Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
REUNI SINGKAT


__ADS_3

"Duh, beruntung banget sih tu cewe. Kira-kira kenal di mana ya mereka? Gue pikir dulu Aric bakalan nunggu Lo balik, Wa! Eh nyatanya malah doi udah mau punya anak sedang Lo malah baru tunangan, Wa!"


"Sttt! Udah diem kalian, Aric udah deket tuh!"


"Wa," panggil Aric saat raganya udah sangat dekat. Aric dan Sashi berdiri di samping meja Salwa. Salwa ikut berdiri saat ini.


"Terima kasih sudah datang, Arr!" Aric mengangguk.


"Hai Sashh," sapa Salwa kepada Sashi setelahnya. Sashi sebisa mungkin tersenyum. Ia yang selama ini diajarkan norma-norma yang baik menunduk merasa malu melihat pakaian yang Salwa kenakan.


"Mana tunanganmu? Kami ingin mengucapkan selamat!" ujar Aric.


"Oh, sebentar Arr!" Salwa mengedar, dan mengulanginya berkali-kali menatap ke penjuru ruangan tapi tak mendapati sosok tunangannya.


"Duduk dulu ya Arr, Sash! Aku cari tunanganku dulu!" Aric mengangguk.


"Duduk, Sayang!" Sashi menggeleng. Aric masih mengusap-usap bahu Sashi. Ia merasa bangga Sashi berbesar hati mendampinginya hingga titik ini, berada di pesta itu. Aric masih bergeming sambil menatap wajah datar Sashi, netra keduanya bertemu dan mereka saling tersenyum. Aric beberapa kali mencium puncak kepala wanita di sisi kirinya itu. Ya, Aric tau senyuman itu pasti sangat sulit dilakukan setelah beberapa saat lalu Sashi mengetahui hal tentang hubungannya dan Salwa di masa lalu. Aric fokus menatap ke arah kiri di mana Sashi berada, lupa di sisi kanan ada rekan-rekan sekolahnya. Empat wanita itu tampak terus tersenyum dan saling berbisik sudah tak sabar menyapa rekan lama yang semakin terlihat tampan dan matang.


"Hemm!!" Seorang wanita mulai memberi kode. Aric tak menggubris.


"Hemmm!" Dehaman dilakukan lagi oleh wanita lainnya tapi Aric masih sibuk mengusap bahu Sashi.


"Aric!" Wanita lainnya yang geram Aric begitu cuek dan mengabaikan kehadiran dia dan 3 wanita lainnya yang dulu saling mengenal akhirnya berteriak memanggil Aric.


Aric dan Sashi kaget, keduanya sama-sama menoleh. Seorang wanita berdiri. "Aric sombong banget sih Lo!" tukasnya seketika. Aric bergeming masih mengingat-ingat.


"Jangan bilang Lo lupa gue dan kita semua di sini!" ucap wanita itu lagi. Aric mengedar pandang pada wanita-wanita lain yang sedang duduk. Ia tersenyum setelahnya.


"Kamu Irma?"


"Alhamdulillah, Aric masih kenal gue guys! Iya gue Irma, awas aja kalo lo lupain gue! Jangan lupa dulu gue yang ngasih surat cinta pertama lo ke Salwa!"


Aric tersenyum getir. Ia mulai tak tenang, ia berkali-kali menatap Sashi, tak ingin mood istrinya itu kembali buruk.


"Oh ya semua, kenalkan ini istriku. Sashi!"


"Hai Sashi ...."


"Hai ...."


"Hai ...."


"Salam kenal, Mbak."


Empat orang wanita itu bergantian saling menyapa Sashi. Sashi mengangguk dan tersenyum.


"Duduk dulu dong, Arr! Kasian tuh istri Lo pegel!"


"Duduk, Sayang!" Sashi menatap netra Aric, Aric mengangguk meminta pengertian Sashi. Pun Sashi menurut. Mendengar panggilan Sayang, wanita-wanita rekan sekolah saling tersenyum, mereka ingin juga dipanggil seperti itu oleh pasangan mereka.

__ADS_1


"Sudah berapa bulan hamilnya, Mbak?" tanya seorang rekan Aric yang berjilbab.


"Delapan lebih, mau 9 bulan," lirih Sashi.


"Wahh sebentar lagi lahir dong, pantesan udah gede banget." Sashi tersenyum.


"Insya Alloh bayi kami kembar," terang Aric.


"Ihh anak kembar, pasti lucu banget!"


"Seneng banget sih bisa hamil kembar, emang lo ada keturunan kembar, Arr?"


"Ada."


"Oh ya, pantes."


"Gak ada keturunan kalau Allah berkehendak juga bisa kali, Ran!" utar wanita berjilbab kepada sahabatnya dengan rambut cokelat bernama Rani.


"Iya emang sih, Del. Tapi kan kalau ada faktor gen persentase kemungkinan kembarnya lebih gede," jawab Rani. Delia wanita dengan jilbab mengangguk.


"Terus katanya jenis kelaminnya apa, Arr?" tanya Tantri, wanita dengan make up tebal yang juga teman sekolah Aric dan Salwa.


"Itu dia, mereka masih malu belum menunjukkan setiap kami kontrol. Tapi apapun jenis kelamin si kembar kami akan senang." Sashi mengangguk membenarkan.


"Eh ngomong-ngomong lo udah jadi pebisnis sukses sekarang ya, Arr?" Aric tersenyum. "Biasa saja!"


"Gak tau!"


"Emang dari tadi gue liat calon lakinya Salwa sibuk banget! Ngobrol sama model-model terus!" ucap Irma.


"Lakinya Salwa model juga?" tanya Delia.


"Bukan, dia malah manajernya para model-model itu!"


"Oh!"


Melihat Aric dan Sashi hanya terdiam, rekan-rekan lama itu mengajak ngobrol lagi. "Kalo istri lo gawe di mana, Arr!"


"Sashi kuliah dan menjaga anak kami saja!"


"Menjaga anak?" Rani bingung dengan ucapan Aric, apakah anak yang dimaksud adalah bayi yang masih dalam kandungan Sashi atau anak yang mana.


"Iya, kami juga sudah memiliki anak yang menginjak 4 tahun!" jelas Aric. Sashi menyimak setiap ucapan Aric, ia senang Aric menganggap Shiza benar-benar putrinya.


"Ya ampun, Arr. Jadi bentar lagi lo punya 3 anak gitu?" Aric mengangguk.


"Eh tadi Lo bilang istri Lo masih kuliah?" tanya Tantri kini. Aric mengangguk.


"By the way, lo sekarang lebih suka sama yang imut-imut begini ya, Arr!" Aric menjawab dengan anggukan dan senyum tipis ucapan Rani.

__ADS_1


"Trauma Aric sama yang tinggi-tinggi, Ran!" sergah Irma. Aric menggelang-geleng. Ia terus menggenggam jemari Sashi di pahanya. Sashi beberapa kali menatap Aric dan lagi-lagi memaksa tersenyum. Tantri, seorang teman yang duduk di samping Aric melihat aktivitas Aric.


"Duhh Arr, lo bikin baper kita tau gak! Pegangan terus sih!" Sashi langsung berusaha melepaskan tangannya namun Aric semakin mengeratkannya.


Tak berselang lama Salwa datang bersama pria yang sedikit agak tua, sekitar 40 tahunan tapi aura tampan masih terlihat jelas.


"Maaf lama, semua," ucap Salwa.


"Inget balik juga Lo, Wa?" Rani menggoda sambil tertawa.


"Arr, ini tunanganku, mas Bima!"


"Aric!"


"Oh jadi ini Aric mantan yang kamu tinggalin itu?" Salwa mengangguk lirih. Aric menelan kasar salivanya. Keduanya saling menjabat tangan.


"Oh ya, kenalkan ini istriku!" ucap Aric setelahnya.


"Oh Aric sudah menikah? Bagus itu! Haii ...." Bima menjulurkan tangan ke arah Sashi, tapi Sashi memilih melipat tangan ke dada, Sashi mengangguk.


"Oh," decak Bima melihat cara Sashi memperkenalkan diri dan mengabaikan uluran tangannya.


"Bima, Salwa! Aku dan istriku mengucapkan selamat atas pertunangan kalian. Kami ikut senang. Semoga ikatan yang lebih sakral segera terjadi," ucap Aric menatap 2 insan di hadapannya.


"Terima kasih, Arr!" Salwa menatap Aric, keduanya menahan pandang beberapa saat baru Aric mengangguk. Ia menatap Sashi yang ternyata sedang menatapnya pula entah sejak kapan.


"Oke baiklah, itu saja yang ingin kami sampaikan. Kami izin pulang!"


"Sudah kan, Sayang! Aku ke sana dulu!" Bima dengan cepat dan tanpa permisi meninggalkan mereka semua di meja itu. Salwa menarik napasnya panjang baru berucap.


"Kenapa cepat-cepat pulang! Makan, minum dan kita mengobrol dulu, Arr!"


"Iya, Arr ... hampir 7 tahun kita nggak ketemu lho!" tambah Irma.


"Bener tuh, kita juga belum ngobrol perjalanan hidup kita selama ini, Arr!" ucap Tantri.


"Mohon maaf semua, tapi kami harus pulang. Semoga persahabatan ini tak pernah putus!" lirih Aric.


"Yahh, Arrr!"


"Sorry!"


...______________________________________...


☕Happy reading😘😘


☕Ini karya temen literasi Bubu, mungkin ada yang mau mampir,😀😀


__ADS_1


__ADS_2