
"Sash ... kenapa kuperhatikan kamu terus membuang wajah semenjak pulang tadi." Sashi baru saja selesai menyuapi Shiza. Ia meletakkan Shiza setelahnya di karpet dengan berbagai mainan diletakkan pula di dekatnya.
Sashi beberapa kali mondar mandir toilet, mengambil washlap untuk mengelap wajah Shiza, kembali ke toilet meletakkannya, mencuci tangan dan baru hendak duduk di tepi ranjang ia kembali ke toilet lagi untuk buang air.
Netra Aric tak teralih dari setiap aktivitas istrinya itu. Sashi keluar dari kamar mandi kini, masih mengalihkan wajah dari wajah Aric ia mengambil koper dan mulai memasukkan pakaiannya ke lemari. Aric mendekat.
"Sayang!" Lengan itu sudah mengunci tubuh Sashi dari belakang.
"Lepas, Kak. Pekerjaanku belum selesai!"
"Membereskan baju masih bisa nanti!" Aric sudah mendaratkan bibirnya di tengkuk Sashi, Sashi menggerak-gerakkan leher. "Ka-kak berhen-ti! Aku tidak mau dekat-dekat Kakak, aku sedang marah!"
"Hahh? Kamu marah? Kapan aku buat salah?" Aric membalik tubuh Sashi. Wajah itu sedang memberengut.
"Katakan apa salahku, hem?" Dirangkum wajah itu tapi Sashi berusaha menghindar dari tatapan Aric. Aric semakin bingung saja dibuatnya.
"Sa-yang!" Diusap wajah itu dengan satu tangan lainnya menahan tubuh Sashi.
"Lepas Kak! Aku benci Kakak!" Air mata Sashi sudah menetes saja. Aric spontan melepas lingkaran tangannya. Sashi berjalan cepat merebahkan diri di ranjang. Ia menghadap samping sambil menyembunyikan wajah ke guling.
Aric perlahan ikut naik ke ranjang, ia memeluk Sashi dari belakang. "Kakak jangan peluk-peluk!"
"Ada yang bilang kalau istri sedang menangis itu harus dipeluk," bisik Aric. Sashi bergeming, ia berusaha mencari kalimat untuk berkilah. Belum lagi Sashi berucap Aric sudah bicara lagi
"Apa pun salahku aku minta maaf, Sayang. Aku memang suami jahat sering membuat sedih istrinya!" ucap Aric merenggangkan tubuhnya. "Aku sungguh tak pantas menjadi suami, menjadi ayah, aku lelaki dewasa yang tidak peka, tidak bisa membahagiakan istrinya, sering menjadi pahlawan kesiangan. Oh buruk nya aku dan yang paling utama aku sungguh tak pantas menjadi menantu ustad Lutfi! Ayo kemasi lagi barangmu lagi Sash! Aku akan mengantar kamu ke rumah orang tuamu lagi. Kamu akan lebih bahagia tinggal bersama mereka!"
Sashi berbalik, mana tega ia mendengar suaminya terus memaki dirinya seperti itu. Terlebih ingin mengembalikannya ke rumah orang tuanya. Sashi tidak mau.
"Apa kamu sudah memaafkanku, Sash?" tanya Aric melihat Sashi berbalik. Sashi menggeleng. Aric memberengut.
"Kakak jelek memberengut begitu! Aku marah! Kakak dengan mudahnya akan mengirimku lagi ke rumah ayah!"
"Karena aku hanya bisa membuatmu sedih!"
"Kalau begitu jangan buat aku sedih!"
__ADS_1
"Katakan apa sesungguhnya salahku?" Aric menatap lekat wajah Sashi.
"Kakak tadi menghindariku karena ingin bicara berdua dengan papa, kan? Katakan hal apa yang kakak tidak ingin aku mendengarnya! Aku tidak suka ada rahasia!"
"Jadi karena itu Sashi marah? Ternyata ia menyadari tadi aku menghindarinya. Bagaimana ini? Haruskan masa lalu papa dan Aruna aku ceritakan pada Sashi. Tapi itu sama saja membuka aib papa ...." Aric terus bicara dalam hati. Sashi menyadarinya.
"Kalau Kakak ragu menceritakannya tidak perlu cerita!" Sashi langsung membalik badan dan memunggungi Aric lagi. Aric menahan bahu itu.
"Tunggu! Aku akan ceritakan. Duduklah!"
Sashi kini duduk berjejer dengan Aric, ia bergeming menunggu suaminya yang mau bicara tapi tidak bicara-bicara.
"Ka-k ... ahh Kakak!" Sashi mulai kesal, ia baru ingin berdiri tapi lagi-lagi ditahan Aric. "Tunggu sebentar, aku akan cerita!"
"Aku ambil Shiza dulu, ia sepertinya mulai lelah bermain." Ya, Sashi sesaat tadi melihat Shiza mulai melempar-lempar mainannya, agaknya ia bosan, fikir Sashi. Aric mengangguk.
Diangkatnya tubuh Shiza, Sashi naik lagi ke ranjang, Shiza mengetahui maminya yang meraih tubuhnya seketika mengusel mencari penyegar dahaga miliknya, Sashi memberinya sembari duduk menunggu Aric bercerita.
"Semua tentang papa!"
"Papa?" lirih Sashi. Aric menganguk.
"Sebenarnya salah satu alasanku menikahi Aruna dulu adalah karena berfikir Ciara adalah anak papaku!"
"Hah?" Netra sashi membulat. "Maksud Kakak papa dan Aruna pernah-----
"Iya, itu kesalahan masa lalu Papa. Sebelum menikahi Aruna aku mendatangi Bagas, mencari tahu mengenai ayah Ciara, hal yang akan memudahkanku mencari donor Ciara. Bagas menyebutkan nama papa. Aku yang merasa perilaku papa yang lari dari tanggung jawab bahkan membuat skenario pernikahan antara Aruna dan Bagas sangat tidak manusiawi akhirnya mantap menikahi Aruna untuk memberi Ciara hak yang seharusnya."
"La-lu?" tanya Sashi.
"Nyatanya dugaanku salah. Setelah aku menceraikan Aruna, Aku pastikan lagi Ayah Ciara padanya dan menurut Aruna papa Ciara bukan papaku!"
"Ka-kak?"
Aric langsung memeluk Sashi. "Maafkan aku Sayang! Ya, aku bodoh! Aku buang waktuku nyatanya untuk merawat anak orang lain sedang kamu dan Shiza yang jelas tanggung jawabku justru kulalaikan, bahkan kamu sedang mengandung benihku!"
__ADS_1
"Ka-kak ... iya Kakak bo-doh!" Air mata mulai keluar dari pelupuk Sashi teringat perpisahan kemarin.
"Ma-af, aku janji tidak akan bersikap bodoh lagi! Aku akan menjagamu dengan baik mulai sekarang dan selamanya!" Sashi mengangguk, air mata itu masih menetes, Aric menghapusnya.
Pa ... Pa ... Paaa ... Na ... Na ...Naa
Shiza melepas puncak asi Sashi. Ia tampak mengoceh sambil memukul-mukul tubuh Aric yang masih memeluk Sashi. Shiza agaknya berfikir Aric sedang menyakiti Sashi. Aric meraih tubuh Shiza.
"Sayangg ... ini Papa! Papa memeluk Mami karena sayang dan bukan sedang menyakiti Mami, hem!"
Pa ... Pa ... Paaa ... Na ... Na ...Naa
"Apa? Shiza mau disayang Papa? Iya?" Aric mulai menciumi Shiza namun bukannya Shiza tertawa seperti biasanya ia justru menangis.
"Ka-kak ... Shiza sedang tidak mau bercanda ia mengantuk sepertinya. Biar aku susui lagi!" Aric meletakkan Shiza di pangkuan Sashi lagi, ia langsung menyusui dengan lahap. Aric senang memperhatikan putrinya itu, tak menunggu lama Shiza sudah didekap sang mimpi. Ia begitu pulas tertidur.
"Ka-k!"
"Hem?"
"Lanjutkan cerita tadi! Jadi siapa ayah Ciara sebenarnya!"
"Itulah yang masih tanda tanya, menurut Aruna ayah kandung Ciara yang mengancam ia untuk meminta pertanggung jawaban pada ayahku!"
"Berarti ia mengenal papa kah, Kak?"
"Pintar! Aku juga berfikir begitu, seseorang jelas ingin menjebak papa menggunakan kesalahan papa. Ah entahlah, yang jelas aku sudah menyampaikan semua ini tadi pada Papa."
"Lalu apa kata Papa?"
"Ia tidak bisa sembarangan menebak, tapi ia akan berhati-hati."
"Bagus! Setidaknya papa sudah tau! Ah kesalahan ... setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan seperti halnya aku dan Kay!" lirih kata itu terucap dari bibir Sashi. Walau terdengar pelan, tapi mendengar nama Kay disebut jantung Aric mulai berdetak tak teratur.
__________________________________________
__ADS_1
☕Segini dulu yaa😘
☕Happy reading❤❤