yang ingin kuberitahu padamu!"
"Iya, tapi aku haus, Ka-k!"
"Baik, kamu mau pesan apa, Hem?" Aric menatap wajah istrinya.
"Aku mau co-la, apa bo-leh, Kak?"
"Jangan yang itu, pilih yang lain, oke!"
"Aku janji hanya kali ini saja, Ka-k!" Sashi memohon.
"Tidak Sash, kamu harus fikirkan kandunganmu, oke!" ucap Aric melirik Salwa sekilas. Salwa membuang wajah ke lain arah.
"Hah, Kakak jahat! Tidak sayang aku!"
__ADS_1
"Sash! Jangan kekanakan! Es teh manis saja, ya!" lugas Aric menaikkan nada suaranya.
"Ka-kak? Kakak biasanya akan langsung mengungkapkan perasaannya saat aku kesal tapi kini kakak justru berucap keras. Kakak seperti bukan kakak yang kukenal!" batin Sashi bergemuruh, ia bergeming terus menatap wajah suaminya itu.
"Sash?" panggilan Aric mengaburkan fikir Sashi.
"Terserah Kakak sa-ja!" lirih Sashi akhirnya.
"Kakak juga memanggil nama, padahal biasanya ia memanggilku dengan sebutan sayang. Ada apa dengan Kakak? Apa aku berbuat kesalahan?" fikir Sashi lagi.
Kaysan menyaksikan segalanya, ia juga kaget kakaknya bicara meninggi pada Sashi. Ada sesak ia rasa. Ya, Kaysan tidak terima Aric berucap keras pada Sashi terlebih ada Salwa saat ini.
"Jadi dia istrimu, Arr?" Melihat suasana tenang, Salwa melontar kata. Aric mengangguk. Bibir Salwa membulat, ia tersenyum setelahnya dengan senyuman yang sulit diartikan. Sashi masih menunduk.
"Oh ya, Sash. Ada yang harus kuberitahu perihal wanita yang duduk bersama kita saat ini," ujar Aric. Sashi mulai mengangkat wajah, ia menatap Aric, Salwa dan Kaysan bergantian. Otaknya berusaha menerka tapi ia lumpuhkan. Ya, setelah perlakuan Aric beberapa saat lalu yang menyatakan dirinya kekanakan membuat Sashi malas banyak bicara. Ada desir kesedihan yang ia simpan.
"Wanita ini bernama Salwa, ia bukan kekasih Kaysan. Aku mengenalnya, pernah dekat dengannya tepatnya!" Sashi semakin serius menatap netra Aric. Rasa penasaran memenuhi otaknya.
"Begini Sash. Salwa a-da-lah man-tan kekasihku!"
"Oh." Sashi mengubah arah tatapannya pada Salwa. Ia menatap intens Salwa.
"Jadi wanita ini mantan kekasih kakak! Apa perubahan sikap kakak karena ada wanita ini? Dia cantik, sangat cantik dan anggun. Bagaimana ini?"
Baru mendengar kata mantan kekasih yang jelas-jelas sosoknya melebihi dirinya, rasa sedih dirasa Sashi. Ia menahan sekuatnya agar tidak terlihat sedih, menahan keras bulir itu tetap dalam matanya.
"Wa, kenalkan ini istriku. Namanya Sashi, kami sedang menanti kehadiran bayi kembar kami!"
"Hai Sash, selamat untuk kalian," ujar Salwa. Sashi mengangguk.
"Oh ya, Wa. Kamu sudah lama berada di Indonesia?"
"Belum lama. Sekitar 3 hari lalu aku sampai. Rencananya aku mau menemuimu tapi belum terlaksana. Aku senang kamu hidup dengan baik, Arr!" ucap Salwa.
"Alhamdulillah, semua berkat kehadiran Sashi. Oh ya, kudengar cita-citamu menjadi model sudah tercapai?"
"Benar Arr, bahkan kini aku sudah mendapat tawaran dari beberapa designer terkenal Indonesia."
"Wahh hebat itu! masalah om Tyo, aku turut berduka atas kepergiannya," lirih Aric.
"Semua terjadi begitu cepat, Arr! Bahkan aku tak menyadari hari itu adalah hari terakhir Papa."
"In Syaa Alloh, om Tyo sudah berada di tempat yang terbaik."
"Amiinn. Kamu tidak berubah Arr, selalu tulus. Padahal Papa dulu sempat bersikap buruk padamu!" Aric tersenyum getir. Aric yang lama tak bertemu terus berbincang tak menyadari bibir istrinya mulai memberengut, rasa cemburu itu muncul. Kaysan yang memang senang memperhatikan Sashi menyadari itu.
"Oh ya Kak, bagaimana pemeriksaan bayi kalian tadi?" sela Kaysan berusaha mengingatkan keberadaan Sashi pada Aric.
__ADS_1
"Bayi-bayi kami Alhamdulillah sehat, tapi sayang sekali mereka masih belum mau menunjukkan jenis kelaminnya, betul begitu kan, Sayang?"
"Ingat juga Kakak memanggilku sayang!"
"I-ya," lirih Sashi.
Tak berselang lama, seorang gadis kecil tampak berlari ke arah mereka. Ia seketika memeluk perut buncit Sashi. Wajah Sashi seketika berbinar.
"Mami ada di-sini?"
"Hai, cantik Mami. Sudah puas mainnya, Hem?" tanya Sashi menciumi wajah Shiza.
"Sudah, Shiza mau naik wahana dan kereta yang ada di atas tapi tidak bisa, katanya usia Shiza belum cukup. Kak Lora ajak Shiza main-main di sana!" celoteh Shiza menunjuk berbagai game tak jauh dari mereka. Sashi tersenyum.
"Terima kasih sudah menjaga putriku!" ucap Sashi.
"Jadi ini istrinya kak Kaysan? Cantik sekali seperti Shiza!" ucap spontan Lora.
"Lora, kamu salah dia istri Aric bukan istri Kaysan," utar Salwa.
"Kaysan belum menikah," tambah Aric.
Bibir Lora membulat. Walau agak bingung tapi setidaknya ia senang Kaysan belum menikah.
"Lho, bagaimana kak Aric juga ada di sini?" bingung Lora menatap Aric.
"Apa ini Aqis?" tanya Aric
"Ternyata kamu masih kenal Aqis. Iya betul, Lora adalah Aqis," ujar Salwa.
"Apa hubungan kak Kaysan dengan kak Aric?"
"Kamu itu sama Kaysan masih muda tapi sama-sama tidak peka! Kaysan adalah adik Aric. Teman mainmu dulu saat kecil!" Salwa menggoda adiknya.
"Oh ya, saat dulu kak Salwa sering kencan dengan kak Aric ke pantai itu, ya? Aku ingat sekarang! Dulu kak Aric dan kak Salwa nakal, pergi berduaan saja sedang aku dan kak Kay disuruh bermain pasir dan ditinggal begitu saja!"
Sashi merasa bagai orang asing saat ini, hatinya tidak senang berada di sana dan mendengar segala perbincangan mengenai masa lalu itu.
"Ka-kak, aku letih mau pulang! Shiza juga sudah letih sepertinya!" ucap Sashi menatap lekat wajah Aric.
"Sebentar lagi ya, Sayang!"
...__________________________________________...
☕Happy reading😘
☕Untuk yang sering tanya Visual Sashi dll. Silahkan tengok di bab 21 yang judulnya "Penting Gak Penting" yaa❤️❤️
__ADS_1