
"Pasti tubuh Shiza sangat berat, bukan?" tanya Kaysan mengaburkan angan Lora.
"Eh, apa Kak?" Lora memastikan lagi tanya yang ia dengar.
"Kamu pasti pegal memangku Shiza, tubuh Shiza cukup berisi!"
"Tidak Kak, aku senang. Beberapa saat lalu aku bahkan berfikir. Apa seperti ini rasanya memiliki anak. Merasakan dekapan Shiza, seolah ia begitu bergantung pada sosok besar di sekitarnya dan Kak Sashi pasti merasakan hal seperti itu setiap saat." Kaysan tersenyum dan mengangguk.
"Itu memang kodrat wanita yang harus dijalani," ujar Kaysan.
"Berapa usia kak Sashi ya, Kak? Sepertinya tidak jauh dariku tapi sudah mau memiliki 3 anak."
"Sashi 24 sepertiku." Bibir Lora membulat.
"Berarti hanya beda 2 tahun dariku! Wah keren ... Kak Sashi berani menikah muda dengan kak Aric dan langsung memiliki Shiza. Mereka pasti saling mencintai. Aku surprize mendengarnya." Lora menjawab tak melepas tatapannya pada Kaysan. Ia sangat antusias dan kaget. Kaysan menelan kasar salivanya.
"Bukan Sashi yang menginginkan menikah muda, tapi keadaan yang memaksanya. Dan bukan kak Aric pria yang dicintai Sashi saat itu, tapi aku. Namun apalah daya, keadaan pula yang menjauhkanku dari cintaku. Takdir ... semua tak lepas adalah takdir-Nya ...!" batin Kaysan.
"Ka-k ... Kak Kay!"
"Eh iya?"
"Kakak tidak dengar tanyaku?"
"Maaf, apa yang kamu tanyakan?"
"Kak Sashi, bagiamana awal pertemuan kak Sashi dan kak Aric? Aku jadi penasaran," tanya Lora lagi-lagi wajahnya terlihat antusias. Lora memang punya rasa ingin tahu besar terlebih dengan hal yang tak disangkanya itu.
"I-tu ... Sashi teman sekolahku! Dia_______
"Oh, jadi kak Sashi teman sekolah Kakak? Pasti saat kak Sashi main kak Aric bertemu kak Sashi dan langsung suka begitu? Manis sekali. Jodohku sahabat adikku!"
Kaysan yang baru saja ingin menjelaskan di sela Lora dengan asumsinya, membuat keinginan bercerita itu hilang. Kaysan tersenyum getir mendengar prasangka Lora.
"Salah, Ra. Yang betul, jodohku kekasih adikku! Hahh ... mengapa semua masih begitu menyakitkan padahal Sashi tak lama lagi akan melahirkan anak-anak Kakak! Sashi bukan milikmu lagi, Kay. Ia sudah lama hilang terlepas darimu!"
"Kak ... Kakak kenapa?"
"Tidak apa-apa! Oh ya, bagaimana kabar kak Salwa? Rencana pernikahannya kapan?" tanya Kaysan mengalihkan pembahasan Lora menyangkut Sashi.
"Aku tidak tahu, Kak! Kak Bima saja sudah balik ke Amerika ada even besar di sana. Padahal kak Salwa sudah mengambil banyak job di Indonesia, malah yang diikuti kembali lagi ke luar negeri!"
"Asal komunikasi tetap terjaga dan rencana pernikahan tetap berjalan, tidak masalah sih long distance," ujar Kaysan.
__ADS_1
"Itu dia masalahnya! Kak Bima sering hilang komunikasi dan muncul lagi. Entahlah! Jujur aku tidak suka kak Bima! Tapi kami tidak ada pilihan! Awas saja kalau kak Bima lari dari tanggung jawab!"
"Tanggung ja-wab?"
"Eh, lupakan saja Kak, aku salah bicara!" Kaysan masih menatap Lora sambil mengangguk lirih.
"Oh ya, Kak, terima kasih untuk hari ini. Aku sangat bahagia. Aku senang dekat Kakak, dekat Shiza. Aku happy, very happy, berharap bisa sering habiskan waktu bersama kalian!" Kaysan tersenyum.
"Aku yang berterima kasih kamu sabar menanggapi celoteh Shiza. Oh ya satu lagi, saat bermain ATV aku tau kamu sengaja mengalah tadi!" Lora tersenyum.
"Mana mungkin aku tega membuat Shiza sedih karena omnya ternyata tidak pandai mengendarai ATV!" Lora menaikkan sepasang alisnya ke atas.
"Kamu mengejekku?"
"Haaa ... Shiza sudah tidur, Kakak tidak perlu malu, mengaku saja!" Kaysan tersenyum.
"Kamu benar, aku memang baru pertama bermain itu! Tapi tentunya aku tidak boleh membiarkan putriku melihat kelemahanku!"
"Put-ri? Sebaiknya Kakak ganti panggilan Ayah itu, Kakak sepertinya mulai terlarut merasa Shiza anak Kakak. Ayolah Kak, Shiza anak kak Aric dan bukan anak Kakak!"
Wajah Kaysan berubah datar, ia tidak suka ucapan Lora, tapi tidak bisa menyalahkannya. Hubungan mereka masih sebatas pertemanan, Lora belum perlu tahu segalanya.
"Kakak kenapa? Atau Kakak sudah sangat ingin punya anak, yaaa ... cepat cari istri, Kak!" Lora terus tersenyum setelahnya, sebaliknya Kaysan hanya bergeming. Kaysan tidak suka candaan Lora. Lora ternyata bukan Sashi. Ia masih begitu kekanakan, beda dengan Sashi bisa menempatkan sesuatu dan peka membaca sesuatu. Berkali Kaysan menelan kasar salivanya.
"Itu, itu rumahku, Ka-k!" Kaysan mengangguk, ia masih ingat rumah itu, toh dulu Aric sering mengajaknya ke sana.
Kaysan mengulurkan tangan berusaha meraih tubuh Shiza saat kuda besinya berhenti sempurna. Lora menciumi Shiza baru setelahnya mengarahkan tubuh Shiza. Kaysan meraih Shiza, memeluk tubuh itu ke dadanya.
"Terima kasih sudah menyayangi Shiza!" ucapan itu terdengar datar. Lora tersenyum. Kaysan masih menatap pancaran polos Shiza saat tanpa sepengetahuannya Lora mendekat dan memberi kecupan di pipinya. Kaysan terperanjat dan segera mengangkat wajahnya.
"Ra?"
"Itu salam perpisahan di negaraku dulu! Hmm ... maaf, aku hanya mencari alasan. Yang benar, aku senang hari ini pergi dengan Kakak. Aku bahagia. Aku senang dekat dengan Kakak, sangat senang. Bye, Kak!"
Baru membuka pintu, Kaysan menahan lengan itu membuat Lora spontan menutup pintu kembali.
"A-da a-pa, Ka-k?" Lora terlihat bingung, disentuh Kaysan membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Jangan lakukan seperti itu lagi!"
"La-kukan a-pa, Kak?"
"Menciumku! Aku tidak suka! Maaf!"
__ADS_1
"Apa Kakak malu? Apa karena aku hanya teman biasa? Ba-gaimana jika kita tingkatkan hubungan kita ja-di teman spesial? Aku setuju!" Kaysan tersenyum getir.
"Kita butuh saling mengenal untuk ke taraf spesial. Kita jalani pertemanan ini dulu, maaf! Masalah mencium laki-laki, sebaiknya jangan lakukan lagi!"
"Iya, berteman dulu juga tidak buruk. Masalah mencium, Kakak aneh! Aku baru melihat lelaki yang tidak suka dicium!"
"Ra, ini Indonesia dan bukan negaramu dahulu. Kami khususnya aku menjunjung tinggi adat kesopanan. Lagi pula kita belum memiliki ikatan khusus. Jangan salah paham, ya!"
"Ah, Kak Kay kuno. Tapi okelah! Maaf ya, Kak. Bye Kakak ...! Mimpi indah ya, Kak!"
Ada kelegaan saat Lora ke luar dari mobil. Kaysan mengusap pipinya. Lora ternyata sangat berani, tapi Kaysan kurang menyukai perilaku seperti itu. Ia membuang napasnya kasar baru melajukan kendaraannya lagi.
Baru beberapa meter berjalan, ponselnya terus berdering, pun ia menghentikan sejenak kendaraannya itu.
📲Wa'alaikumsalam, iya Kak?
Kaysan menjawab salam Aric.
📞Kamu di mana?
📲Mengarah ke rumah, Kak! 15 menit aku sampai!
📞Shiza sedang apa?
📲Shiza tertidur.
📞Lora sudah kamu antar?
📲Sudah.
📞Ya sudah, hati-hati di jalan.
📲Iya, Kak. Assalamu'alaikum.
📞 Wa'alaikumsalam.
..._________________________________________...
☕Happy reading😘
☕Jangan lupa like, komen buat nambah semangat bubu❤️❤️
☕Ada karya sahabat bubu lagi nih, jangan bosen ya. Karya ini sering nangkring di banner yang pastinya oke bgt. Yuk kepoin😍😍
__ADS_1