
"Meni-kahi-nya," lirih dan terbata kata itu akhirnya lolos. Aric menunduk.
"Bodoh! Sok pahlawan!" Aric bergeming, dalam diam ia membenarkan ucapan Lutfi. Ia memang terlalu gegabah mengiyakan ingin Aruna, tapi ia sungguh tak ada pilihan saat itu.
"Kamu fikir pernikahan itu permainan! Ada yang minta menikah dan kamu setuju. Aric ... Aric ...! Usia nyatanya tak bisa menjamin kedewasaan dan cara berfikir yang benar!" Melihat Aric hanya terdiam Lutfi berucap lagi.
"Aric benar-benar tidak ada pilihan, Yah! Sangat takut Aruna benar-benar nekat mengakhiri hidup di depan mata Aric dan membuat Aric dibayangi rasa bersalah seumur hidup!"
"Jadi namanya Aruna? Lancar sekali kamu menyebut nama itu! Ayah jadi curiga memang ada hubungan spesial antara kalian, dan lagi ... bagaimana bisa kalian bersamaan berada di tempat itu, aneh!" ketus kata itu terucap.
"Aruna memang bukan orang asing bagi Aric dan Sashi, ia banyak membantu Sashi usai melahirkan, ia tetangga kami, Yah!"
"Apalagi ini? Bukan orang asing, tetangga! Seketika ia meminta kamu menikahinya. Jujur saja katakan! Kamu suka Aruna, bukan? Dan semua hanya drama yang kalian buat untuk melegalkan hubungan kalian? Maaf jika aku shudzon!" geram Lutfi, entah berapa kali pria paruh baya itu mengelengkan kepala tak habis fikir dengan yang didengar.
"Tidak! Tidak begitu, Yah! Tidak ada rasa! Tidak ada hubungan! Kalau sedikit empati itu memang ada," lugas Aric.
"Empati! Empati yang merusak hubungan! Sashi memang lugu dan bisa percaya. Tapi aku tidak bodoh, Aric! Kalau memang kamu mencintai Sashi, ceraikan wanita itu! Lagi pula wanita macam apa dia mau-maunya menjadi yang kedua yang jelas menyakiti wanita lainnya. Astagfirulloh ... dunia semakin mendekati akhir. Setiap orang hanya berprioritas pada harap dan mimpi tanpa empati dan rasa. Lupa akan balasan akhirat." Lagi-lagi rahang itu mengeras, Lutfi terus menatap pintu utama berharap Rico datang dan mendengar perilaku putranya, tapi yang ditunggu tak jua terlihat.
"Ma-af ... untuk itu A-ric belum bisa!"
"Apalagi ini? Masih ingin mempertahankan, tapi bilang tidak ada rasa untuk wanita itu!"
"Ini bukan tentang Aruna, tapi Ciara, putrinya yang sakit keras. Dalam pernikahan, kami memiliki perjanjian, selain tidak boleh menuntut hak, Aric juga berjanji baru bisa menceraikan Aruna saat Ciara pulih!" ujar Aric dengan raut getir. Ia sudah membayangkan Lutfi pasti sulit menerima.
"Perjanjian? Apa lagi sekarang! Tadi kamu bilang pernikahan ini atas desakan, tapi kini dengan perjanjian. Ini tidak benar! Kamu sama saja sedang mempermainkan pernikahan, Aric! Juga Ciara? Kenapa pula kamu harus memikirkan anak itu! Cari saja ayahnya, kenapa kamu yang repot!" Lutfi semakin geram saja mendengar alasan demi alasan yang diucap Aric.
"Sayangnya ayahnya tidak bertanggung jawab. Aric sedang berupaya mencari donor sumsum untuk Ciara dan Aric akan segera menceraikan Aruna. Please Yah ... pahami Aric dan beri Aric waktu!" Aric mengiba.
"Sesungguhnya pernikahan itu sakral, Aric! Perjanjian yang kuat! Tidak seharusnya ada embel-embel lain di dalamnya. Ayah berat mengatakan ini, tapi dalam pernikahan ada hak dan kewajiban yang harus dilakukan atau semua akan menjadi keburukan untukmu. Kamu harus berfikir tentang itu dan harus siap pula mempertanggung jawabkan setiap keputusanmu!"
__ADS_1
Dalam hati kecil Lutfi sadar menantunya itu pria baik, tapi ia sudah salah. Ia berfikir semua terjadi bisa jadi karena kurangnya ilmu agama yang diberikan orang tuanya. Entah mengapa Lutfi jadi teringat Rico, papa Aric. Dalam hati kecil itu setuju jika Aric setidaknya lebih baik dari Rico.
"Yah ... bagaimana? Ayah bisa memahami Aric, kan?"
"Sembuhnya anak itu tidak bisa dipastikan! Ikatan pernikahanmu dan wanita itu masih tetap ada. Aku sebagai ayah Sashi, istri pertamamu tidak terima dengan tindakanmu walau tidak sepenuhnya salahmu juga-----
"Ja-di bagaimana, Ya-h?"
"Sashi akan tinggal bersamaku sampai kamu menceraikan wanita itu!"
"Ta-pi ... Yahh! Aric tidak bisa jauh dari Sashi!"
"Itu urusanmu! Kamu bisa datang bertemu Sashi satu minggu satu kali, tanpa menginap!"
"Yahh ... jangan lakukan itu! Tolong fikirkan lagi!"
"Bukan, bukan begitu, Yahh! Ayah salah paham! Izinkan Sashi tetap di rumah Aric dan Aric akan berusaha lebih keras mencari donor sum sum itu!" Aric mulai bersimpuh di bawah kaki Lutfi.
"Bangun! Laki-laki harus tegar dan tidak boleh merendahkan diri!" Aric kini duduk di samping Lutfi.
"Aku melakukan ini untuk melihat seberapa keras usahamu mempertahankan putriku! Tetaplah bersemangat mencari donor itu, jaga kepercayaan kami! Sashi tetap milikmu! Terkadang perpisahan diperlukan untuk menguatkan ikatan!" Aric bergeming.
"Panggil ARTmu, suruh Sashi dan istriku turun!" lugas Lutfi.
"Yahh ... tolong izinkan Aric menginap di rumah Ayah di satu hari itu. Please!" Lutfi menatap lekat wajah Aric.
"Kamu ingin mengajakku bernego?"
"Tolong Yahh! Bukankah ayah yang bilang dalam pernikahan ada hak dan kewajiban suami istri yang harus diperoleh?" Aric memberanikan diri membalik kata yang belum lama diucap Lutfi.
__ADS_1
"Kamu mulai mendikteku rupanya?"
"Aric tidak berani, Yah. A-ric hanya i-ngin menghabiskan waktu lebih la-ma bersama Shi-za!"
Lutfi menggelengkan kepala, sadar menantunya itu sedang berusaha mengecohnya. Ia jelas tak pandai berbohong terlihat dari ucapannya yang terbata.
"Ingin berlama dengan Shiza atau Sashi?" Walau kalimat itu datar, tapi jelas Lutfi sedang meledek Aric.
"Hmm ... ke-duanya, Ya-h!"
"Shiza atau Sashi?" tanya itu kembali terlontar.
"Sashi!"
"Hahh! Sulit sekali bicara itu. Kamu jelas tak pandai berbohong! Cepat panggil putri dan istriku!"
"Bisa Aric menginap kan, Yah?" Aric memastikan lagi.
"Terserah!" Lutfi berdiri menatap pantulan foto di atas sofa yang baru saja ia duduki. Foto pernikahan putrinya dengan Aric. Ia bergeming.
"Sashi mencintaimu, aku bisa apa! Mana bisa aku membuat putriku bersedih. Walau aku sungguh kecewa! Hahh ... putri kecilku sangat cantik di foto ini. Ia sangat mirip Aira. Dan kamu Ric! Siapa yang menyangka kita akan berbesan! Kalau bukan karena putriku telah hamil lebih dulu, pasti kusiapkan jodoh lain untuk putriku. Bukan dengan Aric putramu itu! Putramu? Tunggu ... setahuku anak pertamamu itu dulu berjenis kelamin perempuan, bagaimana anakmu jadi laki-laki? Apa aku melupakan sesuatu? Ada anak lain setelah anak perempuan itu sebelum Kaysan! Ahh aku mulai pikun sepertinya ...."
Lutfi terus bermonolog dalam diam sambil melirik Aric yang baru saja turun bersama Sashi dan Aira.
"Tunggu, bahkan jika dilihat-lihat Aric tidak mirip Rico atau Kalina. Ia hanya tinggi seperti Rico tapi garis wajah itu berbeda. Apa Aric benar-benar anak Rico?"
__________________________________________
☕Happy reading❤❤
__ADS_1