Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
SIAPA YANG DIHUBUNGI SASHI?


__ADS_3

"Aku tidak peduli! Itu pasti alasan Kakak! Kakak pasti cinta mbak Aruna! Kalian sudah menikah berarti kalian juga sudah---- Huuu .... Kakak jahat!" Sashi terus memukul dada itu. Sungguh Sashi sedang tidak ingin mendengar dan tidak bisa dibujuk.


"Tidak! Semua pemikiranmu itu salah! Bahkan aku tak pernah menyentuh Aruna!"


"Bohong! Usiaku memang belum banyak seperti kalian, tapi aku tahu dunia pernikahan! Kakak sering pulang telat, itu pasti sedang bermesraan dengan mbak aruna, kan? Bahkan belum lama tadi Kakak menggodaku! Kakak mengecohku untuk melayani Kakak, apa mbak Aruna belum memuaskan Kakak? Mbak Aruna seksi, cantik, tinggi semampai. Aku memang tidak sebanding! Kalau Kakak ingin bersama mbak Aruna, sana pergi! Aku juga bisa bekerja untuk menghidupi Shiza! Biar aku menjadi janda, aku akan cari orang yang tul-----


"Sashi, STOP!" Aric geram melihat Sashi terus bicara tak karuan mengeluarkan isi otaknya. Ia menghentikan ucapan Sashi. Sashi berhenti bicara tapi justru kini ia menangis semakin kencang, ia kaget Aric berteriak padanya. Otak itu semakin dipenuhi asumsinya sendiri.


"Kakak berteriak padaku? Apa Kakak kini marah padaku? Tapi bukankah dia yang salah. Kakak jahat! Bahkan ayah saja tidak pernah berteriak padaku! Aku benci Kakak!" batin Sashi.


Aric melihat tatapan itu, tatapan kemarahan yang terbingkai tangis yang memekik. Semakin keras terdengar, gadis kecilnya benar-benar marah. Aric bingung.


Aric masih terdiam dan berpikir bagaimana meyakinkan Sashi bahwa hatinya sekalipun tak pernah berpaling, raganya juga ia jaga hanya untuk istrinya itu, hingga tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Shiza bangun. Agaknya putri kecilnya terganggu dengan raungan Sashi. Aric jadi punya ide.


Aric segera meraih tubuh mungil nan menggemaskan Shiza, di ayun-ayun putrinya itu sembari mendekat ke arah Sashi.


"Sayang putri kita menangis! I-ni susui dulu, hem?"


Sashi terdiam. Wajahnya memberengut. Mengapa Shiza harus bangun di saat seperti ini. Tapi memang ia sadar raungannya tadi cukup keras. Ia jadi sedih, ternyata perilakunya telah mengganggu tidur Shiza. Dengan cepat Sashi menjulurkan tangan berusaha meraih Shiza tanpa menatap Aric. Baru saja penyegar dahaga akan ia keluarkan, ia masukkan lagi.


"Kakak kenapa di situ? Aku terganggu dengan tatapan Kakak! Kakak minggir ke sana saja!" Sashi menunjuk tepi ranjang. Aric masih diam dan berfikir. Rasa bersalah itu sangat besar. Ia ingin membujuk Sashi tapi mendekat saja susah.


"Sashh ...." Bukannya pergi Aric malah menyapa Sashi.


"Apalagi Kak? Kakak tidak kasihan pada Shiza? Kalau Kakak masih disitu aku tidak akan menyusui Shiza!" geram Sashi.


"I-ya, tentu aku akan menjauh. Ta-pi ... bagaimana jika kamu menyusui di ranjang agar Shiza nyaman? Biar aku yang di sini?"


Sashi memikirkan ucapan Aric.

__ADS_1


"Kakak benar! Mataku juga mengantuk! Aku letih ingin tidur! Shiza juga lebih nyaman," batin Sashi.


"Ya sudah!" lugas Sashi. Ia berdiri membawa Shiza dalam dekapan dan naik ke ranjang. Sashi mulai memberi penyegar dahaga Shiza, seketika putri kecil itu tak bersuara dan berhenti menangis, hanya decapan yang terdengar. Sashi mengantuk. Ia dengan cepat tertidur seperti biasa sambil menyusui.




Pukul 5 pagi seperti biasa Sashi terbangun, ia merasakan sesuatu yang berat di atas kakinya. Tubuhnya pun tak bisa digerakkan. Ia terkunci.


Sashi kaget saat ia membuka mata tampilan dada terbuka berada tepat di depan wajahnya. Ia mendorong sejadinya tubuh itu. Aric yang kaget langsung terbangun.


"Sa-yang ada a-pa?"


"Kakak jahat! Kakak lagi-lagi memanfaatkan ketidak sadaranku! Ketidak berdayaanku! Kenapa Kakak tidur di sampingku! Bukankah sudah kubilang jangan mendekatiku! Kita itu sedang marahan! Kakak lupa?"


"Tapi kamu juga membalas pelukanku, Sash. Kamu sangat nyaman berada di sini." Aric menyentuh dadanya.


Aric memeluk wanitanya erat. Perilaku spontan yang tak menunggu lama langsung mendapat respon Sashi. Sashi memeluk balik tubuh tegap itu. Ya, di alam bawah sadar Sashi, ia mencari kenyamanan yang memang dihapalnya. Pelukan Aric. Pun keduanya sangat pulas tertidur setelahnya.


"Mana ada begitu! Kakak pasti mulai mengecohku lagi! Kakak jahat! Sekarang kakak ming-gir!" Aric sadar dari lamunnya saat lagi-lagi ia mendengar pekikan Sashi. Sashi terus memberengut.


"Oh, iya ... iya." Aric segera menyingkirkan kaki-kaki panjangnya yang menyilang di kaki Sashi.


"Yang ini juga!" Sashi menatap tangan yang melingkar penuh di pinggangnya. Aric menurut. Sashi mengangkat badan setelahnya ingin menjalankan ibadah. Aric bangun dan menjalankan ibadah pula.


Sashi sedang mencari-cari sesuatu saat Aric baru saja melipat sajadah. Ia menghampiri Sashi. "Sedang cari apa?" tanya Aric.


Awalnya Sashi enggan menanggapi, tapi ia menjawab tanya itu juga akhirnya. "Benda kecil itu harus ditemukan!" batin Sashi.

__ADS_1


"Ponsel! Aku cari ponselku!" jawab Sashi.


"Oh ... itu ada di dalam laci, maaf aku yang menyimpannya!" ucap Aric. Sashi dengan cepat menuju nacash mengambil ponsel itu.


"Sa-yang ... mau telfon siapa?" Aric bertanya dengan sangat hati-hati.


"Berhenti memanggilku Sayang! Aku bukan Sayangnya Kakak lagi!" ketus Sashi.


"Oke tapi katakan siapa yang akan kamu hubungi!"


"Ayah!"


Dada Aric mulai sesak. Bayangan Lutfi akan menjauhkan dirinya dari Sashi langsung memutari otaknya. Ia tak akan membiarkan itu terjadi. Aric panik, tapi ia sudah menyiapkan rencana.


"Sashi please, jangan ayah! Hubungi saja yang lain tapi jangan ayah, o-ke! Ayah pasti lelah setelah berdakwah, ia butuh istirahat, Sayang ... sorry Sashi maksudku. Ia juga punya penyakit jantung, kan? Apa kamu mau ayah kaget dan hal buruk terjadi? Cari yang lain! Hubungi yang lain!"


Aric terus membujuk, pandangan itu mengiba. Sashi bergeming tapi diam-diam menyimak. Ia menuju Balkon. Hati itu sudah sangat sakit, ia ingin mencurahkan sesaknya. Ia bimbang. Gadis 19 tahun itu bimbang, hingga akhirnya ia menekan tombol hijau ....


Jantung Aric berdetak cepat, ia belum tau siapa yang dihubungi Sashi. Ia masih berharap. Dibukanya pintu kaca yang menjadi sekat kamarnya dan balkon. Aric menguping, ia berusaha mencuri dengar, hingga akhirnya ia mendengar Sashi bicara.


__________________________________________


☕Happy reading😘😘


☕Terima kasih segala support❤❤


☕Karya ini sedang mengikuti lomba mohon dukungannya selalu🤗


☕Ini karya Bubu mengenai orang ketiga juga. Sudah tamat. Boleh di favoritkan dan ikut di baca juga. Siapkan kelapangan hati membaca kisah ini🤧

__ADS_1


Judul : TERNYATA AKU ORANG KETIGA



__ADS_2