Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
PETUAH AYAH


__ADS_3

Tak mendapati keberadaan Rico, akhirnya Aric pulang. Di perjalanan tidak henti-henti ia membodohi dirinya. Ya, waktu yang ia habiskan selama ini nyatanya ia gunakan untuk mengurus anak orang lain. Ikatan semu yang ia bentuk bersama Aruna nyatanya hampir merobohkan bangunan pernikahannya sendiri. Ia gegabah, sangat gegabah.


Pun seketika Aric menerka-terka siapa yang mungkin ingin menghancurkan sang ayah. Ia yang tega meminta Aruna mendatangi sang ayah dan meminta pertanggung jawaban atas benih yang bukan benih sang ayah. Ia masih berfikir hingga tiba-tiba mengingat Sashi.


"Astagfirulloh ... mengapa aku lupa istri kecilku itu, aku sudah mentalak Aruna berarti aku sudah bisa membawa Sashi pulang, bukan? Tunggu, jam berapa ini?" Aric melihat jam yang melingkar di lengannya.


"Jam 22:10, apa aku akan mengganggu datang di jam ini? Tapi bukankah aku berhak atas Sashi? Ya ... aku akan ke sana!"


...▪♧♧♧▪...


Nyanyian burung hantu dan lolongan anjing mulai terdengar. Aric melajukan kuda besinya ke perumahan di bilangan Tangerang Selatan. Ia berhenti tatkala bangunan berdominasi abu-abu sudah di hadapannya. Tak menunggu lama Jarwo yang hapal itu mobil anak menantu majikannya segera membuka pagar yang membatasi raga mereka. Pun Aric masuk.


Aric masuk ke dalam bangunan rumah yang sudah tanpa pencahayaan itu. Ia terus masuk, hingga saat melewati ruang keluarga seketika lampu menyala. Seorang pria tegap dengan janggut menghiasi dagunya sedang berdiri menatapnya.


"A-yah," sapa Aric langsung mendekat dan mencium tangan Lutfi.


"Astagfirulloh, Ayah fikir siapa, ternyata kamu, Arr? Ini bukan hari berkunjung, bukan? Dan jam berapa ini? Duduk, jelaskan pada Ayah!"


Keduanya duduk kini dengan pandangan yang tak teralihkan satu sama lain. Tatapan Lutfi jelas dipenuhi banyak tanya. Pun Aric akhirnya bicara.


"Aric sudah menceraikan Aruna, Yah!"


"Oya, bagus itu."


"Aric ke sini untuk menjemput istri dan anak Aric!"


"Tentu saja kamu berhak itu, tapi ini terlalu malam! Sashi juga perlu bersiap. Menginaplah malam ini dan besok kamu boleh membawa Sashi!" Aric mengangguk. Lutfi masuk ke dalam kamarnya lagi.




Aric mengetuk pintu, namun tak ada sahutan. Akhirnya ia memutuskan masuk ke dalam. Ya, ia suaminya Sashi, tentu kamar tersebut juga kamarnya Aric.


Pandangan yang sudah lama tak dilihatnya kini tertangkap lagi matanya. Sashi tertidur saat menyusui. Bahkan Shiza sudah membalik badan dari tubuh Sashi, sedang penyegar dahaga itu masih berada di luar. Aric tersenyum.


Ia menciumi Shiza, gemas dengan putri kecilnya itu. Ia mencium kening Sashi dan memasukkan penyegar dahaga Shiza. Sashi yang pulas seperti biasa tak bergerak. Pun setelahnya ia memilih membersihkan diri.

__ADS_1


Aric sudah segar, ia merebahkan diri di belakang Sashi dan menciumi tengkuk leher istrinya itu. Sashi hanya menggerakkan kepala dan tidur lagi. Aric membalik tubuh itu perlahan hingga keduanya berhadapan. Dielusnya perut rata Sashi baru setelahnya ia mengamati wajah ayu itu. Senang hati Aric bisa menatap lagi wajah istrinya yang tertidur, polos sangat menggemaskan.


Ingin hanya menatap tak ingin mengganggu awalnya, tapi apalah daya tiga hari tak berjumpa sudah sangat membuat lelaki itu rindu, rindu semuanya dalam diri Sashi, terlebih aroma minyak telon di tubuh istrinya itu. Pun ia mulai mengabsen wajah Sashi, pipi, kening, hidung, dagu juga bibir tipis tanpa pewarna ia kecup semua.


Merasa ada yang menempel di wajahnya Sashi terbangun, netra itu membulat dan mengerjap beberapa kali memastikan yang dilihatnya. Wajah tampan di hadapannya menarik kedua alisnya ke atas sambil tersenyum. Sashi masih belum sadar seluruhnya. Ia kembali mengerjapkan mata dan tanpa aba-aba menarik hidung bangir di depan wajahnya.


"Ahhh, sakit Sassh!" pekik Aric kaget.


"Ka-kak!" Sashi tersenyum, ia senang ternyata semua bukan mimpi. Ia mengangkat badan dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Aric. Sashi menempel bak koala memeluk erat tubuh kekar suaminya.


"Aku rindu Ka-kak!" Lirih Sashi menciumi dada suaminya. Aric lelaki normal senang dengan perilaku istrinya itu, tapi ia sadar posisi itu akan membuat calon bayi mereka tak nyaman. Aric memiringkan tubuh hingga tubuh Sashi berguling ke samping pula. Keduanya masih saling menatap dan tersenyum.


"Kakak ke sini untuk menjemputku?" Aric mengangguk.


"Kakak sudah lepas dari mbak Aruna?"


Aric meraih wajah itu, mendekatkan bibir ke pipi Sashi. "Sudah," lirihnya. Sashi tersenyum. Diciumi lagi wajah istrinya itu, senyum Sashi sungguh membuat Aric lagi-lagi gemas. Ciuman itu kini sudah sampai ke leher Sashi. Aroma minyak telon yang mulai terasa membuat Aric semakin gencar menelusuri tubuh istrinya itu.


"Ka-kak ...." Suara itu sudah terasa berat.


"Sa-yang ... bo-leh kan?" Aric meminta izin dengan jemari mulai memisahkan kancing dengan lubangnya. Sashi mengusap wajah itu. Ia mengangguk setelahnya.


...▪♧♧♧▪...


"Aric sampai jam berapa semalam? Maaf Bunda sudah tidur saat Aric datang," lontar Aira mulai menyendokkan nasi goreng ke piring Lutfi. Aira yang sudah diceritakan perihal kedatangan Aric dan perpisahan menantunya itu dengan madunya tampak semringah.


"Iya tidak apa, Bun, Aric yang datang terlalu malam," ucap Aric.


"Ningsih, tolong jaga Shiza dulu!" Ningsih dengan cekatan meraih tubuh Shiza dari tangan Aric.


"Kalian akan pulang jam berapa?" lugas Lutfi mulai menyendokkan nasi ke mulut.


"Jam 9, Yah," jawab Aric menatap Sashi menyendok nasi goreng dengan porsi banyak di piringnya. Ia langsung paham Sashi ingin makan bersama.


"Hahh ... rumah kita akan sepi lagi, Yah," lirih Aira. Ia mulai meraih sendok dan makan.


"Kami akan sering berkunjung, Bun!" ucap Aric mulai mengarahkan sendok ke mulut Sashi. Sashi membuka lebar mulutnya itu.

__ADS_1


 


"Sash, biarkan Aric makan sarapannya dengan tenang. Ambillah nasi sendiri saja, Sayang!" ujar Lutfi.


"Tidak apa, Yah."


Tak berselang lama acara makan selesai, Lutfi mengajak Sashi dan Aric bicara sedang Aira ke halaman menyuapi Shiza.


Tiga raga duduk di ruang keluarga. Lutfi senang melihat wajah bahagia dua insan di hadapannya. Dalam hati ia bersyukur masalah telah berhasil keduanya lewati, walau di lubuk hati ada kesedihan sebab putrinya harus meninggalkan rumahnya lagi. Ya, ia mulai terbiasa melihat Sashi dan Shiza di rumahnya.


Lutfi masih bergeming hingga ia mendengar Sashi menyapanya. "Ayahh ...!"


"Eh-iya, Sayang." Sashi berpindah duduk di sisi sang ayah.


"Ayah kenapa diam saja? Tadi ayah yang bilang mau bicara pada kami, kan?" tanya Sashi.


Lutfi mengusap pipi putrinya. "Sashi senang mau pulang ke rumah?"


"Senang Ayah." Lutfi mengangguk.


"Aric, Sashi ... sejujurnya ayah senang satu batu sandungan berhasil kalian lewati. Pernikahan itu seperti gerbang universitas, banyak ilmu yang harus kalian serap dari ikatan yang kalian jalani. Pernikahan bukan sekedar memuaskan dan dipuaskan dalam hal biologis. Ada banyak hal yang harus kalian bentuk, seperti kepercayaan, kedewasaan, saling menghargai juga kesetiaan. Dan semuanya itu tak akan lepas dari ujian sebagai penguatnya." Aric dan Sashi mengangguk.


"Aric, menolong itu baik tapi jangan sampai 1 kebaikan merusak kebaikan yang lain. Sebagai laki-laki gunakanlah otak di atas nurani. Menjadi pahlawan untuk orang lain baik, tapi menjadi pahlawan untuk keluarga itu yang utama. Lebih berhati-hatilah dalam mengambil keputusan, Karena satu keputusan dan sikap yang kamu ambil hari ini akan berimbas pada kehidupanmu di masa depan tanpa kamu sadari!" Aric mengangguk. Ia menyadari kesalahannya. Lutfi melihat Aric dan Sashi bergantian setelahnya.


"Kalian berdua harus menjaga kepercayaan satu sama lain dan jadilah pasangan yang pantas pula untuk dipercaya! Jangan pernah ada hal yang ditutupi, kalian harus saling terbuka pada hal sekecil apapun. Aric sebagai kepala rumah tangga harus bisa menjadi contoh dan menasehati saat Sashi salah dengan lembut. Pun Sashi harus bisa mendengar nasihat Aric dengan lapang dada. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan al-Suyuthi dalam Al-Jami' Al-Shaghir dari Abu Hurairah. “Sebaik-baik orang beriman adalah yang terbaik dalam akhlaknya. Dan sebaik-baik dari kalian, adalah yang paling baik akhlaknya kepada para wanita.”" Aric mengangguk.


"Baik itu saja yang ingin Ayah sampaikan, Ayah sudah harus berangkat. Jaga calon cucu Ayah dengan baik, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu membarakahi keluarga kalian!" Lutfi menyapu kepala Sashi dan mencium kening itu. Aric di kejauhan tersenyum.


"Jangan pernah sakiti Sashi lagi dan hati-hati di perjalanan nanti, Arr!" Lutfi merangkul bahu Aric sebelum akhirnya raga itu masuk ke mobil dan mobil itu tak terlihat.


__________________________________________


☕Happy reading❤❤


☕Untuk yang suka nabung bab, alias baca nunggu babny banyak, dimohon sebelum akhir bulan tiap bab di novel ini dibaca semua ya. Karena akan berpengaruh pada performa karya ini jika tidak dibaca hingga akhir🙏


☕Makasih supportnya selalu😘😘💐

__ADS_1


  


__ADS_2