Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
MENGGANGGU SHIZA


__ADS_3

"Bicaranya bisa nanti setelah pulang kan, Yah! Nanti Ayah tertinggal pesawat bagaimana?"


"Hanya sebentar! Tidak akan telat!"




"Ayah bicara apa sih, katanya sebentar! Lihat tuh di luar sudah gerimis." Bunda melihat Lutfi dan Aric keluar dari ruang keluarga langsung menghampiri.


"Apa salahnya gerimis, toh ayah naik mobil tidak akan kehujanan!"


"Tapi nanti saat keluar dari mobil ayah tetap kehujanan!" Aira masih bersikukuh dengan pendapatnya. Ia terus bergelayut manja di lengan Lutfi.


"Kalau begitu bunda ikut saja! Nanti bunda yang payungi Ayah!"


"Ah Ayah ini, Sashi kandungannya sudah besar begitu mana mungkin Bunda tega tinggalkan Sashi di rumah sendiri!"


"Silahkan kalau Bunda mau ikut. Bukankah ada Aric yang jaga Sashi," ucap Aric merangkul bahu Sashi.


"Kalau bunda ikut Sashi juga mau ikut!"


"Sash ...." Tak menghiraukan seruan Aric, Sashi mendekati Lutfi. "Ayah, Sashi boleh ikut Ayah?" Lutfi bergeming.


"Kamu seorang istri dan ibu, tempatmu bukan mengikuti ayah, tapi ikuti Aric!" Sashi memberengut menatap Aric menggandeng Shiza.


"Duhh, wajah putri cantik Ayah kenapa di tekuk begini? Senyum sayang, Ayah selalu rekam senyum Sashi di sini!" Lutfi menyentuh dadanya. Sashi seketika memeluk tubuh Lutfi.


"Sashi sayang Ayah!" Air mata Sashi sudah mengalir saja.


"Sayang, jangan menangis dong. Kita doakan ayah selalu dilindungi Allah SWT di mana pun berada, o-ke!" Melihat putrinya menangis, pun Aira turut menangis pula. Tak lama setelahnya. "Ma-miii, hu hu huu." Shiza tak mau kalah menangis pula. Aira mengangkat tubuh Shizaa dalam gendongannya.


Lutfi mengusap kepala Sashi di sisi kanan dan mengusap kepala Aira di sisi kiri. "Kalian itu kenapa? Janganlah membuat Ayah pergi dalam keadaan sedih. Tersenyum, Sayang ...! Bunda, Sashi, juga ini cucu cantik Opa sudah mau jadi kakak kenapa menangis?" Lutfi mencium kening 3 raga di hadapannya.


"Ayah selalu mendoakan persalinanmu dipermudah, Sayang! Kamu adalah putri Ayah yang hebat! Ayah bangga Sashi!" bisik Lutfi sambil mencium kening putrinya itu. Setelahnya baru Lutfi mengangguk pada Aric. Aric membalas anggukan itu dan mendekat memeluk Sashi dan Aira.


"Ayah berangkat dulu, ya semua ...."


"Tunggu, Yah!" Aira maju dan meraih jemari Lutfi, ia mencium jemari suaminya. "Bunda selalu tunggu ayah pulang!" lirih Aira.


"Ayah pasti segera pulang!" Lutfi mencium lagi kening Aira sebelum akhirnya masuk ke mobil.




"Tadi Ayah bicara apa dengan kakak? Mengapa lama sekali?" Sashi yang penasaran segera melontar tanya.


"Rahasia lelaki!" Aric mendekatkan bibirnya ke pelipis Sashi dan berbisik.


"Kakak curang! Aku yang anaknya Ayah, kenapa Ayah memilih bicara dengan kakak?" Aric mengangkat kedua bahunya ke atas sebagai jawaban tidak tahu, ia kembali merebahkan tubuh ke ranjang meninggalkan Sashi yang sibuk di depan lemari.


"Kak, ini sudah setengah 9 kok malah tidur lagi, sih!" Kaget Sashi melihat Aric yang terkesan santai. Di kejauhan justru Aric mengganggu Shiza. Aric mengambil satu Barbie Shiza dan Aric ikut menggerak-gerakkan Barbie tersebut sambil berceloteh dengan bahasa khas anak-anak menjadi dubber barbie itu.

__ADS_1


"Masih gerimis, aku berangkat siangan saja," jawab Aric.


"Papa sana! Sini boneka Shiza!" Shiza yang melihat barbienya dimainkan sang Ayah tak suka.


"Papa kan ingin main juga! Barbie Papa yang ini, yaa! Papa jadi teman Shiza, bagaimana?" Aric sedang bernegosiasi tampak Shiza memberengut merasa Aric mengganggunya.


"Bukan Papa, itu barbie jahat! Yang baik yang ini!" Shiza berkeras dengan peran yang ia ciptakan.


"Tidak Sayang, lihat yang Papa pegang ini seperti sedang tersenyum. Ini cantik, Sayang. Ini jadi yang baik saja!"


"Tapi wajah barbienya memang seperti itu semua, Papa!" terang Shiza lagi. Ia berlari kini ke arah Sashi yang tengah merapihkan pakaian-pakaian bayi yang sudah dicuci dan disetrika Ningsih.


"Mami, itu papa ganggu Shiza main! Shiza mau main sendiri, tidak mau diganggu Papa!" Shiza berucap dengan kesal.


"Ka-kk ... sudah dong jangan iseng! Lihat tuh wajah anakmu sudah seperti singa kecil!" ucap Sashi sembari tersenyum. Aric masih asik saja menggerak-gerakkan barbie di tangan. Ia menatap Sashi sekilas dan tersenyum. Ia agaknya memang sengaja menjahili Shiza.


"Ka-kk!" pekik Sashi mengingatkan Aric lagi.


"Mami jangan sayang Kakak lagi! Kakak nakal!" utar Shiza seketika yang membuat baik Aric dan Sashi saling berpandang. Pun Aric mendekat.


"Coba ulangi lagi tadi bicara apa, Sayang!" Aric mengunci tubuh Shiza dari belakang dan mengangkatnya ke sofa. Sashi turut mendekat.


"Mami jangan sayang kakak lagi!!" Aric tak berhenti tertawa, dicium gemas wajah Shiza setelahnya. "Nakal ya anak Papa! Bilang Papa kakak, hemm?" ucap Aric masih mengusel dada dengan harum minyak telon yang selalu Aric sukai sejak dulu.


"Itu tidak sopan, Sayang!" lirih Sashi.


"Mami juga panggil Kakak!"


"Nahh ... berarti tersangkanya Mami. Gurunya Mami ini!" Shiza segera berlari saat kungkungan tubuhnya melonggar.


"Yeaa ... Shiza bebas. Hukum mami, Papa! Shiza dengar dari Mami!" Shiza tertawa-tawa kemudian beranjak pada barbie-barbienya. Ia senang Aric sudah melepaskan barbienya.


Aric menahan tubuh Sashi. "Ka-kak le-pas! Kenapa jadi aku yang ditangkap?"


"Karena kamu sudah memberi contoh tidak baik untuk putriku!" Aric mencecar leher Sashi.


"Kakak geli minggir!"


"Masih berani panggil kakak lagi, Hem? Lihat putrimu jadi memanggil papanya kakak juga!" Aric menatap netra istrinya itu. Bibir Sashi memberengut.


"Aku kan tidak ada niat mengajarkannya!"


"Tapi putri kita mendengar!" Ditahan kecupan itu di pipi lembut Sashi. Sashi bergeming. Aric menghadapkan lagi wajahnya di hadapan Sashi.


"Jangan panggil Kakak lagi! Rubah panggilan itu, atau si kembar juga akan menganggapku kakaknya juga." Mendengar kata-kata Aric Sashi jadi ingin tertawa. Sashi menahan tawanya kini.


"Sedang dinasehati suami malah senyum-senyum, hem!" Aric menciumi lagi leher itu.


"Kakak, i-ya ma-af! Sudah Ka-k, tidak baik dilihat Shiza!"


"Masih juga panggil Kakak? Shiza biarkan saja, yang dia tahu papanya sedang gemas pada Maminya!"


"Na-kal!" Sashi menarik hidung Bangir Aric. "Ah sakit, Sayang!"

__ADS_1


"Oke jadi aku harus panggil kakak apa?"


"Sayang!"


"Jangan itu, nanti Shiza ikut panggil Kakak sayang juga lebih repot!" Aric tertawa. "Kamu lucu, Sash!!"


"Memang benar, kok!" kilah Sashi.


"Iya kamu benar, panggil sayangnya saat kita berdua saja, hem!"


"Ka-k, aku serius!" Bibir Sashi sudah mengerucut.


"Panggil Papa saja, seperti panggilan Shiza! Itu lebih benar!" ucap Aric.


"Hmm ... oke!" Sashi melingkarkan lengan ke leher Aric. "Pa-pa!" bisik Sashi.


"Aneh, Kak!" ucap Sashi lagi.


"Dibiasakan Sayang, nanti kelamaan akan terbiasa!" Sashi terdiam berfikir.


"Coba fikir, bagaimana jika Shiza memanggilku kakak di depan umum?" Sashi justru tersenyum.


"Ih, lagi diajak serius kok senyum-senyum lagi!"


"Aku jadi membayangkan hal itu tadi!"


"Nakal!" Aric mengacak rambut Sashi.


"Di depan Shiza aku akan biasakan memanggil Papa, tapi kalau berdua atau Shiza sedang tak berada dekat aku tetap panggil kakak! Aku sudah terlanjur nyaman begitu!" ucap Sashi.


"Terserah kamu, itu pun baik. Yang penting jangan panggil aku kakak di depan anak-anak!" Aric memeluk erat tubuh Sashi dengan perut buncit yang menyekat keduanya. Aric menenggelamkan wajahnya ke bahu Sashi.


"Sayang ...."


"Iya?"


"Ada yang tidak baik di bawah, mau menuntaskan?"


"Ka-kak?" Sashi memberi jarak tubuhnya dan melirik aktivitas Shiza.


"Shiza sedang sibuk!" ujar Aric. Sashi memberengut menatap suaminya.


"Aku tunggu di kamar mandi!"


"Ka-kak!"


..._______________________________________...


☕ Happy reading😘😘


☕Ini ada karya teman literasi Bubu, tentang berbagi Cinta juga. Yuk kita kepoin❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2