
Dua raga keluar dari bangunan berdominasi putih tempat keduanya melihat perkembangan dan kondisi bayi dalam rahim Sashi. Rona keduanya tak berhenti berseri, bungah terlihat jelas. Keduanya melangkahkan kaki kini masuk ke mobil. Sesampainya di dalam, Sashi langsung meraih ponsel tampak menghubungi seseorang.
"Halo Assaamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Sash," jawab seorang pemuda dari seberang telfon.
"Apa Shiza merepotkan mu, Kay?"
Pria yang dihubungi Sashi tak lain adalah Kaysan, ayah biologis Shiza sendiri. Walau Sashi yakin Kaysan selalu bisa dipercaya menjaga putrinya itu, tetap saja Sashi ingin memastikannya. Ya, hari ini Kaysan tidak ada jadwal kuliah dan pagi-pagi sudah datang menjemput Shiza ke rumah Lutfi. Pun, Sashi atas persetujuan Aric akhirnya mengizinkan.
"Shiza gadis yang penurut, ia tidak merepotkan," jawab Kay.
"Tanya mereka sedang di mana, Sayang!" Aric yang sedang mengemudi menyela. Sashi seketika mengangguk.
Baru beberapa jam tidak bertemu Shiza, nyatanya Aric sudah rindu dengan segala polah menggemaskan putri sambungnya itu. Pun ia berencana untuk menemui putrinya itu.
"Memang kalian sedang ada di mana?"
"Living World!"
"Alam Sutera, Kak!" Sashi menutup bilah bicara dan berbisik pada Aric.
"Bagaimana jika kita menyusul, kamu tidak letih, bukan?" Sashi menggeleng. "Kita buat surprize tiba-tiba ada di sana, kamu jangan bicara kita akan menyusul oke!" Sashi tersenyum dan mengangguk, kebetulan memang ada beberapa barang di rumah yang habis dan ia berniat membelinya.
"Oke Kay begitu saja. Sampaikan peluk cium kami pada Shiza!"
"Oke, sip bye. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam ...."
...~∆∆∆~...
Seorang gadis kecil tampak terus berlari, matanya awas mengarah ke kanan dan kiri bergantian menatap berbagai wahana yang ada di sekitarnya, bahagia sungguh terpancar jelas. Gadis kecil itu bahkan tidak menghiraukan sang ayah tertinggal jauh di belakangnya. Ia terus berlari saja, beberapa kali tubuhnya membentur tubuh besar yang ada di hadapannya namun ia abai dan terus melanjutkan langkah kakinya itu. Pun orang yang ditabrak tidak marah, memahami ia hanyalah gadis kecil yang sedang meluapkan sukacitanya.
"Ayah .... Ayo yang cepat jalannya!" pekik sang bocah. Kaysan mempercepat langkah kakinya hingga jarak keduanya semakin dekat.
__ADS_1
"Ayah, aku mau naik itu! Yang itu juga! Yang di sana juga!" Tangan gadis kecil itu terus menunjuk dari satu wahana ke wahana lain, seolah semua wahana ingin ia naiki. Kaysan terus menggeleng, tarikan dua sisi bibir itu semakin naik ke atas, tawanya terus mengembang.
Ia mempercepat lagi langkahnya berusaha mengejar Sang putri kecil, namuan bukan melandaikan lajunya, Sang putri justru semakin menggoda sang ayah dengan berjalan lebih cepat. Hingga tiba-tiba ....
BUG ....
Bukan hanya tubuh yang Shiza tabrak kini, melainkan sekantong belanjaan tampak terjatuh pula. Seluruh barang belanjaan seorang gadis tampak bercecer di lantai. Kaysan yang melihat segera berlari mendekat.
"Sayang kamu tidak apa-apa, Nak?" tanyanya pada Shiza. Setelah memastikan Sang putri kecil mengangguk, Kaysan baru mengarahkan pandang pada gadis di hadapan Sang putri. Gadis ayu berbusana kasual dengan kaos oblong yang dipadu celana jeans tertangkap netra Kaysan.
"Maaf! Putriku tidak sengaja menabrakmu," lontar Kaysan merasa tidak enak hati. Dengan sigap Kaysan membantu memunguti satu persatu barang milik gadis itu dan memasukkannya kembali ke dalam kantong belanja.
"Sudah tidak apa-apa, Kak! Biar saya rapikan sendiri," ucap sang gadis ramah.
"Sekali lagi maafkan putri saya," lirih Kaysan lagi sambil mengangguk, rasa bersalah tergambar jelas. Sang gadis tersenyum.
"Sebenarnya saya juga yang sa-lah! Tadi saya berjalan sambil memainkan ponsel tidak tahu kalau ada putri Kakak yang sedang berlari. Jadi semua tidak murni kesalahan adik ini." Sang gadis tersenyum lagi, ia tersenyum dengan raut bersalah pula.
"Tetap saja belanjaan kamu jadi berantakan!"
"Sudah saya bilang tidak apa-apa, Ka-k. Sekarang juga sudah rapi lagi, kan?" Kaysan tersenyum. Ia senang gadis di hadapannya memaklumi perilaku Shiza.
Tak diduga sang gadis membungkuk. "Hai cantik, Kenapa menunduk? Kakak tidak apa-apa kok, tidak marah, belanjaan Kakak juga sudah dibereskan ayah kamu. Jangan takut sama Kakak, ya!"
Perlahan Shiza mengangkat wajahnya menatap pancaran Ayu sang gadis yang sedang tersenyum, pun Shiza terbawa turut tersenyum pula akhirnya.
"Kakak tidak akan marahi Shiza?" Sang gadis menggeleng. Shiza kembali tersenyum.
"Kenapa kamu begitu can-tik?" Sang gadis mengusap-usap pipi Shiza. Dikatakan cantik senyum Shiza semakin mengembang saja, dengan malu ia memeluk kaki Kaysan dan menyembunyikan wajahnya di antara kaki panjang itu.
"Anak Kakak gemesin, sepertinya ia sedang malu." Kaysan tersenyum.
"Iya, dia malu kamu bilang cantik tadi," ucap Kaysan menatap pancaran ayu di hadapannya.
"Sini sayang ...!" Kaysan seketika mengangkat tubuh kecil Shiza dalam gendongannya. Ia memeluk putri kecilnya itu dengan erat.
__ADS_1
"Shiza kenapa? Shiza malu sama kakak, ya?" Shiza mengangguk perlahan dan kembali menyembunyikan wajahnya ke dada Kaysan.
"Berapa usia anak Kakak? Lucu banget sih, Kak," ucap sang gadis gemas.
"Hampir 4 tahun," jawab Kaysan.
"Cantik! Pasti bundanya juga cantik!" ucap sang gadis dengan mata tak melepas sedikit pun dari wajah imut Shiza. Kaysan terdiam. Kata bunda sungguh indah, tapi apa daya bunda Shiza bukan miliknya. Ia membuang napas kasar. Pun Kaysan memilih mengalihkan tanya itu.
"Oh ya, sampai lupa kita belum berkenalan, kenalkan aku Kaysan." Melihat keramahan gadis di hadapannya spontan Kaysan memperkenalkan diri. Tangan itu tampak terjulur kini.
Gadis itu tersenyum, jemarinya dimajukan menyambut uluran jemari Kaysan. "Namaku Lora," ucapnya.
"Lo-ra?" Kaysan memastikan lagi nama yang ia dengar. Ya, nama itu agaknya asing di telinga Kaysan.
"Kakak pasti merasa aneh dengan namaku. Nama panjangku Aurora, tapi biasa dipanggil Lora."
"Oh, nama yang bagus!" lirih Kaysan.
"Kakak ternyata pintar memuji." Kaysan tersenyum.
"Apa kamu ke sini sen-diri?" tanya Kaysan lagi. Berbicara dengan dia yang terlihat manja dan ramah membuat setiap tanya lolos dengan mudah dari bibir Kaysan.
"Aku tadi ke mari bersama kakakku, ia bilang mau ke toilet tapi tidak datang-datang." Raut gelisah mulai tergambar di wajah itu.
"Mungkin mau menunggu kakakmu sambil duduk di-sana?" Lagi-lagi ajakan itu lolos begitu saja.
"Hmm ... bo-leh ta-pi apa tidak mengganggu Ka-kak dan put-ri Kakak?" Kata itu terdengar ragu tapi Kaysan senang Lora menerima ajakannya. Kaysan tersenyum.
"Tentu tidak!" Pun keduanya segera berjalan beriringan menuju sebuah cofee shop di sudut.
"Sashi ... mengapa bicara dengan Lora membuatku nyaman. Gestur manjanya mengingatkanku pada sashi. Ahh ... tidak! Aku tidak boleh terus memikirkan Sashi! Aku harus mulai membuka diri!"
...__________________________________________...
☕Happy reading😘
__ADS_1
☕Aurora