Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
SASHI MARAH


__ADS_3

"Sayang ... Sayang ... tunggu! Jangan jalan terlalu cepat begitu!"


Sashi melangkahkan kaki dengan penuh semangat memasuki rumah berdominasi abu dan langsung menuju kamar di sudut. Syukurlah keadaan rumah tampak senggang saat ini, Lutfi sedang melakukan ceramah ke luar kota, sedangkan Aira sedang mengurus orderan catering dari orang terpandang yang mengharuskannya mengecek sendiri setiap menu yang disajikan.


Wajah Sasi memberengut, otaknya panas. Dia sangat kesal dengan Aric. Merasa Aric mengabaikan inginnya untuk pulang tadi seolah masih ingin bersama dengan Salwa yang notabenenya adalah mantan kekasihnya. Sashi tidak habis pikir dengan suaminya itu, suaminya yang begitu posesif dan protektif jika ia berdekatan dengan Kaysan. Kini tampak begitu egois, abai pada perasaannya.


"Apakah hanya kakak yang boleh cemburu aku dan aku tidak? Aku tidak suka Kakak berdekatan dengan salwa! Untuk apa wanita itu kembali ke Indonesia? Alangkah baik ia tetap tinggal di Amerika sehingga tidak perlu masuk dalam rumah tanggaku! Aku benci Kakak! Benci wanita bernama Salwa Itu!"


Monolog Sashi dengan sepasang kaki yang saling bergantian ke depan dan kebelakang. Keduanya saling bekerja sama memudahkan Sashi menuju kamarnya.


Sashi langsung menarik tubuh Shiza dari gendongan Aric dan membanting pintu kamar dengan keras setelahnya tak membiarkan Aric masuk.


"Sayang ... Sayang! Please buka pintunya! kamu kenapa? Biarkan aku masuk, Sash!"


"Aku sedang tidak mau bicara dan melihat Kakak! Kakak di luar saja!"


"Sash, jangan begini! Terangkan apa salahku! Bukankah aku sudah jujur perihal Salwa?"


"Diam! Aku tidak mau dengar suara Kakak. Aku dan Shiza mau tidur, kalau Kakak mau kembali ke Fun World dan bernostalgia dengan Salwa silahkan! Pergi saja tapi jangan temui aku lagi!"


"Sash, tentu saja aku tidak akan ke sana lagi! Kita bicara baik-baik di dalam Sayang, jangan teriak-teriak seperti ini!" Aric berkata lagi sambil tersenyum getir ke arah Ningsih yang diam mematung bingung mengapa majikannya berteriak-teriak. Ya, Aric merasa tak enak hati membuat rumah mertuanya mendadak riuh apalagi sampai di saksikan sang pembantu.


Aric memundurkan tubuh dan pergi ke kamar mandi belakang. Pukul 13:40 saat ini tapi ia belum menjalankan ibadah zuhurnya. Setelah berwudhu, Aric mengetuk kembali pintu berdominasi pink di hadapannya namun tak ada sahutan dari lagi dari dalam. Aric akhirnya meminjam sajadah Ningsih dan sholat di kamar tamu. Aric ke dapur setelahnya.


"Minum, Mas!" Ningsih mendekat dengan secangkir kopi untuk Aric, Aric tersenyum.


"Terima kasih, Bik. Maaf ya Bik, saya membuat riuh rumah," ucap Aric.


"Gpp Mas. Dimaklumi wanita hamil memang sensitif, perubahan tubuh membuatnya berbeda. Saya mah yang namanya wanita paham dan santai aja. Mas yang harus lebih sabar lagi menghadapi mbak Sashi," ucap Ningsih.


"Iya, Bibik benar. Sashi memang jadi sangat sensitif," lirih kata itu terucap. Sungguh Aric tak memahami kesalahannya. Ia merasa kejujurannya tentang Salwa itu cukup, namun nyatanya Sashi membaca setiap gerik Aric saat bertemu Salwa tadi dan ia kesal.


"Mbak Sashi itu masih muda, wajar emosinya masih kurang terkontrol, terlebih ia sedang hamil pula. Hamilnya pun bukan satu bayi tapi dua anak Mas Aric sedang ia perjuangkan di dalam rahimnya." Ningsih tampak meletakkan piring yang habis ia keringkan lemari penyimpanan dan kembali mendekati Aric. Ia berdiri di samping Aric kini sebab pekerjaannya sudah selesai.


"Duduk, Bik! Saya ingin mendengar pencerahan Bibik lagi!" Pun Ningsih duduk. Ia berkata setelah tubuhnya nyaman mendarat di kursi.

__ADS_1


"Wanita itu istimewa, Mas. Ia memiliki keutamaan rahim di perutnya. Tempat pertama calon penerus generasi keluarga terbentuk dan tumbuh. Mas bayangkan saja, perut mbak Sashi sekecil itu tiba-tiba membesar. Jangankan 2 bayi, 1 bayi saja pasti sudah kepayahan. Mbak Sashi harus menjaga makannya, pola hidup dan aktivitasnya jangan sampai membuat bayi-bayi di perut itu tidak nyaman. Jadi wajar jika dalam kondisi demikian mbak Sashi lebih sensitif, toh banyak yang berubah dalam dirinya. Bahkan waktu untuk menyenangkan diri hampir tidak ada karena harus mengurus Shiza pula. Nah tugas mas Ariclah yang menyenangkan mbak Sashi." Aric tampak mengangguk.


"Padahal kalau Bibik lihat mbak Sashi itu termasuk kuat lho Mas, dia jarang mengeluh sama Bibik. Kayaknya udah ikhlas banget menerima kodratnya menjadi ibu muda. Kalau pun hari ini Mbak Sashi begitu marah, pasti mood-nya benar-benar kurang baik. Atau coba Mas Aric fikir-fikir habis berbuat salah apa sama mbak Sashi?"


"Apa ya, Bik. Semua normal aja tadi setelah kami memeriksakan kondisi si kembar. Oh ya, tadi saya tidak sengaja bertemu mantan, tapi saya sudah kenalkan baik-baik sama Sashi kok," ucap Aric masih tidak peka kesalahannya.


"Nah, bisa jadi karena itu, Mas! Mungkin saja mbak Sashi sedang cemburu melihat Mas bertemu mantan pacar Mas itu."


"Sashi cemburu? Mungkinkah itu sebab kemarahannya?"


Ningsih seketika berdiri saat didengarnya mobil masuk ke pelataran. "Sudah dulu ya, Mas! Seperti ya ibu sudah pulang!" lirih Ningsih.


"Monggo, Bik. Terima Kasih sudah mendengar keluh kesah saya." Ningsih tersenyum, tak berselang lama raganya tak terlihat.




"Assalamu'alaikum ...," ucap salam Aira sebelum memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumsalam, Bund," jawab Aric yang sedang duduk di ruang tamu.


Pun Aric menceritakan semua yang dilontarkan dokter kandungan pada Aira. Aira terus tersenyum sangat bahagia sebab kedua cucunya baik-baik saja.


"Oh ya, di mana Sashi sekarang?" tanya Aira tak melihat sosok Sashi.


"Sashi dan Shiza sedang beristirahat di kamar!"


"Dan kamu mengapa tidak ikut istirahat di dalam?" tanya Aira lagi. Aric tersenyum getir.


"Pintunya dikunci Sashi, Bun."


"Di-kunci?" Aric mengangguk.


"Loh memangnya ada apa dengan kalian? Jangan bilang kalian habis bertengkar!"

__ADS_1


"Tidak, Bund. Hanya kesalahpahaman saja!"


"Oke Bunda akan bantu bicara dengan Sashi," ucap Aira bersungguh-sungguh. Aira memang tidak ingin ada masalah lagi antara Sashi dan menantunya itu.


"Bun ... Bund ... tidak perlu! Tidak apa-apa Aric di sini saja. Sepertinya Sashi juga butuh sendiri dulu. Bunda juga pasti letih, kan? Bunda istirahat saja! Aric akan menunggu Sashi membuka pintu."


"Oh, baiklah kalau memang begitu, Bunda istirahat di kamar ya, Arr!"


"Iya silakan Bund." Raga Aira tak terlihat lagi setelahnya.


Sore menjelang, Aira yang baru saja bangun dari tidur dan hendak menuju dapur kaget melihat Aric masih berada di ruang keluarga. Pun ia akhirnya membangunkan menantunya itu.


"Arr ... Aric."


"Eh, i-ya, Bund." Aric seketika duduk di sofa.


"Sashi masih belum keluar kamar?" tanya Aira menatap netra Aric.


"Be-lum, Bund!" lirih Aric.


"Oke Bunda akan bicara dengan Sashi."


Pintu kamar berdominasi pink itu diketuk Aira. "Kakak, sudah kubilang kan, aku tidak mau melihat Kakak! jadi Jangan harap aku mau membuka pintu untuk kakak!" lugas Sashi.


"Sashi ... ini Bunda, Nak."


"Bun-da?"


...________________________________________...


☕Happy reading😘


☕Flashback saat di fun world setelah bab ini, yaa❤️❤️


☕Senin manis jangan lupa votenya😍

__ADS_1


☕Mampir juga ke karya temen literasi Bubu yuk😃



__ADS_2