Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
ULAH SHIZA


__ADS_3

"Tadi kenapa Kakak berkata meninggi begitu, aku tidak suka!" Sashi mendangakkan wajahnya menatap pancaran tampan yang terus mencium keningnya. Ya, Aric sadar tadi berbuat salah. Ia bicara keras di depan Sashi, Sashi pasti kaget atas perilakunya.


"Ma-af ... sudah kutahan agar tidak cemburu, tapi melihat ia yang perhatian padamu dan menyangsikan kalau aku menjagamu dengan baik, aku tersulut juga," lirih kata itu terucap. Sashi mengusap wajah yang merasa bersalah itu.


"Aku akan menjaga jarak dengan Kaysan untuk Kakak!"


"Tidak perlu, aku yang salah! Harusnya aku percaya padamu. Ya, kalaupun rasa Kaysan masih ada tapi rasamu hanya padaku!" Sashi mengangguk, ia menarik leher Aric dan mencium singkat bibir itu.


"Kakak harus selalu percaya kalau aku tidak cinta Kay lagi!" lirih Sashi. Kini Aric yang menahan wajah Sashi dan berkali mencium singkat bibir istrinya itu. Keduanya sama-sama tersenyum setelahnya.


"Sudah malam, kita tidur, ya!"


"Tunggu, Kak! Satu lagi! Kenapa Kakak melarangku mengatakan perihal Lora adik Salsa?" Bibir Sashi tampak memberengut.


"Ada sesuatu yang belum aku ceritakan padamu!"


"A-pa?" Sashi menatap lekat mata Aric.


"Ingat om Hariz yang dendam pada Papa, sebab adiknya pernah disakiti Papa?"


Kelopak mata Sashi seketika melebar dengan jemari menutup mulutnya. "Siska? Nama wanita i-tu Sis-ka, mungkinkah?"


"Benar! Siska wanita itu wanita yang sama yang merupakan mama Salwa!"


"Bagaimana seolah dunia begitu sempit?"


"Setelah semua kebenaran tentang Aruna terbuka, aku menyuruh orang mencari tau tentang wanita bernama Siska itu, aku pun saat itu kaget ternyata dia mama Salwa yang depresi. Ya, ia depresi ditinggalkan Papa."


"Pa-pa ta-hu?"


"Tahu! Pun aku baru sadar mengapa selama ini Papa dulu selalu tak setuju dengan hubunganku dan Salwa! Ternyata Salwa berhubungan dengan masa lalunya!"


"Dan kini Kay dekat dengan Lo-ra?" Mendengar nama Kay, gusar Aric rasa, ia kembali teringat ucapan adiknya itu yang akan merebut Sashi jika ia tak bisa menjaganya.


"Sudah, kita tidur ya Sayang!" Aric membenahi selimut itu hingga menutupi tubuh Sashi. Aric mulai bersolawat sambil mengusap-usap perutnya Sashi. Walau banyak hal di kepala Sashi tapi ia sadar tubuhnya butuh istirahat. Pun ia memilih membenamkan wajahnya ke dada Aric, menghirup harum parfum di tubuh Aric sangat ia sukai. Tak menunggu lama Sashi tertidur.


Aric bangkit dan mulai mengecek pekerjaannya. Mempertimbangkan kehamilan Sashi yang semakin dekat dengan waktu persalinan, Aric memilih bekerja dari rumah, ia mulai berfikir bagaimana cara agar tetap bisa memantau bisnisnya dengan maksimal walau ia tetap di rumah. Pun ia akhirnya meminta Cahyo seorang yang ia percayai untuk menambahkan CCTV di beberapa titik sentral showroom yang disambungkan ke laptop miliknya. Aric juga mengganti acara meeting tatap muka setiap pagi dengan meeting via zoom.


Di tengah aktivitasnya, Aric teringat ucapan Kay mengenai ada yang tidak beres dalam pertunangan Salwa. Kegundahan yang seketika ia singkirkan karena akan tidak adil untuk Sashi jika ia memikirkan wanita lain walau hanya sebagai kapasitas seorang teman.


Aric menuju ranjang kembali. Menatap wajah polos Sashi yang sedang tidur sungguh menyenangkan untuk Aric. Sashi yang tidur sembari meringkuk dengan bertopang bantal di punggung dan kakinya membuat Aric gemas saja. Ya, istrinya terlihat tak ubah seperti bayi besar cantik yang sangat menggemaskan. Aric mendekatkan wajahnya pada perut Sashi, mencium perut itu perlahan dan merebahkan diri setelahnya.


Baru tubuhnya mendarat sempurna dan berupaya menyamankan diri, lengan-lengan Sashi langsung memeluk erat raga Aric, tak hanya itu bahkan kaki Sashi bersinergi menjadikan tubuh tegap Aric bak guling. Aric bergeming tak berdaya, posisi tubuh tanpa pakaian dalam yang menempel sempurna ke tubuhnya sungguh membuat sesuatu di bawah sana sesak.


"Sayang ... bagaimana ini? Tak mungkin aku memintamu melayaniku padahal kamu terlihat sangat letih!"


Akhirnya Aric memilih mengambil bantal dan beranjak perlahan, ia menuju sofa dan menetralkan rasanya. Baru bisa memejamkan mata sesaat, Sashi bangun dan mencarinya.

__ADS_1


"Ka-kk! Aric menyingkirkan kantuk segera menghampiri.


"Iya, Sayang?"


"Kenapa Kakak tidur di sofa? Apa aku berbuat salah?"


"Tidak, sama sekali tidak!" Aric merebahkan diri lagi, dengan cepat Sashi lagi-lagi memeluknya. Aric terus memijat kepalanya, hasrat yang belum lama mereda kini muncul lagi.


"Sash ...." Panggilan itu akhirnya terlontar.


"Hmm ... ada a-pa, Ka-kk?" Respon itu terucap dengan mata terpejam karena Sashi merasa sangat mengantuk. Belum lagi meminta izin, Aric sudah tidak tahan, ia mencium rahang dan turun ke leher istrinya itu.


"Ka-kak, mau a-pa?" Sashi menahan wajah yang mulai mengabsen tubuhnya.


"Aku mau kamu bo-leh ya, Sa-yang?" Bibir itu bertanya, tapi seperti biasa jemari itu sudah meloloskan satu persatu kancing dari lubangnya.


"Ka-kak!"


"Sashh ... please! Bukankah sebentar lagi aku akan puasa panjang. bo-leh, yaa?"


Dengan mata menyipit menahan kantuk, akhirnya Sashi mengangguk. "Tapi Kakak bekerja sendiri, ya! Aku mengantuk ...." Seketika kepala itu mengangguk dengan senyum mengiringi.


...~∆∆∆~...


Kedua raga masih terus melangkah. Mentari mulai mengangkasa, semburat cahaya mulai menerang tinggalkan gelap. Ya, malam penuh gairah telah berakhir, setelah menjalankan ibadah dua raga memutuskan melemaskan otot-otot sesuai petunjuk dokter.


Terdengar pekik ayam jantan mulai berkokok bersahutan, rumput-rumput saling bergoyang diterpa angin menambah dinginnya pagi itu. Melihat sang bidadari mulai bersedekap dada, Aric menahan lengan itu untuk berhenti.


"Aku tidak apa-apa, Kak! Nanti semakin terang dinginnya juga semakin hilang," lirih Sashi mengutarakan apa adanya.


"Begitu?"


"Iya, ayo ...! Di bundaran itu nanti aku mau nasi kuning, kak!" Sashi berjalan dengan penuh semangat.


"Sayang, jangan cepat-cepat begitu jalannya!"


Pukul 07:30 raga-raga itu sampai ke rumah. Aric langsung mencari Shiza untuk menyuapinya bubur ayam yang tadi dibelinya.


"Shiza mana, Bun?" Tak mendapati Shiza di dalam, Aric bertanya pada Aira yang sedang menyirami bunga-bunganya mengenai keberadaan Shiza.


"Tadi belum lama di sekitar sini, kok. Mungkin di kamar, Arr!"


"Oh, begitu? Oke Aric cari." Raga itu sudah menghilang saja. Aric ke kamar di mana Sashi baru saja keluar dari kamar mandi.


"Cari apa, Kak?"


"Shiza, Sayang."

__ADS_1


"Tunggu!" Sashi yang mendengar suara-suara lirih segera mencari asal suara itu. Dua raga menuju ke sudut di mana ada yang menggelembung di bagian bawah gorden. Keduanya tersenyum merasa sangat yakin itu adalah Shiza.


"Mami minum obat dulu, ya, supaya adik bayi sehat!"


"Iya,"


"ini obatnya, minum yang banyak!"


Suara lirih itu terdengar nyata saat Aric merendahkan tubuh ke bagian menonjol yang tertutup gorden. Seketika Aric membuka gorden perlahan dan meraih tubuh itu.


HAP ....


"Tertangkap! Jadi di sini Kakak cantik bersembunyi!"


"Haaa, geli Papa ... geli, sudah Papa!" Shiza terus berteriak saat Aric menciuminya.


"Tunggu! i-ni-kan? Astagfirullah ... Shiza mainkan obat Mami?" Mata Sashi terbelalak melihat obat-obat yang biasa diminumnya bercecer di lantai.


Aric menurunkan Shiza. "Ada apa, Sayang?" Mata Sashi mengarah pada kapsul vitamin dan minyak ikan di lantai.


"Wahh ... anak cantik Papa habis main dokter-dokteran, ya?" tanya Aric dengan lembut agar Shiza tak takut.


"Bukan, Papa. Di perut Barbie Shiza juga ada adik, jadi harus minum obat seperti mami," jawab Shiza polos dengan mata terus berkedip bingung tak menyadari kesalahannya.


"Dengar itu Mami, Barbie Shiza juga perlu, obat! Iya kan, Sayang?" Shiza terus mengangguk.


"Ya sudah, mainnya nanti lagi, ya! Sekarang Shiza ke dapur tadi Papa dan Mami belikan bubur ayam kesukaan Shiza!"


"Yeaaa." Shiza langsung berlari ke luar.


Sashi berjongkok meraih satu persatu obat yang baru saja jadi pelengkap imajinasi Shiza. "Apa obat-obat ini tidak apa-apa aku minum setelah bercecer di lantai, Kak?" Sashi memperhatikan obat-obat itu satu persatu apakah terkontaminasi debu atau tidak.


"Jangan, biar itu untuk main Shiza saja! Nanti aku akan ke Rumah Sakit meminta doktermu meresepkan vitamin dan minyak ikan lagi untuk si kembar." Sashi mengangguk.


"Asam folatnya aman, kan?"


"Aman, Kak. Ini tidak tersentuh Shiza."


"Ya sudah, lanjutkan aktivitasmu, aku akan melihat Shiza makan! Oh ya, beritahu nanti Shiza dengan baik-baik ya, jangan dimarahi! Lain kali kita taruh obat-obatan di tempat yang tidak terjangkau Shiza!"


Sashi mengangguk.


...________________________________________...


☕Happy reading😘


☕Ini ada dua referensi novel sahabat Bubu yang bisa kalian baca sambil menunggu novel Bubu up, yuk kepoin❤️❤️

__ADS_1




__ADS_2