
Seminggu setelahnya ....
"Apa Cia akan sehat setelah dioperasi, Pa?"
"Tentu saja, Cia bisa bermain bersama teman-teman, sekolah, berbelanja ke Mall, ke tempat hiburan. Ke mana saja dan apa pun bisa lakukan setelah pulih!"
Aric senang, sangat senang sebab besok adalah jadwal operasi Ciara. Setelah hari itu Kaysan ia ajak mengecek kembali sum-sumnya dan memang hasilnya sama seperti pengecekan sebelumnya bahwa sum sum keduanya cocok, Aric tak menunggu lama segera menjadwalkan operasi Ciara. Pun kondisi Ciara juga sedang sangat baik.
Aric tak menyadari Aruna yang senang mencuri dengar pembicaraannya dengan Ciara tampak gelisah karena berarti hubungannya dengan aric sedang di ujung tanduk. Walau Aric kerap melontar akan tetap memenuhi kebutuhan hidup keduanya pasca bercerai, namun tetap berat bagi Aruna melepas labelnya sebagai istri Aric. Aric adalah lelaki sempurna untuknya.
Hari berganti Kaysan sudah berada di sebuah kamar di rumah sakit bersebelahan dari kamar Ciara. Walau Rico melarang pembedahan itu, namun ia tak dapat berkutik atau Kalina akan curiga padanya. Aric menjaga ketat kamar Kaysan agar Aruna tidak dapat memasukinya. Aruna bertambah geram saja terlebih saat melihat 2 ranjang pasien itu masuk ke ruang operasi.
Beberapa waktu berlalu, pengambilan sum sum itu selesai, Kaysan dikembalikan ke kamarnya. Bagaimana pun Kaysan pernah koma jadi kondisinya berada dalam pemantauan dokter. Sebaliknya operasi Ciara masih berlangsung. Aric masih berdiri di muka ruang operasi itu, namun Aruna diam-diam mengendap ke kamar Kaysan.
"Bodoh ... bahkan setelah sadar pun ku tetap pria bodoh. Kau meloloskan jalan kakakmu berpisah dariku! Kau tidak sadar perilakumu akan membuat hubungan kakakmu dengan kekasihmu itu semakin erat. Lelaki bodoh! Aku menyesal menyadarkanmu malam itu toh nyatanya kau hilang ingatan. Sadarlah Kaysan! Rebut Sashi dari tangan Kakakmu! Sashi milikmu! Selamanya akan menjadi milikmu sebab kalian memiliki buah hati yang akan mengikat itu!"
"Aruna!"
"Ma-ss?"
Aric yang bingung tak mendapati keberadaan Aruna segera mencari keberadaan wanita itu. Dan benar saja dugaannya bahwa Aruna mendatangi Kaysan. Ada kelegaan di hati Aric melihat Kaysan belum sadarkan dari dari pengaruh obat biusnya. Mata itu masih terpejam.
"Keluar dari kamar adikku! Percuma apa pun yang kamu ucap adikku masib berada dalam pengaruh obat bius. Sungguh aku tak menyangka ternyata kau yang membantu menyadarkan Kaysan. Tapi sungguh perilaku mulia, terima kasih. Ucapan itu tulus dari hati Aric. Ya, dengan sadarnya Kaysan pembedahan Ciara hari ini bisa dilakukan itu berarti pernikahan mereka tinggal menunggu waktu saja.
"Kamu jahat, Mas! Kamu menggunakan adikmu yang belum sehat sepenuhnya untuk kepentinganmu! Usaha merebut Sashi selamanya dari tangan adikmu!"
__ADS_1
"Jaga kata-katamu!" geram Aric beberapa kali menoleh pada Kaysan khawatir adiknya itu sudah siuman.
"Memang benar, kan? Aku sudah tau semua, Mas! Kamu hanya suami pengganti. Harusnya hari itu Kaysan yang menikah dengan Sashi karena Sashi sudah hamil bayi Kaysan. Tapi sebuah kecelakaan membuatmu menggantikan adikmu yang saat itu dikabarkan sudah meninggal. Bagaimana? Apa ceritaku ada yang salah?"
"Kukatakan sekali lagi keluar dari ruangan ini! aku tak punya waktu meladenimu! Pergi dan siapkan dirimu untuk mendengar kata cerai dariku!"
"Tidak, Mas! Jangan lakukan, please! Biarkan aku tetap menjadi istrimu, jangan ceraikan aku, Mas!" Aruna yang beberapa saat lalu gusar dan bersuara lantang kini tampak mengiba di bawah kaki Aric. Ia sudah tak perduli apa itu harga diri. Aric jengah, adiknya butuh istirahat. Ditaric lengan Aruna menjauh hingga keluar kamar. Pun Aric menghubungi dua orang yang sebelumnya diminta untuk menjaga kamar Kaysan. Dua orang itu sedang di kantin nyatanya, mereka fikir operasi itu akan lama tapi nyatanya Kaysan dengan cepat keluar dari ruang operasi itu.
Aric beranjak dari kamar Kaysan dan menuju ruang operasi lagi. Ia tak menyadari ... setelah kepergiannya mata itu terbuka, adiknya ternyata sudah sadar dari pengaruh obat biusnya.
...▪♧♧♧▪...
Hari mulai gelap, bukannya Aruna menjaga putrinya yang baru saja dioperasi. Ia justru duduk di sebuah klub dengan minuman alkohol di tangan. Ia frustasi, berbagai rencananya telah gagal. Belum lagi bisa bersama Aric, ikatan itu dapat dipastikan akan segera berakhir.
Kesedihan memenuhi hatinya, ia muak dengan kehidupan. Bayangan keterputukan di kucilkan masyarakat muncul. Kesulitan ekonomi, kesepian, rasa tak berharga memutari otaknya. Bahkan ibu yang melahirkan juga menjauhinya. Ya, setelah Anisa tau Aruna mendapat uang hari itu dari menjual tubuhnya Anisa marah. Bahkan saat itu Aruna sudah mengandung. Tapi Anisa tak bisa mentolerir perilaku Aruna sebab baginya harga diri itu penting dan Aruna telah mencoreng harga diri dan nama baik keluarganya.
Kata-kata cacian, hujatan terus keluar dari bibir berwarna merah mencolok itu. Tapi sang pria tak menghiraukan, ia tampak rindu dengan tubuh wanita itu. Wanita yang dulu menjadi pelampiasan hasratnya. Kini ia menemukannya lagi. Ia yang sudah terbakar hasrat melihat penampilan wanita itu tampak gemulai dengan pakaian yang minim bahan langsung membawa Aruna ke tempat tinggalnya. Aruna tak berdaya. Hingga terjadilah malam yang kelam bagi Aruna kembali.
...▪♧♧♧▪...
Matahari merangak naik, membuat pancaran teriknya memasuki jendela bangunan kotak pinggiran dengan ranjang seadanya itu. Seorang wanita mengerakkan tubuh saat bias panas menyorot wajahnya. Ia terbangun dan kaget. Bahkan tubuh itu polos tanpa penutup. Otaknya masih menerka yang terjadi, namun tentunya ia paham apa yang baru ia alami. Air mata itu tumpah. Dengan kepayahan sakit di sekujur tubuh ia bangkit meraih pakaian yang dikenakan semalam.
Aruna baru saja menuju pintu hendak keluar, seorang laki-laki masuk dengan plastik di tangan. Ia langsung tersenyum menyeringai melihat Aruna.
"Kamu?" Aruna kaget melihat wajah itu. Wajah orang yang dibencinnya. Ia seketika mendekat dipukul-pukul raga tegap itu.
__ADS_1
"Kurang ajar! Kamu telah memperkosaku! Perilakumu bia dap. Kamu lupa aku bukan istrimu lagi. Aku istri dari seorang pria! Awas saja! Aku akan menceritakan semua ini pada suamiku dan ia akan memenjarakanmu! Dan tempat ini? Sangat kumuh! Lelaki miskin!"
Bukan takut, lelaki itu justru tertawa. Ia yang sebelumnya pasrah Aruna terus memukulinya kini mendorong tubuh itu ke ranjang.
"Jangan banyak bicara! Suami mana yang kamu maksud? Suami yang tidak pernah menyentuhmu? Atau suami yang sebentar lagi akan menceraikanmu! Ayo ceritakan saja malam indah yang kita lalui semalam! Kita lihat apa tanggapannya! Ia mengasihanimu atau semakin muak denganmu!"
"Kau sangat kelewatan Bagas!"
"Waww, Panggilanmu membuatku kaget. Mana kata mas yang dulu sering kau gunakan untuk memanggilku?"
"Pria breng sek!" Bagas terus tertawa melihat kemarahan Aruna.
"Oh ya, terima kasih aku senang dengan pelayananmu semalam, tapi berhubung aku tak punya uang. Toh uangmu juga sudah banyak sekarang, bukan? Ini untuk imbalan tubuhmu semalam!" Serta merta Bagas melempar sebungkus nasi uduk ke atas tubuh Aruna.
"Kau sangat menghinaku!" Aruna bergegas keluar.
"Tunggu Sayang ... kau melupakan barangmu!" Aruna menoleh.
"Itu tasmu! Ponselmu terus berdering sejak tadi. Untuk uang aku mengambilnya sedikit untuk membeli sarapan!" Aruna keluar kontrakan itu sambil berdecih. Ia mengangkat ponsel yang masih terus berdering itu.
"Kamu di mana? Ciara terus menanyakanmu!"
__________________________________________
☕Happy reading😘
__ADS_1
☕Setelah ini alurnya mulai cepat yaa, maaf kalau agak lambat selama ini❤❤