Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
SASHI SUDAH LAPAR LAGI


__ADS_3

"Ka-k ...!"


"Iya, Sayang, sebentar lagi ya! Ini pekerjaan penting, lusa barang ini harus dikirim jadi aku harus mengeceknya." Bibir Sashi mulai memberengut, ia memang tak suka Aric membawa pekerjaan ke rumah.


"Kakak tidak sayang aku! Tidak memperhatikanku!"


"Oke ... Sayangku mau apa, hem?" Aric menoleh menatap Sashi.


"Aku sudah lapar lagi! Mau mie instan seperti yang Kakak buat malam itu!" lirih Sashi.


"Tapi aku sedang ada pekerjaan, Sayang. Minta buatkan bik Ningsih dulu, ya!"


"Tapi aku mau dibuatkan oleh Kakak!" Sashi mulai merengek.


"Sayang ... please mengerti aku malam ini saja, oke!" Aric menahan rahang Sashi dengan sebelah tangannya, memberi kecupan singkat di bibir istrinya itu dan kembali menatap layar 16' di hadapannya.


"Anak-anak ... lihat Papa kalian tidak sayang Mami!" batin Sashi sambil menyapu perut buncitnya.


Sashi bangkit, karena ia sadar sedang banyak orang di rumah bundanya itu. Ia segera meraih sweater dan memakai jilbab sebatas menutup kepala. Pun Aric heran.


"Sayang, mau ke mana?"


"Minta bik Ningsih buatkan mie instan!" jawab Sashi dengan kesal. Ia meraih gagang pintu setelahnya.


"Sayang terima kasih pengertiannya, yaa!" teriak Aric.


Sashi terus berjalan melewati koridor hingga raganya sampai ke dapur. Baru ingin berbelok ke kamar Ningsih, tampak lampu dapur menyala sebagian. Pun ia segera berbalik ingin memastikan siapa yang sedang di dapur malam-malam.


Seorang pria tegap tampak sedang duduk dengan segelas cappucino di tangan. Sashi mendekat.


"Bukankah itu, Ka-yy!"


"Kay!" panggil Sashi. Sang pria menoleh, Kaysan menoleh. Netra itu membulat, kaget Sashi tiba-tiba ada di sana.


"Kay sedang apa? Shiza sudah tidur?" Ya, Kaysan memang meminta izin tadi untuk mengajak Shiza tidur bersamanya. Pun melihat Shiza yang tampak nyaman bersama dengan Kaysan akhirnya Sashi dan Aric mengizinkan Shiza tidur bersama dengan ayahnya itu.


"Iya, Shiza sudah pulas," jawab Kaysan. Kaysan tampak mengamati Sashi dari atas ke bawah.


"Kenapa belum tidur? Di mana kakak?" tanyanya.


"Kakak sedang sibuk," jawab Sasi dengan bibir mengerucut.


"Kenapa Bibirmu seperti itu? Pasti sedang kesal dengan kakak?"


"Iya," jawab Sashi apa adanya.


"Kakakku memang pengusaha, jadi wajar jika ia sibuk, beda denganku yang belum bisa mencari uang sendiri!"

__ADS_1


"Kenapa Kay bicara begitu?"


"Memang begitu kenyataannya!"


"Tapi Kay belum bekerja karena memang belum selesai kuliah!" ucap Sashi.


"Iya." Kaysan tertawa. "Sudahlah jangan bahas itu, kamu mau ambil apa ke dapur?"


"Aku lapar, mau minta buatkan kakak mie instan tapi dia sangat sibuk. Kakak tidak sayang aku!"


"Jangan bicara begitu! Kak Aric sangat mencintaimu," ujar Kay sambil menyeruput cappucinonya.


"Iya, Kay benar. Aku yang salah! Aku hanya sedang terbawa kesal," ucap Sashi sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Kaysan ikut tersenyum.


"Sashi bahagia kan menjadi istri kakak?"


"Bahagia," jawab Sashi masih dengan senyum yang membingkai wajah itu.


"Alhamdulillah, aku tenang."


"Kay juga harus mencari seorang wanita! Seseorang yang bisa mencintai Kay!" Sashi menatap lekat Kaysan. Ia sungguh-sungguh dengan katanya.


"Seperti Sashi dulu?"


"Hmm ... ya, seperti itu, tapi jangan sampai berbuat kesalahan seperti kita dulu!" Kata itu mengalir begitu saja. Sashi menganggap semua memang masa lalu dan kini ia tulus ingin menjadi teman Kaysan.


"Iya, sangat jahat!"


"Kira-kira siapa ya yang dulu tega berbuat itu kepada kita?" tanya Kaysan sambil terus menelusuri wajah yang masih tampak imut seperti saat mereka masih bersama.


"Tidak tahu," jawab polos Sashi.


"Kita sama-sama masih polos, bahkan tidak berpikir untuk mencari tahu." Sashi mengangguk.


"Hahh .... Lupakan saja! Semua hanya masa lalu, toh kalau tidak ada kejadian itu kita tidak memiliki Shiza."


"Iya, Kay benar. Kenapa Kay tidak jawab, kenapa Kay tidak mencari pengganti Sashi?"


"Bukan tidak, tapi belum. Belum menemukan yang cocok. Belum bisa melupakan Sashi!"


"Hah?" Sashi menoleh, memastikan yang ia dengar sebelumnya. Kaysan tersenyum.


"Lupakan! Ma-af, aku hanya asal saja bicara!" dalih Kay. Sashi tersenyum.


"Kay masih seperti dulu, senang bercanda dan aku suka. Sebenarnya tadi aku mau bicara pada papa kalau Kay tidak begitu kaku juga. Tapi memang di Kampus Kay terlihat agak pendiam, tidak seperti dulu!" Sashi menatap Kay yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Andai kecelakaan itu tidak terjadi, pasti kita sudah sangat bahagia, ya?" Sashi bergeming.

__ADS_1


"Kenapa diam? Apakah Sashi juga berpikir hal yang sama?" Kaysan bertanya lagi.


"Tentu saja tidak begitu. Aku tidak suka menyesali yang terjadi. Ya, memang takdirku ternyata bersama kakak dan bukan bersama Kay!" lugas Sashi. Kay mengangguk.


"Apa Sashi begitu mencintai Kak Aric?"


"Hmm ... Iya! Sangat! Dulu saat Kay tidak ada, Kakak yang menjaga Sashi dan Shiza. Kakak menyayangi Shiza seperti anak kandungnya sendiri."


"Kakakku memang baik dan tulus. Oh iya, Sashi tadi mau mie instan, kan?"


"Hee, iya ... sampai lupa. Aku akan panggil bik Ningsih dulu!" Baru saja ingin berdiri, Kaysan menahan.


"Jangan ke mana-mana! Biar aku yang buatkan mie untuk Sashi!"


"Jangan, Kay lebih baik istirahat saja sana!"


"Aku belum mengantuk, kok! Biar aku yang buat! Dulu saat kehamilan Shiza Kakak berbuat banyak untukmu, kini kamu juga tengah mengandung, aku akan membalas semua kebaikan kakak pada calon anak-anaknya!" Sashi menatap kesungguhan Kaysan, pun ia akhirnya mengiyakan.


"Apa saat hamil Shiza, Sashi juga suka lapar di malam hari seperti ini?" tanya Kaysan sambil membuat mie instan.


"Iya, aku akan bangun dan minta dibuatkan Mima mie instan!"


"Mima? wanita yang mengurus Sashi itu?" tanya Kaysan sambil menumis irisan cabai dan bawang yang diberi telur dan kol serta ditambah air dan saos botol. Sashi mengangguk.


"Kenapa bukan kakak yang buatkan?" Kaysan tampak menuang kuah itu pada mie yang sudah di tiriskan sebelumnya.


"Saat itu kakak masih acuh. Tapi seiring berjalan waktu Alhamdulillah kakak peduli Sashi." Kaysan mengangguk. Ia teringat Aric pernah melontar itu, tentang sikapnya yang sempat dingin pada Sashi.


"Ma-af!" lirih Kaysan meletakkan mie instan yang seperti mie dok-dok di atas meja. Ia duduk setelahnya di hadapan Sashi.


"Kay jangan minta maaf, saat itu Kay kan sedang koma!" Kaysan mengangguk, ada kegetiran di sana. Ya, separuh hatinya menyesalkan mengapa kecelakaan itu harus terjadi.


"Sudah jangan bicara terus! Ayo makan! Semoga tidak kalah enak dengan mie instan buatan kakak," ucap Kay sambil tersenyum.


Setelah beberapa saat ....


"Hemm ... ini benar-benar seperti buatan kakak!" Sashi mulai memakan mie itu dengan penuh semangat. Kay senang melihat Sashi antusias memakan masakannya. Mie yang dibuat oleh Kaysan maupun Aric tentu saja mirip, sebab saat di rumah Kalina sering membuatkan mereka mie seperti itu saat bersantai bersama.


Sashi masih menyantap makanan di hadapannya sambil terus bercengkrama bersama Kay saat tiba-tiba sebagian lampu dapur yang lain menyala. Keadaan dapur kini begitu terang. Keduanya menoleh.


"Ka-kak?"


..._________________________________________...


☕Happy reading😘


☕Jangan lupa support komen, like dan votenya yaa❤️❤️

__ADS_1


☕Big hug🤗🤗


__ADS_2