Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU

Berbagi Cinta : TETANGGAKU TERNYATA MADUKU
TIDAK AKAN MUAL!


__ADS_3

Pa ... Pa ... Paa ... Ta ... Ta ... Taaa ....


Seorang bocah kecil yang merangkak tampak terus mengejarnya ... gerakan itu sesaat melambat kemudian kembali cepat. Mengejar dengan lincahnya ... seakan ia ada di mana pun sang lelaki berada.


Sang lelaki bingung mengapa bocah itu enggan berhenti mengejarnya, suara-suara khas bayi disertai pekikan juga seakan bergema ke seluruh bangunan putih yang tak jelas di mana itu.


"Berhenti! Jangan ikuti aku ...! Berhenti!"


Pa ... Pa ... Paa ... Ta ... Ta ... Taaa ....


Langkah itu terhenti, tubuh itu menabrak tembok. Ia tak bisa beranjak lagi saat raga sang bocah semakin dekat .... Ia tutup mata itu, namun suara sang bocah sudah tak terdengar. Di kejauhan sesosok raga tegap terlihat berjalan menjauh menggendong bocah yang beberapa saat lalu mengganggunya. Ia menjauh, semakin jauh hingga tak terlihat. Bukan hati itu merasa senang ia justru kehilangan.


"Heii ... heiii ... tunggu! Tunggu!!"


"KAYYY!"


"Ah,  Maa?"


"Ada apa?"


"Bocah kecil, Ma ... bocah kecil yang merangkak! Ada bocah kecil yang terus mengejarku! Ahh ... Mengapa aku seakan diteror! Siapa dia? Ma, apa pengaruh koma otakku jadi rusak? Mengapa ingatanku harus berhenti di masa SMA-ku! Ma, sepertinya aku butuh penanganan. Psikiater! Ajak aku ke psikiater, Ma!"


"Bocah merangkak? Apakah yang dimaksud Shiza? Bagaimana ini ... Masa lalu Kay sedang menghampirinya, tapi masa lalunya sudah menjadi milik kakaknya. Apa yang harus kuperbuat?"


"Ma, kenapa diam? Mama mau membawaku ke psikiater, kan?"


"Sayang, psikiater itu hanya didatangi oleh penderita ganguan jiwa! Tidak Sayang, Mama tidak akan pernah membawamu ke sana!"


"Tapi Ma?"


"Tidak! kemarikan kakimu!" Ya, walau sudah di terapi di rumah sakit Kalina memang rutin memijat kaki putranya itu. Memberi pijatan sambil mengiringi doa kesembuhan kerap dilakukan Kalina.


"Ma, mengapa kakak iparku tidak pernah datang? Seperti apa dia? Apa ia seperti Kak Salwa?"


"Kakak i-par-mu berbeda. Tidak seperti Salwa," lirih Mama.


"Aku ingin bertemu Kakak iparku, Ma. Kata orang kakak ipar perempuan itu seperti ibu. Mungkin ia bisa menjadi teman curhatku!"


"Jangan bicara macam-macam, kalau ingin curhat ceritalah pada Mama, mengapa mencari kakak ipar!" lugas kata itu terucap. Sesungguhnya dalam hati Kalina bergemuruh, kekhawatiran itu ada, tapi sebisa mungkin ia tutupi.

__ADS_1


"Mengapa pula tidak ada satu pun foto pernikahan kakak di rumah ini? aneh!"


"Jangan berprasangka macam-macam, kakak iparmu memang kurang suka di foto! Sudah, Mama ingin melihat bibik di dapur."


Setelah kepergian Kalina, hati itu tetap tak tenang, bayangan bayi merangkak kembali hadir. Seketika ia mengingat kembali nama gadis bernama Sashi.


"Mengapa wanita di rumah sakit tempo hari terlihat sangat yakin mengatakan aku menghamili Sashi. Sebenarnya dia itu siapanya kakak? Tunggu ... mungkinkah aku bisa mencari tau semua dari wanita itu? Rumah Sakit, ya putrinya baru saja menjalani operasi, ia pasti masih ada di rumah sakit ...."


...▪♧♧♧▪...


Sore menjelang, berpadu celana jeans dan sweater coklat Sashi mematut diri di cermin. Ia kemudian menuju lemari dan mengambil sebuah pasmina mocca, digantung dengan cepat pasmina tersebut menutup rambutnya. Ia beri riasan tipis di wajah setelahnya.


"Sempurna, aku cantik! Kalau dilihat begini mungkin orang tidak menyangka aku sudah punya anak dan sedang hamil. Hii."


Sashi masih asik bergumam tak menyadari Aric sudah masuk dan mata itu seketika terbelalak.


"Astagfirulloh, Sash?" pekik Aric membuat Sashi kaget.


"Kakak! Mengagetkan aku saja!" Bibir itu langsung memberengut merasa Aric membuyarkan angannya. Aric mendekat langsung melingkarkan tangannya ke pinggul. Ia menarik tubuh itu mendekat, sangat dekat. Berhubung tubuh Aric jauh lebih tinggi dari Sashi. Wajah Sashi kini tampak menyentuh dadanya Aric.


Aric menunduk mencium puncak kepala itu. "Kenapa pakai jeans, hem? Tidak kasihan dengan Aric kecil?"


"Ukuran Aric kecil masih mini, aku sering lihat wanita hamil menggunakan jeans tidak masalah, Kak!" kilah Sashi mendangak menatap wajah tampan suaminya itu.


"Ganti ini ya, Sayang!"


"Harus?"


"Harus!" bisik Aric.


Sashi memang gadis penurut. Ya, walau bibir itu memberengut tapi ia tetap meraih rok tersebut dan menggantinya.


"Sip, ini baru perfect!" lontar Aric melihat Sashi keluar dari toilet. Aric mengadahkan tangan ke arah Sashi berharap Sashi meraihnya.


"Tunggu! Tunggu, Kak!" Bukannya meraih jemari sang suami, Sashi malah menuju cermin dan mematut penampilannya.


"Tidak buruk, aku tetap cantik!" batin Sashi sambil menyerongkan tubuh ke kanan dan kiri.


"Ada apa, hem?" Aric mendekat menyapu kepala Sashi.

__ADS_1


"Apa aku cantik, Kak?"


Aric melihat tampilan Sashi dari atas ke bawah, merapatkan kedua alisnya seolah berfikir dan mengangguk setelahnya. Sashi merona mendengarnya.


"Eh, tunggu Sayang! Sepertinya ada yang salah di sini!" Fikir jahil itu seketika muncul. Aric menarik tubuh Sashi kembali merapat ke tubuhnya. "Warna i-ni terlalu te-bal!" Aric menyentuh bibirnya Sashi. Merasakan tubuhnya bersentuh, keduanya merasakan desiran itu.


"Ka-kak ... ja-ngan nanti aku mu-al!" ucap Sashi merasakan jemari Aric sudah menekan tengkuknya dengan kuat. Awalnya hanya menjahili, keinginan itu justru tak bisa ditahan.


"Tidak akan mu-al! Jangan fikirkan apa pun cukup tatap wajahku saja, he-m?" Mendengar kalimat berat Aric seakan mengiba, Sashi mengangguk. Ia fokus menatap netra Aric kini.




"Sashi ... Aric, kalian jadi pergi? Kenapa tidak juga keluar? Ini Shiza sudah gelisah!"


Sashi mengusap pipinya Aric, Aric menghentikan aktivitasnya. Keduanya sama-sama tersenyum setelahnya.


"Langsung minum air hangat! Aku akan buka pintu!" Sashi menurut.


...▪♧♧♧▪...


Seorang lelaki dalam sebuah mobil terus berdecih, pasalnya ia kesal orang yang ingin ditemui nyatanya tak ada di tempat. Ya, beberapa waktu lalu ia menuju Rumah Sakit ingin bertemu Aruna, namun yang ia lihat di kamar itu hanya bocah kecil yang tertidur dan seorang wanita tua dengan seragam ART.


Ialah Kaysan yang ingin menanyakan perihal gadis bernama Sashi, juga setiap yang ia dengar di kamar perawatan tempo hari.


Kini Kaysan terus berfikir, siapa lagi yang kira-kira bisa membantunya memberitahu perihal Sashi. Ia berdecak, berharap otaknya dapat bekerja sama namun nyatanya nihil. Ia masih tak ingat apapun.


Sambil berfikir, Kaysan mengedar pandang ke arah luar sambil merasakan nyiur angin dari jendela yang sengaja dibukanya. Pepohonan hijau yang berbaris nyatanya mendamaikan otak itu. Ditariknya napas panjang merasakan segarnya udara berkah cinta Sang Esa.


Kaysan masih terus menikmati kesegaran itu, hingga tiba-tiba netranya menangkap bayang yang dikenalnya.


"Pak, stop, Pak!" teriak Kaysan pada Jarwo sopirnya. Jarwo menepi.


"Balik arah, Pak! Aku lihat Kakakku di Taman itu tadi!"


"Kakak ... benar tadi kak Aric. Aku tidak mungkin salah lihat! Tapi anak siapa yang digedongnya itu?"


__________________________________________

__ADS_1


☕Happy reading😘


☕BIG HUG, BIG THANKS FOR SUPPORT❤❤


__ADS_2