Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
KITA KELUARGA


__ADS_3

"Han, cari tau mengenai longsor yang terjadi di daerah Berastagi hari ini! Semua korban atau berita apapun yang kamu dapat segera kabari padaku."


Aric ingin memastikan lagi semua sebelum ia mengabari pada anggota keluarganya. Aric menarik napas panjang.


"Semoga itu bukan A-yah, tapi jika itu memang Ayah ... berarti ucapannya adalah pesan terakhirnya untukku!"




Aric berada di mobil setelah menjalankan ibadah Ashar di sebuah masjid besar di tepi jalan saat ponselnya terus bergetar. Ia mengangkat. Ternyata panggilan itu berasal dari Farhan rekannya yang ia minta beberapa saat lalu mengecek kecelakaan di Berastagi.


Dada itu bergemuruh cepat hingga ia kesulitan bernapas saat Farhan menyebutkan beberapa nama yang menjadi korban longsor. Dua nama yang sedang ia pastikan nyantanya ada dalam daftar korban.


Aric menutup matanya, melantunkan berbagai doa dan segera melajukan kendaraan dengan cepat ke rumah. Mobil itu akhirnya terparkir, Aric masih terus berfikir bagaimana menyampaikan yang terjadi pada ibu dan istrinya yang sedang mengandung besar. Pun akhirnya Aric masuk. kondisi di dalam rumah tampak sepi, namun semakin ia masuk suara tangisan semakin terdengar. Aric mempercepat langkah dan menerka mungkinkah anggota keluarganya sudah tau yang terjadi?


Kamar dengan dominasi putih yang menjadi pusat tangisan tampak terbuka. Aric masuk.


"Ka-kak ...." Raga wanita tercinta seketika meraih tubuhnya dengan mata bercucur tangis.


"A-yah, Ka-kk!"


Dada Aric sesak, ia merasa yakin berita itu sudah sampai pada kekuarganya. Ia mempererat dekapannya pada bahu Sashi. Sashi berucap lirih. "Tadi ada polisi da-tang menga-bar-kan A-yah, Ka-kk! A-yah kecelakaan Ka-kk! A-yah su-dah-------


"Jangan katakan! Aku sudah tahu!" Tangis itu semakin kencang. Sashi tak dapat menahan sedihnya, Ia meraung pilu.


"Kuat, Sayang!"


"Aku su-dah tidak punya ayah la-gi ... ayahku pergi, ayah jahat meninggalkanku, ayah tidak sayang a-ku, Ka-kk!"


"Jangan bicara begitu, tabah Sayang. Ayah sangat sayang padamu!"


"Aku mau ayahku, aku tidak mau ayah pergi! Aku akan kesepian! Aku mau ayah selalu bersamaku! Ayah ... Ayahh ...!" Netra Aric turut bercucur tangis, ia menarik dagu itu.

__ADS_1


"Semua ketetapan Pencipta, harus kita terima! Kamu masih punya aku, tidak akan kesepian! Aku akan selalu menjagamu! Hem!" ucap Aric menangkap Aira duduk lemas di tepi ranjang dengan air mata menghias wajahnya. Sashi mengangguk.


"Kita temui bunda! Kita harus kuatkan bunda!" Dengan penuh pilu Sashi mengangguk.


"Oh ya di mana Shiza?" tanya Aric bingung tak melihat Shiza.


"Dengan bik Ning-sih." Aric mengangguk.


Keduanya mendekati raga Aira setelahnya, Sashi langsung memeluk Aira seperti sebelum Aric datang. Keduanya saling berpeluk dan menangis. Aric meraih 2 raga wanita yang harus ia jaga mulai saat ini.


"A-yahmu per-gi, Sash! Ayah sudah meninggalkan Bun-da. Mengapa Ayah harus ke Medan! Pantas tidur ayah tak tenang belakagan i-ni. Ayah tak biasanya sering minta cium bunda. Ayah berkali bilang bunda harus menjaga diri jika ayah pergi. Bunda fikir yang dimaksud adalah jika ayah ke lu-ar ko-ta, tapi kata-kata i-tu ternyata untuk kepergian se-la-manya ...." Aira terus menangis tersedu, pun semakin tersedu pula Sashi.


"Arr ... bunda akan menjemput Ayah ke Medan! Bunda ingin melihat Ayah ... Bunda harus ke sana! Segera siapkan tiket Bunda, Nak!"


"Sashi ikut, Bun!"


"Tidak! Kamu hamil besar begini. Kamu di rumah dengan Aric!"


"Bunda tetap di rumah! Aric yang akan pergi!"


"Kalian semua di rumah! Aku yang pergi!" Sebuah suara seketika terdengar. Seluruh mata menatap beberapa sosok yang baru tiba itu.


"Pa-pa?"


Rico, Kalina dan Kaysan lah yang nyatanya datang. Rico mendekat memeluk Aric. Sedang Kalina segera memeluk Aira dan Sashi, ia menguatkan besan dan anak menantunya.


"Kalian bertiga tetap di sini! Siapkan semua prosesi pemakaman Lutfi dan kabari keluarga manajernya yang juga menjadi korban. Ayah dan Kaysan akan membawa jenazah Lutfi ke rumah ini!"


"Ta-pi, Mas!"


"Menurut, Mbak! Suamiku akan membawa jenazah almarhum, mbak masih bisa melihat almarhum di rumah!" lirih Kalina dengan bercucur tangis pula.


"Banyak yang akan diurus di sana dan mbak Aira tidak bisa mengurus sendiri! Serahkan semua padaku dan Kay!" Aira menatap Rico dan Kaysan bergantian.

__ADS_1


"Te-rima ka-sih, Ma-s!"


"Kita keluarga, jangan berterima kasih!" Aric, Rico dan Kaysan keluar kamar dan bicara bertiga. Rico memberitahu Aric apa saja yang ia harus lakukan untuk pemakaman Rico dan juga keluarga Aryo. Aric paham, ia mengangguk.


Rico dan Kaysan setelahnya langsung menuju Bandara sebab keduanya tadi langsung memesan tiket dan syukurlah untuk penerbangan pukul 18:45 masih ada kursi kosong. Aric menelepon orang penting di kantor untuk mengawasi bisnisnya. Ia mengumpulkan Sopo dan Ojo yang baru saja tiba untuk memberitahu pada ketua RT setempat yang terjadi pada Lutfi dan meminta keduanya mengurus pemakaman Lutfi. Aric baru saja hendak keluar rumah saat Sashi tiba-tiba memanggil.


"Ka-kak!"


"Sa-yang ... ada apa?" Aric merangkum wajah sendu yang sedang menatapnya.


"Ka-kak mau ke-mana?"


"Aku akan ke rumah mas Aryo, belum ada yang memberitahu keluarganya!"


"Ha-ti-hati dan segera kem-bali!" Sashi langsung memeluk raga suaminya. Ada ketakutan ditinggalkan dan kehilangan ia rasa. Ia kembali menangis.


"Sashi harus kuat, aku hanya pergi menangani yang harus kuurus dan akan segera kembali! Jangan menangis lagi! Sekarang temui Shiza, ia pasti bingung!"


"Kakak tidak akan meninggalkanku, kan? Benar akan segera pu-lang?"


Aric menaikkan dagu itu. "Tentu saja benar! Tetap di rumah. Aku cinta kamu, Sashi Mumtaz! Akan selalu menjaga Sashi! Selamanya! Sashi tidak akan pernah sendirian!" Sashi menatap lekat netra itu dan mengangguk setelahnya. Aric mencium beberapa kali bibir itu dan bersimpuh menghadapkan wajah ke perut Sashi. Aric berbisik dan melantunkan doa pada kedua calon bayi kembarnya. Sashi mengusap rambut suaminya itu.


"Sudah ya, aku berangkat!" Disapu lembut bahu Sashi baru Aric benar-benar beranjak.


"Ka-kk!" teriak Sashi memanggil suaminya itu lagi. Aric mendekat, khawatir istrinya itu membutuhkan sesuatu.


"Terima kasih," lirih Sashi. Ya, Sashi merasa kehadiran Aric dan keluarganya sangat membantu keluarganya. Aric mengusap kepala dengan wajah pilu dan air mata masih mengembang di dalam mata bulatnya.


"Kamu lupa kita bukan orang asing?" Aric mencium kening Sashi baru berbalik.


..._________________________________________...


☕Happy reading all😘

__ADS_1


☕Jujur seneng banget baca komentar dari kalian reader setia bubu plus reader baru atas karya bubu ini❤️❤️


☕Kalau ketemu typo mohon dimaklumi. Saat senggang segera bubu revisi🤗🤗


__ADS_2