Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
JALAN NAPAS ITU BERHENTI


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Aruna menenggelamkan wajahnya ke bathup. Ia yang keras tampak di luar nyatanya rapuh. Sampai di rumah ia langsung menuju ke kamar mandi, membersihkan diri menjadi tujuannya. Merasa kotor rasanya raga itu. Hal buruk itu kembali terjadi. Kalau dulu ia merelakan tubuhnya menjadi santapan naf su pria hidung belang, kini ia merasa sedih tubuhnya menjadi pemuas naf su. Terlebih oleh pria biada*b seperti Bagas.


Aruna benci Bagas, sangat benci! Tujuh tahun mereka hidup bersama tanpa cinta. Bagas kerap menyakitinya, memaksakan kehendaknya, menjadikannya alat pemuas naf su, bahkan Bagas tak pernah memberi nafkah untuknya.


Wanita tegar itu merasa hancur, dirinya bak bongkahan karang tak berharga. Setiap ikan keluar masuk tanpa permisi padanya. Ia yang memiliki suami namun tak mendapat haknya, pernikahan hanya sebatas status, nyatanya hati itu hampa.


Aruna masih berada dalam bathup termenung meratapi nasibnya. Niat baik menolong sang adik kala itu justru menjadi awal rusaknya jiwa dan raganya. Kesucian telah terhempas, kehamilan menjadi momok nyata harga diri itu terhempas, masyarakat nyatanya tau ia bukan wanita suci, ia dicemooh, ditinggalkan, bahkan lelaki yang menghamili menyangkal itu darah dagingnya. Hingga sampai jebakan pernikahan itu terjadi. Ia dibuat hidup bersama pria tak bermoral.


Sejak saat itu jiwa baiknya telah kalah dengan coretan garis hitam yang membingkai jalan hidupnya. Aruna gadis baik itu berubah menjadi monster dengan barbagai fikir dan rencana buruk di otak.


Mata itu, hidung, telinga, hati, hingga organ geraknya ia gunakan untuk mencuri hati lelaki tegap yang tinggal bertetangga dengannya, suami wanita lain. Mata itu selalu awas melihat di mana lelaki itu berada atau sedang melakukan apa, hidung itu tampak nyaman mencari harum khas saat sang lelaki dekat dengannya, telinga itu selalu mencari kabar apa saja tentang sang lelaki, hati itu mulai bergetar bahkan hanya melihat sang lelaki di kejauhan, dan anggota geraknya ... ia selalu sengaja mondar mandir atau melakukan apa pun berharap menarik perhatian sang lelaki.


Hingga pengusiran dirinya yang dilakukan Bagas malam itu, sejatinya Aruna sadar Aric mengikutinya. Aruna terus mengajak Ciara berjalan hingga ia melihat rel. Ciara yang berkali-kali mengatakan bahwa ada papa Aric mengikutinya, membuat Aruna semakin bersemangat menuju rel dan terbesitlah rencana itu.


Dialah Alaric Abdi Perwira yang membuat hati Aruna tak menentu. Sosok tampan yang akan membuka kaca jendela saat berpamitan dengan istrinya, berbicara sangat sopan dan memanjakan istrinya, ia bahkan tak malu membeli nasi uduk di tempatnya. Yang menjadi awal perkenalan Aruna dengannya itu.


Aruna lagi-lagi menenggelamkan kepalanya ke dalam bath up saat ia ingat Sashi, ia merasa tidak suka Sashi, Sashi yang memiliki segalanya berbeda darinya, Sashi yang memiliki suami baik, harta berlimpah, anak yang sehat, dan rasa cinta Aric. Ia ingin semua yang dimiliki Sashi, sangat ingin bahagia, dicintai dan memiliki kehormatan diri. Tapi ia lagi-lagi mengalami hal buruk dan merasa dipermainkan oleh takdir, pun ia merasa Tuhan sudah tidak adil.


Aruna merasa sangat lelah dengan dunia. Benar-benar lelah. Kejadian yang menimpanya tadi pagi sungguh menjatuhkan harga dirinya. Ia benci Bagas. Ia ingin menjadi wanita terhormat, tapi Bagas hadir hanya menyakiti dan mengolok seolah dirinya sampah.


Aruna menyerah, Ciara akan segera sembuh sebab pendonoran sum sum sudah terjadi. Memang Ciara tidak bisa sembuh 100%, tapi Aruna harus bersyukur. Ya, walau ia tak bisa lagi kelak menggunakan putrinya itu untuk membuat Aric mendekat. Ia bahkan harus siap jika Aric memutuskan berpisah dengannya.

__ADS_1


Gelap mata hati Aruna. Ia tak ingin ada lagi. Agaknya tiada lebih baik untuknya, sebelum kehidupan yang sepi itu menghampiri dan lagi-lagi ia merasa sendiri.


Aruna menenggelamkan wajahnya kini semakin dalam ke bathup, ia ingin tenang dan berupaya tidak mengangkat wajah itu ke permukaan kembali.


...▪♧♧♧▪...


Lelaki tegap dengan kemeja polos itu bingung Aruna tak jua datang. sudah 5 jam lalu Ciara sadar dan terus memanggil bundanya itu, tapi sayang sang bunda entah ada di mana. Aric yang jengah mulai meraih ponselnya. Panggilan ke ponsel Aruna ia lakukan, hanya ada nada tanpa jawaban. Aric menghubungi telepon kabel rumah Aruna. Diyah mengangkat, menyatakan majikannya itu sudah 2 jam di kamar tak jua keluar. Aric yang melihat Ciara mulai tertidur merasa perlu menjemput Aruna.


Pintu itu diketuk tapi tak ada jawaban. Panggilan itu dilontar tetap suasana kamar itu sepi seakan tidak ada manusia di dalam. Aric meminta kunci cadangan dan pintu berhasil dibuka.


Aric mengedarkan pandang ke sekitar, bayang Aruna tak ada. Ia melangkahkan kaki menyisir tiap sisi kamar hingga ia melihat kamar mandi, panggilan kembali dilontar, namun lagi-lagi tak ada jawaban dari ruang terkunci itu. Setelah beberapa saat, Aric merasa perlu mendobrak pintu itu. Beberapa gebrakan dilakukan dan akhirnya pintu terbuka. Aric masuk dan Diyah mengekor. Keduanya masih mencari hingga terlihat pergerakan air dalam bathup. Aric mendekat dan ia tersentak.


"Aruna?"


Aric dengan cepat mengangkat tubuh itu. Tubuh polos dengan banyak tanda sungguh membuat Aric kaget.


Aric merebahkan Aruna ke lantai, memeriksa pernapasannya. Jantung Aric berdetak cepat mendapati sudah tak ada hembusan napas di hidung Aruna. Aric mengecek nadi Aruna setelahnya, hasilnya sama tak ada denyut di sana. Jalan napas itu berhenti.


"Pak ... bagaimana ibu, Pak?" tanya Diyah begitu panik, Aric tak menggubris.


"Run ... Runaa!" pekik Aric sambil menepuk-nepuk pipi Aruna. Aric mencoba menghilangkan paniknya sebab Aruna sudah tak bernapas.

__ADS_1


"Bik, telfon dokter!"


Diyah seketika meraih telfon kabel di kamar itu, sedang Aric yang pernah mengikuti kegiatan Palang Merah saat sekolah mulai melakukan tindakan CPR atau resusitasi jantung dan paru dengan kompresi dada. Aric memastikan korban dalam posisi terlentang pada permukaan yang rata dan keras. Ia melakukan kompresi dada selama 30x dengan kecepatan 100-120 permenit.


Aric membuka jalan napas itu setelahnya, ia meletakkan tangannya di dahi Aruna dan tengadahkan kepala itu. Aric letakkan ujung jari di bawah dagu, mengangkat dagunya. Aric memberi dua kali bantuan napas setelahnya. Menutup hidung dengan ibu jari dan telunjuk. Tiup sekitar 1 detik untuk membuat dada terangkat, kemudian lanjutkan dengan tiupan berikutnya. Setelah 2x tiupan Aric mengulang lagi melakukan kompresi dada. Ia lakukan itu terus-menerus hingga akhirnya Aruna terbatuk. Ada rasa lega di hati Aric. Ia mengangkat tubuh Aruna setelahnya ke ranjang dan menutupi tubuh itu dengan selimut.


"Dokter akan segera datang katanya, Pak." Aric mengangguk, Diyah melihat Aruna masih terus terbatuk.


"Ibu ... ibu sudah sadar, Pak?"


"Berikan salep pada luka-luka di tubuhnya!" Ya, tanda-tanda merah di tubuh itu tampak lecet. Aruna memang menggosok tanda itu, merasa jijik dan ingin menghilangkan namun justru membuat tubuhnya lecet. Aric menuju lemari dan mengambil pakaian yang agak rapi. Berharap dokter tak melihat tanda-tanda itu.


"Pakaikan Aruna pakaian ini, Bik!" Aric keluar dari kamar setelahnya.


"Apa yang sebetulnya terjadi dengan wanita itu? Tubuhnya dipenuhi tanda, menjijikan. Tapi tak mungkin ia tertidur di bath up, mungkinkah ia sedang melakukan percobaan bu-nuh di-ri? Dan Sashi ... maaf Sayang, aku telah melihat tubuh wanita lain, tak hanya itu ... aku juga menyentuhnya. Tapi percayalah, semua atas dasar kemanusiaan saja!"


__________________________________________


☕Happy reading😘


☕Jangan lupa like dan komen di setiap babnya yaa❤❤

__ADS_1


☕Senin manis jangan lupa kasih vote untuk Sashi yaa😄😄


__ADS_2