Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
KARYAWAN KAKAK CANTIK-CANTIK


__ADS_3

Sedan putih mulai membelah jalan. Entah sudah berapa banyak pohon-pohon, lampu lalu lintas dan kendaraan yang mereka lewati. Suasana langit yang berawan membuat cuaca teduh, sengat sang surya seakan nyaman mendekap awan.


Sashi yang hampir sebulan tak bersentuh dengan rekan pintarnya tampak tak henti menggerakkan jarinya sambil tersenyum-senyum sendiri. Hal yang membuat banyak tanya di otak Aric.


"Sashh ...."


"Hum?"


"Senyum-senyum gitu sih. Sedang lihat apa?"


"Rahasia!"


"Jadi mulai main rahasiaan, hem? Jangan lupa kata ayah, tidah ada yang boleh kita tutupi satu sama lain!"


"Ahh Kakak, ini aku hanya sedang chat bareng anak-anak kok. Rena bilang sama yang lain kalau aku sedang hamil dan grub jadi heboh."


"Oh, kirain sedang lihat apa."


"Kakak fikirannya kotor!"


"Kamu berani meledek Kakak?" Aric mengusap puncak kepala istri kecilnya itu sambil terus menyetir.


"Kita mampir ke kantorku dulu ya!"


"Iya."




Bangunan dengan dinding kaca transparan sudah berada di hadapan keduanya. Aric menepikan kendaraan dan membuka seatbeltnya. Aric mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sashi.


"Kakak mau apa?" ucap Sashi tiba-tiba.


"Membuka seatbeltmu!"


"Apa aku juga harus turun?"


"Tentu saja!" Dengan cepat Sashi langsung menggeleng ke arah Aric.


"Kenapa? Ini tempat suamimu mencari uang, milikmu juga."


"Ti-dak, Kak. Aku di mobil saja!"


"Lho kenapa begitu? Shiza akan bosan!"

__ADS_1


"Shiza sedang tidur!" kilah Sashi.


Jemari itu mengusap pipi Sashi. "Sebenarnya ada apa, mengapa setiap kali aku ajak ke kantor kamu selalu menolak?" Sashi terdiam.


"Sash?" Aric menunggu jawab Sashi.


Sashi melambai tangan meminta Aric mendekat. Pun Aric mendekatkan wajahnya. "Di dalam banyak wanita cantik!" bisik Sashi. Aric tersenyum ternyata istrinya itu merasa tidak percaya diri masuk ke kantor sekaligus showroom itu. Ya, lantai bawah kantor itu memang dijadikan sebagai etalase furniture-furniture dengan beberapa karyawan wanita molek sebagai marketingnya.


Disapu lembut puncak kepala Sashi. "Mereka hanya pekerja, sedang kamu istriku, pemilik hati ini!" ucap Aric menyentuh dadanya meyakinkan Sashi.


"Tapi aku tidak cantik seperti mereka, aku masih bocah, kurang menarik!" lontar Sashi mengerucutkan bibirnya.


"Kata siapa? Kamu itu sangat menarik!" Aric mengusap kepala, berlanjut ke pipi, hingga jemari itu mendarat sempurna di tengkuk Sashi. Tanpa aba-aba Aric sudah menyatukan bibir keduanya dan menekan tengkuk Sashi. Sashi terbawa permainan suaminya, desiran itu membuat tubuh Sashi lemas saja. Sebelah tangan Aric menahan tubuh Shiza di pangkuan Sashi.


"Ka-kak nakal! Bagaimana jika ada karyawan Ka-kak yang li-hat!" lirih Sashi dengan napas masih terengah setelah Aric melepas pagutan panjangnya. Aric tersenyum menyapu bibir basah Sashi.


"Kenapa takut! Aku melakukan dengan wanita yang halal, juga aku cintai, sa-ngat! Pa-ham?" Sashi mengangguk. "Jadi jangan merasa rendah diri! Secantik apapun mereka, aku tidak tertarik. Ya, walau kamu memang terlihat sangat muda, tapi posisimu di atas mereka! Kamu atasan mereka!" Sashi menatap netra Aric, ia mengangguk.


Aric meraih gendongan depan dan memasukkan tubuh Shiza dalam gendongan itu. "Tolong, Sayang!" Aric meminta Sashi menyatukan pengunci di bagian belakang tubuhnya.


"Kakak yakin akan menggendong Shiza seperti ini? Biar aku saja yang menggendong Shiza, Kak!"


"Ada Aric kecil di-sini!" Aric menyentuh perut Sashi. "Aku tidak igin membahayakannya!" Walau terlihat berlebihan, tapi sashi sungguh merasa dijaga dan dicintai.


Keduanya akhirnya masuk, karyawan yang menangkap kehadiran Aric menundukkan kepala sambil melirik ke arah Sashi. Sesaat setelah mereka menjauh, tampak beberapa wanita berbisik-bisik. Sashi menangkap perilaku itu tapi ia berusaha tenang. Sashi semakin mencengkram kuat lengan Aric setelahnya.


"Kakak lihatkan tadi mereka melirik aneh ke arahku. Sangat tidak sopan! Sudah jelas Kakak menggendong Shiza, berarti aku istri Kakak, mengapa pula mereka berbisik-bisik!"


"Karena kamu baru pertama kali ke sini. Abaikan, hem!"


"Harusnya Kakak tidak membawaku masuk, aku malu! Aku memang tidak pantas menjadi istri Kakak! Bahkan karyawan-karyawan Kakak yang cantik itu lebih pantas!" Sashi mulai menangis dan bulir-bulir itu entah mengapa sangat mudah tumpah. Aric memijat pelipisnya bingung.


"Sa-yang, sudah!" Aric mengambil box tisu dan mengulurkan ke arah Sashi.


"Harusnya kalau aku menangis Kakak memelukku, bukan memberiku tisu!" Aric langsung memeluk Sashi.


"Sudah jangan peluk-peluk!" Sashi mendorong tubuh Aric.


"Oke, oke!" Aric merasa serba salah kini.


"Kak ...!"


"I-ya?"


"Di mana toiletnya? Aku mual!"

__ADS_1


"Mual?"


"Iya!"


"Itu, itu di sana Sayang! Ayo!" Aric membawa Sashi ke ruang di sudut.


Setelah memuntahkan yang mengganjal, Sashi tampak lebih baik. Aric meminta office boy membawakan teh panas.


"Sekarang duduk dulu, Sayang. Coba minum teh ini!" Sashi menyesap teh itu perlahan.


Tok ... Tok ...


"Masuk!"


Seorang wanita bertubuh berisi dengan pakaian kerja membentuk tubuh dan rok memperlihatkan separuh pahanya masuk. Sashi bertambah geram saja melihat pemandangan itu. Ia membuang wajahnya.


"Maaf mengganggu, Pak! Pak Surya sudah datang dan menunggu di ruang meeting!"


"Siapkan berkas jangan ada yang tertinggal, saya akan segera ke sana!"


"Baik, Pak!" Riana sang sekretaris keluar.


"Aku tidak suka sekretaris Kakak, tubuhnya terlalu berisi, suruh dia diet, Kak!"


Aric bergeming, bingung dengan pinta Sashi tapi ia mengangguk saja.


"Satu lagi suruh dia beli pakaian yang lebih longgar. Apa dia nyaman bekerja dengan baju ketat begitu!" gumam Sashi, Aric lagi-lagi mengangguk. Ia mendekati Sashi setelahnya.


"Sayang, sekarang coba lihat chat teman-temanmu di grub sekolah itu. Pasti akan menyenangkan. Aku ada meeting sebentar dan akan segera kembali, oke!"


"Janji tidak akan lama?"


"Janji, hanya menanatangani beberapa berkas, tidak akan lama!" Sashi mengangguk. Aric meletakkan Shiza setelahnya ke sofabed yang tampak lebar.


"Kakak!" Baru akan membuka pintu Sashi memanggil.


"Iya?"


"Jangan macam-macam!" Aric tersenyum. Bayang itu menghilang setelahnya.


...▪♧♧♧▪...


Seorang pria muda masih berdiri di muka jendela terus mengingat kenangan dan kejadian yang hilang dari otaknya. Merasa begitu sulit mengingat 3 tahun yang hilang. Ia mulai flashback pada kejadian terakhir yang terekam otaknya. Acara perkemahan sekolah saat SMP, pertandingan basket SMP, juga pertandingan basket saat SMA. Ia terus fokus mengingat wajah dan nama teman-temannya kala itu hingga ia teringat satu nama. Sam, Samuel. Kalau tidak salah saat SMA aku satu club basket dengan Sam, mungkin aku bisa menanyakan penggalan cerita hidupku yang hilang darinya.


"Aku harus menghubungi Sam. Tapi di mana alamatnya? Tunggu! sekolah! Ya, aku bisa ke sekolah mencari tahu alamat Sam."

__ADS_1


__________________________________________


☕Happy reading😘


__ADS_2