
"Kenapa foto lelaki itu ada di ponselmu, Mas? Siapa kamu sebenarnya?" lugas Aruna.
"Kamu pasti akan kaget! Ia Papaku!"
"Hahh?" Jantung itu berdetak cepat. Ia membuang wajah dengan cepat. Aruna sangat tak menyangka Aric berhubungan dengan orang di masa kelamnya.
"Aku sudah mengetahui ini sejak awal kita menikah! Bisa saja saat itu aku berkilah dan urung menikahimu namun tetap berupaya membiayai pengobatan Ciara. Tapi saat aku mengetahui sosok ayah Ciara. Hatiku sedih, merasa papaku adalah orang yang begitu brengsek membiarkanmu menanggung beban ini sendiri. Aku menikahimu untuk memberi hak kasih sayang dan materi yang tidak bisa ayahku beri pada Ciara." Aruna bergeming, bulir itu mulai keluar. Ia tahu kini mengapa Aric merasa bertanggung jawab pada Ciara, menyayangi bahkan menyiapkan tabungan untuk pendidikan Ciara pula.
"Pasti Bagas yang memberitahumu!" Aric mengangguk.
"Runa, aku atas nama Papaku memohon maaf sebesarnya atas perilakunya, tindakan tidak bermoralnya dan setiap hal buruk yang kalian alami sebab ulahnya. Aku sebagai anak sangat malu, tapi aku juga tak bisa membuat ia bersamamu. Aku sayang mama, tak bisa membuat mamaku sedih. Jadi mohon kikis rasa sakit itu dan buang kebencianmu padanya, please!"
Aric memohon, jelas ia merasa tak nyaman selama ini, hubungan yang ia bentuk nyatanya dikarenakan menutupi dan membayar kesalahan ayahnya. Aric masih menatap wajah datar Aruna. Aruna bergeming, tak menyangka dengan semua yang terjadi.
"Runa, please bicara! Atau kamu ingin kudatangkan papaku ke hadapanmu untuk meminta maaf padamu secara langsung?"
"Tidak!" lantang Aruna.
"La-lu?"
"Om Rico bukan papa Ciara!"
"Hah?" Kini Aric yang terkejut.
"Jangan bercanda, Runa!" ucap Aric lagi.
"Itu yang sebenarnya."
"La-lu, siapa a-yah Ciara?"
"Dia lelaki yang sama brengseknya dengan papamu. Maaf tapi aku tidak ingin membicarakan tentang dia!" Aruna menunduk.
"Lalu mengapa Bagas bilang-----
"Karena itu yang Bagas tahu. Tapi yang tahu siapa ayah Ciara sebenarnya hanya aku! Sebulan setelah berhubungan dengan papamu aku masih datang bulan, hingga aku melayani pria la-gi dan ha-mil setelahnya!" Air mata di pipi Aruna jatuh satu demi satu. Ya, membuka hal lama yang menyakitkan tentu tak mudah.
"Kalau uang dari papaku sudah cukup, mengapa melayani orang lain lagi?" lugas Aric.
"Setelah operasi kondisi Adel memburuk. Ada komplikasi lain dikarenakan aku telat mendapat donor. Aku membutuhkan uang banyak Mas!"
Aric membuang napasnya kasar. "Tapi mengapa kamu meminta pertanggungjawaban pada papaku dan bukan pada pria itu!"
__ADS_1
"Pria itu yang meminta!" Tangis Aruna semakin deras. Ia beberapa kali menarik napas baru akhirnya melanjutkan kalimatnya.
"Hari itu aku datang untuk meminta pertanggungjawaban pria itu. Bukan merespon, ia justru mengancamku! Ia akan melaporkanku ke kantor polisi dengan alasan aku telah memerasnya. Aku yang saat itu masih polos seketika takut. Ia terus menakutiku, hingga terlontar pinta itu. Ya, agar aku tidak dilaporkan ke polisi aku harus mengaku janinku adalah anak om Rico!"
"Kenapa dia menyuruhmu mendatangi papa? Ia mengenal papaku?"
"Aku tidak tahu, Mas!"
"Kamu mendatangi Papa setelahnya dan papaku mengatur pernikahanmu dengan Bagas kah setelahnya?" lugas Aric.
"Benar! Papamu sangat yakin janinku bukan benihnya, ia terus menyangkal hingga aku mengikuti pinta pria itu untuk mengancam papamu. Papamu setuju tapi nyatanya ia menjebakku!"
Aric sungguh tak habis fikir dengan pelik yang dialami Aruna. Belum lagi setelahnya ia berurusan dengan Bagas yang kerap menyiksanya. Aric menunduk.
"Maaf membuatmu mengingat ini semua," lirih Aric.
"Ini ambillah lagi semua pemberianmu, toh Ciara bukan anak papamu!" Aruna menjulurkan map yang tadi diberi Aric.
"Semua milikmu! Bagaimana pun papaku salah satu penyebab rusaknya dirimu!" Aruna meletakkan map di meja. Ia menunduk dengan perih yang teramat sakit.
Tanpa permisi Aric melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan Aruna. Ia perlu menemui papanya.
...▪♧♧♧▪...
"Rico Perwira, masih tetap tampan dan gagah"
"Fariz Hernanto, kau juga tak kalah gagah! Tunggu, apa ini? Janggut tipis. Ahh ... kau sudah macam seperti ustad saja, Kawan!"
"Ha ha ha ... kau bisa saja, Ric! Ayo duduk!"
"Kapan ya kita terakhir bertemu?" ujar Rico terdiam dan berfikir setelahnya.
"Kau ini masih tampan tapi otak tuamu tak bisa dibohongi. Kau lupa 8 tahun lalu kita reuni sekolah di club itu?"
"Oh ya, benar."
"Hei, ngomong-ngomong ... bagaimana ya kabar gadis muda yang bersamamu malam itu? Masih ingusan saja saat itu sudah begitu cantik, pasti sekarang semakin dewasa dan aduhai."
huk ... uhuk ...
"Hei, kenapa kau Ric? Aku curiga jangan-jangan sampai sekarang kalian masih sering bertemu!"
__ADS_1
"Diam Riz, aku tidak suka kamu membicarakan wanita itu!" Rico berbisik tak ingin sahabatnya itu membahas masa lalu.
"Kudengar setelah kejadian malam itu ia hamil, apa ia datang meminta pertanggung jawabanmu?"
"Riz, cukup!"
"Entah bagaimana jika istrimu itu tau. Hah ... Kalina Kalina ... apa istrimu itu masih cantik seperti dulu? Sayang sekali wajah dan tubuh molek itu nyatanya tak cukup memuaskan suaminya!" ucap Fariz tertawa setelahnya.
"Jangan pernah membahas kejadian malam itu, Riz. Kita sama-sama tahu malam itu kamu yang memasukkan gadis itu ke kamarku!"
"Tapi kamu juga suka, kan? Dan pilihanmu itu memang cantik, terlebih ia belum pernah tersentuh," bisik Fariz seakan terus memancing emosi Rico.
"Malam itu aku mau karena kudengar ia sedang membutuhkan uang, itu saja!"
"Aku bukan anak kecil, Ric! Dan benihmu sangat tokcer, Kawan!"
"Diam! Maaf, aku tidak suka kamu membahas itu! Langsung saja kita membahas bisnis kita!" ujar Rico.
"Kalau bukan karena bisnis bertotal milyaran itu aku enggan bertemu denganmu Fariz. Kau dan adikmu itu sama saja, senang menyusahkanku!"
...▪♧♧♧▪...
Seorang lelaki terpogoh masuk ke dalam rumah bernuansa cream nan lembut. Ia langsung mencari raga sang ayah. Ia langsung masuk ke ruang kerja sang ayah karena biasanya Rico berada di sana, tapi nyatanya tak ada. Aric menuju ruang keluarga, didapati Kalina dan Kaysan sedang menonton TV. Mereka seketika menoleh.
"Kak, kau datang? Apa kau kemari bersama kakak ipar?" Aric menggeleng.
"Ma, di mana Papa?"
"Papamu sedang ada pertemuan bisnis dengan Om Fariz," jawab Kalina.
"Om Fariz? Bukankah ia di Amerika?" Dada Aric seketika berdetak cepat.
"Dua hari lalu ia kembali dan menawarkan kerjasama dengan Papa!"
"Ma, bukankah Om Fariz adalah Om dari kak Salwa?" cetus Kaysan tiba-tiba. Mama mengangguk sambil melirik Aric.
__________________________________________
☕Happy reading😘
☕Like, komen dan votenya jangan lupa yaa❤❤
__ADS_1