Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
DUA RAGA BERCUCUR TANGIS


__ADS_3

Cap ... Cap ....


Waktu menunjukkan pukul 23:40 saat raga kecil terbangun meminta haknya. Sashi terbangun, ia yang hampir sebulan ini melakukan rutinitas malam menyusui Shiza sendiri sudah mulai terbiasa. Ia langsung meraih tubuh berisi Shiza dan memberi haknya.


Tangis itu seketika berhenti menyisakan suara decapan yang menjadi satu-satunya suara di ruang kotak yang ia diami. Hampir 10 menit Shiza menyusu, namun tak juga melepas puncak asi Sashi. Sashi menatap wajah itu, wajah cantik dengan mata bulat yang langsung membuatnya gemas. Napas itu dikeluarkan kasar menyadari Shiza bukannya tertidur, namun justru tampak segar.


Beberapa saat setelahnya aktivitas menyusui Shiza selesai. Ia duduk dan terus berceloteh. Sashi memberinya beberapa mainan dan memperhatikan putrinya itu main. Sashi menatap Aric, suaminya itu semakin tampan jika sedang tertidur. Ia terus tersenyum, merasa bahagia memiliki suami seperti Aric.


Ma ... Ma ... Maaa ...Ta ... Taaa ...Ta ....


Celoteh itu semakin kencang saja. Sashi melihat pantulan jam sudah pukul 00:20, setengah jam rupanya sudah berlalu. Sashi yang asik berceloteh dengan Shiza tak menyadari Aric terjaga. Aric kaget melihat 2 wanita tercintanya terjaga di malam hari.


"Sa-yang?"


"Kak, maaf kami mengganggumu? Shiza tidak mau tidur," lirih Sashi sambil sesekali menguap.


"Sayang, kenapa tidak membangunkanku?" Sashi tidak menjawab dan hanya tersenyum. Ada rahut kesedihan di sana. Istrinya yang tengah hamil justru harus bergadang sedang dirinya asik tertidur.


"Apa sering begini?" Sashi mengangguk. Rasa bersalah itu semakin besar. Ia mendekati istrinya dan memeluknya.


"Ma-af, Sa-yang ...!"

__ADS_1


"Tidak apa, Kak. Aku kan memang seorang ibu!" Kata yang begitu manis terucap. Aric semakin mengeratkan dekapannya.


"Ya sudah kamu tidur, biar aku yang jaga Shiza!"


"Tunggu Kak, sepertinya Shiza mulai menguap. Aku akan coba susui!" Aric mengangguk. Sashi meraih tubuh Shiza dan membaringkan di tengah mereka, ia memberi ASI Shiza setelahnya.


Benar tak menunggu lama Shiza tertidur tapi belum mau melepas puncak ASI itu. Aric mengusap-usap kepala istrinya sambil menciuminya.


Sashi menatap wajah Aric. Suaminya itu sangat pintar menyamankannya, membuat ia senang dan merasa dicintai selalu. Walau takdir telah membuat hati itu pernah mendua tapi Sashi ikhlas. Pun Sashi seketika ingat perbincangannya bersama Aruna di Rumah Sakit sore tadi.


...▪♧♧♧▪...


Dua raga duduk di kantin Rumah Sakit, di kursi yang berada di tepi keduanya saling bertatap. Mereka pernah bertetangga dan menjadi istri satu lelaki. Walau nyatanya pernikahan kedua itu tanpa cinta tetap saja pernikahan itu pernah ternoda.


"Mm ... silahkan minum dulu, Mbak!" ucap Sashi menghilangkan keheningan. Aruna mengangguk dan menghirup teh itu sedikit.


"Apa mbak Aruna tau aku sedang hamil?"


"Oh ...." Jelas sekali Aruna tidak tahu. Rahut itu kaget. Ia menggeleng setelahnya sambil tak melepas menatap Sashi.


"Apa Mbak Aruna tahu hampir sebulan ini aku tidak tinggal bersama suamiku?" Aruna mengangguk. Terang saja ia tahu, toh ia juga yang saat itu memberitahu Lutfi perihal Aric mendua.

__ADS_1


"Berarti mbak tahu kan bagaimana perasaanku, sedihku menjalani kehamilanku sendiri, memendam rindu pada suamiku, selalu berharap-harap suamiku akan datang, plus kerepotan harus menjaga Shiza bayi kami yang lain. Dan di mana sang ayah? Ia nyatanya sedang menemani Ciara putri Mbak Aruna yang bukan anaknya!" Aruna menunduk, ia yang hatinya telah terketuk dan mulai berubah baik merasa menyesal sebab dia yang menghubungi Lutfi, memisahkan Aric dan sashi.


"Mbak, jujur aku senang dengan perubahan Mbak, mbak anggun, penampilan mbak yang baru semakin menambah kecantikan yang mbak miliki. Bahkan kalau mau jujur, aku sungguh tidak ada apa-apanya dengan berkah kecantikan yang Allah titipkan kepada Mbak." Sashi menghentikan kalimatnya, menatap Aruna dengan pancaran mengiba.


"Mbak ... tolong lepaskan suamiku! Jangan pisahkan kami! Kami saling mencintai!" Air mata itu mulai menetes. Ya, Sashi yang cengeng dan bertambah sensitif setelah kehamilannya sudah bercucur air mata saja. Aruna bergeming, ia masih terus menatap Sashi. Pun Sashi melanjutkan lagi apa yang ia ingin katakan.


"Mbak Aruna kini sudah jadi wanita baik, mbak Aruna juga sangat cantik, yakinlah Mbak ... akan ada sosok yang akan mencintai Mbak dengan tulus! Sangat tulus hingga membuat Mbak merasa berharga. Coba Mbak fikir! Mengejar dan tetap bertahan dengan suamiku yang tidak merespon Mbak Aruna, bukankah itu menyesakkan?" Netra Aruna mulai berkaca. Ia membenarkan ucapan Sashi, ia memang sakit mencintai sepihak, bahkan seakan murahan terus mengejar bahkan sampai memisahkan yang halal. Dan jodoh lain, ia ragu ... akankah ada lelaki yang akan mencintainya dengan tulus. Air mata Aruna mulai keluar satu persatu dari pelupuknya.


Sashi meraih jemari Aruna. "Kata Ayah, setiap jiwa yang dilahirkan ke dunia itu bersih, mereka sudah ditetapkan rezekinya, jodoh dan mautnya bahkan sejak usia 4 bulan dalam kandungan ibunya. Jatah bahagia dan kesedihan tiap hamba sudah ditakar sedemikian rupa. Tinggal jiwa-jiwa itu sendiri yang melangkah! Kata Ayah, setiap saat dalam hidup manusia akan dihadapkan selalu pada pilihan, itulah berkah Allah menciptakan otak untuk kita berfikir sebelum mengambil setiap keputusan. Keputusan yang akan berimbas pada banyak hal, kebaikan, kesejahteraan, kebahagiaan juga kepiluan yang menarik pula tindakan itu pada pahala dan dosa. Hidup kata Ayah hanya ada dua hal, sabar dan syukur. Bersabar saat diberi hal yang tidak sesuai dengan harap dan bersyukur jika diberi nikmat lebih. Keduanya tanpa kita sadari memiliki takaran pahala yang sama. Dan kapan batas manusia harus bersabar dan bersyukur? Kematian. Kata Ayah hanya kematian yang memutus semua, yang menandakan semua telah berakhir, istirahat bagi orang yang selama hidup selalu bertawakal. Tapi tidak bagi penebar dosa, ia harus siap mempertanggung jawabkan perbuatannya!"


Sashi gadis yang menginjak 20 tahun itu menjelma jadi ustadzah dalam sekejab, kata-kata yang sering ayahnya ucapkan di depan Jamaah ia lontarkan pada Aruna, berusaha mengetuk hati itu dan mengetuk dirinya sendiri pula. Kedua insan dalam kantin itu abai pada sekitar. Keduanya menangis sendu dan bercucur air mata.


"Aku berharap Mbak Aruna pergi dan meraih bahagia Mbak yang hakiki. Ya, selama jalan napas masih berhembus, kita masih berhak meraih bahagia. Aku mohon izinkan aku dan suamiku bahagia tanpa ada wanita lain! Toh Kakak juga tidak bisa memberi hak Mbak Aruna. Sungguh aku dan ayah sangat takut kalau kak Aric dihisab sebab alasan itu. Kalau Mbak Aruna cinta kakak, jangan beri keburukan untuk kakak!" Sashi berucap lagi dengan eratan yang lebih kuat.


"Tapi ... andai mbak Aruna memutuskan bertahan. Aku akan mencoba lebih ikhlas, aku akan minta kak Aric memberi hak mbak. Tapi aku tidak bisa janji soal hati kakak!" Sashi meraih tisu, banyaknya air mata dan lendir di hidung membuat ia sulit bernapas. Ia menatap lekat Aruna setelahnya.


"Keputusan aku serahkan pa-da mbak A-runa!"


Aruna merasa tertampar, gadis yang menginjak 20 tahun dan sedang hamil anak lelaki yang dicintainya itu sedang menamparnya. Tamparan untuk kebaikannya, hati baiknya yang mulai terbuka mampu memahami ucapan demi ucapan yang dilontar Sashi. Ia memejamkan mata sesaat lalu berucap. "Aku akan melepas mas Aric!"


__________________________________________

__ADS_1


☕Happy reading😘


☕Sekarang udah tau ya kenapa Sashi makannya jadi banyak, ia sangat bahagia❤❤


__ADS_2