
Kalina tak percaya, ia ingin memastikan semuanya dari bibir Aruna. Kalina didampingi Kaysan akhirnya menemui Aruna. Syukurlah Aruna sekarang adalah Aruna yang sudah menjadi baik. Ia yang tak ingin hadirnya menjadi masalah untuk orang lain, akhirnya menjelaskan semua yang terjadi.
Aruna membenarkan hubungan terlarangnya dengan Rico bertahun silam, tapi menyangkal adanya anak diantara mereka. Ya, memang begitulah adanya. Setelah didesak akhirnya Aruna bicara mengenai Fariz yang tidak lain adalah ayah Ciara. Tapi ia sudah tidak mempermasalahkan itu. Tak penting juga siapa ayah Ciara. Ia berterima kasih pula pada Kaysan yang telah mendonorkan sum-sum untuk Ciara, sebaliknya Kaysan melontar terima kasih juga pada Aruna yang telah membangunkannya dari koma.
Walau sudah tau Ciara nyatanya bukan anak Rico, namun rasa sakit dihianati itu tetap ada. Kalina belum bisa memaafkan suaminya. Berkali ia mengutarakan pada Aric maupun Kaysan, meminta pendapat keduanya jika ia berpisah dari papa mereka, namun baik Aric maupun Kaysan tidak setuju. Pun Kalina yang sesungguhnya masih mencintai suaminya itu akhirnya bertahan.
Kalina butuh memastikan kesungguhan penyesalan Rico, ia memilih menepi di rumah Aric. Tinggal dengan anak dan menantu yang harmonis disertai melihat perkembangan Shiza adalah berkah terbesar untuk Kalina. Ia merasa bahagia setiap saat. Sebaliknya Rico sungguh tak pernah gencar mencari maaf istrinya itu, seperti hari ini saja ... ia lagi-lagi datang ke rumah Aric-Sashi ingin bertemu Kalina, ya walau lagi-lagi penolakan yang ia dapat.
"Jadi kamu berencana mengajak Sashi berlibur?"
"Iya, Pa. Sesuai rencana malam nanti kami berangkat, Mama akan sendiri dan kalian bisa bicara baik-baik berdua," ujar Aric.
"Begitukah? Bagaimana jika mama menolak lagi bertemu Papa?"
"Setidaknya Papa tidak mudah menyerah! Seperti halnya Aric sering berbuat salah, yakinlah cinta akan menunjukkan jalannya." Rico membuang napasnya kasar. Ia tenang mendengar ucap putranya itu.
"Cinta .... Ya, aku dan Kalina punya cinta! Mengapa aku lupa itu?" batin Rico.
"Terima kasih Arr, Papa sangat menyesal dengan kekhilafan Papa di masa lalu. Terima kasih pula kamu mensupport Papa padahal Papa banyak menyulitkanmu!"
"Berhenti mengucapkan terima kasih, Pa! Ini tugas Aric sebagai anak. Oh ya, Aric juga minta maaf sempat berasumsi jika Kay bukanlah anak papa karena sum-sum Kay cocok dengan Ciara!"
Rico tersenyum getir. "Sudah pernah kukatakan bukan, selain saudara kandung ada 1 dari 100% orang asing yang bisa saja cocok. Dan berkah untuk Ciara sebab sum-sumnya memiliki kecocokan dengan Kaysan. Kalian anak-anak Papa dan mama. Pun perangkap Fariz sudah papa ikhlaskan. Ya, ia dendam pada papa sebab adiknya dulu papa tinggalkan dan Papa memilih mama, tapi itu semua bukan salah Papa, bahkan Lutfi juga salah paham. Sisca adik Faris yang lebih dulu berselingkuh, pun akhirnya Papa menerima perjodohan dengan mamamu!" Aric mengangguk.
"Baik, Papa pulang dan beristirahatlah dulu dan datanglah nanti malam! Yakinlah Papa bisa mengetuk hati mama."
__ADS_1
"Terima kasih." Rico memeluk raga Aric sebelum akhirnya berlalu. Saat Rico pergi, Kalina keluar kamar.
"Ada salam dari papa, Ma," ucap Aric. Kalina memaksa tersenyum.
"Kondisi papa sangat buruk. Tak ter-urus! Sampai kapan Mama menghindar? Tanyakan pada hati kecil Mama, apa Mama tega melihat papa seperti itu? Setiap orang tentu pernah berbuat kesalahan dan papa sudah menyadari itu! Itu yang terpenting. Aric hanya bisa memberi pendapat, untuk keputusan kembali ke Mama." Pun Aric segera naik ke lantai atas setelahnya. Kalina terdiam, bergeming dan tampak terisak.
Sashi turun dari lantai atas. "Mama kenapa?" tanya Sashi.
"Tidak apa-apa, Sayang! Oh ya bagaimana kuliahmu hari ini dan sedang apa Shiza?" Mama berusaha mengalihkan pilunya tapi semua tetap tertangkap Sashi.
"Kuliah seperti biasa Ma. Shiza sedang tidur. Mama ... Sashi juga pernah berada di posisi Mama. Berpisah dari orang yang kita cintai pasti menyakitkan." Mama mengangguk berkali-kali membenarkan ucap Sashi.
Sashi tersenyum getir. Ia berucap lagi setelahnya. "Bahkan kak Aric juga pernah menyakiti Sashi, ia tiba-tiba diketahui sudah menikahi mbak Aruna, tapi Sashi memilih memaafkan karena Sashi cinta kakak. Tapi tentunya permasalahan papa dan kakak berbeda, walau sama-sama membuat sakit. Kini semua tergantung Mama, Sashi pernah dengar dari ayah bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan. (HR Ibnu Hibban)." Kalina tampak menyimak dengan seksama.
"Dan bukankah Ia suri tauladan yang harus kita contoh? Sebelumnya maaf Ma, Sashi hanya menyampaikan yang Sashi pernah dengar, bukan ingin menggurui Mama. Sashi izin ke dapur, Ma. Permisi."
"I-ya, Ma?"
"Apa ikhlas i-tu mu-dah?" ucap Kalina terbata.
"Bahkan Mama lihat sendiri Sashi sulit ikhlas saat kehilangan janin Sashi. Tapi Sashi punya kalian semua yang selalu support Sashi. Ma, kata Ayah ... seperti halnya kita hendak menuju puncak pegunungan yang indah dan kita melewati aral terjal, seperti itulah kehidupan. In Syaa Allah akan ada buah dari kesabaran dan keikhlasan Mama memaafkan Papa." Sashi tersenyum setelahnya, ia tak menyadari di sudut tangga Aric sejak tadi menyimak apa yang istrinya itu katakan.
...~∆∆∆~...
Raga cantik dengan dress rumahan sebawah lutut berjalan membawa piring berisi potongan buah apel yang diminta suaminya. Perlahan ia membuka pintu kamar agar jiwa kecil yang tengah terlelap tidak terganggu.
__ADS_1
Baru saja raga itu melangkah ke dalam sebuah jemari sudah menarik lengannya ke tepi. Matanya terbelalak, ia kaget tak menyangka dengan aksi spontan yang dilakukan sang suami. Bibir itu sudah mengerucut saja.
"Kakak, mengagetkanku saja!"
Dengan cepat sang suami meraih piring yang digenggam Sashi. Ia meletakkan piring tersebut di atas nacash dengan sebelah jemari saling berjejer menghadap Sashi. Ya, Aric melarang istrinya itu beranjak. Ia segera mendekati istrinya itu lagi setelahnya.
Dikungkung tubuh mungil istrinya itu. "Kakak ada apa? Ini masih siang, Ka-kak!" Bukannya heran Sashi justru tampak menggoda Aric, Aric tersenyum.
"Shiza saja sudah paham dan mengerti, ia tidur sangat pulas ingin memberi waktu Mami dan Papa nya bermesraan," lirih Aric sudah menempelkan bibirnya di kening Sashi.
"Kakak mesum! Jangan sekarang, siang menjelang sore begini Shiza biasanya tidur tidak lama! Kakak jangan lupa, a-ku kan senang yang la-ma," bisik Sashi lagi, ia sangat senang menggoda Aric.
Aric melepaskan kecupannya, ia tertawa. "Aku tidak semesum itu, kita duduk di sofa!" Sashi mengikuti langkah Aric, baru saja hendak menjatuhkan tubuh di samping suaminya itu jemari Aric sudah lebih dulu menarik tubuh mungil Sashi hingga mendarat di pangkuannya.
"Ini yang namanya tidak mesum?" lirih Sashi.
Aric menarik sepasang sudut bibirnya ke atas, ia lagi-lagi tersenyum. "Aku hanya sedang ingin memelukmu!" Aric langsung melingkarkan lengannya ke tubuh Sashi, mencium sisi leher itu baru meletakkan kepalanya dengan nyaman di atas bahu Sashi.
"Ka-kak?" Sashi bingung, mengapa tiba-tiba suaminya itu bersikap sangat manis. Ia mengusap-usap rambut suaminya.
"Terima kasih! Terima kasih kamu sudah peduli pada hubungan orang tuaku! Aku mendengarnya ... semua ucapanmu pada Mama aku dengar, istriku sangat pintar! Sashiku semakin dewasa dan aku bertambah cinta!"
"Ka-kak ...."
..._________________________________________...
__ADS_1
☕Happy reading😘
☕Big hug always for u all❤️❤️