Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
TANGISAN YANG TAK ASING


__ADS_3

"Kakak kenapa?" Ternyata Sashi melihat perubahan wajah suaminya itu.


"Tidak apa-apa. Shiza sudah pulas. Sini aku pindahkan!" Aric mengangkat dan meletakkan tubuh Shiza ke ranjang.


"Sash ... jangan pergi tetaplah di sini!" Melihat Sashi mengangkat tubuhnya, Aric sudah khawatir.


"Aku akan mengisi teko sebentar dan segera kembali!" Aric mengangguk.


Beberapa saat Sashi kembali, Aric yang sedang duduk di sofa langsung meminta Sashi duduk di pangkuannya. Sashi bingung tapi ia menurut. Aric melingkarkan lengannya ke tubuh Sashi. Menenggelamkan wajahnya ke bahu istrinya itu.


"Kakak kenapa?"


"Aku rindu kamu!" Sashi mengangguk.


"Sash ... andai aku punya kesalahan apa kamu akan memaafkannya?"


"Kakak kan papa anak-anakku pasti aku maafkan, asal bukan masalah wanita ketiga seperti sebelumnya!" ucap Sashi.


"Tentu tidak akan ada lagi wanita ketiga diantara kita, tapi aku tidak tahu jika muncul lelaki ketiga!" Sashi mengangkat wajah Aric di bahunya.


"Maksud Kakak apa? Kakak tidak percaya aku?" Mata Sashi membulat, ia marah. Aric bergeming menatap wajah itu.


"Mana bisa aku berpaling dari Kakak, Kakak kan lelaki baik, lagi pula aku wanita hamil, mana ada yang suka dengan wanita hamil," lirih kata itu terucap. Aric tersenyum menahan dada yang mulai terasa sesak.


"Terima kasih," lirih Aric setelahnya.


"Kakak jangan pernah berfikir buruk padaku, aku bukan wanita nakal. Aku punya satu suami yang sayang itu sudah cukup! Aku tidak akan melirik lelaki lain!" lugas Sashi mengusap-usap pipi Aric. Aric bergeming, namun Sashi justru tampak tersenyum.


"Kenapa tersenyum, hem?"


"Kakak seperti ini seperti anak kecil, hiii." Sashi terus tersenyum.


"Nakal!" Aric menjawil hidung itu sambil terus mengatur napasnya.


"Sash ...."


"Iya, Kak?"


"Kamu harus selalu di sampingku! Sampai bayi kita lahir, anak-anak kita besar, sampai aku menua, sampai maut memisahkan, selamanya! Harus! Oke!" Sashi mengangguk, netra itu mulai berkaca.

__ADS_1


"Kakak jangan bicara maut, aku jadi sedih!" Sashi melingkarkan lengannya di leher Aric, menyatukan wajah keduanya. "Cukup katakan kita akan selalu bahagia bersama, itu saja!"


"I-ya ma-af!" dicium pipi lembut Sashi.


"Sash ...."


"Hem?" Wajah polos itu menatap lekat Aric.


"Sebenarnya ada suatu hal yang ku-tutupi da-rimu!" Suara itu terdengar berat dan susah sekali terucap namun Aric merasa harus memberitahu itu. Melihat ia berbicara diam-diam dengan Rico saja Sashi sudah marah, Aric tidak ingin menyembunyikan hal lain lagi. Aric membenarkan ucapan Sashi, harusnya tidak ada rahasia diantara mereka. Rahasia yang akan menjadi boomerang dalam hubungan keduanya. Kesalahan besar yang cepat lambat pasti akan terbuka. Aric kini siap membukanya, berharap guncangan itu bisa ia redam.


"Ka-kk, apa yang Ka-kak tutupi dari aku? Katakan saja!" Melihat Aric terus bergeming, Sashi menyapu pipi itu.


"Sebelumnya, kamu harus ingat janji kita, Sash! Kamu harus selalu ada di sisiku!" Sashi menatap Aric penuh tanya, ia mengangguk setelahnya.


"I-ni mengenai Kay."


"Kay?"


"Iya, dia sebenarnya------


TOK ... TOK ....


"Ka-kak, ada Bik Sumi!"


"Sebentar kamu di sini dulu!" Sashi mengangguk.


Aric membuka pintu itu, hingga tampilah wajah wanita paruh baya yang kerap membantu segala pekerjaan di rumah mereka.


"Iya, Bik?" tanya Aric.


"Ada tamu di bawah mencari Bapak?" ucap Sumi.


"Kamu tanya dia dari mana?"


"Katanya dia adik Bapak? Dia ingin bertemu Bapak dan Mbak Sashi." Dada Aric seketika sesak.


"Kay ... akhirnya ia ke sini? Ia mencariku dan Sashi. Apa ia sudah ingat semua?"


"Baik saya akan segera turun!" Sumi mengangguk dan beranjak. Aric mendekati Sashi.

__ADS_1


"Siapa, Kak?"


Aric menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab. "Bukan orang penting! Kamu di sini saja, aku akan menemuinya ke bawah!" Sashi mengangguk lirih. Aric keluar kamar.


"Maaf Sayang aku berbohong, bahkan aku belum menceritakan tentang Kay. Tidak! Aku harus bisa membuat Kay pergi dan memberi tahu Sashi dulu! Kenyataan ini belum boleh terungkap sekarang. Sashi jangan sampai melihat Kay!"


Kaki itu melewati undakan-undakan anak tangga hingga sampai ke lantai bawah. Raga itu langsung menuju ruang tamu di mana Kaysan berada. Seorang pria rupawan yang masih berdiri dengan sebelah tongkat di tangan langsung mendekat.


"Kenapa Kakak turun sendiri, di mana Sashi?"


"Kay, duduklah dulu!"


"Kak, kenapa selama ini menutupi semua! Sashi wanita yang sering aku tanyakan nyatanya tinggal bersamamu. Mengapa kakak, mama dan papa menutupinya? Mengapa pula wanita di rumah sakit itu mengatakan Sashi adalah kekasihku. Ada apa semua ini? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya?"


Eaaa .... Eaaa .... Ma .... Ma .... Eaaaa ....


"Kakak! Kakak ...! Kakaak .... Tolong Kaakkkkk!"


Suara tangisan dan teriakan yang berasal dari lantai atas memenuhi sentero rumah. Aric yang sadar itu adalah suara anak dan istrinya langsung panik. 


"Sashi!" Tanpa menghiraukan sekitar kaki itu langsung melangkah ke lantai atas.


Tangisan bayi itu masih terdengar dan justru semakin kencang saja membuat lelaki rupawan yang sedang mencari sebagian ingatannya terusik.


"Tangisan i-ni? Mengapa aku tak asing?" Lelaki itu terus mencengkram kepalanya, berusaha keras mengingat. Kepala itu semakin sakit, suara bocah semakin memenuhi isi otaknya. Ia berdiri, suara yang memekak telinga seakan menghipnotis raga itu, ia bahkan lupa kakinya masih membutuhkan alat bantu.


Otot-otot kaki itu yang hari kemarin hanya menunjukkan sedikit demi sedikit perubahan. Entah mengapa hari ini seakan bersinergi dengan baik. Lelaki itu berjalan tanpa penopang dengan pandangan terus tertuju ke atas. Sungguh tangisan bayi itu bak mesin waktu yang perlahan memutar kembali adegan-adegan kebersamaan sang lelaki dengan wanita yang di masa lalu begitu ia cintai.


Ya, perlahan ingatan itu kembali. Ia terus mencengkram kepala. Ia mulai mengingat pula saat sang gadis yang muncul di memorinya mulai menangis menyatakan dirinya hamil. Kaki itu semakin cepat melewati undakan demi undakan menuju kamar sang kakak. Bayangan ia mendatangi rumah sang gadis juga mulai muncul, saat ia melontarkan akan bertanggung jawab hingga persiapan pernikahan itu mulai dilakukan. 


Dada itu semakin sesak bersamaan dengan nyeri di kepala semakin menguasai. Ia terus memaksa otak itu berfikir dan terus mengingat. Hingga bayangan kembali muncul, ketika ia masih dengan almamater kampus mengendarai motor besar itu dengan penuh semangat sambil membayangkan pernikahan yang akan digelar keluarganya. Ia melihat jam dan jam ditentukan semakin dekat namun ia masih menembus jalan melewati satu persatu kendaraan di depannya. Melihat suasana jalan yang senggang ia mulai menambah kecepatan motornya hingga tiba-tiba dilihatnya sebuah truk muncul dari sebuah tikungan dengan kondisi ban pecah, truk itu berjalan tidak stabil ia berusaha menghindar namun braakkk …. Ia tak ingat lagi setelahnya.


Langkah lelaki yang telah sampai di lantai atas itu goyah. Ia telah menemukan ingatannya. Ingatannya kembali. 


"Sashi … Sashi adalah calon istriku, ia kekasihku … ia hamil anakku. Tapi mengapa Sam mengatakan aku akan bertemu Sashi di-sini? Mengapa Sashi ada di rumah ka-kakku?"


_________________________________________


☕Happy reading😘

__ADS_1


☕Jangan lupa like, komen dan vote untuk karya ini yaa❤❤


__ADS_2